NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah kedua

"Kak,,, sore ini Adit izin pulang ke rumah aja boleh?" Aku kembali mendekati kak Ivan setelah dari apotik. Ferdy belum kembali, entah kemana anak itu membeli makanan.

"Menurut kakak jangan dulu. Kakak khawatir sama mental mama kamu Dit. Dengan kembalinya kamu ke rumah, dia akan tau kalau uji coba ARV itu tidak berlanjut dan itu akan membahayakan mental mama kamu lagi. Kakak harus jujur sama kamu, depresi yang mama kamu derita sepeninggal om Dhika belum lah sembuh. Sampai sekarang hanya dengan bantuan obat tidur mama kamu bisa tidur, hanya dengan bantuan obat mama kamu bisa tenang menjalani hari nya. Tidak dengan mengurung diri dan berteriak-teriak atau menangis seperti sebelumnya." Bayangan mama yang waktu itu selalu histeris saat melihatku kembali berputar di otak ku. Jangan sampai mama seperti itu lagi.

"Adit malam ini akan menginap di rumah dulu kak. Adit kangen mama. Nanti Adit bisa jelaskan ke mama kalau kak Ivan sudah izinkan Adit untuk menginap satu malam." Aku kembali meminta izin nya. Aku memang harus pulang untuk menyiapkan semuanya.

"Boleh kalau hanya satu atau dua malam. Kamu harus inget obat acriptega ini harus diminum rutin. Karena bentuk terapi ARV jenis ini cukup aman namun kalau tidak dilakukan rutin dan kontinyu akan mempengaruhi metabolisme serta kekebalan tubuh kamu terhadap virus ini. Saran kakak, setiap malam saja. Minum sekali satu butir, dan besok malam nya diwaktu yang sama minum lagi. Begitu seterusnya. Kakak nggak tahu akan berapa lama, kita akan coba cek per bulan in syaa Allah. Semoga tidak harus sampai seumur hidup." Aku mengangguk mengerti.

"Satu lagi, mulai sekarang perbanyak minum air putih dan makan makanan yang sehat. Kalau bisa hindari makanan instan dan junk food." Nasihat kak Ivan lagi.

"Siap kak."

Selanjutnya aku pamit untuk merebahkan diri di sofa. Kepalaku sudah berat sejak tadi, sepertinya karena efek begadang ku semalam.

Mataku telah menutup sempurna saat derit pintu terdengar. Aku masih bergeming berusaha mengistirahatkan badan dan pikiran ku.

"Yaaah... Tidur ni anak. gue duluan makan lah kalau gitu. Udah Laper." Suara Ferdy yang setengah berteriak tidak kuhiraukan sama sekali. Biarkan saja lah dia menyelesaikan dulu makan nya. Aku harus tidur.

***

Aku merasakan tubuhku digoyang pelan. Aku yang sedikit tersentak masih belum membuka mata. Rasanya badanku sudah enakan, aku merasa lebih segar sekarang. Mungkin tadi aku benar-benar bisa tertidur.

"Dit... Udah mau jam dua nih. Lo belum Dzuhur." Suara Ferdy kudengar seperti bisikan mendekat ke telingaku. Entah karena Indra pendengaran ku yang masih harus menyesuaikan fungsinya pasca tidur lelap ku tadi. Atau memang Ferdy yang sengaja bersuara pelan karena sesuatu, mungkin takut mengganggu kak Ivan atau yang lain nya.

"Gue udah bangun, tapi sebentar mau ngumpulin nyawa dulu." Ucapku kemudian masih dengan mata yang tertutup.

"Dimana aja emang nyawa Lo? Ada berapa? Gue bantu pungutin deh biar cepat dikumpulin nya." Ucapan ferdy berikutnya membuatku tertawa dan mata ku pun ikut terbuka sempurna.

"Nyawa gue banyak, tapi tanpa bantuan Lo gue bisa ngumpulin sendiri kok. Tenang aja. Ini udah terkumpul juga." Aku bangkit terduduk dan mengikuti gurauan nya kali ini.

