Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.
Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Matahari pagi sudah naik tinggi, menyinari seluruh ruang tengah apartemen lewat dinding kaca yang luas. Namun suasana di dalamnya hening dan serius, seolah ada beban berat yang menggantung di udara. Kirana duduk di meja kerjanya, menumpuk berkas-berkas tebal yang sudah disiapkan sejak lama, sementara Lukas duduk di hadapannya, tangannya saling bertaut di pangkuan—hatinya berdebar penasaran sekaligus cemas, siap mendengar apa yang selama ini disembunyikan dari dirinya.
Kirana mengambil satu berkas paling atas, lalu menyodorkannya perlahan ke arah Lukas. Sampulnya sudah agak kusam, tertutup debu tipis seolah sudah disimpan bertahun-tahun tanpa pernah dibuka kembali.
“Selama ini orang-orang hanya melihat persaingan bisnis di Sulawesi Tengah sebagai pertarungan biasa: siapa yang punya modal besar, siapa yang punya koneksi kuat, dialah yang menang,” buka Kirana pelan namun tegas, matanya tak lepas dari wajah Lukas. “Tapi itu hanyalah permukaan saja. Di balik layar, ada pola yang sama berulang kali terjadi—perusahaan yang berdiri kokoh tiba-tiba mengalami kerugian misterius, kesepakatan bisnis batal di detik terakhir, pemilik saham utama menghilang atau mengalami kecelakaan tak terduga. Dan setiap kali hal itu terjadi, satu kelompok pengusaha selalu muncul sebagai pemenang yang mengambil alih aset dengan harga sangat murah.”
Lukas membuka berkas itu perlahan. Di dalamnya terdapat laporan keuangan, berita lama, dan catatan investigasi yang disusun rapi. Ia melihat nama-nama perusahaan yang dulu pernah ia dengar sebagai mitra keluarga Wijaya—semuanya kini sudah berhenti beroperasi atau berganti pemilik.
“Keluarga Chandra terlihat seperti pemain kecil yang baru tumbuh beberapa tahun terakhir,” lanjut Kirana, menunjuk satu grafik garis yang menunjukkan lonjakan kekayaan keluarga itu secara tiba-tiba sepuluh tahun lalu. “Namun lihatlah angka ini: tepat setahun setelah kamu diadopsi dan masuk ke rumah mereka, kekayaan mereka melonjak berkali-kali lipat. Mereka mendapatkan akses ke proyek-proyek besar yang sebelumnya hanya ditangani oleh Grup Wijaya. Mereka juga tiba-tiba memiliki saham di perusahaan yang dulu dikelola ayahmu.”
Jantung Lukas berdegup kencang. Ia teringat ucapan Tuan Chandra saat mengusirnya: “Sejak kamu datang, bisnis kami mengalami banyak kendala.” Padahal kenyataannya justru sebaliknya—keberadaannya di sana bertepatan dengan kemajuan pesat keluarga itu. Kebohongan itu kini terlihat begitu jelas dan menyakitkan.
“Jadi… selama ini mereka hidup mewah berkat aset yang dirampas dari keluargaku?” tanyanya pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang mulai menyala.
“Bukan hanya berkat aset,” jawab Kirana lembut namun tegas. “Mereka hanyalah perantara, sekutu yang disiapkan untuk menyembunyikan jejak. Benang merah yang menghubungkan semua kejahatan ini—mulai dari kejatuhan Grup Wijaya, kematian ayahmu, hingga pengusiranmu—mengarah pada satu kekuatan yang jauh lebih besar. Keluarga Chandra hanya bagian kecil dari teka-teki ini. Mereka disuruh menyembunyikanmu, dijaga agar kamu tidak tumbuh besar dan mulai menuntut hakmu. Selama kamu hilang, tidak ada yang berhak mempertanyakan kepemilikan aset itu.”
Lukas menatap foto lama yang terselip di dalam berkas—foto ayahnya berdiri di depan gedung kantor pusat Grup Wijaya yang dulu megah. Ia teringat tatapan gelisah Tuan Chandra saat mengusirnya, cara mereka berbicara seolah takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika ia tetap tinggal. Kini ia paham: mereka tidak berani menyakitinya secara langsung, namun mereka juga tidak berani melindunginya. Mereka hanyalah boneka yang ketakutan.
