Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Licik
Sesampainya di perusahaan, Chloe melangkah masuk diikuti Elsa di belakangnya.
Para karyawan berjejer membentuk barisan saat melihat kedatangan direktur baru mereka.
Chloe berjalan dengan wajah dingin dan tegas. Tidak ada senyuman ramah sedikit pun terukir di bibirnya.
Begitu pun dengan Elsa yang berjalan di belakangnya. Ekspresinya datar.
DUK. DUK. DUK.
Suara hak sepatu Chloe menggema di lobi yang hening.
Semua karyawan menunduk. Ada yang sampai menahan napas.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Manager HR dengan gugup.
Chloe berhenti. Menatap satu per satu karyawan. Tatapannya tajam, menilai.
"Selamat pagi," jawab Chloe. Suaranya rendah dan dingin. "Ruang meeting, lima menit lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Chloe langsung berjalan ke lift. Elsa mengikutinya.
Begitu pintu lift tertutup, lobi langsung heboh.
"Kalian lihat nggak? Nyonya Chloe dingin banget..."
"Dan bahkan lebih serem daripada Tuan Alexander."
"Baru dua hari menjabat sebagai Direktur Weiss Group, rasanya kita semua berada dalam bahaya."
LIMA MENIT KEMUDIAN - DI RUANG MEETING
Meja panjang dengan dua puluh kursi, dan semuanya sudah terisi.
Chloe duduk di kursi paling ujung. Elsa berdiri di belakangnya seperti patung.
Chloe meletakkan map di atas meja. BUK.
"Hari ini meeting singkat," ucap Chloe. "Aku cuma mau bilang satu hal."
Ia menyapu ruangan dengan tatapan. "Mulai hari ini, perusahaan ini tidak menerima suap. Tidak akan menerima proyek kotor. Dan tidak akan menutupi kesalahan demi nama baik."
DUG
Beberapa karyawan saling lirik dengan keringat dingin.
"Terutama," lanjut Chloe, matanya menyipit. "Untuk divisi keuangan. Aku sudah memegang laporan lima tahun terakhir."
Ia melempar satu map ke tengah meja. "Di dalamnya ada transaksi janggal. Sebesar lima puluh miliar. Yang mengatasnamakan proyek Reinhard Group."
Ruangan hening total.
"Proyek itu tidak pernah ada," ucap Chloe pelan. Tapi suaranya menusuk. "Tapi uangnya cair. Setiap tiga bulan sekali. Ke rekening atas nama... Dimas Sanjaya."
DUG
Kepala Divisi Keuangan langsung pucat. Tangannya gemetar.
"Nyonya... itu... itu pasti salah input," gagapnya.
Chloe menyandarkan punggungnya ke kursi. "Oh? Salah input ya?"
Ia mengetuk meja dengan jari telunjuknya. Tok. Tok. Tok.
"Dimas Sanjaya siapa?"
Tidak ada yang menjawab.
"Bagus," Chloe berdiri. "Berarti kalian semua tahu. Tapi kalian semua memilih diam."
Ia berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, Chloe menoleh.
"Jam tiga sore. Dimas Sanjaya harus ada di ruanganku. Dengan semua berkas asli. Kalau tidak..."
Chloe tersenyum. Tapi senyum itu tidak hangat. "Aku akan serahkan semua bukti ini ke KPK, dan ke Tuan Erivo Reinhard."
KLIK. Pintu tertutup.
Di dalam ruangan langsung meledak.
"Gila! Kenapa dia bisa tahu semuanya?"
"Kita tamat!"
"Siapa yang berani membocorkan data ke dia?"
DI LUAR RUANG MEETING
Elsa berbisik. "Nona, Dimas Sanjaya sudah tidak masuk kerja selama tiga hari ini. Katanya dia sakit."
Chloe mengangguk. Matanya dingin. "Sakit? Atau dia melarikan diri?"
Ia mengeluarkan ponsel. Ada dua pesan masuk.
"Daddy Menunggumu di Restoran Marlow, sayang."
"Jangan membuat Daddy-mu ini menunggu lama."
Chloe menghela napas cukup panjang.
"Elsa," ucap Chloe. "Suruh tim IT melacak lokasi terakhir Dimas. Dan cek CCTV parkiran tiga hari terakhir."
"Siap, Nyonya."
Chloe berjalan ke lift. Begitu pintu lift terbuka, ia hampir bertabrakan dengan seseorang.
Seorang pria. Memakai jas abu-abu, berkacamata. Membawa map.
Pria itu langsung menunduk. "Permisi, Nyonya Direktur."
Chloe menatapnya. "Kau siapa?"
"Staff baru divisi keuangan, Nyonya. Nama saya Arka," jawab pria itu cepat. Terlalu cepat.
DUG
Chloe menyipitkan mata. "Divisi keuangan? Bukannya semua staff sedang meeting?"
Arka tersenyum gugup. "Saya... saya izin dulu, Nyonya. Mau ambil berkas."
Chloe tidak menjawab. Ia masuk ke dalam lift. Elsa mengikutinya.
Saat pintu lift tertutup, Chloe berbisik. "Ikuti dia. Diam-diam."
Elsa mengangguk kecil.
