"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMURUH LENGANG DI PASAR KUNO
Deretan kedai tua beratap seng dengan dinding kayu yang mulai melapuk menyambut kedatangan Zavier dan Nayla sore itu. Pasar seni kuno di pinggiran kota berdiri tenang di bawah rindangnya pohon-pohon asam tua, menyajikan sudut kehidupannya sendiri yang melambat, sangat berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk pusat bisnis ibu kota yang selalu dipenuhi tenggat waktu dan manuver saham.
Aroma tanah basah pasca-hujan lokal berbaur dengan wangi dupa tipis, kayu jati tua, dan adonan kain batik yang dijemur di pelataran. Nayla melangkah perlahan di atas susunan batu jalanan yang licin, menggenggam buku sketsa kecilnya erat-erat. Di sampingnya, Zavier berjalan dengan langkah tenang dan teratur, pandangannya sesekali menyapu sekeliling untuk memastikan area tersebut aman dari intaian orang-orang klan.
"Tempat ini benar-benar punya nyawa sendiri, Zav," bisik Nayla seraya matanya berbinar meneliti sebuah kedai jam tua yang dipenuhi pendulum kayu bergaya ghotik. "Tidak ada aura tegang atau orang-orang berpakaian formal yang saling mengawasi."
Zavier tersenyum tipis, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. "Kehidupan di sini tidak diukur dari nilai aset atau dividen tahunan, Nay. Mereka hidup dari apa yang dibuat oleh tangan mereka sendiri hari ini."
Nayla menghentikan langkahnya di depan sebuah sudut pelataran terbuka. Di sana, seorang pengrajin kayu paruh baya tampak telaten mengukir bingkai tua bermotif sulur dedaunan di bawah pendar sinar matahari sore yang menembus celah dedaunan. Cahaya keemasan yang jatuh di atas bahu pria tua itu serta guratan ketenangan di wajahnya menciptakan sebuah komposisi visual yang amat menyentuh.
Tanpa membuang waktu, Nayla merapatkan posisinya di dekat tiang kayu kedai, membuka buku sketsanya, dan mulai menggoreskan pensil grafitnya dengan lincah. Setiap garis yang ditariknya memancarkan rasa kebebasan yang kini makin matang dan berisi.
Zavier berdiri tak jauh di belakangnya, bersandar pada pilar kayu yang kokoh. Pandangannya tidak tertuju pada pengrajin kayu itu, melainkan mengunci sosok Nayla yang tampak begitu larut dan berbinar saat berkarya. Dalam diam, Zavier merasa seluruh risiko, ancaman pembekuan akun dari Papi Kael, serta potensi konflik hukum dengan klan Alveric terbayar tuntas hanya untuk melihat ekspresi ini di wajah Nayla.
Namun, ketenangan sore itu mendadak terusik saat suara gesekan langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari balik lorong kedai barang antik.
Sesosok pria bertubuh tegap dengan jas rapi dialah seorang pengawal senior yang sangat dikenal Nayla muncul dari sudut gang. Itu adalah Danu, pengawal kepercayaan Adrian Alveric.
Nayla menghentikan goresan pensilnya seketika, jemarinya membeku di atas kertas saat matanya bertabrakan dengan pandangan Danu. Buku sketsa di tangannya hampir saja merosot.
"Nona Nayla," panggil Danu dengan intonasi formal yang kaku, melangkah mendekat. "Pak Adrian dan Tuan Alexander meminta Anda kembali ke rumah sekarang juga. Mobil sudah menunggu di Ujung jalan utama."
Nayla menahan napasnya, merasakan getaran dingin yang sempat berusaha menguasai dadanya. Namun sebelum rasa takut itu sempat membesar, bayangan tinggi tegap Zavier sudah bergerak pasif memotong jalur jalan Danu, berdiri tepat di depan Nayla sebagai benteng yang tak tertembus.
"Langkahmu berhenti di situ, Danu," ujar Zavier. Suara bass-nya yang berat dan dingin bergema tenang di antara keheningan lorong pasar kuno.
Danu menghentikan langkahnya, menatap Zavier dengan kening berkerut dalam. "Tuan Zavier, ini urusan internal klan Alveric. Tuan Alexander sudah mencabut seluruh akses Nona Nayla dan memerintahkan kami membawanya pulang."
Zavier menatap pengawal itu dengan sorot mata kelam tanpa cela. "Nayla sudah cukup umur secara hukum untuk menentukan tempat tinggal dan pilihan hidupnya sendiri. Kamu atau Alexander tidak punya hak hukum untuk memaksanya naik ke mobil itu."
"Tuan Alexander bisa membawa kasus ini ke jalur hukum atas dugaan penyekapan jika Anda terus menghalangi!" ancam Danu dengan nada yang mulai menegang.
Zavier terkekeh dingin, sebuah kekehan pelan yang sarat akan dominasi rasional. Ia melangkah maju satu tapak, membuat pengawal berpengalaman itu refleks tertahan.
"Katakan pada Adrian dan Alexander," tutur Zavier dengan penekanan kata yang tajam dan presisi, "kalau Alveric berani menyentuh Nayla atau memaksakan kehendak dengan kekerasan, Vanguard Capital akan merilis seluruh audit internal terkait konsorsium Barito ke otoritas bursa besok pagi. Kirim pesan itu pada pimpinanmu, Danu."
Wajah Danu seketika memucat. Sebagai pengawal tingkat atas, ia sangat tahu seberapa mematikan ancaman audit tersebut bagi kestabilan saham Alveric Group di pasar modal.
