"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Papa tidak peluk mama gladis
Malam itu berjalan terlalu lambat bagi Gladis.
Setelah percakapan di taman belakang dengan Arsen, ia kembali ke kamarnya tanpa benar-benar tahu bagaimana caranya sampai ke sana. Langkahnya terasa otomatis, seperti tubuhnya bergerak tanpa izin dari pikirannya sendiri.
Lampu kamar sudah ia redupkan.
Namun matanya tetap terbuka.
Menatap langit-langit.
Sunyi.
Terlalu sunyi sampai suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman.
“Kalau kamu menyesal… kamu bisa keluar dari rumah ini.”
Kalimat itu terus berputar.
Bukan hanya kata-katanya.
Tapi cara Arsen mengucapkannya.
Tenang.
Dingin.
Seolah itu bukan sesuatu yang penting.
Seolah dirinya memang bisa pergi kapan saja tanpa meninggalkan bekas apa pun.
Gladis menarik selimut sampai ke dada.
“Aku tidak menyesal…”
gumamnya pelan, hampir tak bersuara.
Tapi bahkan dirinya sendiri tidak yakin dengan kalimat itu.
Matanya perlahan tertutup.
Namun pikirannya justru semakin ramai.
Wajah Rania.
Wajah Arsen.
Wajah Roy tadi sore.
Dan yang paling mengganggu…
Tatapan Arsen ketika mengatakan, “Kamu bebas.”
Seperti pintu yang dibuka.
Bukan untuk menahan.
Tapi untuk melepaskan.
Dan entah kenapa, itu justru terasa menyakitkan.
Jam menunjukkan pukul 01.47 dini hari.
Gladis masih terjaga.
Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya.
“Aku harus berhenti memikirkan ini.”
Ia menunduk, mengusap wajahnya pelan.
“Terlalu berlebihan.”
Namun setiap kali ia mencoba memejamkan mata, yang muncul justru percakapan itu lagi.
Dan yang lebih buruk…
Perasaan hangat yang tidak seharusnya ada ketika Arsen duduk di sebelahnya tadi.
“Kenapa aku jadi begini…”
Suara itu pecah di udara kamar yang gelap.
Ia berdiri.
Berjalan ke arah jendela.
Di luar, halaman rumah keluarga Wijaya tampak tenang. Lampu taman masih menyala redup, seperti sisa-sisa kehangatan dari percakapan yang belum selesai.
Gladis menempelkan dahinya ke kaca.
Dingin.
Tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya.
Jam 03.00 pagi.
Adzan subuh masih belum terdengar.
Rumah masih benar-benar tidur.
Namun Gladis sudah berdiri di kamar mandi, mengambil wudhu dengan gerakan pelan.
Air dingin menyentuh kulitnya, sedikit demi sedikit menurunkan kegelisahan yang sejak tadi menumpuk di dada.
Ia mengenakan mukena sederhana.
Lalu keluar kamar.
Lorong rumah besar itu terasa panjang dan sunyi.
Setiap langkah terdengar jelas di lantai marmer.
Tok… tok… tok…
Ia berhenti di ruang shalat kecil yang biasa digunakan keluarga itu.
Lampu redup menyala.
Gladis masuk pelan.
Lalu shalat tahajud.
Di tengah malam yang hampir beku, hanya suaranya yang pelan terdengar—dan itu pun hanya dalam hati.
Setelah selesai, ia duduk lama.
Tangannya memegang sajadah.
Matanya sedikit basah, tapi ia tidak menangis.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi karena tidak tahu apa yang sebenarnya harus ia tangisi.
Setelah itu, tanpa sadar kakinya melangkah ke kamar anak-anak.
Pintu sedikit terbuka.
Ia masuk perlahan.
Rian tidur dengan posisi tengkurap, satu tangan memeluk dinosaurus plastiknya.
Sementara Raka dan Raina tidur rapi di tempat masing-masing, wajah mereka tenang seperti biasanya.
Gladis berdiri lama di ambang pintu.
“Anak-anak ini…”
bisiknya pelan.
Ia mendekat, merapikan selimut Rian yang sedikit terjatuh.
Rian bergerak kecil.
Namun tetap tidur.
Gladis tersenyum tipis.
“Kamu ini… kalau bangun pasti ribut lagi.”
Ia lalu bergeser ke arah kamar kembar.
Raka dan Raina.
Dua anak yang sering terlihat dingin, tapi sebenarnya tidak pernah benar-benar jauh dari perhatian.
Gladis membenarkan posisi bantal mereka.
Raina menggeliat kecil.
“Mama…”
gumamnya pelan dalam tidur.
Gladis terdiam.
Hatinya sedikit hangat.
“Tidur yang tenang ya…”
bisiknya.
Lalu ia keluar kamar perlahan, menutup pintu tanpa suara.
Langit mulai berubah warna ketika azan subuh akhirnya terdengar jauh.
Gladis kembali ke kamarnya.
Tapi kali ini, ia tidak mencoba tidur lagi.
Pagi datang dengan cepat.
Dan seperti biasa, rumah keluarga Wijaya tidak pernah benar-benar tenang di pagi hari.