“Lalu kenapa saya?” tanyanya akhirnya, menatap mata Kirana lekat-lekat. “Kenapa Anda bilang saya adalah kunci dari semua rahasia ini? Saya tidak punya kekayaan, tidak punya kekuasaan, bahkan hampir tidak ingat wajah orang tuaku sendiri.”
Kirana berdiri perlahan, berjalan menuju peta besar yang tertempel di dinding, lalu menunjuk satu titik di bagian tengah kota—lokasi rumah masa kecilnya yang kini sudah diubah menjadi gedung perkantoran milik kelompok saingan itu.
“Karena kamu adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang memiliki akses ke ingatan, ke dokumen, dan ke tempat-tempat yang hanya diketahui oleh keluarga Wijaya,” jelasnya dengan nada penuh keyakinan. “Ayahmu bukan orang yang ceroboh. Ia tahu ada orang yang mengincar kekayaannya, bahkan mungkin mengincar nyawanya. Sebelum kecelakaan itu terjadi, ia menyembunyikan bukti-bukti penting—bukti tentang siapa dalang sebenarnya, tentang kesepakatan rahasia, tentang harta cadangan yang tidak tercatat di mana pun. Ia tidak menuliskan lokasinya di kertas yang mudah dicuri. Ia menyembunyikannya di dalam hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh anak kandungnya sendiri.”
Ia berbalik menghadap Lukas, matanya menyiratkan harapan yang besar sekaligus beban tanggung jawab yang berat.
“Selama sepuluh tahun ini, orang-orang yang mengincar itu terus mencari bukti tersebut. Mereka membongkar rumah, menggeledah kantor, menyiksa orang-orang terdekat ayahmu—namun mereka tidak menemukannya. Karena kuncinya ada padamu, Lukas. Ingatan masa kecilmu, tempat-tempat yang pernah kamu kunjungi bersama ayahmu, benda-benda yang pernah ia berikan padamu—di situlah letak jawaban yang selama ini dicari semua orang. Tanpa kamu, tidak ada yang bisa membuka pintu rahasia itu. Tanpa kamu, kejahatan ini akan selamanya tertutup rapat.”
Lukas terdiam lama, mencerna setiap kata yang diucapkan Kirana. Ia teringat hal-hal kecil yang dulu dianggap biasa saja—cara ayahnya mengajaknya berjalan-jalan ke hutan pinus, cerita tentang pohon tua yang menjadi penanda, kotak mainan yang pernah dikunci dengan kode tanggal lahirnya, kalimat samar yang sering diucapkan ayahnya: “Rumah kita bukan hanya di atas tanah, tapi di dalam hati yang tak pernah lupa jalan pulang.” Dulu ia tak mengerti artinya, namun kini potongan-potongan itu perlahan mulai menyambung.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan foto lama yang ia temukan di dalam tas ranselnya semalam. Ia menunjuk ke arah pohon besar di latar belakang foto itu.
“Saya ingat tempat ini,” ucapnya pelan. “Ayah sering membawaku ke sana. Ia bilang ada sesuatu yang harus saya jaga sampai saya dewasa.”
Mata Kirana berbinar. Ia segera mengambil peta wilayah pinggiran kota, lalu menunjuk ke arah kawasan pegunungan di sebelah timur Palu.
“Ini adalah jejak pertamamu,” katanya lembut namun penuh semangat. “Bahkan sebelum kita menyusup ke lingkaran elit, bahkan sebelum kita menghadapi keluarga Chandra—kita harus mulai dari sini. Dari ingatanmu yang masih tersimpan rapi.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini bukan lagi keheningan yang penuh ketakutan. Di dada Lukas kini tumbuh kesadaran yang baru: ia bukan sekadar anak yang dibuang, bukan sekadar orang yang dicari. Ia adalah kunci yang selama ini ditunggu kehadirannya. Dan kemana pun ia melangkah, setiap langkahnya akan membuka jalan menuju kebenaran yang selama ini dikubur dalam-dalam.
Ia menatap Kirana, lalu mengangguk mantap.
“Saya siap melangkah lebih jauh,” ucapnya tegas. “Saya akan mengingat semuanya. Dan saya akan memastikan rahasia ini tidak lagi menjadi senjata bagi orang-orang yang berniat jahat.”
Mereka berdua kembali menatap peta di dinding, menyadari bahwa langkah pertama yang paling berharga telah ditemukan. Jejak yang selama ini hilang di tengah kabut masa lalu, kini perlahan mulai terlihat jelas di depan mata.