NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Zilia melangkah cepat meninggalkan koridor hotel.

Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung.

"Zilia!"

Suara Rafael memanggil dari belakang. Namun, Zilia sama sekali tidak menggubrisnya. Langkahnya justru semakin cepat.

"Zilia, tunggu!"

Rafael akhirnya berhasil menyusul dan berdiri tepat di hadapannya.

"Minggir."

"Nggak."

"Aku bilang minggir."

"Aku juga bilang nggak."

Zilia mendecak kesal.

"Kenapa sih kamu ngikutin aku terus?"

"Karena Papa sama Om Adrian menyuruhku menjaga kamu."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu."

"Terus?"

"Kalau aku pulang sendirian, yang dimarahin ya aku."

Zilia memutar bola matanya.

"Itu urusanmu."

Ia hendak melangkah ke samping.

Namun Rafael ikut bergeser menghalangi jalannya.

"Kamu sengaja, ya?"

"Iya."

"Kamu nyebelin."

"Banyak yang bilang begitu."

"Dasar."

Zilia kembali mencoba melewatinya. Lagi-lagi Rafael menghalangi. Kesabaran Zilia pun habis.

"Hei!"

"Apa?"

"Kamu jangan mentang-mentang badannya gede terus seenaknya!"

Rafael malah menyeringai.

"Kalau nggak dihalangi, kamu pasti kabur."

"Aku memang mau kabur."

"Tuh, kan."

Zilia mengembuskan napas kesal.

Tiba-tiba, tatapannya berubah tajam.

"Oh iya."

Rafael mengangkat sebelah alisnya.

"Ada apa?"

"Aku belum sempat bahas kejadian di danau."

Wajah Rafael langsung berubah canggung.

"Kejadian apa?"

"Jangan pura-pura lupa."

Zilia melangkah mendekat.

"Waktu kamu kasih napas buatan."

"Oh..."

Rafael berdeham pelan.

"Itu kan keadaan darurat."

"Keadaan darurat atau cari kesempatan?"

"Hah?"

"Kamu sengaja, ya?"

Rafael spontan tertawa kecil.

"Sengaja apanya?"

"Cium aku!"

Ucapan itu membuat beberapa tamu hotel yang melintas menoleh sekilas.

Rafael langsung menahan tawanya.

"Kamu yakin aku sengaja?"

"Iya!"

"Padahal kamu yang tenggelam."

"Itu..."

"Kamu juga nggak sadar waktu itu."

"Tapi tetap aja!"

Rafael menggeleng pelan.

"Logikanya dipakai."

"Kalau aku nggak kasih napas buatan... mungkin kamu sudah pingsan lebih lama."

Zilia terdiam.

Meski kesal, ia tahu ucapan Rafael benar.

Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.

"Huh. Aku tetap curiga."

Rafael tiba-tiba melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Zilia spontan mundur.

"Kamu... ngapain?"

"Ngebuktiin."

"Maksudnya?"

"Kamu katanya nuduh aku cari kesempatan."

Tatapan Rafael berubah jahil.

"Ya sekarang aku sekalian cari kesempatan."

"Hah?"

Zilia kembali mundur.

Namun punggungnya sudah menyentuh dinding koridor.

Rafael terus mendekat hingga jarak wajah mereka tinggal beberapa senti.

Deg...

Jantung Zilia berdetak tak karuan.

"Kamu... jangan macam-macam."

"Takut?"

"Siapa takut?"

"Kalau nggak takut... kenapa gemetaran?"

"Aku nggak gemetaran!"

"Oh ya?"

Rafael sedikit menundukkan wajahnya.

Zilia refleks memejamkan mata rapat.

"Nih orang beneran mau nyium aku, ya?"

gumamnya dalam hati.

Beberapa detik berlalu.

Namun tidak ada apa-apa.

Yang terasa justru...

Tok!

"Aduh!"

Zilia meringis pelan.

Rafael ternyata hanya menyentil pelan keningnya.

Refleks, Zilia mengusap keningnya sambil memelototi Rafael.

"Kamu!"

Rafael tertawa kecil.

"Pede banget."

"Aku kira..."

"Kira apa?"

Zilia langsung memalingkan wajahnya karena malu.

"Pikir sendiri!"

Rafael menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Tenang. Aku nggak akan mencium perempuan yang belum menjadi istriku."

Kalimat itu membuat wajah Zilia semakin merah.

"Siapa juga yang mau jadi istri kamu!"

Rafael tersenyum tipis.

"Bagus. Karena aku juga belum tentu mau sama perempuan yang hobinya nuduh orang."

"Kamu nyebelin banget sih!"

"Terima kasih."

"Dasar Tom!"

"Kalau kamu Jerry."

Mendengar itu, Zilia spontan mendengus kesal.

"Dasar manusia nyebelin!"

Meski mulutnya terus mengomel, tanpa disadari sejak tadi Rafael berhasil mengalihkan perhatian Zilia dari luka yang ditinggalkan Vio.