Hening. Hanya suara lift yang bergerak turun.
Chloe menatap pantulan dirinya di dinding lift. Wajah dingin, tapi matanya lelah.
Sudah dua hari ia menjabat sebagai Direktur Utama Weiss Group. Ternyata masalahnya bukan hanya Alexander dan Serena saja. Tapi juga banyak karyawan yang melakukan kecurangan selama lima tahun ini.
Jika ia terlambat mengambil alih perusahaan milik almarhum ibunya ini, mungkin dalam waktu dua tahun perusahaan sebesar ini akan mengalami kebangkrutan.
DUK
Ponsel Chloe bergetar lagi. Pesan dari nomor tidak dikenal.
"Hentikan penyelidikanmu, Nyonya. Atau nyawamu yang menjadi taruhannya."
Chloe membaca pesan itu dengan tatapan tajam. Lalu setelahnya ia tersenyum tipis. Senyuman Queen Daisy ketika sedang bermain dengan musuhnya.
"Nyonya. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Elsa, melihat ekspresi Nyonya nya itu.
"Hmm... Aku baik," ucap Chloe. Suaranya datar tapi terdengar menyeramkan. "Dan sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan kita, Elsa."
Elsa meraih ponsel yang ada di tangan Chloe dan membaca pesan itu. Seketika tangan Elsa terkepal dengan kuat.
"Berani sekali dia mengancam seorang Queen Daisy," ucap Elsa. Nadanya penuh amarah.
DING. Lift terbuka di lobi.
Begitu keluar, semua karyawan langsung menunduk. Tapi Chloe bisa merasakan tatapan-tatapan curiga dan takut.
Chloe berjalan keluar gedung. Mobil hitamnya sudah menunggu.
Sebelum masuk, Elsa berbisik. "Nyonya, Arka itu... dia keluar lewat pintu belakang. Dan naik mobil hitam tanpa plat."
Chloe berhenti. Lalu menoleh. "Platnya ditutupi?"
Elsa mengangguk. "Dan di dalam mobil... ada logo kecil. Burung elang hitam."
DUG
Chloe mengepalkan tangan. Dalam hati ia berkata, "Logo Klan Keluarga Reinhard. Tapi itu bukan milik Erivo."
Itu artinya ada pihak lain dari keluarga Reinhard yang ikut bermain.
Chloe masuk ke dalam mobil. Lalu Elsa menyusulnya duduk di kursi kemudi.
"Ke Restoran Marlow sekarang," ucap Chloe.
"Baik, Nyonya."
Mobil melaju pelan di jalan raya kota Geneva yang terlihat cukup ramai itu.
Di dalam mobil, Chloe menyalakan tablet dan membuka laporan yang dikirim anak buahnya lima menit lalu.
Di dalam laporan itu ada bukti transfer dan foto.
DUG
Foto pertama. Dimas Sanjaya. Sedang menyerahkan map coklat kepada seorang pria. Rambut pirang, kacamata hitam, dan memakai jas berwarna putih.
Foto kedua. Bukti transfer lima puluh miliar ke rekening atas nama Dimas Sanjaya. Pengirim "Elang Hitam Konstruksi."
Foto ketiga. CCTV parkiran. Arka masuk ke mobil hitam. Dan di kaca belakang mobil itu jelas terlihat stiker kecil burung elang hitam.
Chloe memperbesar foto pria yang memakai jas putih itu.
Wanita itu sedikit memicingkan matanya. Wajah pria itu sangat tidak asing.
"Levin..." gumam Chloe.
"Benar, Nyonya," ucap Elsa. "Pria itu adalah Levin. Saudara tiri Anda. Yang kemarin Anda biarkan pergi begitu saja."
Chloe meletakkan tablet. Tersenyum. Tapi senyum itu dingin.
"Oh, jadi seperti ini cara bermain mereka," gumam Chloe. "Levin bekerja sama dengan anggota keluarga Reinhard."
Elsa mengangguk. "Dan dari logo burung elang itu... hanya ada satu orang dari keluarga Reinhard yang memakai simbol itu."
"Siapa?" tanya Chloe. Wajahnya datar.
"Tuan Victor Reinhard," jawab Elsa. "Adik kandung Tuan Nicholas. Yang selama ini selalu mengincar perusahaan Reinhard Group."
Chloe bersandar di kursi. Menutup mata. "Levin dan Victor... Jadi selama ini mereka bekerja sama membuat Weiss Group hampir berada di puncak kehancuran. Setelah semuanya hancur, Erivo lah yang akan dituduh melakukan itu."
Tangan Elsa yang berada di setir terkepal. "Licik sekali, Nyonya."
Chloe membuka mata. Tatapannya tajam. "Tidak, ini cerdas. Mereka tahu Erivo tidak akan pernah menyentuh Weiss Group karena..."
"Karena Nyonya," lanjut Elsa pelan.
Chloe tersenyum miring. "Tepat. Jadi kalau Weiss Group bangkrut, semua orang akan bilang. Erivo Reinhard lah yang menghancurkannya karena tidak ingin kalah saing dengan istrinya."
"Jadi apa rencana Nyonya selanjutnya?" tanya Elsa.
---
jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 🙏 😊 🥰
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,