"Alaaah... Gaya Lo. Banyakan juga nyawa Naruto. Sampe seribu tuh kalau lagi bunshin." Elaknya lagi menimpali semua jawabanku.

"Itu bayangan doang. Bukan nyawa. Gimana sih?! Katanya Naruto lovers tapi nggak ngerti beda nyawa sama bunshin." Aku menimpali lagi tak mau kalah.

"Udah ah, bahas apaan si kita?! Ayo sholat. Gue nungguin Lo nih." Kali ini Ferdy yang kalah. Mungkin karena dia juga ingin mengalah dari pada menunda waktu sholatnya lebih lama lagi.

"Ayo. Disini aja Dy. Nggak usah ke masjid rumah sakit. Gue lagi males jalan jauh." Aku menunjuk karpet di depan sofa yang kududuki. Karpet bulu berukuran kurang lebih 150 cm kali 2 meter. Karpet yang memang diperuntukkan bagi para penjenguk yang ingin merebahkan diri atau sekedar makan.

"Oke."

Untungnya Kak Ivan yang sedang tertidur tidak terganggu dengan semua obrolan kami. Sehingga aku tidak perlu merasa bersalah karena telah meladeni semua kekonyolan Ferdy.

Kami menjalankan empat rokaat sholat dengan tenang, setelahnya Ferdy memberikan satu box makanan kepadaku. Segera kubuka box tersebut dan kulihat nasi putih lengkap dengan ayam goreng dan capcai tidak lupa sambal ada di dalamnya. Menu siang andalan yang menjadi favorit Ferdy saat memesan makanan via online. Aku mulai makan sementara Ferdy yang sepertinya telah menghabiskan porsi makan nya fokus pada ponsel di tangan nya.

"Dy, gue sore ini udah bisa pulang ke rumah. Lo juga pulang aja. Kasian babeh jadi ditinggal terus." Di tengah aktivitas makan ku, aku mencoba berbicara dengan nya.

"Kok bisa?! Bukan nya 1 bulan ya. Gue udah izin ke babeh juga mau satu bulan nemenin Lo." Kini fokus sepenuhnya padaku. Ponsel yang berada di tangannya langsung dia letakkan begitu saja.

"Kata kak Ivan gue udah bisa pake satu obat yang cocok, jadi nggak perlu coba yang lain lagi." Jawab ku sekenanya. Entah ini sebuah kebohongan atau bukan.

"Oh... Oke deh. Tapi Gue yang anterin Lo."

"Siap."

Selesai sholat ashar berjamaah di masjid rumah sakit, kami izin pulang ke kak Ivan. Tanpa banyak basa-basi kak Ivan pun mengizinkan kami.

"Inget ya Dit. Tiap hari satu tablet. Jangan sampai lupa." Bisikan kecil kuterima dari nya saat tangan kami bertemu saling berjabat. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya sebagai bentuk respon bahwa aku sudah mengetahuinya dan akan selalu mengingat nya.

"Kita mau mampir ke apartemen dulu atau langsung aja Dit?" Di perjalanan pulang kami, sedikit berteriak Ferdy bertanya melawan suara angin yang cukup menguasai Indra pendengaran kami.

"Langsung aja lah Dy. Gampang barang-barang gue besok aja gue ambil naik mobil biar nggak berat." Aku menjawab pertanyaan nya dengan setengah berteriak juga berusaha melawan suara angin yang cukup kencang sore ini.

Tiga puluh lima menit kemudian, sepeda motor yang kami kendarai pun berhenti di depan gerbang rumah tiga lantai dengan kombinasi warna cat dindingnya adalah krem, coklat dan putih.

"Gue nggak mampir ya, mau langsung aja." Tanpa turun dari motornya, Ferdy meminta izin untuk langsung pulang. Aku pun mengangguk dan mempersilahkan nya melanjutkan perjalanan.

