Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Menolak Berdiam Diri
"Maafkan Mas, Ti. Mas cuma orang miskin, tidak punya kuasa melawan orang-orang balai desa itu."
Suara berat Pakde Prasetyo memecah keheningan malam pertama di gubuk reyot itu. Pria berusia empat puluh dua tahun tersebut meletakkan sebuah cangkul tua di sudut ruangan berlantai tanah. Bahunya yang terbiasa memikul beban berat tampak merosot. Wajahnya tertunduk, sengaja menghindari tatapan Siti.
Lampu petromaks pinjaman bersinar redup. Cahayanya mencetak bayangan di dinding anyaman bambu yang berlubang. Angin malam menerobos masuk, membawa hawa dingin pinggiran Hutan Jati yang menusuk rusuk.
Siti duduk bersimpuh di atas tikar pandan tipis. Perempuan itu menyeka sudut matanya yang basah. "Ini bukan salah Mas. Hardiman yang berhati batu. Mas sudah sudi menengok kami ke sini, saya sudah sangat bersyukur."
Seroja duduk terdiam di samping ibunya. Ia mengamati pamannya itu lekat-lekat. Pakde Prasetyo adalah kakak Siti, putra kandung Nenek Warni dan mendiang Kakek Hadi. Pria itu pekerja keras yang setia pada keluarga, tetapi terlalu lurus dan kaku untuk menghadapi kelicikan birokrasi pejabat kecamatan.
"Makan dulu, Nduk. Perut kosong membuat pikiran jadi gelap." Nenek Warni menyela dengan suara seraknya yang menenangkan.
Perempuan berusia enam puluh dua tahun itu meletakkan sebuah piring seng berkarat di tengah-tengah mereka. Di atasnya menumpuk tiwul, olahan singkong kering yang lazim mengisi perut rakyat pinggiran. Tidak ada sayur pendamping, tidak ada lauk pauk. Nenek Warni hanya menaburkan sejumput garam kasar di atas gundukan kecokelatan itu.
Seroja menatap piring seng tersebut. Rasa lapar melilit lambungnya bertubi-tubi. Ia mengambil sejumput tiwul menggunakan jari, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Teksturnya kasar, alot, dan terasa seret di lehernya, butuh otot rahang yang gigih untuk mengunyahnya. Rasa asin garam adalah penolong darurat agar makanan itu bisa melewati tenggorokannya yang kering. Ingatan Kainara tentang makan malam mewah di restoran jadi terasa asing, tergantikan oleh realitas pahit dihadapannya untuk bertahan hidup.
"Tanah di luar sana tandus, Mas," bisik Siti di sela kunyahannya yang lambat. "Tadi sore saya lihat halamannya dipenuhi batu. Sumurnya juga airnya dangkal. Bagaimana kita bisa menyambung hidup besok?"
Pakde Prasetyo menghela napas panjang hingga dadanya naik turun tajam. Ia mengusap wajah kasarnya dengan telapak tangan berkapalan. "Itu masalah besarnya, Ti. Menanam apa pun di sini sama saja membuang keringat percuma. Bapak dulu pernah mencoba menanam singkong saat krisis pangan, daunnya menguning layu sebelum umbinya jadi. Air sumur di belakang sana juga payau kalau musim kemarau begini."
"Gusti Allah tidak tidur, Yo," potong Nenek Warni bernada suara tenang. Perempuan tua itu membelai rambut Seroja dengan tangannya yang keriput namun hangat. "Selama kita masih diberi napas, selalu ada jalan hidup yang dibukakan."
Momen kecil itu mengirimkan aliran kehangatan ke dada Seroja. Usapan pelan tangan Nenek Warni meredakan sisa ketegangan otot akibat insiden pengusiran tadi siang. Keluarga ini memang minim harta, tetapi mereka memiliki empati untuk saling merangkul. Sesuatu yang langka ia temukan di dunia kompetitif masa lalunya.
