Kegelapan dan Cinta sangat cocok untuk menggambarkan cerita ini. Karakter utamanya adalah seorang pemuda bernama Hayakawa Yugioh.
Ia bertemu dengan tiga gadis cantik di tempat yang berbeda-beda. Kuroyuki Yukino (Stasiun Kereta), Minazuki Reina (Klub Voli), dan Hanamori Airi (Hujan Badai).
Yugioh membantu semuanya untuk menyelesaikan masalah hidup masing-masing. Seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai jatuh cinta padanya.
Dimulai dengan mengancamnya menggunakan benda tajam, menguntitnya ke manapun ia pergi, dan paling parah mengajaknya mati bersama.
Diakhir... Mereka mengajukan pertanyaan yang intinya: 'Siapa yang akan ia pilih untuk menjadi istrinya?.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.2: Para Penipu
Sangat berpengaruh besar untuk dunia. Kalau orang-orang yang dekat dengan Kobayashi Sato kayaknya bakal ngomong ‘Cukup penting’.
Namun kami pastinya bakal bilang ‘Sangat berpengaruh’ atau ‘Penting banget’. Kenapa demikian? Tanpa mereka-mereka ini, bisa dipastikan dunia bakalan kacau balau.
Dan beralih dari situ, namanya adalah Zhao Jun. Dia adalah seorang pria yang menyukai segala hal tentang kuliner.
Masak-masak gitu kah? Ya, bisa dibilang seperti itu. Kenapa kami bisa menjadi dua dari banyaknya pengawalnya?
Karena terpilih pastinya, hahaha. Alasanku biasa saja yaa...! Tapi... Menurutku hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk memberitahu pada dunia bahwa kami berdua merupakan duo penipu keren.
Yaa... Nggak bisa dianggap seperti itu juga sih, namun terserah saja lah, hahaha. Lalu... Sekarang waktunya ngobrol lagi dengan Arisu.
Membahas hal yang sama terus-menerus itu membosankan bukan! Jadi... Waktunya membahas hal-hal baru bersama Arisu.
“Pekerjaan di sini ngapain, Arisu?”
“Kita harus pura-pura menjadi mayat. Ada rumah hantu di dekat perkemahan ini, tapi nanti saja ke sananya.”
Benar juga!. “Daritadi kita ngobrol terus, tahu-tahu hari sudah gelap. Pukul berapa di jam tanganmu sekarang, Arisu?”
“Baru pukul 18.30. Lalu... Para wanita itu sudah berada di tenda masing-masing. Sekarang, kembali ke topik utama. Pasang tenda.”
“Area di sini banyak yang miring. Bentar!... Kita berada di mana sekarang?”
Sekeliling aku dan Tanaka penuh pohon rimbun. Kami berdua bisa dibilang tersesat bersamaan.
Terlalu asyik ngobrol dapat membuat orang tersesat ya! Namun... Sepertinya itu tergantung orangnya juga.
“Tanaka, mau pasang tenda di sini saja? Tas yang kita bawa berat lho! Tidak berat karena jalan sambil ngobrol, namun karena sudah nggak fokus ke hal-hal lain atau ke yang utama, jadinya kembali berat.”
Arisu benar. “Kalau begitu, pasang di sini saja. Walau jauh dari area perkemahan sesungguhnya, yang penting punya tempat beristirahat. Kalau tidak, tidur di rumput semalaman. Aku... Tidak menginginkannya.”
“Aku juga tidak menginginkannya. Rumput sangatlah jorok, banyak kuman, tak terurus, dan mereka yang tiduran di rumput masuknya orang gila.”
Pendapatku sama dengannya. Aku dan Arisu bisa dibilang seperti sahabat yang saling berbagi hal yang sama.
Hahaha, kedengaran keren sekali bukan! Ya, tentu saja. “Heran juga kepada mereka yang tiduran di rumput.”
“Ya kan! Selain gila, otak mereka kayaknya keluar dari kepala.”
“Kira-kira, siapa yang masih tiduran di atas rumput ya?”
“Hahaha, entahlah. Pastinya orang stres yang melakukannya.”
Daritadi aku mendengar banyak sekali ocehan aneh dari dua anak muda... Eemm... Yang satu gemuk dan pastinya nggak bakalan didekati cewek, satunya lagi... Apa-apaan pria itu!? Kurus banget! Kekurangan gizi kah?
Oh benar! Namaku Tadeshiko Areshi. Lahir tanggal 17 September 1997. Hehehe, usiaku sudah cukup tua bukan!
Begini-begini, diriku adalah seorang sutradara pemula yang mengagumi sutradara legendaris, George Saddleton atau sering dipanggil Georges lewat film pertamanya yang berjudul ‘Shark Ocean’.
Dan, waktunya memarahi kedua anak muda itu. Bisa-bisanya kalian menghina orang-orang yang tidur di atas rumput.
Rumput adalah sumber kehidupan dan merupakan tempat paling nyaman untuk tidur. Sebuah fakta yang tidak dapat diganggu gugat lagi.
“Hey kalian berdua!”
Aku keluar dari semak-semak belukar. Pakaianku benar-benar kayak orang yang lagi demam atau aku beneran demam sih, hahaha.
Jaket tebal dengan tisu dan kapas basah terus menempel di dahi tertutupi oleh rambut gondrong acak-acakanku.
Kedua mataku menyala dalam kegelapan menyamai sinar bulan terang di atas sana. “Jangan hina mereka yang tidur di atas rumput! Soalnya, aku melakukannya.”
‘Siapa dia!? Usianya... Kayaknya sepantaran denganku.’
Arisu dan Tanaka bergumam berbarengan dan nggak kedengaran sama sekali olehnya.
“Ma-maafkan kami!”
Wohoho! Arisu dan aku membungkuk dan ngomong hal yang sama barengan. Gumaman tadi juga kayaknya sama, hahaha.
Kekekek. Seperti yang diharapkan dari Tanaka. Sahabat itu memang selalu sama hampir dalam setiap hal ya!
Dua orang ini menarik! Aku ingin memperkenalkan diriku pada mereka. Hehehe, baiklah.
“Panggil saja aku ‘Tadeshiko-san’. Senang berjumpa dengan dua orang aneh yang seperti bukan manusia. Omong-omong, apa tujuan kalian di sini? Kalau aku... Pengen tidur, cuman lupa nggak bawa tenda, jadinya tiduran di atas rumput saja. Ku kira tidak menyenangkan, ternyata malah menyenangkan banget.”
Aku tidak percaya perkataannya. Untuk sekarang, perkenalkan diri juga deh. “Tanaka. Panggil saja begitu dan mana mungkin menyenangkan!”
“Aku setuju dengan Tanaka. Oh, namaku Arisu. Panggil saja seperti itu dan... Rumput jorok sih menurutku. Tapak kaki orang-orang yang lewat, tanah basah, dan sebagainya kalau menempel di baju bukankah agak gimana gitu?”
Coba tantang dua orang ini. Pemikiranku, benar-benar maju dan semoga diriku bisa sukses menjadi seorang sutradara serta bisa setara dengan George Saddleton.
“Kekekek...”
Dia sepertinya menjadi gila. Arisu benar dengan perkataannya. Rumput mengerikan sekali ya! Orang ini muncul dari semak-semak dan kelihatannya dia lagi sakit. Sakit membuatnya gila. Hahaha, se-semoga cepat sembuh.
Benar-benar orang yang aneh. Kayaknya Tanaka berpikir hal yang sama sepertiku. Dia gila dan itu pasti karena rumput.
“Coba saja sendiri! Kalian berdua pasti takkan bisa menahan kenikmatan sejati dari tiduran di atas rumput.”
Tatapannya terlihat begitu percaya diri. Karena penasaran, diriku menjawab: “Menarik! Ini akan menjadi pertama kaliku, namun pemikiranmu pastinya salah. Arisu, mari coba bersama! Kita buktikan bahwa dia itu salah besar.”
“Ayo Tanaka! Aku sendiri agak muak dengannya. Sama-sama membuktikan bahwa dia salah, adalah gunanya sahabat.”
Kami tersenyum dan tertawa bersama serta langsung berjalan santai menuju tempatnya tidur tadi.
Aku coba duluan dan Arisu setelahku. Baru saja melakukannya dan omong-omong, ini adalah pengalaman pertama kami berdua.
Dan kembali ke topik utama, kurang lebih, tas kami masing-masing ditaruh di atas kepala terlebih dahulu.
Maaf lupa menjelaskan! Tapi, terserahlah. Terakhir, rasa dari tiduran di rumput sangatlah...
“Me-menyenangkannn!!! E-enak bangettt!! Apa-apaan ini!!?? Kenapa rumput harum sekali aromanya dan membuatku mulai terlelap ke dalam mimpi super indah?!”
Aku dan Tanaka mengatakannya bersamaan dan bisa dibilang kami berdua kalah. Dia kelihatan senang banget dan sekarang, kami sedang sujud di depannya.
“Tiduran di rumput benar-benar nikmat. Maaf atas perkataan kami berdua sebelumnya dan terimakasih sudah menantang hal semenyenangkan ini.”
“Hahaha, tenang saja. Aku itu seorang pemaaf sejati dan jangan ulangi lagi oke! Lalu... Yang terpenting sekarang adalah, aku sedang mencari aktor pemula. Film pertamaku berdurasi 75 menit. Apakah kalian berdua tahu harus cari aktor pemula bagus di mana?”