“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bab 29: Pagi yang Cerah dan Langkah Pertama Menuju Akhir Pekan
Matahari pagi menyapa kota dengan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah-celah tirai putih kamar utama. Udara pagi terasa begitu segar, membawa aroma embun yang menempel di dedaunan tanaman hias di teras rumah. Di atas ranjang king size yang tertata rapi, Rangga Dewantara Aldebaran perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya terang yang mulai memenuhi ruangan.
Ia menolehkan kepalanya ke sisi sebelah kanan. Keisha Zahra Aurellia, istri tercintanya, masih terlelap pulas dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Wajah wanita itu tampak begitu damai, tenang, dan natural tanpa polesan makeup sedikit pun. Helai-helai rambut hitam Keisha yang terurai bebas di atas bantal putih tampak kontras dengan kulit wajahnya yang bersih. Jemari tangan kiri Keisha masih melingkar longgar di atas selimut, memperlihatkan kilau cincin perak pernikahan yang melingkar sempurna di jari manisnya.
Rangga tersenyum tipis. Perasaan hangat dan rasa syukur yang teramat besar kembali memenuhi rongga dadanya. Menikmati bulan-bulan pertama pernikahan mereka di bawah atap rumah sendiri adalah impian terbesar yang berhasil ia wujudkan setelah melewati berbagai badai kehidupan di masa lalu. Tidak ada tangisan bayi, tidak ada kerepotan mengurus anak kecil; yang ada hanyalah ketenangan dunia pengantin baru di mana seluruh perhatian dan cinta mereka curahkan sepenuhnya satu sama lain.
Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan istrinya, Rangga mengangkat tubuhnya perlahan dari tempat tidur. Ia meregangkan otot-otot lengannya yang terasa sedikit kaku, mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana training abu-abu, lalu melangkah pelan keluar kamar menuju area dapur di lantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi.
Suasana pagi di lingkungan perumahan itu sangat tenang. Hanya terdengar suara sapu lidi tukang kebun kompleks yang bergesekan dengan jalanan aspal, dipadukan dengan kicauan burung gereja di dahan pohon mangga. Rangga mulai menyalakan kompor, merebus air untuk dua cangkir kopi hitam kesukaannya dan teh manis hangat untuk Keisha, serta mulai memotong beberapa buah tomat dan mentimun untuk pelengkap menu sarapan pagi ini: nasi goreng sosis sederhana buatan tangannya sendiri.
Pukul tujuh pagi, aroma harum tumisan mentega dan bawang putih mulai merambat naik ke lantai dua, menggelitik indra penciuman Keisha. Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya, meregangkan kedua tangannya ke atas, lalu menghirup aroma masakan yang sudah tidak asing lagi baginya. Senyuman manis langsung merekah di bibirnya.
Keisha bangkit dari duduk, lalu melangkah turun menyusul suaminya ke lantai bawah. Begitu ia tiba di area dapur, ia melihat punggung tegap Rangga yang sedang membalik nasi di atas wajan dengan cekatan, mengenakan kaos hitam kesayangannya.
"Pagi, koki andalan rumah ini," sapa Keisha lembut sambil melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Rangga dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
Rangga menghentikan gerakannya sesaat. Ia menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, tersenyum lebar, lalu meletakkan spatula di tangannya untuk berbalik dan membalas pelukan istrinya dengan erat.
"Pagi juga, Nyonya Aldebaran tersayang," ucap Rangga lembut, mengecup sekilas puncak kepala Keisha. "Tidurmu nyenyak malam tadi? Nggak kedinginan kan gara-gara angin malam di taman kemarin?"
Keisha mendongak, menatap manik mata kelam suaminya dengan sorot mata penuh cinta. "Nyenyak banget, Kak. Malah tidur paling nyenyak semenjak kita nikah. Apalagi ditemenin suara gitar dan pelukan hangat dari suami tersayang."
Rangga tertawa renyah, mencolek hidung mancung istrinya gemas. "Bisa aja gombalnya. Udah, sana duduk manis di meja makan. Sarapannya sebentar lagi beres, hari ini kan hari Jumat—hari terakhir kita kerja sebelum akhir pekan besok."
Mendengar kata 'akhir pekan', mata Keisha langsung berbinar cerah. "Ah, benar juga! Besok kan hari Sabtu. Kak Rangga jadi kan ajak aku jalan-jalan ke pameran otomotif di gedung pusat kota?"
"Jadi dong, mana mungkin aku lupa janji sama istriku sendiri," balas Rangga mantap sambil mengangkat piring berisi nasi goreng buatan tangannya dan membawanya ke meja makan. "Nanti siang, habis jam istirahat kantor, aku jemput kamu di depan gedung keuangan, ya. Kita makan siang dulu di restoran Jepang langganan kita."
Keisha mengangguk antusias, membantu menyiapkan dua cangkir minuman di atas meja. Kehidupan pengantin baru mereka benar-benar berada dalam ritme yang sangat membahagiakan. Kesibukan karier sebagai profesional muda tidak sedikit pun mengurangi keintiman di antara mereka. Setiap hari adalah petualangan kecil yang selalu dinantikan.
