Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Tiga hari telah berlalu seperti keabadian yang menyiksa bagi Zergan. Selama itu pula, lampu indikator kehidupan di ruang intensif tersebut tidak menunjukkan perubahan berarti. Kinara masih setia dalam tidur panjangnya, ditemani bunyi konstan mesin bedside monitor yang menjadi satu-satunya ritme di dalam ruangan sunyi itu.
Dan selama tiga hari itu pula, Zergan bagaikan patung yang kehilangan jiwanya. Ia sama sekali tidak beranjak dari sisi ranjang Kinara. Pria itu menolak untuk tidur di sofa, menolak untuk makan dengan layak, dan hanya bersedia mengganti baju rumah sakitnya setelah dipaksa setengah mati oleh Oma Gayatri yang datang berkali-kali membawakannya pakaian bersih.
Di sudut ruangan, Oma Gayatri berdiri bersedekah dada, menatap cucu tunggalnya dengan kerutan dalam di dahi dan tatapan penuh keheranan. Sesuatu terasa sangat keliru di matanya.
'Bukankah Zergan sangat mencintai Haura? Bukankah selama berbulan-bulan ini dia bertaruh segalanya demi mendapatkan restuku untuk gadis itu?' batin Oma Gayatri bingung.
Namun kenyataan di depannya berbanding terbalik. Sejak tersadar dari pingsannya, Zergan sama sekali tidak menanyakan kondisi Haura. Fokus, air mata, ketakutan, dan seluruh atensi Zergan tumpah sepenuhnya untuk Kinara—seorang gadis yang, setahu Oma Gayatri, baru beberapa hari ini berteman dengan cucunya. Tatapan mata Zergan saat menggenggam tangan Kinara bukanlah tatapan seorang teman yang merasa bersalah, melainkan tatapan seorang pria yang dunianya sedang runtuh karena kehilangan belahan jiwanya. Ada rahasia besar yang tidak Oma ketahui di antara mereka.
Siang itu, pintu kamar inap berbunyi pelan. Langkah kaki yang ragu terdengar mendekat. Itu Haura. Wajahnya masih sedikit pucat, namun kondisinya sudah jauh lebih baik setelah beristirahat tiga hari di rumah. Ia melangkah masuk sambil membawa sebuket bunga kecil.
Begitu melangkah ke dekat ranjang, Haura tertegun. Ia melihat kekasihnya, Zergan, duduk dengan punggung membungkuk, menumpukan keningnya pada punggung tangan Kinara yang berada di dalam genggamannya. Rambut Zergan tampak berantakan, dan gurat kelelahan tercetak jelas di wajah tampannya.
"Zergan..." panggil Haura lirih, memecah keheningan. "G-bagaimana kondisimu? Kamu sudah makan? Aku cemas banget sama kamu setelah kejadian hari itu..."
Mendengar suara Haura, tubuh Zergan menegang. Namun, ia sama sekali tidak menoleh. Jangankan membalas tatapan Haura, mengangkat kepalanya pun tidak.
"Keluar, Haura. Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun," sahut Zergan. Suaranya terdengar begitu dingin, datar, dan kering—sangat asing di telinga Haura. Tidak ada kehangatan atau rasa lega yang biasa ia dengar dari pria itu.
Haura seketika tersentak mundur satu langkah. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang tidak kasat mata. Ia tidak menyangka akan mendapat sambutan sebeku ini dari kekasihnya sendiri setelah mereka berdua berhasil lolos dari maut.
Mata Haura perlahan turun, melirik ke arah ranjang. Di sana, sepasang tangan Zergan dengan begitu erat, protektif, dan penuh keputusasaan sedang mendekap jemari Kinara yang terpasang alat medis. Pemandangan itu membuat hati Haura berdenyut aneh. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menyeruak di dalam hatinya melihat bagaimana genggaman tangan itu seolah enggan dilepaskan oleh Zergan, bahkan demi dirinya sekalipun.
"Tapi Zergan, aku ke sini karena aku khawatir—"
"Aku bilang keluar, Haura. Tolong, jangan buat aku mengatakannya untuk ketiga kali," potong Zergan tegas, intonasi suaranya merendah, memberi penekanan mutlak yang tidak ingin dibantah. Matanya tetap terkunci pada wajah pucat Kinara.
Haura menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak dan bingung yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia melihat ke arah Oma Gayatri yang hanya diam mematung di sudut ruangan, lalu kembali menatap punggung dingin Zergan. Merasa suasana tidak tepat dan malas untuk memicu perdebatan panjang di dalam ruang ICU yang menegangkan ini, Haura akhirnya memilih mengalah.
