NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. First Kiss

"Apa?"

"Kamu mau?"

"Ya, karena aku sangat mencintaimu."

"Kalau Minggu ini kamu aku ajak ke rumah untuk diperkenalkan kepada orang tuaku, kamu bersedia?"

"Secepat itu?"

"Iya, aku harus cepat,biar mama percaya."

"Aku gak masalah."

"Alhamdulillah, makasih Kamiiiil." Amanda langsung memeluknya, dia langsung mencium pipi Kamil karena terlalu gembira.

Kamil terlihat kaget, dia gak menyangka Amanda akan seantusias itu.

Amanda masih berada sangat dekat, lengannya melingkar di leher Kamil. Wajahnya berbinar, napasnya hangat, terasa jelas di kulit Kamil yang tiba-tiba menegang. Kamil sendiri seperti kehilangan ritme—dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.

"Manda…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan, tapi sarat kebingungan dan sesuatu yang lain… sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Amanda perlahan melepaskan pelukannya, tapi jarak di antara mereka tetap begitu dekat. Matanya menatap Kamil lekat, seolah memastikan bahwa laki-laki di hadapannya ini benar-benar ada dan tidak akan pergi.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.

Kamil menelan ludah. Tangannya yang semula kaku, perlahan terangkat, ragu-ragu… lalu berhenti di sisi wajah Amanda. Ia seperti meminta izin tanpa kata.

Amanda tidak menjauh. Itu cukup jadi jawaban.

Dengan gerakan hati-hati, Kamil mendekat. Waktu seolah melambat—detik terasa panjang, udara di sekitar mereka menghangat. Hingga akhirnya, tanpa banyak pikir lagi, Kamil menutup jarak itu.

Bibir mereka bertemu.

Awalnya hanya sentuhan singkat—canggung, ragu, dan penuh kehati-hatian. Tapi justru di situlah terasa getaran yang aneh, sesuatu yang membuat keduanya terdiam di dalam momen itu.

Amanda memejamkan mata lebih dulu, tenggelam dalam perasaan yang campur aduk—lega, bahagia, dan sedikit gemetar. Sementara Kamil, yang awalnya kaku, perlahan mulai mengikuti, meski tetap dengan kehati-hatian, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.

Ciuman pertama itu tidak lama. Namun cukup untuk membuat keduanya terdiam setelahnya.

Saat mereka saling menjauh, jarak hanya beberapa sentimeter, napas mereka masih bertabrakan. Amanda tersenyum kecil, pipinya memerah. Sedangkan Kamil… masih tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Tangannya belum sepenuhnya turun dari wajah Amanda. Seolah dia masih memastikan—ini nyata.

Dan mungkin… juga memastikan, bahwa dia benar-benar tidak ingin melepaskan momen itu begitu saja.

Suasana yang tadinya hangat dan penuh getaran tiba-tiba berubah canggung begitu bel berbunyi. Amanda dan Kamil refleks saling menjauh, seolah baru tersadar posisi mereka tadi terlalu dekat.

Amanda cepat-cepat berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan ke arah pintu. Sementara Kamil masih duduk di sofa, berusaha menenangkan napasnya dan mengembalikan ekspresi wajahnya seperti biasa—meski jelas tidak sepenuhnya berhasil.

Begitu pintu dibuka, Amanda langsung sedikit lega.

"Hai, Mel,” sapanya, berusaha terdengar normal.

Amel mengangkat alis, matanya menyapu cepat ke dalam apartemen, seolah menangkap sesuatu dari atmosfer yang berbeda.

"Sepertinya lagi ada tamu ya?” katanya santai, tapi nada suaranya penuh selidik.

"Iya, Kamil, teman kita.”

Amel masuk tanpa ragu. Langkahnya ringan, tapi matanya langsung menemukan sosok Kamil di sofa.

"Kamil?” sapanya dengan senyum tipis.

Kamil berdiri, sedikit kikuk, lalu mengangguk sopan. “Hai, Mel. Udah lama gak ketemu.”

"Iya, kamu makin sibuk ya sekarang? Susah banget diajak nongkrong,” balas Amel sambil menyilangkan tangan di depan dada, setengah menggoda.

Kamil tersenyum kecil, tangannya masuk ke saku celana, mencoba terlihat santai. “Bukan sibuk sih… ya, begitulah, lagi banyak urusan aja.”

"Urusan apa nih?” Amel melirik sekilas ke Amanda, lalu kembali ke Kamil dengan senyum yang semakin lebar. “Kayaknya bukan urusan kerja doang.”

Kamil tertawa pelan, agak gugup. “Kamu masih aja, Mel. Gak berubah.”

"Ya gimana, kamu juga gak berubah—kalau ditanya suka muter-muter jawabnya.”

Amanda yang berdiri di dekat pintu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keduanya. “Udah, kalian ini… baru ketemu langsung interogasi.”

