Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan di Meja
Sinar mentari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru yang mulai memudar warnanya di ruang kerja kediaman Evander. Aria menghela napas panjang, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi kayu yang berderit pelan. Di hadapannya, lembaran-lembaran kertas pembukuan tampak jauh lebih rapi dibanding beberapa minggu lalu, berkat keberhasilan pengiriman anggur madu ke kediaman Marchioness Vance. Namun, rasa hangat yang menjalar di dadanya tidak mampu mengusir rasa lelah yang masih menggelayuti pundak.
Sebuah pendar keemasan, selembut kepakan sayap kunang-kunang, muncul di sudut meja kayu yang retak. Lumi melayang turun, mendarat dengan anggun di atas tumpukan dokumen. Sosok roh pelindung berbentuk peri kecil itu tampak mengkhawatirkan. Tubuh transparannya berkedip-kedip pelan, mencerminkan jumlah mana yang telah Aria kuras habis-habisan untuk membelokkan takdir kemarin.
“Anda harus beristirahat, Aria,” bisik Lumi. Suaranya terdengar seperti gemerisik daun kering yang tertiup angin malam. “Jiwa Anda belum sepenuhnya menyatu dengan aliran mana di dunia ini. Menulis ulang kenyataan terlalu sering akan mengikis sisa kehidupan Anda.”
Aria tersenyum tipis, ujung jemarinya bergerak menyentuh kepala Lumi dengan sangat hati-hati. “Aku tahu, Lumi. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Setiap kali aku menutup mata, aku bisa merasakan naskah dunia ini terus bergerak, mencoba menyeret keluargaku kembali ke jurang kematian.”
Gadis itu memandangi telapak tangannya sendiri. Di dunia asalnya, ia mengandalkan pisau bedah dan analisis medis untuk menyelamatkan nyawa. Di sini, di Kekaisaran Elgarth yang dingin, senjatanya hanyalah sebatang pena tak kasatmata dan pengetahuan tentang masa depan yang tertulis dalam sebuah novel. Ia adalah putri seorang Baron yang bangkrut, sebuah bidak tidak berarti yang ditakdirkan mati sebagai tumbal politik. Menolak takdir itu berarti ia harus siap berhadapan dengan sang penulis asli dunia ini.
Pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk pelan. Mia Florent masuk dengan langkah tergesa, membawa sebuah nampan perak yang permukaannya sudah agak kusam. Di atas nampan itu, terletak sebuah amplop tebal berwarna merah marun dengan segel lilin berbentuk bunga mawar yang rumit.
“Nona Aria,” kata Mia dengan napas sedikit memburu. “Sebuah surat baru saja tiba dari kediaman keluarga Roselia. Pembawa pesan mengatakan ini adalah undangan pribadi dari Lady Evelyn.”
Mendengar nama itu, jemari Aria yang memegang pena langsung menegang. Evelyn Roselia—sang protagonis asli dari novel ini. Sosok yang seharusnya menjadi malaikat penyelamat bagi kekaisaran, namun di mata Aria, wanita itu tidak lebih dari predator manipulatif yang siap menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Keberhasilan keluarga Evander mengamankan kontrak anggur madu dan botol kaca pasti telah mengusik ketenangan Evelyn.
“Letakkan di sana, Mia,” titah Aria dengan nada suara yang sengaja ia buat setenang mungkin.
Mia meletakkan surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah keluar kamar. Setelah pintu tertutup rapat, Aria segera meraih amplop tersebut. Aroma parfum melati yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya, tipikal wewangian yang selalu digunakan oleh Evelyn untuk menunjukkan kemewahannya.
Aria memecahkan segel lilin tersebut dan mengeluarkan selembar kertas perkamen berkualitas tinggi. Matanya dengan cepat menyapu baris-baris kalimat yang ditulis dengan kaligrafi yang sangat indah. Itu adalah undangan untuk menghadiri jamuan teh musim gugur di taman istana belakang, sebuah acara sosial bergengsi yang akan dihadiri oleh para bangsawan kelas atas.
“Dia ingin memancingku keluar dari sarang,” gumam Aria pelan.
Lumi terbang mendekat, menatap surat itu dengan cemas. “Aria, saya mendeteksi sisa mana yang tidak biasa pada kertas ini. Ini bukan sekadar undangan biasa. Ada sihir pelacak tingkat rendah yang tertanam di serat kertasnya.”
“Sihir pelacak?” Aria menyipitkan netranya. Ia mengarahkan pandangannya ke sudut ruangan, mengaktifkan kemampuan Time Vision miliknya secara sekilas.
Dalam sekejap, pandangan Aria kabur oleh bayangan masa depan yang tumpang-tindih. Ia melihat dirinya berdiri di tengah taman istana, dikelilingi oleh para lady yang berbisik-bisik di balik kipas sutra mereka. Di sudut lain, seorang pria paruh baya berbusana lusuh berteriak histeris, menuduh Baron Edward Evander memiliki utang besar yang belum dibayar dan menuduh keluarga Evander menggunakan cara-cara kotor untuk menipu Marchioness Vance. Reputasi keluarganya yang baru saja merangkak naik akan hancur seketika di hadapan publik jika skenario itu terjadi.
