NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : TARIAN KAMAJAYA

Malam itu, langit Desa Samudra benar-benar bersih tanpa cela. Cahaya rembulan purnama tumpah ruah, menyelimuti pelataran luas rumah Denia hingga berubah menjadi panggung alami yang diterangi sinar keperakan.

Mas Trio, Yu Iwan, Yati, Lilis, Handoko, Amanah, dan Tuti telah berkumpul lebih dulu. Tawa mereka bersahutan, bercampur obrolan ringan yang menandai dimulainya permainan padang bulan.

Namun, ada satu orang yang justru menghilang.

Ke mana bocah yang tadi paling bersemangat mengumandangkan azan?

Rangga ternyata sedang meringkuk di bawah rindangnya pohon jambu di samping rumah Denia. Alih-alih bergabung bersama teman-temannya, ia memilih bersembunyi dalam bayang-bayang malam.

Ke mana perginya keberanian yang tadi membawanya berlari tunggang-langgang dari langgar?

Jawabannya datang beberapa saat kemudian.

Sreeet...

Pintu kayu rumah Denia terbuka perlahan.

Rangga spontan mengangkat kepala.

Waktu seolah melambat.

Denia melangkah keluar.

Bagi bocah sebelas tahun itu, dunia mendadak berubah. Dalam benaknya, Denia bukan lagi gadis kecil tetangganya. Ia menjelma menjadi Kajol, aktris film India yang berkali-kali ia tonton lewat televisi komunal desa. Seakan mengenakan sari merah yang berkibar pelan diterpa angin malam, Denia berdiri dengan senyum manis yang membuat dada Rangga berdebar tak keruan.

Gubrak!

Rangga jatuh terduduk begitu saja di bawah pohon jambu.

Lututnya mendadak kehilangan tenaga. Jantungnya berdegup sekencang kentongan ronda, sementara wajahnya memanas entah karena malu atau karena pesona gadis yang sejak tadi tak henti dipandanginya.

"Si Rangga mana ya, Lis? Tadi siang katanya mau main ke sini. Kok belum datang? Tumben, biasanya dia paling cepat kalau padang bulan begini," tanya Denia sambil menoleh ke kanan dan kiri.

Nama itu terdengar begitu jelas di telinga Rangga.

Ajaib.

Rasa lemas yang tadi menguasai tubuhnya lenyap seketika. Ia buru-buru berdiri, menepuk-nepuk celana pendeknya yang kotor, lalu merapikan kaus oblong yang sedikit kusut. Senyumnya mulai mengembang.

Melihat gelagatnya, aku langsung curiga.

Tatapan bocah itu terlalu percaya diri.

Biasanya, kalau Rangga sudah memasang wajah seperti itu, berarti ada ide nekat yang sebentar lagi lahir.

Dan benar saja.

"Tum paas aaye... yun muskuraye... tumne na jaane kya sapne dikhaye..."

Suara cemprengnya mendadak memecah keheningan pelataran.

Tanpa rasa malu sedikit pun, Rangga melangkah keluar dari balik pohon sambil bernyanyi lantang. Entah pelafalannya benar atau tidak, yang jelas semangatnya tidak kalah dari penyanyi aslinya.

"Ab to mera dil jaage na sota hai... kya karoon haye... kuch kuch hota hai..."

Belum cukup sampai di situ.

Ia ikut meliukkan badan, menirukan gaya Rahul di depan Anjali dengan keyakinan penuh, seolah seluruh pelataran adalah panggung pertunjukan khusus untuknya.

Seketika, gelak tawa pun pecah.

Mas Trio sampai menepuk paha. Yu Iwan membungkuk sambil memegangi perut. Lilis, Handoko, Tuti, dan yang lain ikut tertawa melihat tingkah Rangga yang benar-benar di luar dugaan.

Hanya Denia yang berbeda.

Gadis kecil itu berdiri mematung beberapa saat sebelum senyum lebar menghiasi wajahnya. Kedua pipinya perlahan memerah diterpa cahaya bulan, seolah tak tahu harus merasa malu atau justru menikmati pertunjukan dadakan yang hanya bisa dilakukan oleh Rangga.

"Rangga, kon sih nang apa ujug-ujug teka nembang kaya bocah kesurupan?" protes Mas Trio sambil menggeleng-geleng kepala. Sudut bibirnya masih berkedut menahan tawa melihat aksi sepupunya yang kelewat percaya diri.

Rangga mengangkat kedua bahunya santai, seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia.

"Ora papa, Mas. Mung lagi pengen nembang." Ia lantas menoleh ke arah Denia dengan senyum paling manis yang bisa ia pasang. "Iya, kan, Denia?"

Denia langsung mencebik.

