NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:254.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suara sepatunya membuat perhatian semua orang beralih kepadanya.

"Itu ... Pak Farhan."

Kepala sekolah langsung berjalan cepat menyambutnya.

"Selamat siang, Pak Farhan."

Beberapa guru ikut menundukkan kepala dengan hormat. Mereka mengenal pria itu sebagai salah seorang donatur tetap sekolah yang sering membantu pembangunan fasilitas dan kegiatan pendidikan.

Disti segera menghampiri suaminya.

"Mas..." Dengan wajah penuh kesal, ia memeluk lengan Farhan.

"Liat anak kita! Raka dipukul sampai berdarah."

Farhan menatap putranya yang sedang duduk di kursi sambil mendapat perawatan dari guru. Sorot matanya kemudian beralih kepada Mateo.

"Dia?"

"Iya, dia yang mendorong Raka."

Farhan melangkah beberapa langkah mendekati Mateo. Wajahnya tetap tenang, tetapi nada suaranya dingin.

"Apa sekolah tidak bisa mengambil keputusan untuk menghukum pelaku?" Farhan, menoleh kepada kepala sekolah.

"Sampai saya sendiri yang harus turun tangan?"

Kepala sekolah langsung terlihat gugup.

"Maaf, Pak Farhan. Kami sedang berusaha menyelesaikannya. Hanya saja, anak itu tidak mau meminta maaf."

Kepala sekolah kembali menoleh kepada Mateo.

"Mateo, sekali lagi bapak ngomong cepat minta maaf sama Raka."

Belum sempat Mateo menjawab, Maya langsung bersuara.

"Pak Kepala Sekolah. Harusnya Bapak tau, Mateo tidak akan meminta maaf kalau dia merasa tidak bersalah."

Farhan memandang Maya sekilas. Tatapannya menunjukkan ketidaksenangan. Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat kecil kepada dua orang pengawal yang berdiri di belakangnya.

"Buat anak itu membungkuk, paksa dia meminta maaf pada anakku."

"Baik, Pak."

Dua pengawal melangkah mendekati Mateo. Melihat itu, Maya langsung berdiri di depan kedua anak tersebut.

"Jangan sentuh mereka!"

Namun, beberapa guru lain justru menahan Maya.

"Bu Maya, jangan memperkeruh keadaan."

"Lepaskan saya!" Maya memberontak saat kedua tangannya di pegang oleh ibu-ibu tersebut.

Di sisi lain, Miss juga berusaha maju.

"Pak Farhan, mohon jangan—"

Dua guru lain menahan lengannya.

"Miss, sudah. Jangan ikut campur."

Miss menggeleng.

"Ini bukan cara menyelesaikan masalah anak-anak."

Sementara itu, dua pengawal semakin mendekati Mateo. Mateo tetap berdiri tegak.

"Aku nggak akan minta maaf, aku juga nggak akan sujud!" suara tegas Mateo semakin membuat Disti dan Suaminya kini semakin marah.

Disti mendengus sinis "liat! Benar-benar keras kepala."

Beberapa anak yang berdiri di belakang Raka mulai berbisik.

"Dasar anak nakal, pantas dimarahi."

Alisya yang sejak tadi menggenggam tangan kakaknya akhirnya berteriak sambil menangis.

"Kak Mateo nggak salah! Mereka yang ganggu kami dulu!"

Disti langsung menoleh tajam.

"Kamu juga ikut-ikutan! Kalau begitu kamu juga harus membungkuk dan minta maaf pada Raka!" Suara wanita itu terdengar keras.

Kepala sekolah kembali mencoba membujuk.

"Mateo, Alisya ... turuti aja dulu. Biar masalahnya cepat selesai."

Namun, dari balik kerumunan, Maya berteriak sekuat tenaga meski kedua lengannya kini ditahan oleh dua guru lainnya.

"Mateo! Alisya! Jangan pernah bersujud kalau kalian tidak bersalah! Jangan mengaku salah hanya karena dipaksa!" Suara Maya menggema di halaman sekolah.

Mateo menggenggam tangan Alisya semakin erat. Meskipun tubuh kecilnya mulai dikelilingi orang-orang dewasa, sorot matanya tetap tegas. Ia tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.

Di waktu yang sama, sebuah sedan mewah berwarna hitam perlahan memasuki area parkir sekolah. Mesin berhenti dengan halus. Di kursi depan, Digo menoleh ke arah kaca spion.