Setidaknya untuk beberapa menit, senyum tipis kembali menghiasi wajah gadis itu, meski ia sendiri belum menyadarinya.

_________

Tak jauh dari koridor hotel. Vio masih berdiri mematung. Langkahnya tak mampu bergerak sedikit pun. Tatapannya hanya tertuju pada dua sosok yang berada beberapa meter di depannya.

Rafael.

Dan...

Zilia.

Dari sudut pandangnya, Rafael terlihat sengaja mendekat hingga tubuh Zilia terdesak ke dinding. Jarak wajah mereka begitu dekat. Sangat dekat.

Rahang Vio langsung mengeras. Urat di pelipisnya menonjol.

"Kurang ajar..."

Gumamnya lirih.

Tepat ketika Rafael menundukkan wajahnya, napas Vio seakan berhenti.

Tinju di kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Berani sekali dia..."

Yang membuat dada Vio semakin sesak adalah ketika ia melihat Zilia mengomel kepada Rafael.

Meski kesal, ekspresi Zilia jauh berbeda saat bersamanya.

Tidak ada tatapan dingin. Tidak ada kebencian.

Bahkan, sesekali Rafael berhasil membuat Zilia tersenyum tipis. Pemandangan sederhana itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati Vio.

Seumur hidupnya belum pernah ia merasa sekalah ini.

"Sayang,"

Suara Aleena membuyarkan lamunannya.

Vio tidak menoleh.

Tatapannya masih terpaku pada Zilia. Aleena mengikuti arah pandangan suaminya.

Kemudian, senyum sinis perlahan terukir di bibirnya.

"Nah, lihat sendiri."

Vio tetap diam.

"Perempuan yang katanya kamu cintai... yang katanya ingin kamu perjuangkan..."

Aleena menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"...ternyata juga sudah punya laki-laki lain."

Vio langsung menoleh tajam.

"Diam, kamu."

Aleena tertawa pelan.

"Kenapa? Sakit?"

"Diam, Aleena."

"Atau jangan-jangan...bkamu baru sadar rasanya melihat orang yang dicintai dekat dengan orang lain?"

Tatapan Vio berubah semakin dingin.

"Aku bilang diam. Ini ssmua gara gara kamu yang tidak bisa jaga jarak."

Aleena sama sekali tidak gentar. Ia justru melangkah lebih dekat.

"Karena aku ini istrimu. Jadi jangan salahkan aku kalau sekarang aku mulai menikmati status sebagai istrimu."

Vio mengepalkan tangannya.

"Secepatnya akan aku urus perceraian kita."

Mendengar kata cerai, Aleena malah tersenyum tipis.

Senyum yang sulit diartikan.

"Coba saja kalau kamu bisa."

"Apa maksudmu?"

"Kamu pikir perceraian semudah membalikkan telapak tangan?"

"Aku akan tetap melakukannya."

Aleena menggeleng pelan.

"Kamu terlalu naif. Kedua keluarga kita sudah terikat kerja sama. Kalau kamu memaksa bercerai... bukan cuma perusahaan keluargamu yang hancur."

Aleena menatap lurus ke mata Vio.

"Perusahaanku juga."

"Lalu?"

"Ayahku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."

Vio mendengus pelan.

"Aku tidak peduli."

"Benarkah?"

Aleena kembali melirik ke arah Rafael dan Zilia yang kini berjalan berdampingan meninggalkan koridor.

"Kalau begitu, silakan bercerai."

"Tapi ingat satu hal."

"Apa?"

"Pada saat semua urusanmu selesai... belum tentu perempuan itu masih menunggumu."

Ucapan itu membuat Vio kembali menatap ke arah Zilia.

Dari kejauhan...

Ia melihat Rafael membukakan pintu mobil untuk Zilia. Dan untuk pertama kalinya Zilia tidak menolak perhatian itu.

Meski hanya sebuah gestur kecil, pemandangan tersebut cukup membuat dada Vio terasa diremas. Aleena tersenyum tipis. Ia tahu, tanpa perlu melakukan apa pun, takdir perlahan sedang menghukum pria yang berdiri di sampingnya.

Dan hukuman paling menyakitkan bukanlah kehilangan harta atau kekuasaan.

Melainkan menyaksikan perempuan yang dicintainya perlahan membuka hati untuk laki-laki lain.

Di dalam mobil, suasana sempat hening.

Rafael yang duduk di balik kemudi sesekali melirik Zilia melalui kaca spion.

Sementara Zilia memilih menatap keluar jendela.

Lampu-lampu kota yang berlalu begitu cepat tak mampu mengalihkan pikirannya.

Rafael akhirnya memecah keheningan.

"Jadi..."

Zilia tidak menoleh.

"Hm?"

"Itu yang barusan pacar kamu?"

Zilia langsung melirik tajam.

"Ngapain bahas dia?"

Rafael mengangkat bahu.

"Penasaran aja."

"Nggak usah penasaran."

"Oke."

Rafael mengangguk pelan.

Dua detik kemudian...

