NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

“Alena, duduklah. Kakek mau bicara serius.”

Suara berat namun lembut itu memecah keheningan ruang tamu yang baru saja terasa hangat oleh sinar matahari sore yang masuk lewat celah jendela. Alena mengangkat wajahnya, masih memegang buku catatan pelajaran yang baru saja ia bawa pulang dari sekolah. Matanya yang bulat dan bersinar itu menatap kakeknya yang duduk di kursi kayu kesayangannya, sambil mengusap perlahan tongkat kayunya.

“Ada apa, Kek? Apa aku baru saja melakukan kesalahan lagi?” tanya Alena dengan nada sedikit was-was. Ia tahu, selama ini ia selalu berusaha menjadi gadis yang patuh, namun entah kenapa setiap kali bertemu dengan satu orang tertentu, sikapnya bisa berubah menjadi setajam pisau.

Kakeknya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Bukan soal kesalahan, Nak. Ini soal masa depanmu. Dan juga janji lama yang belum sempat Kakek tepati.”

Alena mengerutkan dahi, merasa semakin penasaran sekaligus gelisah. “Janji? Janji apa itu, Kek?”

“Dulu, saat kita masih muda dan sering berkelana bersama, Kakek punya sahabat dekat. Namanya Kakek Baskara. Kami berdua sepakat, jika nanti cucu kami laki-laki dan perempuan, kami akan menjodohkan mereka untuk mempererat persahabatan ini. Dan sekarang… saatnya janji itu diwujudkan.”

Jantung Alena seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menatap kakeknya dengan mata terbelalak, mulutnya terbuka sedikit tak percaya. “Jodoh? Kakek bercanda kan? Aku masih kelas 3 SMA! Belum waktunya untuk hal seperti itu!”

“Kakek tidak bercanda, Alena. Usia bukanlah penghalang untuk mempersiapkan masa depan. Lagipula, Kakek sudah bicara dengan Kakek Baskara, dan dia setuju. Calonnya pun sudah disetujui kedua belah pihak.”

“Siapa orangnya? Aku harus tahu siapa yang berani dijadikan jodohku tanpa persetujuanku!” seru Alena, suaranya sedikit meninggi karena emosi mulai memuncak.

Kakeknya hanya tersenyum misterius, lalu menjawab pelan, “Kamu pasti sudah mengenalnya. Bahkan mungkin sudah sangat akrab… meskipun dengan cara yang berbeda. Namanya Elio Baskara.”

Seketika itu juga, seluruh darah di tubuh Alena terasa mendidih. Ia berdiri dengan kaku, matanya melotot seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Rasanya seperti mendengar kabar paling mengerikan dalam hidupnya.

“ELIO?! Elio yang itu?!” teriak Alena nyaris memekakkan telinga. “Kakek bercanda kan? Dia itu musuh bebuyutanku! Orang yang paling aku benci di seluruh dunia! Bagaimana mungkin Kakek menjodohkanku dengan dia?!”

Sementara itu, di rumah lain yang tak terlalu jauh, suasana pun tak kalah riuh.

“Elio, duduk tenang. Dengarkan penjelasan Kakek baik-baik,” ujar Kakek Baskara dengan nada tegas namun tetap sabar.

Elio yang baru saja melepas tas sekolahnya berdiri tegak dengan wajah yang tampak kesal dan bingung. Rambutnya yang sedikit berantakan dan tatapan matanya yang tajam membuatnya terlihat seperti sedang siap berdebat.

“Jodoh? Kakek pasti salah paham. Aku baru saja akan menghadapi ujian akhir sekolah, masih banyak hal yang harus kupikirkan, bukan soal menikah atau semacamnya!” bantah Elio cepat.

“Tidak ada salah paham, Nak. Ini sudah menjadi kesepakatan lama antara Kakek dan sahabat Kakek, Kakek Wijaya. Cucunya adalah gadis yang baik, dan kalian akan saling melengkapi,” jawab Kakek Baskara mantap.