"Tuan, ini sekolah tempat Tuan Muda Mateo dan Nona Muda Alisya belajar. Semoga mereka masih di sekolah, sehingga hari ini Anda bisa menjemput mereka sendiri."

Kenzo hanya mengangguk singkat.

"Baik."

Kenzo, merapikan jas hitam yang dikenakannya sebelum membuka pintu mobil.

Sambil melangkah turun, ia bergumam pelan,

"Baiklah, Mateo ... hari ini kita coba melakukan pendekatan sebagai ayah dan anak." Nada suaranya tetap datar, tetapi terselip sedikit harapan.

Digo segera menutup pintu mobil setelah memastikan atasannya sudah turun. Keduanya berjalan melewati area parkir menuju halaman sekolah. Suasana sekolah sudah jauh lebih lengang. Sebagian besar murid telah dijemput orang tua mereka.

Namun, pandangan Kenzo berhenti pada sebuah kerumunan di bawah pohon dekat area penjemputan. Jumlah orang yang berkumpul cukup banyak. Guru-guru, beberapa orang tua murid, dan beberapa anak masih berada di sana.

Kenzo mengernyit tipis.

"Apa yang terjadi di sana?"

Digo mengikuti arah pandangnya.

"Saya belum sempat memeriksanya, Tuan."

Keduanya tetap berjalan. Semakin dekat, suara-suara pertengkaran mulai terdengar samar, tangisan anak kecil. Bentakan orang dewasa, perdebatan yang belum juga selesai. Tatapan Kenzo menyapu kerumunan itu.Lalu, matanya berhenti pada seorang anak perempuan kecil yang sedang menangis sambil menggenggam erat tangan seorang anak laki-laki.

Tatapan Kenzo langsung berubah tajam.

"Itu..." Suaranya rendah, "Alisya."

Beberapa sentimeter di samping gadis kecil itu berdiri Mateo, yang masih dikelilingi beberapa orang dewasa. Ekspresi dingin Kenzo perlahan mengeras.

Tanpa mengalihkan pandangan dari kedua anak itu, ia berkata tegas, "Digo."

"Ya, Tuan."

"Ke sana dan liat apa yang sedang terjadi. Dan pastikan tidak ada seorang pun yang berani menyentuh mereka!" perintah Kenzo dengan tegas.

"Baik, Tuan." Digo langsung mempercepat langkahnya menuju kerumunan.

"Cepat berlutut!" Bentakan Farhan menggema di halaman sekolah. Suara itu begitu keras hingga membuat Alisya yang berdiri di samping Mateo tersentak.

Tubuh kecilnya gemetar, mata bulatnya mengecil, dipenuhi air mata yang terus menggenang. Bibir mungilnya bergetar, berusaha keras menahan tangis agar tidak pecah. Ia menggenggam ujung baju kakaknya erat-erat.

"Kak Teo..." bisiknya lirih.

Namun, Mateo tetap berdiri di depan Alisya, seolah berusaha menjadi tameng bagi adiknya.

"Aku nggak akan berlutut!" Suara bocah lima tahun itu terdengar kecil, tetapi penuh ketegasan.

"Aku nggak salah!" Lagi-lagi dia berusaha membela diri.

Farhan menatap Mateo tanpa mengubah ekspresi.

"Kalau begitu, paksa dia berlutut!" perintahnya pada kedua pengawalnya.

Dua pengawal kembali melangkah maju.

"Hentikan!" Teriakan Maya memecah suasana. "Apa yang kalian lakukan? Kalian sedang menghakimi anak kecil!"

Maya berusaha melepaskan kedua tangannya yang masih dipegang erat oleh dua orang guru

"Lepaskan saya! Jangan sentuh keponakan saya!"

Namun, cengkeraman itu tidak mengendur sedikit pun.

"Diam saja, Bu," kata salah satu guru dingin.

"Kami hanya menjalankan perintah."

Di sisi lain, Miss juga kembali berusaha maju.

"Pak Farhan, mohon hentikan. Ini bukan cara menyelesaikan masalah."

Lagi-lagi, dua guru menahan langkahnya.

"Miss, sudahlah. Jangan ikut campur!"

Miss menatap mereka dengan tidak percaya.

"Dia masih anak-anak, kalian seorang guru. Kenapa justru membiarkan anak dipaksa seperti ini?"

Tak ada yang menjawab, beberapa guru malah saling berbisik.

