Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Melihat tautan jemari Tristan dan Ananda yang kian erat, Andre dan Indra saling berpandangan. Mereka tahu tugas mereka untuk meluruskan masa lalu telah usai, dan kini saatnya memberikan ruang bagi sepasang kekasih yang telah terpisah enam tahun itu.
"Tristan, Nanda... sepertinya urusan kami di sini sudah selesai. Kami pamit undur diri dulu, ya. Kami tidak mau menjadi pengganggu di momen berharga kalian," ucap Andre tulus sambil menepuk bahu Indra agar ikut bangkit.
Tristan mendongak, lalu mengangguk pelan dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya. Ia cukup puas karena kedua temannya itu tahu diri dan cukup pengertian. Setelah Andre dan Indra melangkah keluar dari kafe, keheningan mendadak menyelimuti meja mereka.
Ananda terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk menjawab pernyataan cinta yang begitu tiba-tiba dari sang mantan musuh bebuyutannya di kampus.
"Kau bilang... kau mencintaiku? Kau yakin dengan perasaanmu itu, Tristan?" tanya Ananda dengan suara bergetar, menatap sepasang bola mata pria di hadapannya seolah mencari kepastian.
Tristan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Ananda, seolah menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki. "Sangat yakin, Nanda. Enam tahun sudah aku memendam perasaan ini, dan selama itu pula aku sangat tersiksa. Aku sengaja menutup rapat hatiku terhadap wanita lain dan selalu menolak dengan keras setiap perjodohan yang direncanakan oleh kedua orang tuaku."
Ananda menunduk, matanya kembali berkaca-kaca. "Tapi... kita berbeda, Tristan. Kau dan aku bagaikan langit dan bumi. Aku hanyalah wanita biasa, seorang janda yang tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan di depan keluargamu."
"Ssstttt..."
Tristan melepaskan satu genggamannya, lalu perlahan menempatkan jari telunjuknya di atas belahan bibir Ananda yang bengkak, menghentikan kalimat pesimis wanita itu.
"Jangan pernah kau ucapkan kata perbedaan itu lagi, Nanda. Aku bersumpah, aku rela melepaskan semua kemewahan ini. Aku rela menjadi orang biasa seperti yang lainnya, asalkan aku bisa bersamamu dan juga Elvano. Aku tidak peduli dengan takhta Bratadikara jika harganya harus kehilanganmu lagi. Nanda... tolong, percayalah padaku kali ini," mohon Tristan dengan tatapan mata yang begitu dalam dan sarat akan damba.
Untaian kalimat yang keluar dari bibir Tristan merangsek masuk ke dalam dada Ananda, seketika meruntuhkan tembok pertahanan tinggi yang sengaja ia bangun selama bertahun-tahun. Hati kecilnya tidak bisa berbohong lagi. Pria egois di hadapannya ini... masih menjadi cinta pertamanya yang tak pernah tergantikan.
Ananda mengusap sisa air matanya, lalu menatap mantap ke dalam bola matanya Tristan yang masih menunggu jawaban darinya. "Kalau boleh tahu... sejak kapan kamu mulai menyukaiku? Apa yang kau lihat dalam diriku di masa lalu yang penuh kekurangan itu?"
Tristan menghela napasnya sejenak, mengenang memori masa kuliah mereka. "Enam tahun yang lalu, di gudang belakang dekat kantin kampus... apakah kau masih ingat? Di atap gudang tua itu, kau selalu berteriak keras dan memaki namaku serta teman-temanku yang lainnya untuk meluapkan kekesalan mu."
Deg!
Ananda terhenyak. Ia ingat betul kejadian itu. Dulu, atap gudang adalah tempat rahasianya untuk meluapkan rasa sakit hati akibat rundungan Tristan dan komplotannya. "Terus... hanya karena melihatku marah-marah seperti itu yang membuatmu menyukaiku?"