“Siapa gadis malang itu yang harus terjebak bersamaku?” tanya Elio dengan nada sinis, seolah sudah membayangkan sosok yang mungkin akan membosankan.

“Namanya Alena Wijaya. Kamu mungkin mengenalnya, karena dia satu sekolah bahkan satu kelas denganmu,” kata kakeknya santai.

Napas Elio terhenti sejenak. Lalu, seketika itu juga ekspresinya berubah drastis—dari bingung menjadi terkejut, kemudian berubah menjadi marah bercampur tidak percaya.

“ALENA?! Gila! Kenapa harus dia?!” Elio mengangkat kedua tangannya ke udara, merasa tak masuk akal. “Dia itu gadis paling cerewet, keras kepala, dan selalu mencari kesalahanku! Sejak hari pertama masuk SMA, dia sudah jadi duri dalam dagingku! Bagaimana mungkin aku harus dijodohkan dengan dia?!”

“Justru karena kalian sudah saling mengenal, tidak akan ada rasa canggung nantinya,” jawab kakeknya santai, seolah hal itu adalah hal yang paling masuk akal di dunia.

Malam itu, kedua rumah itu sama-sama penuh dengan protes dan penolakan. Namun, keinginan kedua kakek itu sudah bulat. Mereka bersikeras bahwa perjodohan ini adalah jalan terbaik, dan tidak ada satu pun yang bisa mengubah keputusan itu.

 

Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas 3-A terasa seperti biasa. Tawa dan obrolan teman-teman memenuhi ruangan. Namun, bagi dua orang yang duduk berjauhan di sudut kelas itu, rasanya seperti sedang berada di medan perang.

Alena datang dengan wajah kusut, matanya terlihat sembab karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan kabar buruk itu. Begitu pula Elio, ia datang dengan langkah berat dan wajah masam, seolah baru saja menelan sesuatu yang sangat pahit.

Belum juga Alena duduk dengan tenang, suara yang sudah sangat dikenalnya itu terdengar dari arah belakang, membuat telinganya langsung terasa panas.

“Wah, lihat siapa yang datang. Pagi-pagi sudah terlihat seperti orang yang baru kalah perang. Ada masalah apa, Alena?” ejek Elio sambil menyandarkan tubuhnya di meja, senyum menyebalkan terukir jelas di bibirnya.

Alena menoleh cepat, matanya melotot tajam menatap Elio. “Diamlah mulutmu, Elio! Jangan berpikir kamu bisa semena-mena padaku hari ini!”

Elio justru mendekat, menyandarkan kedua tangannya di atas meja Alena, lalu menatapnya dengan tatapan yang sama tajamnya. “Kenapa? Ada yang membuatmu marah? Atau jangan-jangan… kamu sudah mendengar kabar gila itu juga?”

Mendengar kalimat itu, napas Alena tercekat. Ia berdiri hingga kursinya berdecit keras. “Jadi… kamu juga sudah tahu? Kamu juga sudah diberitahu oleh kakekmu?”

“Tentu saja aku tahu. Dan jujur saja, ini hal paling konyol yang pernah kudengar dalam hidupku. Menjodohkan aku dengan gadis yang paling aku benci di sekolah ini? Itu sama saja dengan menjerumuskanku ke dalam neraka!” balas Elio tak kalah pedas.

Alena tertawa sinis, menunjuk dadanya sendiri. “Kamu bilang neraka? Justru aku yang merasa terjebak! Siapa yang mau punya pasangan sepertimu? Sombong, angkuh, dan hobi sekali meremehkan orang lain! Kalau bisa memilih, aku lebih baik hidup sendiri selamanya daripada harus terikat denganmu!”