Kulangkahkan kaki memasuki rumah yang telah menjadi tempat tinggal ku selama 17 tahun ini. Kudengar suara mama dan Bi Asih yang sedang bercengkrama sepertinya di taman samping rumah. Aku yang berniat masuk lewat pintu depan pun berbelok menuju teras samping rumah ini. Kulihat mama dan Bi Asih sama-sama sedang memegang gunting taman dan memotong beberapa dahan kecil pada bunga-bunga yang berjejer rapi dalam pot. Mama memang suka mengoleksi tanaman hias dan bunga-bunga.

"Assalamualaikum,, mah,, Bi Asih..." Aku segera menyapa mereka saat jarakku semakin dekat. Sepertinya mereka belum menyadari keberadaan ku.

"Wa'alaykumussalaam... Loh den Adit! Bibi kira siapa?!" Bi Asih segera merespon ku saat mendengar salam dari ku. Sementara mama masih bergeming kaget dengan keberadaanku disini.

"Adit?! Sayang... Ada apa? Kok kamu pulang?" Setelah memahami situasi mama pun mulai merespon keberadaan ku.

"Iya mah,, Adit diizinkan pulang dulu sama kak Ivan. Kangen mama. Besok baru kesana lagi." Aku menjawab dengan senyuman ku. Ada kebohongan dalam jawabanku, tapi ini demi kebaikan mama.

"Anak ganteng mama kangen yaaa... Ayo masuk dulu, mama juga kangen cerita dari kamu." Mama menghampiriku dan menggapit tangan ku membawaku masuk kedalam rumah lewat pintu samping.

Aku yang merasa cukup lelah tetap mengikuti langkah mama menuju balkon di lantai tiga, dekat kamar mama. Mama memandangku lama dan mulai mengusap rambutku lembut saat kami sudah duduk di kursi outdoor yang ada di balkon ini.

"Mama merasa kesepian Dit. Seneng deh kamu pulang hari ini." Mama memulai ucapan nya dengan wajah sendu yang cukup kentara.

"Adit kangen mama... Adit juga kangen papah... Mama kangen papah juga nggak?" Aku menanggapi dengan menyinggung terkait papa. Aku ingin tahu informasi tentang papa dari mama.

"Sama,,, papah kamu itu yang setiap waktu bahkan setiap detik selalu mama kangenin. Tapi mama belum bisa ketemu Dit. Mama udah janji akan memberikan hasil dari Ivan agar papa bisa pulang." Ucapnya lagi, ada goresan cukup menyakitkan yang tiba-tiba muncul di hati ini.

"Mama tau papah ada dimana?" Aku bertanya lagi.

"Papah kamu sekarang tinggal di apartemen. Entah apartemen yang mana. Tapi yang pasti dia akan selalu ada di kantornya saat jam kerja." Aku mengangguk menanggapi jawaban mama.

"Adit pengen ketemu papa mah, Adit kangen, kalau besok Adit ke kantor papa kira-kira baik nggak ya?" Aku mencoba meminta pendapat mama terkait rencanaku untuk bertemu papa.

"Coba saja, tapi mama nggak bisa nemenin. Mungkin kamu akan di tolak atau mungkin juga kamu akan diterima. Nomor mama sedang diblokir papa, jadi mama nggak bisa menghubungi sama sekali." Aku sedikit kaget mendengarnya. Sampai sefatal itu kah masalah komunikasi antar keduanya.

"Di blokir?!"

"Iya, tapi nggak apa-apa. Toh sebulan lagi semuanya akan berakhir dan kita akan jadi keluarga utuh lagi." Mama terlihat menyeka matanya sendiri, mungkin sudah ada genangan air yang hampir terjatuh disana.

"Iya mah, semoga bisa lebih cepat. Adit pamit dulu ke kamar mah. Mau mandi." Aku sengaja mengakhiri semua pembicaraan ini. Sudah cukup informasi dari mama kudapatkan. Satu langkah lagi telah kuselesaikan untuk mencari informasi tentang papa.

Besok aku akan coba menemui papa. Semoga beliau ada di kantornya dan semoga aku pun diterima untuk bertemu beliau.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!