"Ya sudah... kalau itu maumu. Aku pulang dulu. Tolong jaga kesehatanmu, Zergan," ucap Haura dengan nada kecewa yang tersamar.
Ia meletakkan buket bunga bawaannya di atas meja nakas dengan pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar inap tersebut dengan perasaan yang mendadak dipenuhi oleh sejuta pertanyaan tentang apa yang sebenarnya telah berubah di antara mereka dalam waktu tiga hari ini.
Jar jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Suasana di ruang perawatan intensif itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara dengung halus dari mesin pendukung kehidupan yang melingkari tubuh Kinara. Zergan masih dalam posisi yang sama; duduk bersandar di sisi ranjang dengan posisi kepala yang menelungkup di atas kasur, tangannya masih menggenggam erat jemari Kinara. Kelelahan yang luar biasa akhirnya membuat pria itu terlelap dalam posisi duduk yang tidak nyaman.
Di tengah kesunyian itu, sebuah gerakan kecil terjadi.
Jari telunjuk Kinara yang terbalut plester infus bergerak halus. Secara perlahan, ia merasakan sensasi hangat yang menjalar di tangannya—sebuah genggaman yang terasa begitu posesif namun juga sangat rapuh. Kelopak mata Kinara yang selama tiga hari terasa berat seperti tertimpa beban yang tak terangkat, perlahan mulai bergetar.
Dengan susah payah, ia membuka mata. Pandangannya yang sempat kabur oleh cahaya lampu redup ruangan perlahan mulai fokus. Hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar rumah sakit yang putih, melainkan puncak kepala Zergan yang terkulai di samping tangannya.
Kinara terdiam. Ia memproses situasi ini dengan lambat. Memori terakhir yang tersisa di benaknya adalah rasa sakit yang menusuk hebat di punggungnya, suara tembakan yang memekakkan telinga, dan wajah Zergan yang pucat ketakutan sebelum semuanya berubah gelap.
Napas Kinara terasa sesak di balik masker oksigen, namun ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menatap Zergan dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada tatapan kerinduan yang terpendam, namun bercampur dengan rasa asing yang mendalam.
Pergerakan kecil dari jemari Kinara yang ia genggam rupanya menyentuh kesadaran Zergan. Pria itu sedikit tersentak dalam tidurnya. Perlahan, Zergan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembap dan merah akibat kurang tidur itu perlahan terbuka, mencoba beradaptasi dengan kondisi sekitarnya.
Saat ia menegakkan tubuh, tatapannya langsung tertuju pada jemarinya yang masih menggenggam tangan Kinara. Dan detik itu juga, detak jantung Zergan seolah berhenti berdetak.
Ia melihat sepasang mata teduh milik Kinara tengah menatapnya. Terbuka. Sadar.
"Nara...?" bisik Zergan dengan suara yang pecah dan bergetar hebat. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya dengan tangan kiri, takut bahwa ini hanyalah halusinasi akibat kelelahan yang ekstrem. "Nara? Kamu... kamu benar-benar sadar?"
Zergan tidak berani melepaskan genggamannya sedetik pun, seolah takut jika ia melepasnya, gadis itu akan menghilang lagi ke dalam tidur panjangnya. Ia mendekatkan wajahnya ke sisi ranjang, menatap Kinara dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa dan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Terima kasih... Ya Tuhan, terima kasih..." isak Zergan lirih.
Kinara masih diam. Ia tidak menarik tangannya, namun ia juga tidak memberikan balasan genggaman. Matanya hanya menatap lekat ke arah wajah Zergan yang tampak begitu kacau, dengan rambut berantakan dan bekas air mata yang mengering di pipinya. Kinara menatap pria itu dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang membaca setiap inci kesakitan dan penyesalan yang terpancar dari manik mata Zergan, namun ia tetap bungkam, membiarkan keheningan malam menjadi saksi pertemuan pertama mereka setelah ambang kematian.
Zergan udh ktmu pawangnya dogggg.....
udh tau msuhnya deket,tp mlah ceroboh....mau aja d kibulin sm tu siluman,akhrnya kna jebak....
kira2 nara bkln mau nolongin ga y??
Pntsn klkuannya ky gt,trnyta emng trunan dr sononya.....bpknya slingkuh,ga tau diri....emaknya jd pnghncur hdp wnita lain....ga heran kl anknya pun sma....🤮🤮🤮