Pukul delapan lewat seperempat, setelah sarapan dan merapikan rumah bersama-sama, Rangga mengantar Keisha menuju stasiun kereta komuter dengan motor matic andalan mereka. Meskipun kini posisi Rangga sebagai direktur operasional di Aldebaran Engineering & Automotive Hub memungkinkannya membeli mobil mewah, mereka berdua sepakat untuk tetap menikmati kesederhanaan masa-masa awal pernikahan ini.
Setibanya di depan gerbang stasiun, Keisha turun dari motor, melepas helmnya, lalu menyerahkannya kepada Rangga dengan senyuman manis.
"Hati-hati di jalan ya, Kak. Jangan ngebut-ngebut ke kantornya, meeting pagi sama klien asing baru jam sepuluh kan?" pesan Keisha sambil merapikan kerah jas suaminya.
Rangga mengangguk, membuka kaca visir helmnya lalu mencium sekilas kening istrinya di tengah kerumunan orang yang lalu-lalang menuju peron kereta. "Iya, sayang. Kamu juga hati-hati di kereta, jangan melamun dan pastikan handphonenya selalu diaktifkan volumenya."
Keisha melambaikan tangan, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam stasiun. Rangga memandangi punggung istrinya hingga menghilang di antara kerumunan penumpang, sebelum akhirnya memutar kemudi motornya menuju kawasan pusat bisnis kota.
Suasana di ruang kerja Rangga di lantai sepuluh gedung perusahaan tampak sibuk namun terkendali. Laporan triwulan divisi teknik dan logistik telah tersusun rapi di atas meja kerjanya. Pagi itu dilewati Rangga dengan serangkaian rapat koordinasi bersama para manajer senior pabrik, membahas inovasi suku cadang mesin industri dan efisiensi operasional bengkel cabang baru.
Sebagai seorang pemimpin muda, ketegasan dan visi visioner Rangga telah mendapatkan pengakuan penuh dari seluruh jajaran direksi dan staf perusahaan. Tidak ada lagi keraguan atau pandangan sebelah mata terhadap latar belakang masa lalunya; semua karyawan kini melihat Rangga sebagai sosok direktur muda yang cerdas, adil, dan sangat menghargai kerja keras tim.
Sementara itu di kantor pusat keuangan tempat Keisha bekerja, suasana tak kalah dinamis. Berada di ruang kubikal modern di lantai dua belas, Keisha sibuk menatap layar monitor komputer, merampungkan analisis laporan arus kas bulanan perusahaan sebelum tenggat waktu siang hari ini.
"Keish, lo udah siapin dokumen audit pajak buat rapat divisi jam dua nanti?" tanya Riri, rekan sekantornya, sambil membawa setumpuk berkas ke meja kubikal Keisha.
Keisha mengangguk mantap, menoleh ke arah sahabat kantornya itu sambil merapikan letak rambutnya. "Udah beres kok, Ri. Tinggal jilid rangkap tiga aja sebentar lagi."
"Hebat banget emang pengantin baru satu ini," puji Riri sambil terkekeh ringan. "Energinya nggak pernah habis. Padahal kemarin malam baru aja ngobrolin rencana kencan akhir pekan sama Rangga, paginya udah sat-set ngerjain tugas kantor."
Keisha tersenyum simpul, merasa tersanjung sekaligus geli mendengar godaan sahabatnya. "Ya mau gimana lagi, Ri. Kalau nggak diselesaikan cepat, nanti malah keteteran pas mau libur akhir pekan."
Menjelang pukul dua belas siang, bel istirahat berbunyi. Keisha merapikan meja kerjanya, mematikan layar komputer, lalu meraih tas tangan kecilnya. Sesuai dengan janji pagi tadi, ponsel di dalam tasnya bergetar tidak lama kemudian, menampilkan nama panggilan dari sang suami.
Keisha segera mengangkat panggilan tersebut dengan senyuman terkembang di bibirnya. "Halo, Kak? Tepat waktu banget kayak alarm berjalan."
Di seberang sambungan telepon, suara bariton Rangga terdengar renyah dan penuh kehangatan. "Tentu saja, aku selalu siap siaga buat istriku tersayang. Kamu udah siap di lobi bawah? Aku udah parkir motor di seberang gedung kantormu."
"Udah kok, ini baru mau turun lift," jawab Keisha antusias.
Lima menit kemudian, Keisha melangkah keluar dari pintu lobi utama gedung perkantoran. Di seberang jalan, di bawah rindangnya pohon angsana, Rangga berdiri tegak mengenakan kemeja abu-abu terang dengan lengan yang dilipat hingga siku. Begitu melihat sosok istrinya yang melangkah menghampirinya, senyuman lebar langsung terkembang di wajah pria itu.
Rangga segera memakaikan helm bogo putih ke kepala Keisha dengan sangat telaten dan penuh perhatian. "Udah lama nunggunya?" tanya Keisha lembut.