“Percayalah, perasaanku persis sama! Aku pun tak punya keinginan sedikit pun untuk berurusan lebih jauh denganmu. Tapi sepertinya kedua kakek kita sudah membuat keputusan tanpa memikirkan perasaan kita,” jawab Elio dengan nada yang mulai terdengar frustasi.

Mereka berdua berdiri saling berhadapan, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Mata mereka saling menatap tajam, seolah ingin meledakkan satu sama lain. Suasana di sekitar mereka perlahan hening, teman-teman sekelas mulai melirik penasaran, tahu pasti bahwa sebentar lagi akan terjadi pertengkaran hebat seperti yang sering terjadi.

“Kalau begitu, kita harus sepakat satu hal,” kata Alena tiba-tiba, menurunkan sedikit nada bicaranya namun tetap tegas.

“Apa itu?” tanya Elio curiga.

“Kita tolak saja perjodohan ini. Kita katakan pada kakek kita bahwa ini tidak mungkin terjadi. Kita tidak cocok, tidak akan pernah cocok, dan tidak akan pernah bisa hidup berdampingan,” usul Alena penuh keyakinan.

Elio terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju. “Setuju. Ini ide yang paling masuk akal. Kita sama-sama menolak, dan masalah selesai begitu saja. Tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang terbebani.”

“Baik. Kita akan bicara bersama-sama nanti sore. Kita tunjukkan pada mereka bahwa rencana ini tidak akan pernah berhasil,” ucap Alena mantap.

Namun, di balik kesepakatan itu, ada rasa gelisah yang mulai menyelinap di hati masing-masing. Meskipun mereka terus menyebut satu sama lain sebagai musuh, namun entah kenapa, kenyataan bahwa mereka kini terikat dalam sebuah janji perjodohan membuat suasana di antara mereka berubah sedikit berbeda. Tidak lagi hanya kebencian murni, tapi ada rasa penasaran yang samar, meskipun masih tertutup rapat oleh rasa kesal.

Bel berbunyi tanda pelajaran dimulai, memaksa mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Selama pelajaran berlangsung, pikiran Alena melayang jauh. Ia terus mengingat semua kejadian yang membuat ia dan Elio menjadi musuh sejak hari pertama sekolah.

Saat itu, hari pertama masuk SMA. Alena yang berjalan terburu-buru membawa tumpukan buku tersenggol seseorang hingga semua buku berserakan di lantai. Ia berniat meminta maaf, namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Kamu tidak punya mata ya? Berjalan harus hati-hati, bukan sembarangan melangkah,” tegur Elio dengan nada dingin, lalu pergi begitu saja tanpa membantu mengangkat buku.

Sejak hari itu, perselisihan terus terjadi. Entah itu soal nilai ujian, posisi duduk, hingga siapa yang menjadi ketua kelas—mereka selalu bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain. Bagi Alena, Elio adalah lambang kesombongan yang tidak tahu diri. Bagi Elio, Alena adalah gadis yang terlalu keras kepala dan suka memaksakan kehendak.

Di sisi lain, Elio juga tidak bisa berkonsentrasi. Matanya sesekali melirik ke arah belakang tempat duduk Alena. Ia mengakui, Alena memang gadis yang cerdas dan rajin, tapi sifatnya yang keras membuatnya terasa sulit untuk didekati. Dan sekarang, harus hidup bersama gadis itu? Rasanya mustahil.

Sore harinya, sesuai kesepakatan, mereka berdua bertemu di halaman sekolah sebelum pulang. Wajah mereka sama-sama penuh tekad untuk membatalkan perjodohan ini.

“Kita bicara dengan tegas, ya. Jangan sampai mereka membujuk kita dengan alasan apa pun,” pesan Alena.

“Sudah aku tahu. Kamu juga jangan sampai luluh mendengar kata-kata manis mereka,” balas Elio.

Mereka berdua sepakat untuk bertemu di rumah Kakek Wijaya, tempat di mana keputusan itu akan dibahas ulang. Sesampainya di sana, kedua kakek sudah duduk menunggu dengan senyum yang terlihat sangat penuh makna.