"Dih, ya mbuh. Kon dhewe sing pengen nembang, kok aku sing digawa-gawa," balasnya sambil memalingkan wajah. Meski begitu, semburat merah di kedua pipinya belum juga menghilang. Senyum tipis yang berusaha disembunyikannya justru membuatnya tampak semakin manis di mata Rangga.

Handoko bertepuk tangan sekali, berusaha mengembalikan perhatian semua orang.

"Wis, wis. Aja aneh-aneh maneh. Saiki dolanan apa? Tung-tungan, gerobak sodor, sin-sinan, apa wayang wong?"

Belum ada seorang pun sempat menjawab ketika Rangga buru-buru mengangkat tangan.

"Aku melu apa wae, tapi nek iso dolanan Wayang Wong."

"Ngapa kok kudu Wayang Wong?" tanya Mas Trio curiga.

Rangga terkekeh kecil.

"Soale aku gelem dadi Kamajaya."

Tatapan anak-anak langsung beralih kepadanya.

Dengan wajah tanpa dosa, Rangga melanjutkan ucapannya.

"Denia dadi Kamaratih."

Suasana mendadak hening selama beberapa detik.

"Lah... sungkan! Liyane bae!" seru Denia cepat. Ia buru-buru menepis usul itu sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang mulai terpancar jelas di wajah.

Gelak tawa kembali memenuhi pelataran.

Mas Trio sampai menepuk bahu Rangga.

"Dasar! Ono-ono wae pikiranmu."

Rangga hanya nyengir lebar. Penolakannya memang cepat, tetapi setidaknya ia sudah berhasil membuat Denia salah tingkah. Baginya, itu sudah lebih dari cukup.

Sayangnya, usulan Wayang Wong belum mendapat dukungan. Anak-anak lain justru mulai mengajukan permainan pilihan masing-masing.

"Aku gerobak sodor!"

"Sin-sinan wae!"

"Tung-tungan luwih seru!"

Dalam sekejap, pelataran berubah menjadi arena adu pendapat. Masing-masing merasa permainan pilihannyalah yang paling menarik.

Yu Iwan yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mengangkat tangan.

"Wis kaya ngene bae. Daripada suwé debat, mending sut. Sing paling akhir menang bebas milih dolanan. Piye?"

Usul itu langsung disambut anggukan.

"Setuju!"

"Ya wis!"

"Gas!"

"Yuk, mubeng!" ajak Handoko sambil menjulurkan tangan ke tengah lingkaran.

Semua anak segera merapat.

Telapak-telapak tangan kecil saling bertemu di tengah lingkaran, bersiap menentukan nasib permainan malam itu.

"Hompimpa alaihum gambreng!”

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Babak pertama pun dimulai.

Yu Iwan, Yati, dan Lilis langsung tersisih. Telapak tangan mereka menghadap ke bawah, sementara yang lain serempak menunjukkan punggung tangan. Ketiganya hanya bisa tertawa pasrah sebelum menyingkir ke tepi pelataran.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Putaran berikutnya kembali memakan korban.

Mas Trio, Tuti, dan Amanah harus menerima nasib yang sama. Mereka keluar dari lingkaran sambil bersungut-sungut kecil, meski sesekali masih saling menggoda.

Lingkaran semakin mengecil.

Kini hanya tersisa empat anak.

Denia.

Handoko.

Rangga.

Dan Mukhayah.

Rangga diam-diam mengusap kedua telapak tangannya ke celana pendek. Entah kenapa, telapak itu terasa mulai berkeringat.

Dalam hati ia terus berdoa.

Ayo, sekali ini saja. Jangan sampai kalah. Aku harus menang.

Kalau sampai Mukhayah atau Handoko yang menang, habislah sudah rencana besarnya. Mimpi menjadi Kamajaya dan memasangkan Denia sebagai Kamaratih akan lenyap begitu saja sebelum sempat dimulai.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Handoko mengembuskan napas panjang begitu melihat posisi tangannya berbeda sendiri.

"Yah... kalah aku."

Ia terkekeh kecil lalu melangkah keluar dari lingkaran.

Kini tinggal tiga orang.

Rangga.

Denia.

Mukhayah.

Suasana yang semula riuh mendadak berubah tegang. Anak-anak yang sudah gugur ikut memperhatikan dengan penuh penasaran.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Denia menatap telapak tangannya, lalu menghela napas pelan.

"Heh... kalah maneh."

Ia tersenyum kecil sebelum berjalan ke pinggir dan berdiri di samping Lilis.

Rangga menahan senyum.

Satu rintangan telah lewat.

Kini tinggal satu lawan lagi.