"Tidak, Nanda," potong Tristan dengan senyuman hangat, dan dari situlah Tristan memiliki rasa ketertarikan terhadap Ananda. "Apakah kau ingat, suatu hari di koridor saat kau tidak sengaja menjatuhkan buku catatanmu? Di sana tertulis buku harian mu. Kau menulis bahwa kau menyesal mengikuti program beasiswa untuk bisa melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga karena selalu aku ganggu. Tapi di halaman berikutnya, kau menulis hal yang membuat duniaku berbalik. Kau mengatakan bahwa akulah pria yang membuatmu semangat untuk bisa masuk ke universitas Airlangga. Kau berjuang mati-matian belajar siang dan malam hanya demi bisa satu kampus dan dekat denganku."
Tristan menjeda kalimatnya, matanya berkaca-kaca mengingat kebodohannya di masa lalu. "Sungguh suatu perjuangan dan pengorbanan yang membuat kedua mataku dan hatiku yang buta ini terbuka lebar. Aku tersadar bahwa cinta yang kau miliki untukku begitu tulus, Nanda. Dan saat kejadian malam naas di hotel itu terjadi... aku benar-benar merasa sangat bersalah. Aku mengutuk diriku sendiri karena telah merusak wanita yang begitu tulus mencintaiku."
"Lalu... kenapa setelah kejadian itu kau tidak segera mencari ku dan mengatakan semua ini padaku, Tristan? Kau tahu betapa hancurnya aku pada saat itu, kau telah merenggut kesucianku, harga diri ku...?" " tanya Ananda, menyuarakan rasa sakit yang dipendamnya selama enam tahun.
"Hanya beberapa jam setelah malam itu, saat aku ingin menyusul mu ke rumahmu untuk menjelaskan semuanya dan bertanggung jawab, Mamahku berhasil menemukan ku dan ia mencegat ku di jalan di saat aku hampir saja sedikit lagi tiba di depan rumah mu. Dan Mamah ku menjelaskan padaku sambil menangis bahwa Papahku mengalami kecelakaan tragis di Kanada. Aku terpaksa langsung pergi ke sana bersama Mamah hari itu juga," tutur Tristan dengan nada menyesal.
"Papah mengalami koma yang cukup lama di rumah sakit, sehingga aku dipaksa keadaan untuk langsung menggantikan posisinya memimpin perusahaan. Aku harus meninggalkan masa mudaku yang harusnya dinikmati bersama teman-teman. Semuanya berubah menjadi kenangan kelam. Aku dipaksa fokus bekerja dan mengurus perusahaan, tak ada lagi istilah bermain dan bersenang-senang dalam hidupku."
Tristan mengusap punggung tangan Ananda dengan lembut. "Di saat aku ingin kembali mencari keberadaan mu, aku justru mengalami banyak penderitaan dan tekanan dari keluargaku sendiri. Hidupku diatur sepenuhnya oleh mereka... terkecuali soal pasangan hidup. Sampai kapan pun aku menegaskan kepada mereka, aku hanya akan memilihmu, Nanda. Jika tidak menikah denganmu, maka seumur hidupku aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Tristan yang penuh dengan kepedihan dan perjuangan yang tak pernah ia ketahui selama ini, pertahanan Ananda runtuh sepenuhnya. Rasa benci, trauma, dan ego yang membentengi hatinya menghilang tak berbekas, digantikan oleh rasa cinta yang kembali membuncah hebat.
Tanpa memperdulikan genggaman tangan mereka lagi, Ananda langsung bangkit dari kursinya dan menghambur ke pelukan Tristan. Ia memeluk pinggang pria di hadapannya itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tristan sambil menangis sesenggukan, meluapkan seluruh rasa rindu dan beban berat yang akhirnya terangkat dari pundaknya. Tristan pun dengan sigap mendekap erat tubuh Ananda, mengecup puncak kepalanya berkali-kali dengan perasaan lega yang tak terkira.
"aku juga masih mencintaimu Tristan, rasa cinta ku yang dulu dan sekarang masih tetap sama!" ucapnya yang sudah tak kuasa lagi
untuk memendam perasaannya terlalu lama.
Bersambung...