"Tapi kayaknya dia sangat mencintaimu."

"Ck!"

Zilia berdecak kesal.

"Aku bilang jangan bahas dia."

Rafael justru terkekeh kecil.

"Marah?"

"Nggak."

"Kalau nggak marah, kenapa bibirnya sampai ditekuk begitu?"

"Kamu!"

"Iya?"

"Kamu itu nyebelin."

"Banyak yang bilang kalo aku tuh nyebelin."

Zilia mendengus.

"Aku heran."

"Apa?"

"Dari sekian banyak perempuan di dunia, apa masih ada yang mau sama kamu? Nyatanya nikah aja sampai dijodohkan."

Rafael tertawa pelan.

"Soal nikah, bagiku gak penting mau sama siapanya. Yang terpenting bagiku, dia layak jadi istriku."

"Hem."

"Kamu yakin gak tertarik denganku? tapi kalau dilihat lihat, kamu menyukaiku." Bisiknya.

"Ih! Ge-er banget sibuk kamu."

"Tadi kan kamu yang bahas."

Zilia memutar bola matanya.

Rasanya ingin sekali ia membuka pintu mobil lalu turun di tengah jalan.

Melihat ekspresi Zilia yang semakin kesal, Rafael malah semakin menikmati reaksinya.

"Eh."

"Apa lagi?"

"Tadi dia bilang mau jelasin semuanya."

Zilia langsung memotong.

"Aku nggak butuh penjelasan."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

"Padahal kelihatannya dia masih ngejar kamu loh."

"Ngejar?"

Zilia tersenyum miring.

"Laki-laki yang sudah punya istri masih ngejar perempuan lain?"

"Lucu."

Rafael melirik sekilas.

"Kamu masih cinta sama dia?"

Pertanyaan itu membuat Zilia terdiam.

Beberapa saat kemudian, ia tertawa pelan.

Namun tawanya terdengar getir.

"Dulu... iya. Aku pernah berpikir dia adalah laki-laki yang akan menjadi suamiku."

Rafael tidak menyela.

"Aku percaya sama semua janjinya. Dia bilang akan pulang. Dia bilang akan melamarku. Dia bilang akan menikahiku."

Suara Zilia mulai bergetar.

"Ternyata... Yang dia nikahi perempuan lain."

Rafael bisa melihat sudut mata Zilia mulai memerah.

Meski begitu, gadis itu tetap memaksakan senyum.

"Aneh ya."

"Apa?"

"Orang yang paling kita percaya... justru paling hebat menghancurkan kepercayaan itu."

Rafael mengembuskan napas pelan.

"Kalau memang itu kenyataannya... berarti dia bukan laki-laki yang pantas untukmu."

Zilia menoleh.

"Kamu gampang ngomong."

"Aku tahu."

"Soalnya yang sakit bukan kamu."

"Benar."

Rafael mengangguk.

"Tapi aku juga tahu... kamu berhak mendapatkan seseorang yang memilihmu tanpa ragu."

Bukan seseorang yang datang setelah memilih perempuan lain."

Kalimat itu membuat Zilia kembali terdiam.

Untuk pertama kalinya...

Rafael tidak sedang bercanda.

Tatapannya begitu serius.

"Zilia."

"Hm?"

"Jangan habiskan hidupmu untuk menangisi orang yang tidak bisa menggenggam tanganmu. Masih banyak orang... yang bahkan rela berlari hanya untuk mengejarmu."

Zilia menatap lurus ke depan.

"Masalahnya..."

"Apa?"

"Aku belum siap membuka hati lagi."

Rafael tersenyum tipis.

"Siapa yang menyuruhmu sekarang?"

Zilia mengernyit.

"Maksudnya?"

"Aku cuma bilang jangan tutup pintunya."

"Oh,"

"Kalau suatu hari nanti ada orang yang benar-benar tulus mengetuk... setidaknya beri dia kesempatan."

Zilia menghela napas panjang.

"Aku nggak tahu."

"Nggak apa-apa."

Rafael kembali menyalakan musik pelan di dalam mobil.

"Kita masih punya waktu."

"Untuk apa?"

"Untuk saling mengenal."

"Tapi jangan salah paham."

"Aku bukan sedang merayu. Aku cuma nggak mau calon istriku terus-terusan cemberut."

"Siapa calon istri kamu?"

"Kamu."

Plak!

Sebuah pukulan pelan mendarat di lengan Rafael.

"Ngaco!"

Rafael tertawa lepas.

"Tuh, akhirnya ketawa juga."

Zilia baru menyadari.

Sejak masuk ke mobil...

Untuk pertama kalinya setelah pengkhianatan Vio, ia bisa melupakan rasa sesaknya, meski hanya beberapa menit.

Dan Rafael diam-diam tersenyum puas.

Bukan karena berhasil membuat Zilia tertawa.

Melainkan karena ia mulai yakin, perlahan-lahan ia bisa mengembalikan senyum yang pernah direnggut oleh pria lain.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!