“Nah, ini dia calon-cucu menantu kita. Akhirnya kalian datang juga,” sapa Kakek Baskara dengan ceria, membuat Alena dan Elio saling pandang dengan wajah bingung.

“Kakek, kami ingin bicara serius,” ucap Elio lebih dulu dengan nada sopan namun tegas. “Perjodohan ini tidak bisa diterima. Kami tidak saling cocok, kami sering bertengkar, dan masa depan kami akan hancur jika dipaksakan bersama.”

Alena segera menyambung, “Benar sekali, Kakek. Kami menghormati janji masa lalu, tapi zaman sudah berubah. Biarkan kami memilih jalan hidup kami sendiri.”

Namun, kedua kakek itu hanya tertawa mendengar penolakan itu. Tawa itu membuat hati Alena dan Elio semakin was-was.

“Kami sudah menduga kalian akan berkata seperti ini,” kata Kakek Wijaya sambil tersenyum bijak. “Tapi dengar baik-baik. Keputusan ini sudah bulat. Kami tidak memaksa kalian untuk langsung menikah besok atau lusa. Kalian masih harus menyelesaikan sekolah, melanjutkan pendidikan jika mau. Selama masa itu, kalian akan saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Siapa tahu, rasa benci itu bisa berubah menjadi rasa sayang.”

“Tidak akan pernah terjadi!” serentak Alena dan Elio menjawab hampir bersamaan.

Kakek Baskara mengangkat tangan menenangkan. “Kalau dalam waktu satu tahun ke depan, kalian tetap merasa tidak bisa menerima satu sama lain, dan tetap yakin bahwa kalian tidak bisa hidup bersama, maka kami akan membatalkan perjodohan ini dengan sukarela. Bagaimana? Setuju?”

Alena dan Elio saling berpandangan, mencoba membaca pikiran satu sama lain. Satu tahun? Itu waktu yang cukup lama, tapi bagi mereka, itu adalah waktu yang pasti bisa dilalui dengan tetap menjaga jarak.

“Baiklah,” jawab Elio singkat. “Kami terima tantangan ini. Dalam satu tahun, kami akan membuktikan bahwa kami tidak akan pernah bisa bersatu.”

Alena mengangguk tegas, “Setuju. Satu tahun saja. Setelah itu, jangan pernah lagi menyebutkan hal ini di depan kami.”

Kedua kakek itu saling bertukar pandang dan tersenyum lebar, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. “Baiklah. Kesepakatan ini dimulai hari ini. Mulai sekarang, kalian harus saling menghormati, saling membantu, dan tidak boleh saling menyakiti dengan kata atau perbuatan.”

Setelah pembicaraan itu selesai, Alena dan Elio keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk. Di depan teras rumah, mereka berhenti sejenak.

“Ini semua salahmu,” tuduh Alena tiba-tiba.

“Kenapa jadi salahku? Kalau saja kamu tidak selalu membuat keributan, mungkin nasib kita tidak akan seburuk ini,” balas Elio tidak mau kalah.

“Sudahlah! Ingat, kita hanya punya satu tahun. Setelah itu, kita bebas selamanya. Jangan berharap lebih dari apa pun,” ucap Alena sambil melangkah pergi.

Elio hanya menghela napas panjang, menatap punggung Alena yang mulai menjauh. “Satu tahun saja… semoga aku bisa bertahan menghadapi gadis itu,” gumamnya pelan.

Namun, tak ada yang tahu bahwa takdir telah menuliskan jalan cerita yang berbeda. Apa yang dimulai sebagai kebencian dan persaingan, perlahan-lahan akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih indah dan tak terduga. Di antara pertengkaran dan ejekan, benih-benih perasaan baru mulai tumbuh, meskipun keduanya masih menolak untuk mengakuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!