Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Duka Tertutup Uang
Darah Bayu masih membekas kental di sela-sela batu kerikil perlintasan kereta api saat keranda bertutup kain hijau digotong memasuki halaman rumah.
Udara Madiun hari itu terasa teramat berat, dipenuhi bau tanah basah dan aroma kembang kantil yang menusuk hidung. Namun, duka di rumah keluarga Broto bukanlah duka biasa—itu adalah ratapan yang dibungkus oleh kepalsuan dan ketidakhalusan yang mengerikan.
Di ruang tengah, keranda diletakkan di atas bale-bale kayu. Pertiwi menangis histeris hingga matanya sembab dan dadanya sesak, dipeluk oleh Mia dan Rian yang ikut merintih ketakutan.
Mereka bertiga tak sanggup mencerna bagaimana kakak tertua yang tadi pagi tersenyum gembira berencana membeli mobil, kini kembali dalam wujud jasad yang tak lagi utuh.
Galang duduk bersimpuh di samping keranda, tangannya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang merah menyalang menatap Bu Retno yang duduk kaku di kursi kayu.
Ibunya sama sekali tidak meneteskan air mata. Bu Retno duduk bersedekap dengan kebaya batik cokelat keemasannya, memandang keranda anak sulungnya dengan tatapan kosong dan senyum kaku yang tetap terpatri di bibirnya.
Tiada jeritan, tiada duka. Hanya kepatuhan buta dari seorang ibu yang jiwanya telah tergadai pada kegelapan.
Di sudut ruangan, Pak Sapta berdiri anggun, sibuk menerima belasungkawa dari warga sekitar. Namun, di balik raut wajah prihatin yang dipasangnya, ada binar kemenangan yang teramat dingin di balik kacamatanya.
Pak Sapta berjalan mendekati Galang yang sedang bersimpuh, Ia menepuk bahu laki-laki berusia 19 tahun itu dua kali. Ketukan yang amat dihafal Galang sebagai penanda dominasi.
"Galang, kematian Bayu adalah takdir yang sudah tertulis. Dia gugur saat menjalankan tugas untuk keluarga. Kita harus ikhlas, hem," ujar Pak Sapta. Suaranya mengalun pelan.
Galang menepis tangan Pak Hendra secara kasar.
"Jangan berpura-pura! Bapak yang membunuhnya! Bapak yang menyuruhnya pergi ke perlintasan itu!" gertak Galang dengan suara bergetar menahan amarah yang membakar dada.
Pak Sapta tidak marah. Ia hanya terkekeh pelan—sebuah tawa tanpa suara yang memancarkan kekejaman mutlak.
"Kamu menuduh tanpa bukti, Galang. Polisi menyebut ini kecelakaan murni. Sepeda motornya mogok di atas rel. Tak ada iblis, tak ada pesugihan di mata hukum." Pak Sapta memiringkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Galang. "Tapi kamu tau betul ... pengorbanan kakakmu tidak sia-sia. Lihatlah ke luar."
Galang mengalihkan pandangannya ke luar pintu depan yang terbuka lebar.
Pemandangan di halaman luar rumah sungguh mengerikan dan di luar nalar manusia.
Di saat bendera kuning kematian dikibarkan di tiang depan dan bendera duka berkibar pelan, Warung Nasi Broto yang berdampingan dengan rumah utama justru tetap beroperasi dan diserbu oleh lautan manusia.
Antrean pembeli bukannya berkurang karena ada berita duka, melainkan membludak sepuluh kali lipat lebih gila dari hari sebelumnya.
Ratusan orang menyemut di halaman parkir. Mobil-mobil pribadi dan bus pariwisata berderet memanjang hingga memacetkan jalan raya Madiun.
Para pembeli itu seperti tak memedulikan suasana duka yang melingkupi rumah. Mereka berteriak-teriak meminta pesanan, memukul-mukul meja, dan berdesakan mengulurkan lembaran uang demi mendapatkan sepiring rawon pekat buatan Bu Retno.
"Pak! Rawonnya sepuluh porsi bungkus! Dagingnya ditambah!"
"Mbak! Kami sudah tunggu dari jam delapan! Mana pesanan kami?!"
Suara riuh pembeli yang haus akan masakan berpadu sumbang dengan isolasi tangis Pertiwi di dalam rumah. Dua dunia yang bertolak belakang terjadi di bawah satu atap yang sama, di dalam ada jasad yang membeku, sementara di luar ada keserakahan yang meluap-luap.
"Lihat?" bisik Pak Sapta lagi, suaranya dipenuhi rasa bangga yang memuakkan. "Darah Bayu telah membasahi akar warung ini. Hari ini saja, sebelum jasad kakakmu dimasukkan ke liang lahat, pendapatan kita sudah menembus puluhan juta rupiah. Kematian Bayu membawa rezeki yang luar biasa bagi saudara-saudaramu yang tersisa."