"Baru sepuluh menit kok. Yuk, kita langsung berangkat ke restoran Jepang langganan di ujung jalan," ajak Rangga, membukakan kaca helm istrinya sejenak sebelum naik ke atas motor.
Perjalanan siang itu di bawah terik matahari kota yang cerah terasa begitu menyenangkan. Sepanjang perjalanan, angin sepoi-sepoi menerpa lembut wajah mereka. Bagi Rangga dan Keisha, momen-momen sederhana seperti makan siang bersama di tengah kesibukan hari kerja adalah kemewahan emosional yang tidak ternilai harganya.
Setibanya di restoran Jepang bernuansa kayu minimalis yang tenang, mereka langsung memilih meja pojok dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman buatan restoran. Suasana di dalam restoran terasa sejuk dan privat, sangat cocok untuk melepas penat setelah bekerja setengah hari penuh.
Setelah memesan dua porsi chicken katsu ramen dan ocha dingin kesukaan mereka, Rangga menatap lekat-lekat wajah istrinya di seberang meja.
"Gimana pekerjaanmu pagi ini di kantor, Keish? Nggak ada klien yang rewel kan?" tanya Rangga penuh perhatian, merapikan letak sendok dan sumpit di hadapan istrinya.
Keisha menggeleng sambil tersenyum manis. "Alhamdulillah aman, Kak. Laporan audit pajak udah beres diserahin ke kepala divisi. Tinggal nunggu rapat evaluasi minggu depan aja. Kalau Kak Rangga sendiri gimana? Rapat sama klien asing tadi pagi lancar?"
"Lancar banget," jawab Rangga mantap. "Mereka bahkan setuju buat memperpanjang kontrak kerja sama pengadaan mesin industri untuk tahun depan. Artinya, posisi perusahaan kita makin kuat di pasaran."
Keisha meraih tangan kanan suaminya di atas meja, mengusap pelan jemari Rangga dengan rasa bangga yang meluap. "Aku bangga banget sama kamu, Kak. Kerja keras dan dedikasi Kakak selama ini benar-benar terbayar lunas."
Rangga balas menggenggam erat tangan istrinya, menatap manik mata Keisha dengan pancaran cinta yang dalam. "Semua keberhasilan ini nggak ada artinya kalau aku nggak punya kamu di sisiku, Keish. Kamu adalah sumber semangat utamaku."
Sesaat kemudian, pesanan makanan mereka datang disajikan oleh pelayan restoran. Suasana siang itu diisi dengan obrolan ringan, canda tawa, dan kehangatan khas pengantin baru yang tengah menikmati indahnya hari-hari pertama membangun bahtera rumah tangga.
Matahari perlahan bergerak turun ke ufuk barat, membawa bias cahaya jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit kota. Jam menunjukkan pukul lima sore, menandakan berakhirnya jam kerja di hari yang melelahkan namun penuh berkah.
Di stasiun kereta komuter yang dipadati oleh ribuan pekerja kantoran yang hendak pulang menyambut akhir pekan, Keisha berjalan keluar dari area peron dengan langkah ringan. Di seberang jalan raya, Rangga sudah menunggu dengan motor maticnya, siap menyambut kepulangan sang istri.
Begitu Keisha tiba di dekatnya, Rangga langsung membantu memakaikan helm, merangkul pinggang ramping istrinya posesif, dan melajukan kendaraan menuju rumah mungil mereka.
Setibanya di rumah, suasana asri dan damai langsung menyambut. Setelah membersihkan diri dan menunaikan shalat maghrib berjamaah di ruang tengah, mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu sambil merencanakan detail perjalanan kencan mereka ke pameran otomotif esok hari.
Keisha menyandarkan kepalanya nyaman di atas dada bidang Rangga, sementara lengan kokoh sang suami merangkul pundaknya erat-erat. Jendela ruang kaca sedikit terbuka, membiarkan angin malam masuk membawa kesejukan.
"Kak..." bisik Keisha lembut.
"Hmm? Ada apa lagi, sayang?" sahut Rangga menunduk, mengecup puncak kepala istrinya.
"Aku bahagia banget... hidup berdua sama kamu kayak gini. Rasanya dunia ini cuma milik kita berdua," ucap Keisha tulus dari lubuk hatinya.
Rangga mengeratkan rangkulannya, mengecup kening istrinya lama-lama penuh kasih sayang. "Dan aku bakal pastikan kebahagiaan ini nggak akan pernah pudar, Keish. Selamanya, kamu adalah ratu di istana kecil kita."
Di bawah naungan langit malam kota yang bertabur bintang-bintang gemilang, dua jiwa yang dulunya terperangkap dalam kerasnya badai kehidupan kini bersatu dalam dekapan kehangatan abadi. Menyongsong akhir pekan pertama mereka dengan senyuman, membawa serta harapan-harapan baru, cinta yang tak pernah luntur, dan janji suci yang terus hidup di setiap degup jantung mereka—sebagai pengantin baru yang melangkah pasti di atas titian waktu, selamanya, sampai akhir masa.