"Makanya, siapa suruh cari masalah dengan keluarga Pak Farhan. Istrinya saja sudah marah besar tadi,"

"Kalau sampai sekolah kehilangan donatur, bagaimana?" Ucapan-ucapan itu terdengar jelas di telinga Maya.

Dadanya semakin sesak, dia menatap para guru yang seharusnya melindungi murid-murid mereka.

"Jadi ... karena dia donatur... Kalian rela membiarkan dua anak kecil diperlakukan seperti ini?"

Tak seorang pun berani menjawab. Di tengah kerumunan itu, Mateo tetap berdiri tegak. Meski wajahnya mulai pucat, ia sama sekali tidak berniat menundukkan kepala.

Pada saat yang sama, dari kejauhan Digo mempercepat langkahnya, sementara Kenzo berjalan di belakangnya dengan sorot mata yang semakin dingin. Semakin dekat, semakin jelas ia mendengar bentakan dan melihat kerumunan orang dewasa yang mengelilingi kedua anaknya. Rahang Kenzo mengeras, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langkahnya bertambah cepat menuju pusat keributan itu.

"Cepat berlutut!" Farhan melangkah semakin dekat, sorot matanya penuh kemarahan.

"Kalau tidak..." Ia menunjuk Mateo dengan jari telunjuknya.

"Akan saya patahkan kakimu sampai kamu berlutut!" Bentakan itu membuat suasana halaman sekolah semakin mencekam.

Disti yang berdiri di samping suaminya menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Baginya, sebentar lagi bocah yang dianggap telah melukai putranya akan dipaksa meminta maaf.

Di sisi lain, Raka yang kini kepalanya telah dibalut perban menatap Mateo dengan tatapan penuh kebencian.

"Rasakan itu anak sialan..." gumamnya pelan.

"Cepat berlutut! Atau mau saya patahkan kedua kaki mu sekarang?!" Suara Farhan kembali terdengar begitu penuh amarah. Terdengar suara berat yang dingin dan penuh wibawa dari arah belakang kerumunan.

"Coba saja kalau kalian berani,"

1
Teh Euis Tea
aku penasaran sm pasangan Kenzi thor😁
Teh Euis Tea
Tara manggil Alex Daddy dong masa tuan
fatin Rahman
bingung saya.. bukan Alex sudh meninggal🤭 kenapa kenzi mengatakan Mama dady nya menunggu penjelasan Dr kenzo💪
Lisa Halik
lagi thor double up
dewi rofiqoh
Makin ramai mansion vasillo
Susma Wati
nah keluarga ara di libat kan dalam kisah kenzo 👍👍👍
mimief
kan mau nyebrang jalan zi,jadi dipegangi Mulu 🤣🤣..
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
mimief
wkwkwkwkwkwk
aku suka keributan ini
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
umur brp lg tuh si kenzo y. si ara aja udah umur 30 lahirin si acha.
Teh Euis Tea: Kenzo Kenzi 55 thn berarti Kenzi jomblo abadi ya, kasian Kenzi ga ada niatan nikah
total 5 replies
Ema Susanti
jangan ada drama acha suka sama kenzo pamannya. acha kan anak sambung ara
Aisyah Alfatih: Acha itu anak kandung Ara, yang anak sambung itu Alya dan dia udah nikah sama seseorang 🤭 ada novelnya kok...
total 3 replies
mimief
ternyata..bahagia itu sederhana dan murah ya
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍
Mutia
Ara, adiknya Kenzo kn gak pernah disingging sama sekali, spy Tara jg mengenalnya.
Rokhyati Mamih
Acha ngga bareng mama Ara nih ?
Aisyah Alfatih: nggak ya, Acha itu tinggal sama Alex dan Tasya, dan seluruh biaya sekolahnya di biayai sama mereka.
total 1 replies
Storyginal Finger
💪🤭
Lisa Halik
aranya ke mana thor....sudah bagi gift,semangat updatenya
mimief: jagain elang..di rumah sakit😔
total 1 replies
Lisa Halik
double up thor..gift menyusul😍
Rahmat
tadix berfikir yg gak"ternyata baik"sj syukur lah😅
dewi rofiqoh
Ukir kenangan indah bersama keluarga tuan alex, selagi masih ada waktu dan kesempatan
Rokhyati Mamih
sabar Kenzo biarkan dady mu bahagia
Ita rahmawati
jgn khawatir Ken orang yg kmu khawatirin geh B aja 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!