Suara langkah, koper ditarik, dan percakapan pendek terdengar dari lantai bawah.
Gladis baru saja selesai berganti pakaian sederhana ketika ia mendengar suara Arsen dari ruang tengah.
“Cepat bawa ini ke mobil.”
Suara tegas itu seperti biasa.
Gladis turun.
Dan pemandangan di bawah membuatnya berhenti sejenak.
Dua koper besar sudah berdiri di dekat pintu.
Beberapa barang lain sedang disusun oleh asisten Arsen.
Rian duduk di sofa, mengayun kaki sambil memeluk dinosaurusnya.
Raka dan Raina berdiri di dekat tangga, memperhatikan semuanya dengan diam.
Gladis mendekat.
“Mas…”
Arsen menoleh.
“Kamu sudah bangun.”
“Iya.”
Matanya lalu jatuh ke koper.
“Mau… kemana?”
Arsen menutup map di tangannya.
“Aku ada urusan ke luar negeri.”
Gladis terdiam.
“Berapa lama?”
“Dua minggu.”
Hening sesaat.
Rian langsung mengangkat kepala.
“Papa pergi?”
“Iya.”
Rian langsung berdiri.
“Lama banget!”
Arsen mengangguk.
“Dua minggu saja.”
Rian langsung cemberut.
“Kalau gitu Rian titip dinosaurus ya sama papa.”
Arsen tersenyum tipis.
“Tidak bisa.”
Rian langsung protes.
“Kenapa?!”
“Karena papa bukan penitipan mainan.”
Semua orang di ruangan itu hampir tersenyum, tapi menahan diri.
Gladis berdiri sedikit di belakang, memperhatikan Arsen yang sedang merapikan jasnya.
“Anak-anak… sementara sama kamu ya.”
Kata Arsen tanpa menatap lama.
Gladis mengangguk pelan.
“Iya, Mas.”
Lalu Arsen mendekat ke Rian.
Ia berlutut sedikit.
“Papa pergi dulu.”
Rian langsung memeluknya.
Pelukan itu lama.
Tidak seperti biasanya.
“Jangan lama-lama.”
“Tidak.”
Arsen mengusap kepala Rian.
Lalu berdiri.
Ia beralih ke Raka dan Raina.
Dua anak itu menatapnya tanpa banyak ekspresi.
Tapi ketika Arsen mengulurkan tangan, mereka mendekat.
Satu per satu mencium tangannya.
“Jaga diri.”
Kata Arsen singkat.
Raka mengangguk.
Raina juga.
Semua tampak berjalan biasa.
Sampai…
Rian tiba-tiba berbicara keras.
“Papa!”
Arsen menoleh.
“Apa?”
Rian menunjuk ke arah Gladis yang berdiri agak jauh.
“Lho… papa kenapa tidak peluk dan cium mama Gladis?”
Hening.
Sejenak.
Seluruh ruangan terasa membeku.
Asisten yang sedang membawa barang berhenti.
Bibik yang lewat di dapur ikut menoleh.
Bahkan Raka dan Raina mengangkat kepala sedikit.
Gladis langsung terdiam.
Wajahnya berubah samar.
“Rian…”
bisiknya pelan, panik.
Namun Rian tidak mengerti situasi itu.
Ia hanya menatap polos.
“Kalau papa peluk aku, harusnya mama Gladis juga dong…”
Sunyi lagi.
Lebih dalam.
Arsen berdiri diam.
Matanya bergerak pelan ke arah Gladis.
Untuk pertama kalinya pagi itu, tatapan mereka bertemu cukup lama.
Gladis merasa dadanya menegang.
Bukan karena marah.
Bukan karena malu.
Tapi karena… ia tidak tahu harus bersikap apa.
Arsen kemudian melangkah.
Pelan.
Satu langkah.
Lalu berhenti tepat di depan Gladis.
“Rian…”
katanya pelan.
“Ini bukan seperti itu.”
Rian mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Arsen tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Gladis sekali lagi.
Lama.
Kemudian dengan gerakan yang sangat sederhana, ia mengangkat tangan.
Dan tanpa banyak kata…
Ia merangkul Rian sekali lagi.
“Papa tetap sayang semua.”
Rian akhirnya tersenyum puas.
“Ya sudah.”
Namun saat Arsen melepaskan pelukan itu, ia kembali berdiri.
Dan kali ini, sebelum benar-benar pergi, suaranya terdengar lebih pelan.
“Hati-hati di rumah.”
Kalimat itu tidak hanya untuk Rian.
Tidak hanya untuk anak-anak.
Tapi juga…
Untuk Gladis.
Dan sebelum siapa pun bisa menanggapi lebih jauh, Arsen sudah melangkah keluar.
Mobil di depan rumah menyala.
Pintu terbuka.
Ia masuk.
Dan pergi.
Gladis berdiri di tempat yang sama.
Lama.
Rian sudah kembali duduk sambil bermain dinosaurus.
Raka dan Raina kembali diam.
Tapi di dada Gladis…
ada sesuatu yang tidak ikut pergi bersama mobil itu.
Sesuatu yang justru terasa tertinggal lebih berat dari sebelumnya.