Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamer cincin berlian : 25
“Cara kerjanya cukup mudah, Bu. Tinggal letakkan di tempat tidak terjangkau, tersembunyi dan sekiranya sangat aman,” Yudis menjelaskan tentang cctv mini atau sering disebut spy camera.
“Baik. Saya paham. Ini pembayarannya besok pagi bisa kan, Pak?” tanyanya sambil menahan malu.
Helyara tidak leluasa menggunakan m-banking yang kapan saja bisa di cek Alandi.
Selama pernikahan mereka sangat transparan perihal keuangan, lebih tepatnya Helyara selalu jujur kemana saja perginya hasil dari toko Emas Utomo.
Alandi selalu memeriksa secara berkala pemasukan dan pengeluaran istrinya.
“Santai saja, Bu. Bayar pas mengambil hasil tes laboratorium juga boleh,” tuturnya pengertian.
Sekali lagi Helyara mengucapkan terima kasih.
Yudis pun langsung berpamitan, tidak bisa berlama-lama.
Helyara menutup pintu samping pagar otomatis sambil menenteng plastik. Langkah pendeknya dipercepat demi mengamankan barang bawaan.
“Aku sudah mirip pencuri di rumahku sendiri,” sungutnya kesal.
Di ruang kerjanya, Helya membuka belasan kotak kecil, mengeluarkan cctv mirip kancing kemeja.
Selain kamera pengawas, ada sebuah earphone bluetooth warna putih.
“Semoga bisa melindungi telingaku agar tidak menangkap bunyi sirine ambulans.” Didekapnya benda tersebut.
Wanita yang sebelumnya terlalu nyaman dengan kesunyian, menghabiskan waktu di ruang kerja sambil memandangi taman bunga Mawar, terisolasi dari dunia luar, kini berusaha meruntuhkan tembok pertahanan dibuatnya sendiri.
“Aku harus bisa keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tidak lagi aman. Jadilah tangguh, pemberani Helya!” serunya menyemangati diri sendiri.
Belum apa-apa, masih juga membayangkan bepergian seorang diri, bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang asing, dia sudah cemas sendiri sampai kepalanya nyeri.
Memiliki kepribadian introvert yang sensitif terkadang tidak menguntungkan. Jika dulu masih ada kedua orang tuanya, Helyara benar-benar dilindungi, dijaga, dan dimengerti, serta tidak dicurangi.
Sekarang para pelindungnya telah pergi, digantikan sosok culas, penuh tipu muslihat.
Rasa pusing bertambah menyakitkan, Helya menarik laci meja kerja mengambil kotak obat persegi.
Ditelannya pil sakit kepala, obat yang sebelumnya sangat dihindari dikarenakan program hamil.
Ditunggunya sebentar sampai nyeri berangsur-angsur pergi, barulah Helya beraksi memasang kamera kecil ditempat yang dia inginkan.
Sebelum meletakkan cctv, terlebih dahulu memastikan keadaan aman dan Siska masih di dalam kolam renang.
.
.
“Sayang, Mas pulang!” seru Alandi memasuki hunian mewah istrinya.
Pria baru kembali dari toko emas ketika hari mulai petang itu membawa banyak plastik berlogo nama restoran. Menu makan malam mereka.
“Kamu ya, Alan, pemborosan banget.” Ganira menurunkan ponsel yang dipegangnya. Menatap tak suka pada plastik berjumlah lebih dari tiga. “Punya istri nganggur dirumah bukannya disuruh belajar masak, malah dimanja terus.”
“Jangan mulai, Bu!” suaranya menekan, memperingati.
“Mas Alan sudah pulang ternyata.” Helya keluar dari ruang kerja yang pintunya tidak ditutup rapat.
Senyumannya seperti matahari terbit, hangat. Terlebih mencium aroma lezat menggugah selera sampai perutnya berbunyi.
“Kamu beli kwetiau goreng kesukaanku, Mas?” netra Helya berbinar, tidak mempedulikan sorot sepasang mata penuh kebencian.
“Mas mau membantu memperbaiki mood kamu, Sayang,” sahutnya riang. “Ayo kita ke meja makan!”
“Gimana mau hamil kalau makan terus yang dinomor satukan. Saluran indung telur mu bakalan tersumbat lemak, sudah divonis sulit mengandung malah makan sembarangan. Dasar gak guna!” Ganira berlalu setelah menghina menantunya.
Helyara kembali seperti pribadi normal menurut kacamata keluarga Alandi — diam saja kala dikatai.
Alan merangkul pundak istrinya, berbisik lembut, menguatkan. “Jangan dimasukkan hati perkataan Mama. Mas akan selalu berada dipihakmu meskipun tidak bisa membela langsung. Namun, diamnya aku bentuk dukungan untuk istri tercinta ini.”