Amel tertawa kecil, lalu duduk di sofa seberang Kamil. “Ya kan lama gak ketemu, sekalian update kehidupan. Siapa tahu ada kabar menarik.”

Kamil hanya tersenyum tipis, sekilas melirik Amanda sebelum kembali menatap Amel. “Belum ada yang terlalu menarik kok.”

Amel mengangguk pelan, tapi sorot matanya jelas tidak sepenuhnya percaya. Ia menyandarkan tubuhnya santai, masih memperhatikan Kamil dengan ekspresi penuh arti—seolah tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Sementara itu, kecanggungan yang tadi sempat pecah oleh bel pintu… kini justru berubah menjadi ketegangan baru yang lebih halus, tapi terasa di antara mereka bertiga.

Suasana yang sempat tegang perlahan mencair setelah obrolan mereka bergeser ke hal-hal ringan. Amel beberapa kali melempar candaan, mencoba menormalkan keadaan, sementara Amanda hanya sesekali menanggapi dengan senyum tipis yang masih menyimpan sisa emosi tadi.

Kamil pun ikut menyesuaikan diri. Ia tidak lagi setegang sebelumnya, bahkan sempat menimpali ucapan Amel dengan komentar singkat yang membuat suasana terasa lebih hangat. Namun, di balik itu semua, pikirannya jelas masih penuh.

Keputusan barusan… bukan hal kecil.

Beberapa detik hening muncul di sela percakapan. Kamil melirik jam tangannya, lalu menarik napas pelan seolah sudah menentukan sesuatu.

Ia kemudian bangkit dari duduknya.

"Man, Mel, aku pamit ya… ada yang harus dikerjakan lagi.”

Nada suaranya terdengar normal, tapi ada sedikit ketergesaan yang halus—seperti seseorang yang butuh ruang untuk berpikir sendiri.

Amanda menatapnya, ada sedikit perubahan di wajahnya. Antara ingin menahan… dan mengerti bahwa Kamil memang butuh waktu.

"Sekarang?” tanya Amanda pelan.

Kamil mengangguk. “Iya.”

Amel yang dari tadi memperhatikan hanya mengangkat alis sedikit, lalu tersenyum tipis. "Sibuk banget ya kamu sekarang, Mil.”

Kamil membalas dengan senyum singkat. "Biasalah.”

Ia tidak banyak bicara lagi. Tangannya sempat merapikan bajunya, lalu mengambil langkah menuju pintu. Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya terhenti sesaat.

Ia menoleh ke arah Amanda. Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada kata-kata tambahan, tapi ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya—lebih dalam, lebih pasti, seolah ada kesepakatan tak terucap di antara mereka.

Lalu Kamil mengangguk kecil, dan benar-benar melangkah pergi.

Meninggalkan ruangan itu… dengan perasaan yang jauh lebih penuh daripada saat ia datang.

Langkah Kamil terasa lebih ringan saat ia keluar dari apartemen itu. Koridor yang tadi ia lewati dengan perasaan tegang, kini terasa berbeda—seolah lebih lapang, lebih terang.

Begitu sampai di area parkiran, ia menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak sebulan terakhir, dadanya terasa lega.

Perlahan, senyum mengembang di wajahnya.

Bukan senyum tipis yang ditahan-tahan seperti tadi di depan Amanda. Kali ini benar-benar lepas—jujur, penuh rasa puas yang selama ini ia pendam.

Selama sebulan terakhir, ada ruang kosong yang sulit ia isi. Sejak Amanda menjauh, hari-harinya terasa hambar. Ia tetap menjalani rutinitas, tetap terlihat biasa di luar… tapi di dalam, ada yang hilang.

Dan hari ini, semuanya seperti kembali.

Ia menyandarkan tubuhnya sebentar di dekat mobil, menatap kosong ke depan sambil menggeleng pelan, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kalau jodoh memang gak akan ke mana…” gumamnya lirih.

Ada nada keyakinan di sana. Bukan lagi sekadar harapan seperti dulu, tapi sesuatu yang terasa lebih pasti.

Ia membuka pintu mobilnya, masih dengan senyum yang belum pudar. Dalam hatinya, ada rasa menang—bukan karena mengalahkan siapa-siapa, tapi karena akhirnya ia tidak kehilangan yang ia perjuangkan.

Dan kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri…

Kalau memang ini jalannya, ia tidak akan membiarkannya lepas lagi.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Barra Ayazzio: Iya betul, emang aturannya talak itu harus dijatuhkan bertahap, 1, 2, dan 3. Di sini author hanya menggambarkan betapa jahatnya Kamil, betapa dia ingin memperlihatkan kepada semuanya, kalau talak itu hak suami. Dia bisa langsung menjatuhkan talak, walaupun baru saja akad. Terimakasih komentarnya.😊
total 1 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!