Di belakang Zavier, Nayla menghela napas panjang lalu melangkah maju. Ia berdiri sejajar di samping Zavier, menatap pengawal keluarganya itu dengan mata yang memancarkan ketegasan murni.
"Kembalilah, Mas Danu," kata Nayla dengan suara jernih tanpa keraguan. "Sampaikan pada Ayah dan Bang Adrian... Nayla yang dulu bisa dikurung di kamar pualam itu sudah tidak ada lagi. Aku memilih tinggal di sini, bersama hidup yang kupilih sendiri."
Danu memandangi Nayla dan Zavier bergantian selama beberapa detik yang tegang. Menyadari posisi tawar Alveric telah patah sepenuhnya di tempat ini, Danu akhirnya membungkuk kaku.
"Saya mengerti, Nona Nayla. Saya akan menyampaikan pesan ini kepada Tuan Alexander," ujar Danu pelan, sebelum membalikkan badan dan menghilang di balik lorong pasar.
Keheningan kembali menyelimuti sudut pasar kuno itu, bersaing dengan desir angin sore yang membawa aroma kayu jati. Nayla menghela napas lega, merasakan beban sejarah keluarganya perlahan terangkat sepenuhnya dari pundaknya.
Zavier memutar tubuhnya, menatap Nayla dengan binar bangga yang tak tertutup. "Kamu melakukannya dengan sangat baik, Nay."
Nayla menyunggingkan senyum tulusnya yang paling hangat, merapatkan jemarinya ke dalam genggaman tangan Zavier yang kokoh dan selalu melindungi.
"Karena aku tahu aku tidak lagi berdiri sendirian, Zav," bisik Nayla lembut. "Ayo kita pulang ke studio... aku mau menyelesaikan lukisan kedua ini sebelum malam tiba."
Langkah kaki Danu yang kian menjauh dan akhirnya menghilang sepenuhnya di Ujung lorong pasar kuno menyisakan hembusan angin sore yang terasa jauh lebih lega dari sebelumnya. Gemuruh mengancam dari klan Alveric yang sempat hinggap sejenak kini menguap, kalah oleh keberanian murni yang terpancar dari dada Nayla serta benteng perlindungan mutlak dari Zavier.
Matahari sore kian merendah di ufuk barat, membiaskan warna jingga kemerahan yang pekat menyapu langit dan merayapi dinding-dinding kayu kedai tua. Nayla merapatkan buku sketsanya di dada, menghela napas panjang seraya menatap langit bebas di atas mereka.
"Rasanya... aneh sekaligus melegakan," ujar Nayla pelan, memecah keheningan di antara mereka. "Selama ini, membayangkan berhadapan langsung dan menolak perintah Ayah adalah ketakutan terbesarku. Tapi ternyata, saat aku benar-benar mengucapkannya tadi... tidak ada yang perlu kutakutkan lagi."
Zavier membalikkan tubuhnya utuh menghadap Nayla. Pria Mahendra itu mengulurkan tangannya, mengambil alih buku sketsa dari pelukan Nayla dengan gerakan amat lembut, lalu menyandarkan punggungnya pada tiang kayu di dekat mereka.
"Itu karena selama ini yang membuat Ayahmu terlihat tidak tertandingi adalah rasa takutmu sendiri, Nay," tutur Zavier dengan nada suara bass-nya yang dalam dan tenang. "Saat kamu sadar kalau kamu punya hak mutlak atas hidupmu, semua ancaman itu cuma jadi gertakan kosong."
Nayla menyunggingkan senyum hangat, melangkah maju hingga jarak di antara mereka terkikis tipis. Ia menengadah, mengunci pandangannya pada manik mata kelam Zavier yang selalu memancarkan keteguhan.
"Terima kasih untuk tidak pernah melepaskan genggamanmu, Zav," bisik Nayla tulus. "Bahkan ketika kamu harus bertaruh dengan ancaman audit Vanguard Capital demi melindungiku."
Zavier menyunggingkan senyum tipis, sebuah kurva bibir yang langka namun selalu sanggup menghangatkan sudut hati Nayla. Jemari tangannya terangkat, mengusap lembut helai rambut Nayla yang terbawa angin sore.
"Aku tidak pernah bertaruh, Nayla," balasan Zavier mengalun mantap tanpa ragu. "Ancaman itu nyata, dan aku akan mengeksekusinya tanpa detik ragu jika mereka berani menyentuhmu. Bagiku, tidak ada nilai aset atau lembar saham di dunia ini yang sebanding dengan kebebasanmu."
Desiran halus berdesir hebat di dalam dada Nayla mendengar penegasan mutlak itu. Di tengah hiruk-pikuk intrik kekuasaan yang biasa mengelilingi hidup mereka, kehadiran Zavier adalah satu-satunya kepastian yang tak pernah goyah.
"Ayo kita pulang ke studio," ajak Nayla lembut seraya menyelipkan jemarinya kembali ke dalam sela-sela jari Zavier yang kokoh dan hangat. "Aku sudah mendapat inspirasi penuh untuk lukisan kedua. Aku mau mengabadikan momen sore ini... momen saat kita benar-benar memenangkan kebebasan kita."
Zavier meremas genggaman tangan Nayla dengan erat, mengangguk pelan. "Ayo. Aku akan menemanimu sampai goresan cat terakhir."
Bergandengan tangan di bawah temaram pendar jingga sore, dua anak manusia yang telah melepaskan takhta palsu keluarga mereka itu melangkah meninggalkan pasar kuno. Langkah mereka kini terayun ringan dan pasti, menapak jalan setapak menuju studio tempat warna-warna masa depan mereka sendiri siap digoreskan tanpa ada lagi bayang-bayang pengekangan.
kekny zavier ini tipe aku 🤭