“Evelyn benar-benar kejam,” bisik Aria, merasakan dadanya berdenyut nyeri akibat penggunaan mana yang mendadak. “Dia menyewa seseorang untuk mempermalukan ayahku di depan seluruh bangsawan tinggi.”
“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Lumi, tubuh kecilnya mulai memancarkan cahaya keemasan yang lebih terang, siap menerima perintah.
Aria terdiam sejenak, menimbang-nimbang risiko. Jika ia menolak undangan ini, Evelyn akan menyebarkan rumor bahwa keluarga Evander terlalu sombong dan tidak tahu diri setelah mendapatkan sedikit keuntungan. Namun, jika ia datang tanpa persiapan, ia akan langsung masuk ke dalam perangkap yang telah disiapkan dengan rapi.
“Kita harus mengubah naskahnya, Lumi,” kata Aria tegas. Ia meraih pena bulu angsa biasa di mejanya, memejamkan mata, dan mulai memanggil kekuatan Penulis Takdir.
Udara di dalam ruangan mendadak menjadi dingin. Di mata Aria, dunia nyata perlahan memudar, digantikan oleh jalinan benang-benang cahaya bercahaya biru tua yang melambangkan hukum alam semesta—The Script. Di antara benang-benang itu, ia menemukan untaian takdir yang menghubungkan Evelyn dengan pria paruh baya bernama Baronet Gils, sang penagih utang palsu.
Aria memfokuskan pikirannya. Ia tidak bisa menghapus keberadaan Gils sepenuhnya karena itu akan memicu penolakan mana yang bisa membunuhnya. Sebagai gantinya, ia mencari celah kecil yang paling rapuh. Ia mengarahkan penanya pada benang takdir Gils, lalu menuliskan beberapa baris kalimat baru di udara.
*Baronet Gils tidak akan membawa surat utang palsu keluarga Evander. Sebelum memasuki gerbang istana\, ia akan kehilangan dokumen tersebut karena kecerobohannya sendiri\, dan dokumen asli tentang transaksi suap dari keluarga Roselia akan terjatuh dari sakunya di hadapan para penjaga kekaisaran.*
Saat huruf terakhir selesai ditulis, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepala Aria, seolah-olah ada ribuan jarum tak kasatmata yang menusuk otaknya secara bersamaan. Ia terengah-engah, mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Setitik darah segar mengalir perlahan dari lubang hidung kirinya.
“Aria!” Lumi memekik cemas, segera mengalirkan sisa mana sucinya ke tubuh Aria untuk meredakan rasa sakit tersebut.
Aria menyeka darah di wajahnya dengan saputangan sutra putih, lalu tersenyum puas meskipun wajahnya kini sepucat kertas. Benang cahaya biru di hadapannya telah berubah warna menjadi keemasan, menandakan bahwa perubahan kecil pada realitas tersebut telah berhasil dikunci oleh sistem dunia.
“Aku baik-baik saja, Lumi,” kata Aria dengan napas yang masih tersengal. “Ini harga yang murah untuk menghancurkan reputasi Evelyn di hadapan para penjaga istana. Ketika dokumen suap itu ditemukan oleh penjaga kekaisaran—yang notabene berada di bawah komando Pangeran Kael—Evelyn tidak akan bisa mengelak lagi.”
Pintu ruang kerja kembali terbuka, kali ini menampilkan sosok Baron Edward Evander. Pria paruh baya itu tampak lelah, namun matanya memancarkan kehangatan yang luar biasa saat menatap putri tunggalnya. Ia melihat saputangan bernoda darah di tangan Aria dan langsung melangkah cepat dengan raut wajah penuh kecemasan.
“Aria, ada apa denganmu? Apakah penyakitmu kambuh lagi?” tanya Edward, suaranya bergetar karena khawatir. Ia menggenggam jemari dingin putrinya dengan kedua tangannya yang kasar.
“Saya hanya sedikit kelelahan setelah memeriksa pembukuan, Ayah,” dusta Aria lembut. Ia tidak ingin ayahnya mengetahui beban berat yang harus ia pikul untuk menjaga keluarga ini tetap hidup. “Jangan khawatir. Saya sudah meminum teh herbal yang disiapkan oleh Ibu.”
Edward menghela napas lega, meskipun kecemasan tidak sepenuhnya hilang dari matanya. Ia mengelus rambut Aria dengan penuh kasih sayang. “Keluarga kita memang sedang merangkak naik, Aria. Tapi bagaimanapun juga, keselamatanmu adalah hal yang paling penting bagi Ayah. Jangan memaksakan dirimu terlalu keras.”
“Saya mengerti, Ayah,” jawab Aria, merasakan kehangatan yang tulus mengalir ke dalam hatinya. Kasih sayang keluarga ini adalah alasan terkuat mengapa ia menolak untuk menyerah pada takdir tragis yang tertulis di dalam novel.
Setelah ayahnya meninggalkan ruangan, Aria kembali menatap surat undangan berwarna merah marun di atas meja. Rasa takut yang sempat singgah di hatinya kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh tekad yang membara. Permainan catur politik di Kekaisaran Elgarth baru saja dimulai, dan Aria Evander tidak akan lagi menjadi pion yang bisa digerakkan sesuka hati oleh siapa pun.
Ia akan datang ke jamuan teh tersebut, bukan sebagai korban yang siap dibantai, melainkan sebagai dalang yang siap membalikkan keadaan.