Hueg!
Batin Helyara menyuarakan suara mau muntah, tapi sayang mulutnya malah berucap manis. “Terima kasih, Mas.”
Sepasang suami istri menikmati makan malam hanya berduaan saja.
Kedua orang tua Alandi, Rianti, Alamsyah bahkan Siska, menonton televisi di ruang keluarga sambil menikmati camilan. Mereka sudah makan lebih dulu, beli menu lezat di restoran sewaktu Wandi mengantar pulang mertuanya.
Malam ini tidak ada lagi perdebatan, saling sindir. Helyara berdiam diri di ruang kerja, lalu masuk ke kamar pada pukul sepuluh malam.
Dia juga tidak berniat mencari keberadaan suaminya yang entah dimana.
“Lebih baik tidur mengistirahatkan badan supaya kuat menghadapi kenyataan esok hari.” Helya menarik selimut sampai batas dada lalu memejamkan mata.
.
.
Keesokan paginya, suasana tenang masih menyelimuti hunian keluarga Utomo.
Siska tidak lagi menggerutu ketika membersihkan rumah, malah bersenandung sesekali mengangkat tangan kiri memandangi cincin emas putih bertabur berlian di jari manisnya.
Semalam, Alan memenuhi janji. Menghadiahi perhiasan dibuat dari coretan tangan Helyara yang dibanderol dengan harga belasan juta rupiah.
“Cepatlah keluar gendut, biar matamu langsung terbelalak melihat cincin ini!” sengaja dirinya memakai barang rancangan Helya, bermaksud ingin pamer, dan mengetes daya ingat istrinya Alandi.
Yang ditunggu-tunggu baru keluar sewaktu langit terang benderang.
Alan memperhatikan penampilan istrinya, saat ditatap balik langsung memuji.
“Cintanya mas Alan cantik banget, sampai pangling aku, Sayang.” Mata kirinya mengedip, lidahnya menjilati bibir.
Sulit sekali tersenyum disaat muak melihat sikap manis Alandi. Helyara menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, menunduk dengan pipi bersemu kemerahan, malu-malu.
“Ayo sarapan, Mas!” ajaknya kepada suami yang sedang membaca koran pagi bersama ayahnya.
“Yuk.” Alandi beranjak, digandengnya tangan Helyara.
Lirikan mata Siska menelisik sang nyonya. Pagi ini Helyara mengenakan pakaian bepergian — celana kulot hitam, blazer putih dengan dalaman hitam. Rambutnya digelung sederhana, dan wajahnya memakai make-up tipis.
Cih!
‘Malah mirip ondel-ondel!’ hinanya dalam hati.
“Siska tolong buatkan saya teh tanpa gula!” titah Helyara.
Kesempatan bagi Siska untuk pamer, dia langsung semangat. “Baik, Nyonya.”
“Tuan mau teh juga atau kopi?” ucapnya sopan, sama sekali tidak terdengar nada menggoda, lirikan mata nakal.
“Saya minum air putih saja.” Alan menyendok bihun goreng ke piring istrinya, melayani bak suami penuh kasih.
Segelas teh telah selesai diseduh, dan diletakkan diatas nampan bulat kecil, lalu diangkat dan dibawa ke meja makan.
Punggung jemari tangan kiri Siska menyenggol lengan Helyara membuat empunya menoleh menatap tepat pada batu permata berkilau.
“Cantik sekali cincin kamu, Siska? Pasti mahal ya?” Helya bereaksi seperti keinginan pembantunya.
Suaranya malu-malu menjawab pertanyaan Helya, sengaja sedikit menjeda sang waktu. “Cuma 17 juta, Nyonya. Saya beli dari tabungan hasil kerja disini.”
“Wah, hebat kamu. Ayo lebih giat lagi menabung, biar bisa punya seperti saya pakai ini!” Tangan kirinya diangkat sampai siku bertumpu di atas meja.
Bola mata Siska seperti mau keluar dari rongga nya. Rasa panas merambat sampai pucuk kepala. Hatinya meradang, merasa kalah telak.
“Bagus bukan? Tentulah. Sampai kamu melongo begitu. Ini gak mahal kok, cuma 145 juta rupiah saja. Kalau kepengen, kamu bisa mencicil perbulannya dari gaji hasil kerja sebagai pembantu di sini. Gimana berminat gak, Siska?”
.
.
Bersambung.
sukuriiinnn..ketahuan yaaahhh..kalo habis maen kuda²an sama SiAlan....
pas ini untuk menyerang memojokkan
tapi gas tipis2 Heelll
blm waktunya membantai habis
aku suka..aku suka...
injek sekuat tenaga, Hel...
klo bisa, aku bantuin nginjeknya dah 🤭