Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Jalanan menuju pulang masih sepi, diterangi cahaya remang lampu jalan yang jarang. Angin malam berhembus pelan, membawa wangi melati dari halaman rumah tua tadi yang masih menempel samar di baju kami.
Aku berjalan di samping Arjun, langkah kami sama santai, tapi ada rasa hangat yang masih tersisa di dada setelah pertemuan indah dengan kakeknya. Sepatu hak tinggiku mengetuk pelan aspal, suaranya berirama seirama dengan langkah kami, bikin suasana makin tenang dan damai.
Arjun sesekali melirik ke arahku, senyumnya nggak pernah hilang sejak kami keluar dari pagar rumah itu. Kelihatannya dia paling senang di dunia karena aku bisa diterima baik dan nyaman di sana.
"Gimana? Masih nggak percaya ya kalau kakek aku sebaik itu?" tanyanya memecah keheningan, suaranya rendah tapi jelas terbawa angin.
Aku menoleh, tersenyum lebar.
"Sampai sekarang rasanya masih nggak nyangka lho, Jun. Beliau bijak banget, ngomongnya lembut, dan segala hal yang dia bilang rasanya selalu kena banget di hati. Pantas kamu tumbuh jadi cowok yang punya pemikiran seindah itu. Lingkungan dan didikanmu emang beda banget ya."
Arjun tertawa kecil, tangannya masuk ke saku celana panjangnya yang rapi. Dia pakai jaket krem tipis di atas kaos putih, gayanya modern dan berwibawa, ciri khas dia yang tetap membawa ciri khas keturunan India tapi tampilannya selalu kekinian dan enak dilihat.
"Kakek selalu bilang, didikan itu bukan cuma soal kata-kata, tapi soal contoh. Dulu pas aku kecil, aku sering lihat dia bangun paling pagi, bersihkan rumah, urus kebun, bantu tetangga, sampai malam baru istirahat. Dia nggak pernah teriak, nggak pernah marah besar, tapi semua orang segan dan hormat sama dia. Aku belajar banyak hal bukan dari apa yang diajarinnya, tapi dari apa yang dia lakuinnya tiap hari."
Dia diam sebentar, menunjuk jalan setapak di depan kami yang sedikit menanjak.
"Kakek juga selalu ingetin satu hal ini terus ke aku.'Jun, kamu punya darah India, kamu punya budaya yang indah, tapi kamu tinggal dan hidup di sini, di tanah ini. Jadilah orang yang bisa berdiri di dua dunia. Jangan lupa asal-usul, tapi juga jangan lupa tempat kamu berpijak sekarang. Jadilah jembatan yang indah buat keduanya'."
Aku mengangguk pelan, menyimak baik-baik. "Jembatan... makanya kamu tampilannya modern, ngomongnya santai, tapi isi kepala dan hatimu tetap penuh sama nilai-nilai budaya kakekmu ya?"
"Nah, bener banget," jawabnya antusias. Matanya berbinar senang karena aku ngerti maksudnya.
"Banyak orang salah paham, mikir kalau punya budaya sendiri berarti harus tertutup, harus kaku, harus nggak mau kenal hal lain. Padahal enggak. Kami diajarin: makin kamu tau siapa dirimu, makin gampang kamu bergaul sama siapa aja. Makanya aku senang banget ngobrol sama kamu, Aira. Kamu nggak menilai aku dari luar aja, kamu mau tau isi kepalaku, mau tau kenapa aku begini, kenapa aku begitu."
Langkah kami terus berjalan, perlahan mendekat ke perumahanku. Di sepanjang jalan itu, Arjun mulai cerita soal kesehariannya membantu kakek dulu, sebelum dia mengelola toko rempah sendiri.
Cerita soal bagaimana dia diajari membedakan aroma rempah sejak umur tujuh tahun, bagaimana dia disuruh menyusun bunga buat sesajen, sampai bagaimana dia diajari cara menghormati tamu, tua maupun muda, kaya maupun miskin.
"Kakek bilang, di mata Tuhan dan di mata kami, semua orang itu sama. Yang bedain cuma hatinya dan perbuatannya. Makanya di rumah kami, siapa pun yang datang, disambut sama hormat yang sama. Mau dia anak kecil, pengemis, atau orang terpandang, disuguhi air minum dan senyum yang sama. Itu yang selalu aku ingat dan aku lakuin sampai sekarang."
Dia menatapku sekilas, tatapannya tulus.
"Termasuk pas pertama kali aku masuk ke kafe tempat kamu kerja. Aku lihat kamu melayani semua orang dengan Tulus dan ramah, nggak membeda-bedakan. Itu yang bikin aku pengen kenal kamu lebih jauh. Aku mikir, 'Wah, ternyata ada orang lain yang diajarin nilai-nilai indah juga sama keluarganya'. Bukan cuma aku dan kakek aja."
Wajahku rasanya agak panas dibilang begitu, tapi rasanya senang banget.
"Ah, biasa aja kok Jun. Itu udah tugas aku sebagai pelayan, dan emang orang tua aku juga ngajarin hal yang sama: hormat sama siapa aja, dan kerjakan apa pun dengan sebaik mungkin."
Arjun tersenyum lebar.
"Kan bener kata kakek. Nilai kebaikan itu nggak punya batas negara atau budaya. Di mana pun itu, namanya kebaikan pasti bentuknya sama, rasanya sama, dan efeknya sama: bikin orang lain senang dan nyaman."
Kami berhenti tepat di depan pagar rumahku yang sudah terlihat dekat. Suasana di sini makin tenang, cahaya dari jendela rumah tetangga mulai redup. Arjun berdiri tegak dengan postur tingginya yang menjulang gagah dengan tinggi badan 183cm,bikin dia selalu terlihat berwibawa di mana pun dia berada. Di sebelahnya, aku yang setinggi 175 cm dengan sepatu kets ini rasanya pas banget berdiri di sampingnya, sejajar, enak diajak ngobrol dan bertatapan mata.
Dia menatapku lekat-lekat, suaranya makin pelan tapi jelas banget.
"Makasih ya malam ini, Aira. Makasih udah mau datang, makasih udah mau dengerin cerita kakek, makasih udah jadi diri sendiri yang tulus dan sopan gini. Kamu nggak tau seberapa berartinya kehadiran kamu buat kami sekeluarga. Kakek jarang banget ngomong panjang lebar sama orang baru, tapi sama kamu dia buka hati lebar-lebar. Itu tandanya dia nyaman dan percaya banget sama kamu."
Aku tersenyum tulus, genggamanku pada kain pemberian kakek di dalam tas makin erat.
"Justru aku yang harusnya makasih, Jun. Aku dikasih banyak pelajaran, dikasih banyak kebaikan, dikasih sambutan hangat yang luar biasa. Malam ini jadi salah satu malam paling indah yang pernah aku alami."
Arjun mengangguk pelan, lalu melangkah mundur selangkah sambil tetap menatapku.
"Yaudah, masuk istirahat ya. Besok ketemu lagi di tempat biasa ya? Ada banyak hal lagi yang pengen aku ceritain, ada banyak hal lagi yang pengen aku kenalin ke kamu. Perjalanan kita baru sebentar aja kok."
Aku mengangguk mantap, melambaikan tangan pelan sebelum membuka pagar. Di balik punggung Arjun yang berjalan pergi itu, aku kembali merasa bersyukur.
Kenal sama dia bukan cuma soal punya teman baru, tapi soal menemukan cara pandang baru yang indah, tentang hidup, tentang budaya, dan tentang bagaimana mencintai asal-usul tanpa menutup diri dari dunia luar.