Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cassia Manon
Empat musim telah berlalu sejak Cassia Manon pertama kali melangkah ke gedung Kingsford Tower.
Pagi itu, 15 November lagi. Tepat 365 hari.
Cassia berdiri di depan cermin kamar sewaannya yang sempit di Queens. Sebenarnya, dengan gajinya yang lumayan besar—dia bisa saja menyewa apartemen mewah.
Tapi, dia hanya ingin hemat agar bisa menabung untuk hari tuanya kelak. Karena Cassia selalu berpikir bahwa dia akan menua sendirian, tanpa keluarga atau pun pasangan.
Ia menata rambut coklatnya dengan rapi—kuncir kuda tinggi, tanpa satu helai pun yang lepas. Kacamata dengan frame hitam khas tahun 90-an masih setia di batang hidungnya yang mancung.
Lensa minusnya sebenarnya tak terlalu besar, hanya saja entah kenapa Cassia lebih nyaman memakai kacamata sebagai perlindungan diri dari tatapan mata yang menusuk.
Warna pakaiannya sekarang berbeda dari setahun lalu. Bukan karena dia tiba-tiba merubah penampilan, melainkan karena kepala HRD mengancam akan memindahkannya ke divisi lain jika terus datang dengan warna pakaian yang selalu sama.
Cassia memilih satu setelan formal dengan model kuno berwarna peach tua yang dia beli dari toko barang bekas di Brooklyn.
Jasnya sedikit kebesaran di bahu, roknya panjang sampai betis, dan blus putih di dalamnya masih baru dan putih. Sepatu hak rendah hitam membungkus telapak kakinya.
Penampilannya seperti seorang pustakawan dari tahun 1985, pikir Cassia sinis. Tapi ini terasa nyaman baginya karena dia tak perlu risih dengan lirikan para pria hidung belang yang pastinya tidak akan melirik padanya sama sekali.
Dengan tas hitam yang sama, isinya laptop perusahaan, buku catatan, bekal roti, dan beberapa barang yang menurutnya penting—Cassia berangkat menuju stasiun kereta bawah tanah.
*
*
Kantor terasa sama seperti biasa. Tak ada yang berubah, kecuali penampilan para pegawai staf yang selalu semarak dan modis, sangat kontras dengan dirinya.
Cassia hanya mengambil dan membawa dokumen penting yang harus segera ditandatangani Maxence Kingsford hari itu. Dokumen kontrak merger dengan perusahaan teknologi senilai 2 miliar dollar. Dan hari ini sang bos tak masuk ke kantor karena akan pergi ke luar negeri.
Max lupa membawanya pulang kemarin. Sekarang dokumen itu ada di tangan Cassia, dan dia harus mengantarnya ke penthouse Maxence yang tak jauh dari kantor.
Penthouse di Kingsford Tower II, lantai 62.
Cassia sudah dua kali ke sana sebelumnya. Dua kali itu juga untuk mengantar dokumen.
Dua kali itu dia melihat wanita berbeda keluar dari kamar tidur Maxence dengan rambut acak-acakan dan kemeja pria yang kebesaran.
Dia berdoa semoga kali ini tidak ada pemandangan seperti itu lagi.
Petugas security mengenali Cassia. "Miss Manon, Tuan Kingsford sudah menunggu"—lalu petugas itu memberinya akses lift eksklusif.
Lift naik perlahan. Cassia menggenggam map coklat berisi dokumen itu erat-erat. Jantungnya berdetak normal. Setelah satu tahun, dia pikir dia sudah kebal.
Pintu lift terbuka langsung ke ruang tamu penthouse. Luas, mungkin 300 meter persegi. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit menghadap ke selatan di mana Patung Liberty tampak seperti mainan putih di kejauhan.
Dan dari salah satu pintu di sebelah kiri, kamar tidur utama, terdengar suara tawa wanita. Doanya tampaknya tidak terkabul. Ada wanita lagi di sini.
Cassia berhenti di ambang pintu. Seorang wanita melangkah keluar. Rambut pirang panjang bergelombang, mata biru.
Dia hanya mengenakan kemeja putih, kemeja Maxence, yang hanya sampai ke paha. Kakinya jenjang, tanpa alas, kuku kaki dicat merah.
Cassia tak suka penampilan wanita itu. Seperti wanita murahan, pikirnya. Hanya wanita simpanan yang jika bosan akan segera dibuang oleh Max.
(JANGAN LUPA KOMEN YANG BANYAAAAAAKKK)
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