Seroja menelan sisa tiwul di mulutnya, lalu menatap lurus ke arah pamannya. "Besok pagi, tolong ajarkan Seroja mencangkul, Pakde."
Prasetyo mengangkat wajahnya terkejut. Ia menatap keponakannya dengan kening berkerut dalam. "Tanganmu kecil, Nduk. Kamu biasa menyapu rumah utama, tidak pernah turun ke ladang. Kulitmu bisa melepuh. Biar Pakde saja yang bersihkan halaman besok, meski Pakde Ndak yakin tanah itu bisa ditanami."
"Pakde punya lahan garapan sendiri di sawah milik Pak Lurah," balas Seroja tegas. "Keluarga ini tidak boleh bergantung selamanya pada tenaga pakde. Seroja yang akan mengurus tanah tandus ini."
Prasetyo terdiam. Ia menatap mata keponakannya. Anak perempuan yang biasanya penakut dan sering bersembunyi di balik punggung Siti itu mendadak memiliki sorot keberanian yang sulit ditebak. Pria itu mengalah, lalu mengangguk pelan menyetujui permintaannya.
Malam beranjak kian larut. Suara jangkrik bersahutan riuh dari arah pepohonan. Siti dan Nenek Warni sudah terlelap kelelahan di atas tikar, saling berbagi kain tipis mencari sisa kehangatan. Prasetyo telah pamit pulang satu jam lalu ke desanya.
Seroja membuka matanya perlahan. Ia bangkit beringsut, bergerak hati-hati memastikan langkahnya tidak membangunkan sang ibu. Ia menyelinap keluar gubuk, membiarkan angin dingin langsung menampar wajahnya. Halaman gubuk itu remang. Hanya ada temaram rembulan separuh yang menembus sela-sela ranting pohon jati.
Gadis itu berjongkok di tengah pekarangan. Ia mengambil segenggam tanah berbatu. Teksturnya keras, rapuh, dan berdebu. Prasetyo memiliki alasan kuat untuk pesimis. Tanah tandus ini miskin unsur hara mikro, tidak bisa menyimpan air, dan mampu mempertahankan akar tanaman muda yang rentan. Ia butuh keajaiban malam ini juga.
Seroja menepis debu dari tangannya. Ia memusatkan fokus pikirannya.
Layar transparan biru muda berkedip dua kali, lalu muncul mengambang di udara menantang jarak pandangnya.
LADANGKU, Level 1
XP: 0/100
Coin: 100
Seroja menatap enam petak virtual yang kosong berbaris di layar tersebut. Ia menggeser fokusnya menelusuri menu Petak Riset. Ia butuh komoditas benih tangguh guna menembus pertahanan kondisi tanah ini. Sayuran berdaun hijau adalah taktik agrikultur paling masuk akal. Masa panennya ringkas, permintaannya di lapak pasar kecamatan selalu menanjak tajam setiap pagi.
Sebuah notifikasi sistem muncul menyapanya.
"🌿 Benih Sawi | ⏱ 10 menit | 📦 Benih Sawi Unggul Tahan Kekeringan (50 biji) | 💰 Gratis. [MULAI RISET] [BATAL]"
Seroja menjatuhkan keputusannya pada opsi mulai tanpa membuang waktu.
Di dalam salah satu petak virtual bergaris hijau itu, sebuah ikon tunas menyala. Angka digital penghitung waktu mundur berdetak, petak 1 menampilkan waktu 08:42.
Sambil menunggu proses riset virtual itu berputar, Seroja menolak berdiam diri. Ia melangkah mendekati sudut gubuk, meraih cangkul tua bergagang kayu jati peninggalan pamannya. Ia berjalan tegap merapat ke area dekat dinding sumur dangkal. Berbekal tenaga seadanya, ia mulai mengayunkan cangkul, menyingkirkan batu-batu kapur seukuran kepalan tangan yang berserakan menutupi lapisan tanah.
