Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Dalam Cermin dan Kotak Musik Tua
Dua bulan berlalu dengan kedamaian yang semu. Aturan-aturan kehamilan dari Kian yang protektif perlahan menjadi rutinitas manis yang menghangatkan rumah mereka. Namun, di balik tawa dan perhatian hangat itu, sebuah teka-teki baru mulai merayap tanpa suara.
Sore itu, hujan gerimis kembali membasahi Jakarta. Maya sedang merapikan perpustakaan pribadi di lantai dua—satu-satunya ruangan di mana Kian mengizinkannya "beraktivitas ringan". Ketika Maya mencoba mengambil buku kurikulum tua di rak paling atas, jemarinya tak sengaja menyenggol sebuah panel kayu di balik rak buku tersebut.
KLIK.
Suara mekanisme engsel tua terdengar. Sebuah kompartemen tersembunyi yang tertutup debu tipis terbuka pelan.
Dahi Maya berkerut. Sebagai wanita yang cerdas dan teliti, rasa ingin tahunya membuncah. Di dalam kompartemen itu, tidak ada dokumen perusahaan atau tumpukan uang. Hanya ada sebuah kotak musik kayu berukiran rumit dan selembar foto hitam-putih yang sudah kusam.
Maya mengambil foto itu. Di dalamnya terlihat sosok mendiang ibu Kian sewaktu muda, berdiri anggun di sebuah halaman rumah tua berarsitektur Belanda. Namun, yang membuat jantung Maya berdegup kencang adalah sosok pria di samping ibu Kian. Wajah pria itu dicoret kasar dengan tinta hitam, namun di pergelangan tangannya terlihat sebuah jam tangan antik bermotif naga—jam tangan yang identik dengan yang pernah dipakai oleh mendiang ayah Maya.
"Kenapa foto Ibu ada bersama... Ayah?" bisik Maya, suaranya tercekat.
Sebelum Maya sempat memproses kejanggalan itu, kotak musik di tangannya mendadak berputar sendiri. Melodi klise nan menyayat hati bergema pelan di dalam ruangan yang sunyi: Für Elise.
Di saat yang bersamaan, ponsel Maya di atas meja berdering nyaring. Sebuah nomor tidak dikenal dari saluran privat.
Maya menggeser tombol hijau dengan tangan gemetar. "Halo?"
Tidak ada suara napas. Hanya hening, sebelum melodi yang sama persis dengan lagu kotak musik itu terdengar dari seberang telepon, diiringi suara bisikan wanita yang parau dan berat:
"Maya... tanyakan pada suamimu, siapa pemilik sebenarnya dari Yayasan Utama. Kerusakan masa lalu... belum selesai ditagih."
TUT... TUT... TUT...
Sambungan terputus seketika.
Dingin menyergap tengkuk Maya. Bulu kuduknya berdiri. Melodi kotak musik di tangannya mendadak berhenti tepat saat nada terakhir berbunyi.
Di bawah, suara deru mesin SUV Kian terdengar memasuki pelataran rumah. Kian melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyuman hangat, membawa kantong kertas berisi martabak manis kesukaan Maya.
"Sayang? Mas pulang," panggil Kian lembut, melepaskan jasnya dan melangkah naik ke lantai dua.
Namun, langkah Kian terhenti kaku di ambang pintu perpustakaan.
Maya berdiri di sana, memegang kotak musik tua dan foto hitam-putih itu. Wajah Maya pucat pasrah, matanya menatap Kian dengan campuran antara kebingungan, ketakutan, dan rasa curiga yang mendalam.
Melihat benda di tangan Maya, senyuman di wajah Kian seketika sirnah. Wajah tampannya berubah pucat pasi—sebuah ekspresi ketakutan yang belum pernah Maya lihat sebelumnya, bahkan saat Kian bertarung di dermaga tua sekalipun.
"Maya... dari mana kamu menemukan benda itu?" suara Kian bergetar, merendah dan penuh tekanan misteri.
"Mas..." bisik Maya, menatap Kian lurus-lurus. "Siapa pria di samping ibumu ini? Dan kenapa... kenapa ada telepon yang tahu lagu dari kotak musik rahasia milik keluargamu ini?"
Kian mengepalkan tangannya rapat-raptat. Rahasianya yang paling gelap—rahasia yang melandasi mengapa dulu keluarga Montanaya menanggung beban dendam, dan mengapa yayasan itu didirikan—kini mulai terkuak dari balik cermin masa lalu.
Misteri baru telah mengetuk pintu rumah mereka, dan kali ini, kebenarannya mengancam akan mengguncang fondasi cinta yang telah mereka bangun.