Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba Di Rumah Ibu
Davina sudah berada di kota C , tempat dimana dia tinggal.Tempat dimana dia di besarkan.Hanya membutuhkan waktu satu hari satu malam dia sudah berada di Kota C.
Davina , dila dan zahra tiba di sebuah rumah yang bisa di bilang rumah mewah namun tidak semewah rumah dia bersama Rio.
Dia berjalan perlahan dan memasuki gerbang rumahnya.Dia menghampiri seorang perempuan sudah cukup umur yang sedang menyiram bunga mawar kesayangannya.
" wah cantiknya bungaku ni , Tumbuhlah dengan baik ya, sekarang waktunya kalian minum mawar cantikku " ucap perempuan paruh baya itu dan menyiram bunganya dengan raut wajah senang.
" Nenek " ucap zahra kecil berlari menghampiri neneknya.Perempuan paruh baya itu menoleh melihat siapa yang memanggilnya.Dia melihat zahra kecil berlari menghampirinya.
"ahh..zahra kecilku ternyata " ucapnya perempuan itu dengan wajah yang berbinar dan memeluk cucunya yang sangat dia rindukan.Davina menghampiri ibunya tidak lupa dia menyalam ibunya, mencium tangan ibunya dan dila juga ikut melakukan hal yang sama kepada perempuan paruh baya itu.
" Kapan pulangnya? kenapa tidak mengabari ibu nak "ucap perempuan paruh baya itu.Davina hanya senyum kecil.
" namanya juga dadakan bu '' ucap davina sambil senyum.
" ya tante , namanya juga suprise buat tante " ucap dila menimpali.
" Ya sudah ayok masuk, Ayahmu bakalan senang melihatmu ada disini, apalagi zahra yang sangat dia rindukan,cucu kesayangannya " ucap Bu Rani
Davina mengikuti ibunya berjalan masuk ke dalam rumah ,yang sudah lama tidak dia kunjungi.Setelah kurang lebih dua tahun dia tidak pernah berkunjung.Tidak ada perubahan sama sekali di dalam rumah ini , terakhir dia datang semuanya masih sama tidak ada berubah.
Bahkan fotonya dan anak nya banyak sekali apalagi foto zahra saat masih bayi bahkan saat merangkak dan bahkan saat berjalan semua ada.Davina melihat semua foto itu bertengger rapi disana.
" ayah kemana bu ? " ucap davina
" ayahmu, dia sedang pergi memancing mungkin bentar lagi dia akan pulang " ucap Bu Rani
Davina melihat semua isi ruang tamu, bahkan disana terlihat foto ketika dia memakai baju pengantin.
" ibu sampai terheran melihat kelakuan ayahmu, ini semua kerjaannya dia membingkai semua fotomu bahkan foto zahra yang paling banyak , kalo di tanya dia selalu jawab.Ini adalah cara untuk mengobati rindu bu terhadap davina dan cucu kita zahra kecil " ucap Bu Rani panjang Lebar seolah lelah dengan tingkah laku suaminya.
Davina yang mendengar cerita bu Rani hanya tersenyum kecil.Dia tahu ayahnya sangat merindukannya mungkin karena dia anak pertama dan anak tunggal di dalam rumah.Davina tidak mempunyai sodara karena dia anak tunggal.Terkadang davina selalu ingin punya adik agar tidak kesepian.
" apa ayah masih sering sakit punggung " ucap davina
" oh.. Akhir - akhir ini sudah tidak lagi, setelah minum obat yang kamu kirim.Sakit punggungnya sudah tidak kambuh lagi " ucap Bu Rani
" oh..syukurlah bu " ucap Rani tersenyum.
" yasudah ,ibu siapin makan malam buat kalian dulu " ucap Bu Rani berjalan menuju dapur ,davina mengikuti ibunya masuk ke dalam dapur.
" Biar aku bantu bu " ucap Davina.Membuka kulkas melihat apa saja yang ada di dalam dapur untuk di masak untuk makan malam.
Yang terdengar hanya suara pisau yang berlomba dengan suara penggorengan, sementara dila dan zahra sedang bermain di halaman.Tidak terasa waktu sudah sore.
"assalamu alaikum, sayang aku bawa banyak ikan " ucap Pak Radit dengan suara riang sambil berjalan menghampiri istrinya.
Pak Radit terkejut, melihat davina putri kesayangannya berada disini.