Ia melempar serpihan batu itu ke pinggir pembatas halaman, menyisakan area tanah seluas satu meter persegi hasil kerjanya. Napasnya memburu terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Telapak tangannya panas tergesek serat gagang kayu yang kasar, tetapi ia menelan keluhannya.
Sebuah dering berfrekuensi pelan berdenting halus di benaknya.
"✅ RISET SELESAI — 🌿 Benih Sawi Unggul Tahan Kekeringan, 50 biji. Tersimpan di Gudang (1/50). [EKSTRAK BENIH FISIK] [SIMPAN]"
Seroja memilih opsi ekstrak benih fisik. Sensasi hangat menyengat lembut mengalir di telapak tangan kanannya. Udara malam berdesir sejenak mengiringi proses transmutasi itu. Saat jarinya membuka perlahan, sebuah kantong kain kecil berwarna cokelat berserat tebal sudah bersandar di telapaknya.
Ia melonggarkan tali pengikat kantong tersebut. Lima puluh butir benih sawi berwarna hitam pekat. Wujudnya lebih bulat padat dengan struktur cangkang tebal dibandingkan dengan benih pasaran yang biasa ia temui.
Benih unggul tetap butuh pelengkap. Tanah tandus ini harus diberi nutrisi. Seroja kembali menatap deretan menu antarmuka holografiknya. Ia masuk ke opsi Toko. Menukar sisa seratus koin pemula yang ia pegang, ia menebus sebotol formula pertanian dasar.
Sebuah botol kaca seukuran ibu jari mendadak muncul di tangan kirinya. Botol itu mengemas cairan hijau pekat. Label virtual di sampingnya menampilkan deskripsi "Nutrisi Penyubur". Cairan ini berisi konsentrat bakteri pengurai dan ragi fermentasi pencipta unsur hara organik.
Seroja segera merapatkan lututnya, mencungkil tanah gembur hasil cangkulannya membentuk lubang-lubang sejajar berjarak sepuluh sentimeter. Ia menjatuhkan benih-benih kokoh itu satu per satu dengan teliti. Menempatkannya dangkal di bawah permukaan, lalu menutupnya rapat menggunakan debu tanah kapur.
Usai barisan benih tertanam, ia bergegas menarik seember air dari kedalaman sumur. Air payau itu mengigit kulit karena dingin. Seroja membuka sumbat gabus botol kaca kecilnya, menuangkan perlahan dua tetes cairan nutrisi penyubur ke dalam genangan ember seng. Air sumur beriak merespons, merubah warna aslinya menjadi kehijauan bening sambil melepaskan aroma manis yang samar tercium.
Seroja menciduk air campuran itu, mengangkat lengannya, dan menyiramkannya secara merata pada petak tanah kering tempat calon sawinya.
Begitu air menyentuh tanah kapur kerontang, sebuah reaksi mengejutkan terjadi di depan matanya. Tanah gersang yang memutih pucat itu bereaksi menggelap berubah wujud menjadi bongkahan cokelat basah. Uap bersuhu hangat mengepul dari retakan tanah. Aroma tanah tandus tergeser oleh aroma basah humus hutan tropis yang padat nutrisi.
Seroja menahan napasnya. Ia berjongkok makin dekat, mengamati permukaan tanah.
Kulit pelindung benih sawi itu pecah beberapa saat setelahnya. Tunas hijau pucat merobek permukaan tanah gembur, dua helai daun bertangkai mungil melipat terbuka.
Gadis itu bangkit, lalu menepuk sisa lumpur yang menempel di lutut kain luriknya. Ia menoleh ke arah timur. Langit mulai berubah menjadi kelabu kebiruan, pertanda pagi tak lama lagi tiba. Danu, sepupu dari pihak ibunya, berjanji datang saat fajar untuk membantu memindahkan sisa barang. Seroja akan menyiapkan banyak pekerjaan yang bisa langsung mereka kerjakan begitu pemuda itu tiba.