Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kenapa Tidak Dibangunkan?
Tubuh Milka langsung menegang.
Pelukan yang dulu pernah ia rindukan, kini justru terasa asing.
"Mas ..."
Suara Milka terdengar pelan. Ia menunduk menatap kedua tangan Vando yang melingkar di pinggangnya. Pelukan itu, tak lagi membuatnya merasa nyaman.
"Sebenarnya, Mas sengaja menunggu kamu," bisik Vando.
"Kalau cuma mau marah karena aku diantar pulang oleh orang lain, tolong lepaskan."
"Bukan itu."
"Lalu?"
Vando mengembuskan napas panjang. "Mas ingin memenuhi permintaan mamamu."
Kalimat itu justru membuat Milka memejamkan mata.
Ke mana dia di saat dirinya ingin melebur bersama? Bahkan, dengan tega membandingkan dirinya dengan sang selingkuhan.
Sekarang ... bayangan Irana yang memanjat jendela, di kamar mereka, kembali melintas di dalam benaknya. Parfum wanita di kemeja Vando. Pesan mesra yang tak sengaja ia abadikan.
Dan ...
Gelang pemberiannya pada Irana, di dalam tas kerja suaminya.
Milka perlahan mendorong kedua tangan Vando dari pinggangnya menggunakan berkas bukti perselingkuhan yang masih ia peluk. Bahkan, untuk memegang tangan pria itu pun, Milka merasa tak sudi.
"Mas ..." Ia berbalik menghadap suaminya. "Aku capek ..."
Vando membeku. Meski tak mengatakannya secara langsung, tetapi jelas sekali sang istri telah menolak permintaannya. Rahang Vando mengeras, egonya sebagai suami seolah runtuh.
'Lihat saja... bahkan sebagai istriku, kamu selalu menolak mendekat. Tidak heran kalau aku lebih nyaman berada di sisi Irana.
Bukankah seorang istri memang seharusnya memenuhi kebutuhan suaminya?'
Milka memutar badan, masuk ke dalam kamar mereka tanpa menatap ke belakang sama sekali. Tak memedulikan, Vando yang mengepalkan tangan karena kesal.
Vando berjalan ke ruang tamu dengan langkah berat, menyibak penutup jendela, teringat istrinya diantar pria lain di tengah malam ini.
"Apa hubunganmu dengan Dokter Theodore itu? Apa yang kalian berdua rencanakan?"
.
.
Keesokan pagi, di saat Vando bangun, tangannya meraba sisi di sampingnya. Beberapa kali ia raba, ternyata hanya bantal kosong yang ia pegang.
Saat ia masuk kamar tadi malam, Milka telah pulas dalam tidurnya. Dan, ternyata ... Ia terbangun di saat, orang yang harusnya berada di sampingnya telah menghilang.
Vando bangkit mengucek mata melirik ke segala sisi. "Milka? Milka?" Ia menatap jam pada dinding.
Di atas nakas, secangkir kopi sudah dingin.
Di sampingnya terdapat sarapan yang tak lagi mengepulkan uap.
Milka memang tidak membangunkannya.
Sontak ia kaget, saat melihat waktu menunjukkan pukul 08.30. Ia langsung bangkit. "Milka ... Kenapa kamu tak membangunkan, Mas?" gerutunya segera melompat, menuju kamar mandi.
.
.
.
Vando terburu-buru menuju kantornya. Sudah dipastikan dia terlambat sampai di kantor yang masuk pukul sembilan tepat.
Dan sialnya, saat ia memasuki kantor, Pak Arga, sang Presiden Direktur-lah kebetulan sedang berdiri di depan pintu masuk. Bagai maling ketangkap basah, Vando hanya bisa membeku karena mendapat sambutan dengan mata tajam.
"Siapa Anda? Apa jabatan Anda? Dan berada di divisi mana?" tanya Pak Arga dingin dan tegas.
Vando langsung menegakkan badan. "Saya Delvando Argianda, Pak. Supervisor Divisi Pengadaan Alat Kesehatan."
Pak Arga menatap kartu identitas di dada Vando. "Supervisor."
"..." Vando hanya menunduk, kedua tangannya saling bertautan.
"Menarik."
"..."
"Kalau seorang supervisor datang terlambat tanpa pemberitahuan..."
"..."
"Apa yang harus dilakukan bawahannya?"
Vando langsung terdiam.
Pak Arga melanjutkan. "Kalau pemimpinnya memberi contoh buruk ..."
"..."
"Bagaimana saya bisa mempercayakan proyek kerja sama Rumah Sakit AD Medical kepada divisi Anda?"
Kalimat terakhir ini terasa begitu menusuk. Karena Vando sedang bermimpi mendapatkan proyek itu.
"Masuk ke ruangan saya!"
Vando menelan ludah. "Baik, Pak."
Begitu pintu tertutup, Pak Arga meletakkan sebuah map di atas meja.
"Saya baru menerima telepon dari Rumah Sakit AD Medical."
Jantung Vando langsung berdegup. Ia mengira akan mendapat kabar baik. Akan tetapi ...
"Mereka meminta seluruh personel yang akan menangani proyek ini dievaluasi kembali."
Vando mengangkat kepala. "W-... apa maksudnya, Pak?"
Pak Arga menatapnya tajam. "Menurut Anda?"
"..."
"Orang yang bahkan tidak bisa disiplin terhadap jam kerjanya ..."
"..."
"Layak mewakili perusahaan kita?"
Vando hanya bisa menunduk, tak tahu harus menjawab apa.
.
.
Sementara itu, di kantor kepolisian.
Milka baru saja meletakkan tasnya di atas meja ketika seorang penyidik senior menghampiri.
"IPTU Milka."
Milka segera berdiri. "Siap, Pak."
Pria itu menyerahkan sebuah map berwarna cokelat dengan cap RAHASIA di sudut kanan atas.
"Ada penugasan baru."
Milka menerimanya dengan kedua tangan. "Kasus apa, Pak?"
"Pencucian uang."
Alis Milka sedikit terangkat.
"Tim siber baru saja menyerahkan hasil penelusuran transaksi keuangan yang diduga terkait penggelapan dana proyek kesehatan."
Milka mengangguk pelan.
"Mulai hari ini, kamu yang memimpin penyelidikannya."
"Siap."
Setelah atasannya berlalu, Milka kembali duduk. Ia membuka map itu perlahan. Lembar pertama berisi bagan aliran dana.
Lembar kedua memuat daftar perusahaan yang diduga menjadi perusahaan cangkang. Hingga akhirnya, tatapan Milka berhenti pada halaman berikutnya.
Di sana, dua nama dicetak dengan huruf tebal.
Irana Maheswari.
Napas Milka tertahan. Perlahan, pandangannya bergeser ke nama yang berada tepat di bawahnya.
Delvando Argianda.
Map itu perlahan terlepas dari genggamannya.
"Tidak mungkin ..." Bisiknya lirih.
Namun semua data di hadapannya berkata sebaliknya.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