" sayang kamu kapan pulang " ucap Pak Radit bingung.
" tadi siang yah " ucap davina mengulurkan tangan mencium tangan ayahnya dengan lembut.
" wah kenapa , ayah tidak tahu sekarang ibumu pande berahasia ya " ucap Pak Radit.
" hmmm ,siapa yang merahasiakan darimu, aku saja terkejut davina pulang " ucap Bu Rani tidak terima di katain suaminya.
" Ibu juga tidak tahu , Davina pulang dadakan ayah " ucap Davina
"baiklah, mana cucuku " ucap Pak Radit
" sedang bermain di luar dengan dila yah " ucap Davina
"kakek " ucap Zahra kecil berlari kecil menghampiri kakeknya.Pak radit menggendong Rania lalu menciun cucu kesayangannya.
" wah zahra kecil kakek sudah besar ya '' ucap Pak Radit.
" zahra sayang ayok mandi " ucap dila
Zahra turun dari gendongan Pak radit dan berjalan menghampiri dila.
" ayok sana cucu kakek mandi, nanti kita beli eskrim ya " ucap Pak Radit dengan senang.
Malamnya hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Davina makan dengan pelan terlihat tidak selera.Sementara zahra sangat lahap makan.
" wah masakan nenek enak ya '' ucap zahra senyum dengan riang
" benarkah ? kalo begitu ayok sini nenek tambahin nasi dan lauknya ya " ucap Bu Rani
" aku mau dong nenek , yg buanyak ya" ucap zahra dengan wajah imutnya membuat suasana riang saat di meja makan. Bu rani dan Pak Radit tertawa melihat tingkah lucu cucu kesayangannya.
Pak Radit bermain dengan zahra kecil di ruang tamu , dengan penuh riang sementara Bu Rani menghampiri davina.
" sebenarnya ibu lihat, kamu terlihat murung " ucap Bu Rani penuh tanya.
" tidak apa - apa ibu , davina hanya kecapean saja namanya juga perjalanan jauh " ucap Davina senyum.
" apa Rio tahu kamu kesini " ucap Bu Rani seolah ingin tahu.
"hmmm ya bu, Mas Rio tahu ko kita pulang " ucap Davina berbohong.
" syukurlah , memang sebaiknya suami harus tahu istrinya kemana dan ibu selalu ajarkan kamu untuk selalu pamitan atau minta izin sama suamimu " ucap Bu Rani seolah menasehati putri semata wayangnya.
" Ya bu "ucap Davina agar tidak di bahas lagi mengenai Rio suaminya, bukan lebih tepatnya mantan suaminya.
Davina juga bingung tidak mungkin selamanya dia berbohong bahwa rumah tangganya dengan Rio suaminya baik - baik saja.
Davina tidak tahu apa yang harus dia katakan , jika ibunya dan ayahnya tahu.Tidak selamanya Dia menutupinya.Sepandainya dia menutupin pasti lama kelamaan akan terbongkar juga.Bisa saja Rio menghubungi keluarganya mengatakan yang sebenarnya.
Sementara Bu rani sudah berada di ruang tamu bermain dengan zahra.
" ayok sini nenek bantuin " ucap Bu rani asyik dengan cucu mereka.
Davina hanya melihat mereka bermain dengan begitu riang, namun dia melihat dengan pandangan lurus dengan pikiran yang kacau.
Dia sedang capek dengan pikirannya, seolah bertolak belakang dengan hatinya.Rio adalah orang yang paling dia cintai.Namun karena cintanya yang besar sehingga rio bisa setega itu terhadapnya.Davina tidak habis pikir kenapa dia bisa mengambil langkah ini.Langkah yang bisa dikatakan sangat beresiko untuk kedepannya.
Namun baginya itu sudah tidak penting, bagi dia terpenting adalah bagaimana untuk melanjutkan hidup dan bahagia bersama putri kecilnya zahra.
"zahra tidur yuk " ucap dila
" ya aunty " ucap zahra menghampiri dila.
" nenek aku tidur ya " ucap zahra
" baiklah, besok kita main lagi ya " ucap Pak Radit
" oke sip " ucap zahra mengangkat jempolnya seolah mengatakan setuju.
Sementara Rio sibuk dengan pikirannya sendiri.Ia menyesali perbuatannya selama ini yang tidak enak terhadap davina anak dan istrinya.