"Bapak benar-benar iblis!" jerit Galang tertahan, berdiri menerjang Pak Sapta. Namun sebelum tangannya menyentuh kemeja pria tua itu, dua pengawal tegap kepercayaan Pak Sapta langsung mencengkeram kedua lengan Galang dan menahannya kaku di tempat.
"Jaga sikapmu, Galang," ucap Pak Sapta dingin seraya membetulkan letak kacamatanya. "Anak angkat tidak punya hak untuk merusak momentum ini. Tugasmu sekarang hanya ikut menggotong keranda kakakmu ke pemakaman. Setelah itu, kembalilah bekerja di dapur. Kita butuh pasokan kuah baru untuk pembeli di depan."
Pak Sapta memberi isyarat mata, dan kedua pengawal itu menghempaskan Galang hingga tersungkur di lantai semen dekat keranda Bayu.
Pukul satu siang, prosesi pemakaman dilakukan di TPU pinggiran Madiun. Pembacaan doa berlangsung cepat dan terburu-buru, seolah-olah semua orang dipaksa mengejar waktu.
Saat tanah merah mulai ditumpahkan menutup liang lahat Bayu, Bu Retno bahkan tidak menyentuh tanah kuburan anaknya. Ia berdiri mematung di bawah payung hitam yang dipegang oleh Pak Sapta, menatap gundukan tanah baru itu dengan mata tanpa rasa.
Hanya Galang dan Pertiwi yang berlutut meratapi gundukan tanah basah tersebut. Galang meremas tanah merah yang masih basah, menyiramkan kembang setaman dengan tangan yang gemetar hebat.
Di dalam sakunya, separuh potongan kain linen tua yang tersisa—bagian yang berisi nama-nama adik kandung Bayu yang tersisa—terasa makin dingin bagaikan es.
"Mas Bayu ...," bisik Galang dalam hatinya, air mata menetes membasahi nisan kayu yang masih polos. "Aku janji ... aku nggak akan biarkan iblis itu menyentuh Pertiwi, Mia, Rian, atau Gilang. Biar aku yang jadi benteng terakhir rumah ini."
Usai pemakaman, rombongan keluarga kembali ke rumah. Tidak ada waktu untuk berduka atau mengadakan tahlilan yang tenang. Pak Sapta langsung memerintahkan pekerja bagian dapur untuk kembali beroperasi penuh.
Galang berjalan menuju meja kasir di area depan warung. Di sana, kotak kayu jati peninggalan almarhum Pak Broto sudah tak sanggup lagi menampung tumpukan uang.
Lembaran seratus ribu dan lima puluh ribu melimpah ruah hingga berserakan di atas meja. Uang-uang kertas itu tampak berkilau, namun bagi penglihatan batin Galang, tumpukan uang itu berbau anyir darah segar dan berlapis lendir hitam yang menjijikkan.
Pak Sapta berdiri di samping kasir, meraup tumpukan uang itu dengan kedua tangannya lalu memasukkannya ke dalam tas kulit mahal miliknya. Ia menatap Galang dengan senyuman penuh keangkuhan.
"Ini baru permulaan, Galang," kata Pak Sapta seraya menutup ritsleting tas kulitnya. "Darah anak pertama sudah membuka keran kekayaan yang tak terbatas. Dengan uang ini, minggu depan saya akan mendaftarkan adik-adikmu ke sekolah terbaik dan merenovasi seluruh bagian belakang rumah ini."
Galang menatap Pak Sapta dengan pandangan tajam tanpa rasa takut sedikit pun.
"Uang ini dibeli dengan nyawa Mas Bayu. Bapak pikir Bapak bisa menikmati ini selamanya?"
Pak Sapta melangkah mendekati Galang, berdiri sangat dekat hingga aroma minyak cendana dan melati layunya menusuk hidung Galang.
"Kekayaan ini tidak dibeli, Galang. Kekayaan ini disewa dengan darah," bisik Pak Sapta dengan nada suara yang teramat dingin dan mematikan. "Dan kontrak pesugihan ini tidak akan pernah berhenti sampai seluruh garis keturunan Pak Broto mati. Kamu bisa mencoba melindunginya ... tapi kamu hanyalah anak angkat. Darahmu tidak berlaku untuk menukar nyawa mereka."
Pak Sapta menepuk-nepuk pipi Galang pelan, lalu tertawa berderai seraya melangkah menuju dapur belakang untuk memeriksa kuali raksasa yang kembali berasap tebal.
Galang berdiri kaku di balik meja kasir yang berbau anyir. Di luar, ratusan pembeli masih terus berdatangan tanpa henti, melahap rawon pekat dengan kesetanan, tak tahu bahwa setiap rupiah yang mereka bayarkan adalah bagian dari pesta darah di atas bangkai anak pertama keluarga Broto.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya