NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Resepsi Sederhana

Resepsi yang disebut Ratna sederhana memakai gedung kecil dengan bunga segar di setiap meja, katering tanpa antrean, dan petugas keamanan yang menyamar sebagai tamu.

Keisha memperhatikan seorang pria berjas memberi isyarat pada orang lain di dekat pintu. "Mas Arya."

"Ya?"

"Kenapa resepsi kecil perlu pengamanan seperti kedatangan pejabat?"

Arya membetulkan ujung lengan batiknya. "Keluarga besar suka membawa tamu tambahan."

"Itu bukan jawaban."

"Anda mulai mengenal kebiasaan saya."

Keisha mendengus. Ia mengenakan kebaya lembut pilihan Bu Sukma, dengan cincin lamaran dan mahar tersimpan aman. Arya berdiri di sampingnya sebagai suami sah, menerima ucapan selamat dengan tenang seolah pernikahan mendadak ini telah direncanakan bertahun-tahun.

Tamu memang dibatasi, tetapi berita bergerak tanpa undangan. Foto akad masuk ke grup WhatsApp keluarga. Tetangga Bu Sukma membagikan foto seserahan. Lingkaran arisan Ratna mulai menebak siapa Keisha dan mengapa nama Prawira hanya disebut seperlunya.

Ponsel Keisha bergetar di sela acara.

Sebuah tangkapan layar dari rekan rumah sakit memperlihatkan unggahan Sherina.

Ada orang yang lupa asal setelah memakai gaun pengantin. Semoga keluarga baru tahu barang yang mereka bawa pulang.

Tidak ada nama. Namun foto latarnya menampilkan sudut showroom AnHome dan sebuah meja retak yang mirip meja rumah lama.

Rahang Keisha mengeras.

"Jangan balas," kata Arya di sampingnya.

"Mas membaca layar saya?"

"Wajahmu berubah."

Sapaan Mas keluar begitu alami hingga Keisha baru menyadarinya setelah terlambat.

"Dia menyindir Mama dan saya."

"Kalau kamu balas sekarang, dia mendapat perhatian. Simpan tangkapan layarnya. Kalau dia menyebut nama atau menyebarkan kebohongan, baru kita jawab dengan bukti."

Keisha menatapnya. "Kita?"

"Kamu istri saya di depan semua orang. Saya tidak akan membiarkan orang menggunakan nama kamu untuk konten murahan."

Nada itu datar, tetapi kalimatnya membuat denyut di leher Keisha bergerak terlalu cepat. Ia menyimpan tangkapan layar tanpa membalas.

Reza muncul membawa dua gelas air. "Saya baru ditanya tiga tante apakah pengantin pria benar kerja di luar kota."

"Kamu jawab apa?" tanya Arya.

"Saya bilang pekerjaannya rahasia."

Arya menatapnya dingin.

"Bercanda. Saya bilang sering dinas." Reza menyerahkan gelas kepada Keisha. "Tenang, saya tidak menyebut Meriam."

"Sekarang justru disebut," kata Keisha.

Reza pura-pura batuk dan segera pergi mencari makanan.

Sepanjang siang, Keisha dan Arya berdiri berdampingan menyambut tamu. Ketika seorang tante bertanya kapan punya anak, Keisha membeku.

Arya menjawab lebih dulu, "Doakan kami sehat. Soal anak bukan bahan jadwal keluarga."

Ketika tamu lain bertanya mengapa keluarga Keisha hanya diwakili Bu Sukma, Arya berkata, "Mama Keisha sedang dirawat. Bu Sukma adalah keluarga yang dipilih dan dihormati istri saya."

Tidak ada rasa kasihan dalam jawabannya. Hanya penetapan tempat Keisha di sisinya.

Bu Sukma menarik Keisha ke ruang rias saat jeda.

"Dia pintar melindungimu," katanya.

"Itu bagian dari perjanjian."

"Mungkin. Tapi jangan lupa, pernikahan ini punya batas. Jangan serahkan hati hanya karena dia berdiri di depanmu saat orang lain menyerang."

Keisha mengangguk. "Aku ingat. Ini satu tahun."

Namun matanya melayang ke pintu. Arya sedang dikelilingi kerabat, wajahnya tetap dingin sambil mencari Keisha di antara orang-orang. Begitu mata mereka bertemu, bahunya terlihat sedikit rileks.

Bu Sukma menangkap semuanya. "Mulutmu ingat. Mata kamu belum tentu."

"Bu..."

"Jaga dirimu. Itu saja."

Menjelang sore, Keisha kembali mendampingi Arya. Mereka belajar memberi jawaban bersama tanpa saling memotong. Kalau Keisha lupa nama kerabat, Arya menyelipkannya pelan. Kalau Arya menjawab terlalu singkat, Keisha menambahkan keramahan. Kerja sama itu terlalu mulus untuk dua orang yang menikah demi kontrak.

Fotografer meminta satu potret terakhir hanya untuk pengantin.

"Lebih dekat, Pak. Tangan di pinggang istri."

Arya tidak langsung bergerak. Ia menoleh kepada Keisha lebih dulu. "Boleh?"

Pertanyaan sederhana itu mengingatkan Keisha pada klausul yang mereka tulis tebal-tebal. Di depan puluhan kerabat, Arya tetap meminta izin.

Keisha mengangguk.

Telapak tangannya singgah di sisi pinggang Keisha, ringan namun hangat menembus kain kebaya. Tidak menarik, tidak menekan. Keisha meletakkan tangan di lengan Arya agar pose terlihat wajar.

Kamera berkedip beberapa kali.

"Senyum ke suami, Bu," kata fotografer.

Keisha menoleh. Arya sudah melihatnya. Jarak wajah mereka cukup dekat untuk membuat suara tamu menghilang selama satu detik.

"Kalau kamu terus menatap seperti mau memeriksa saya, foto ini akan terlihat aneh," bisik Arya.

"Saya sedang memastikan Mas tidak tersenyum palsu."

"Bagaimana hasilnya?"

"Mas memang tidak tahu cara tersenyum."

Ujung bibir Arya justru terangkat. Kamera menangkapnya.

Di sisi ruangan, dua tamu arisan berbisik bahwa gedung kecil itu dikelola seperti acara keluarga besar yang sangat berpengaruh. Keisha mendengar kata koneksi dan nama lama, tetapi percakapan berhenti saat Ratna mendekat. Lagi-lagi, lapisan keluarga Arya terasa tebal dan tertutup.

Saat tamu terakhir pulang, kaki Keisha nyeri dan senyumnya hampir kaku. Arya melepas sepatu hak cadangan dari sebuah tas dan meletakkan sandal datar di depannya.

"Dari mana ini?"

"Bu Sukma bilang kamu selalu sakit kaki setelah memakai hak tinggi."

"Mas ingat?"

"Saya tidak ingin istri saya jatuh di depan keluarga. Merepotkan."

Keisha mengganti sepatu sambil menyembunyikan senyum.

Di pintu gedung, Arya mengambil kunci mobil.

"Malam ini kita kembali ke rumah Bunda. Besok barangmu dipindahkan."

"Dipindahkan ke mana?"

"Ke Dago."

Keisha menatapnya.

Arya membuka pintu mobil. "Besok kita pindah ke rumah kita."

"Rumah kita?"

Dua kata itu membuat jantung Keisha berdetak seperti baru mendengar kabul sekali lagi.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!