Di tengah pelataran yang diterangi sinar bulan, Rangga dan Mukhayah saling berhadapan. Anak-anak lain otomatis membentuk lingkaran yang lebih lebar, memberi ruang bagi duel penentuan.

"Sing jujur yo!" seru Mas Trio dari pinggir.

"Iya, ojo curang!" timpal Handoko.

Rangga mengangguk mantap, meski jantungnya berdegup jauh lebih keras daripada biasanya.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Sama.

Keduanya mengeluarkan posisi tangan yang sama.

"Baleni! Baleni!" teriak anak-anak hampir bersamaan.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Masih sama.

Mukhayah mulai terkikik geli, sedangkan Rangga justru menggigit bibir bawahnya. Keringat dingin perlahan muncul di pelipisnya.

Jangan sekarang...

Jangan sampai keberuntungan meninggalkanku sekarang...

Semua mata tertuju pada mereka berdua.

Udara malam terasa lengang.

Bahkan suara jangkrik di pematang sawah seolah ikut meredup, menunggu siapa yang akan menjadi pemenang.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Empat telapak tangan kembali melayang hampir bersamaan....

Dan tepat pada detik itulah, nasib rencana besar Rangga akhirnya benar-benar ditentukan.

Empat telapak tangan kembali melayang hampir bersamaan.

"Hompimpa alaihum gambreng!"

Sunyi.

Semua mata serempak menunduk ke arah tangan mereka.

Sesaat kemudian...

"Yeeee... Rangga menang!"

Sorak sorai langsung meledak memenuhi pelataran.

Rangga membelalakkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menoleh ke arah Mukhayah yang hanya bisa mengangkat bahu sambil tertawa kecil.

"Lha kok iso..." gumam Mukhayah.

Rangga yang semula masih terpaku mendadak melompat tinggi.

"Yes! Menang aku!"

Ia mengepalkan kedua tangan di udara, lalu berlari kecil mengelilingi lingkaran sambil tertawa kegirangan. Wajahnya berseri-seri seperti baru saja memenangkan hadiah paling besar di dunia.

Mas Trio langsung menoyor pelan kepalanya.

"Heh! Wis menang kok malah pamer."

"Hehehe... pisan-pisan, Mas."

"Ya wis, saiki giliranmu. Kon sing menang. Dolanane apa?" tanya Yu Iwan.

Pertanyaan itu membuat senyum Rangga semakin melebar.

Inilah saat yang sudah ditunggunya sejak awal.

Tanpa membuang waktu, ia berdiri tegak di tengah lingkaran, lalu berdeham sok berwibawa.

"Aku milih dolanan Wayang Wong!"

Beberapa anak langsung saling berpandangan.

"Wayang Wong maneh?" keluh Handoko.

"Iya. Wayang Wong!" ulang Rangga mantap.

"Lakone apa?"

Dengan mata berbinar, Rangga menjawab tanpa ragu sedikit pun.

"Kamajaya lan Kamaratih."

Mas Trio langsung menyipitkan mata.

"Oalah... jebul ngono to."

Gelak tawa kembali pecah.

Yu Iwan sampai menepuk bahu Handoko sambil terkekeh.

"Pantesan wae ngotot menang."

Rangga pura-pura tidak mendengar godaan mereka. Tatapannya sudah lebih dulu mencari satu orang.

Denia.

Gadis kecil itu berdiri di samping Lilis sambil memainkan ujung bajunya sendiri. Begitu menyadari dirinya sedang diperhatikan, Denia buru-buru mengalihkan pandangan.

Rangga menarik napas panjang.

Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia melangkah mendekati Denia.

"Den..."

Denia mengangkat wajah pelan.

"Napa?"

"Gelem dadi Kamaratih?"

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.

Anak-anak yang sedari tadi masih bercanda kini ikut menunggu jawaban Denia. Bahkan Mas Trio yang biasanya paling ribut memilih melipat tangan di dada sambil memasang senyum jahil.

Denia menggigit bibir bawahnya.

Pipinya kembali memerah.

Ia menunduk cukup lama hingga Rangga mulai khawatir akan ditolak untuk kedua kalinya.

Barulah setelah menarik napas pelan, Denia berbisik lirih, nyaris tak terdengar.

"...Yo wis."

Meski pelan, satu kalimat itu sudah lebih dari cukup.

Senyum Rangga langsung mengembang lebar.

Malam padang bulan itu tiba-tiba terasa jauh lebih indah daripada sebelumnya. Bukan karena rembulan yang bersinar penuh, melainkan karena untuk pertama kalinya, gadis yang diam-diam mengisi ruang kecil di hatinya bersedia berdiri di sisinya, meski hanya sebagai Kamaratih dalam sebuah permainan anak-anak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!