NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meninggalnya Tuan Besar Harrington

James Harrington pulang dari perusahaan dengan hati yang jauh lebih tenang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun memikirkan masa depan Crown Empire Group, ia merasa tidak lagi memikul beban itu sendirian.

Sebastian akhirnya menerima tanggung jawab sebagai penerus perusahaan.

Bahkan lebih dari itu putranya yang selama ini menutup hati dari banyak wanita akhirnya mengakui bahwa ia telah jatuh cinta.

Di dalam mobil, James tersenyum sendiri, Anton yang duduk di kursi depan melihat dari kaca spion.

"Tuan besar terlihat sangat bahagia hari ini." Ucap Anton

James tertawa kecil.

"Tentu saja karena saya sudah menunggu hari ini sangat lama."

Anton tersenyum.

"Tuan muda pasti akan membuat Tuan bangga."

James mengangguk.

"Dia selalu membuat saya bangga tapi anak itu terlalu keras kepala untungnya sekarang dia mulai berubah."

Mobil akhirnya memasuki halaman rumah keluarga Harrington dan beberapa pelayan langsung keluar menyambut.

Anton membantu James turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.

"Tuan besar hati-hati."

James mengangguk.

"Aku tidak selemah itu."

Anton tersenyum.

Namun baru beberapa detik kemudian... James mendadak memegang kepalanya dan wajahnya berubah pucat.

"Tuan besar?" Teriak Anton panik

James mengernyit, kepalanya terasa sangat sakit dan pandangan matanya mulai kabur.

"Anton..." Suara James terdengar lemah.

Anton langsung panik.

"Tuan besar!"

Tubuh James tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Kursi roda bergeser dan James langsung terjatuh tidak sadarkan diri.

"TUAN BESAR!" Teriakan Anton membuat seluruh rumah panik.

Para pelayan berlari mendekat dan pengawal yang berjaga langsung mengerumuni mereka.

"Tuan besar pingsan!"

"Cepat panggil dokter!"

"Sekarang juga!"

Suasana rumah yang sebelumnya tenang berubah kacau.

Beberapa menit kemudian dokter pribadi keluarga Harrington tiba, James segera dibawa ke kamarnya.

Anton berdiri di luar dengan tangan gemetar, ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Sebastian.

Saat itu Sebastian masih berada di kantor pusat Crown Empire Group bersama Arman

Ia sedang memeriksa beberapa laporan yang ditinggalkan ayahnya lalu ponselnya bergetar nama Anton muncul di layar.

Sebastian langsung mengangkat.

("Ya?")

Suara Anton terdengar panik.

("Tuan muda!")

Sebastian langsung berdiri.

("Ada apa?")

("Tuan besar pingsan!") Ucap Anton

Sebastian membeku.

("Apa?")

("Tuan besar tiba-tiba pingsan setelah pulang ke rumah! Dan Dokter sedang memeriksanya sekarang!") Ucap Anton lagi

Sebastian langsung mengambil jasnya.

("Baik. Aku pulang sekarang.")

Tanpa menunggu jawaban lagi, ia berlari keluar ruangan, Arman yang melihatnya pun berlari mengikuti

"Pak lewat sini, ini lift khusus untuk bapak" Ucap Arman

"Baik, Arman kamu urus semua hari ini, aku harus segera sampai rumah karena papa jatuh pingsan" Ucap Sebastian

"Pak James pingsan?" Arman mengulangi

"Ya" jawab Sebastian

"Mau saya temani pak?" Ucap Arman

"Tidak usah" jawab Sebastian singkat

Sebastian turun melalui lift yang sudah disediakan karena tidak ada seorang pun yang boleh menaiki lift tersebut kecuali Sebastian dan Arman

Sepanjang perjalanan pulang, Sebastian terus mencoba menghubungi dokter keluarga.

Namun tidak ada jawaban, jantungnya berdetak semakin cepat.

Beberapa jam lalu...

Papanya masih berbicara dengannya, masih memarahinya dan masih memintanya menikah tidak mungkin semuanya berubah secepat ini.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah begitu turun, Sebastian langsung berlari masuk.

Semua pelayan menundukkan kepala dengan wajah sedih

Melihat ekspresi mereka, hati Sebastian mulai tidak tenang, ia langsung menuju kamar papanya.

Pintu kamar terbuka, dokter sedang memeriksa James sedangkan Anton berdiri di sudut ruangan dan matanya memerah.

Sebastian langsung menghampiri.

"Kenapa jadi seperti ini? Tadi Papa baik-baik saja di kantor." Suara Sebastian terdengar dingin.

Namun semua orang tahu, ia sedang berusaha menahan kepanikannya.

Anton menunduk.

"Saya tidak tahu Tuan muda."

"Tuan besar turun dari mobil seperti biasa kemudian saat akan masuk rumah beliau mengeluh pusing lalu mendadak pingsan." Ucap Anton menjelaskan

Sebastian mengepalkan tangannya lalu tatapannya langsung menuju dokter.

Dokter masih memeriksa kondisi James dan seketika ruangan menjadi sangat sunyi, tidak ada yang berani berbicara.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Lalu...

Dokter perlahan menarik napas panjang, jantung Sebastian seakan berhenti berdetak.

Dokter menundukkan kepala.

"Saya minta maaf."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Anton langsung memejamkan mata dan beberapa pelayan mulai menangis.

Sedangkan Sebastian masih berdiri diam tidak bergerak dan tidak berbicara.

Seolah tidak memahami apa yang baru saja didengarnya.

Dokter kembali berbicara.

"Tuan James sudah tidak bisa diselamatkan dan saya turut berduka cita."

Suasana langsung pecah, beberapa pelayan menangis.

Anton memegang dinding untuk menahan tubuhnya.

Sedangkan Sebastian... Masih berdiri di tempatnya tatapannya kosong.

Ia perlahan berjalan mendekati ranjang dan duduk di samping papanya, menyentuh tangan pria tua itu.

Tangan yang selama puluhan tahun membesarkannya, tangan yang mengajarinya bekerja, tangan yang selalu mendukungnya kini terasa dingin

Beberapa jam lalu.. Papanya masih berbicara, masih tersenyum, masih memintanya memperkenalkan wanita yang dicintainya.

Namun sekarang... Semuanya sudah terlambat Sebastian menundukkan kepala dan air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

"Papa..." teriak Sebastian

Tidak ada jawaban yang ada hanya keheningan lalu semua ucapan James di kantor kembali terngiang di kepalanya.

*"Mulai hari ini kamu yang memimpin perusahaan."*

*"Papa ingin melihat calon istrimu, sebelum Papa tiada."*

Sebastian menutup matanya dan dadanya terasa sesak.

Ia bahkan belum sempat memenuhi satu pun keinginan terakhir ayahnya.

Kabar meninggalnya pendiri Crown Empire Group itu dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kota.

Ucapan belasungkawa terus berdatangan, karangan bunga memenuhi halaman rumah duka hingga nyaris tidak menyisakan ruang kosong.

Para direktur Crown Empire Group hadir memberikan penghormatan terakhir. Mitra bisnis dari berbagai daerah, rekan kerja, hingga tokoh-tokoh penting di dunia usaha turut datang untuk mengantarkan kepergian pria yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri itu.

Namun, di tengah keramaian tersebut, Sebastian memilih mengurung diri.

Ia hampir tidak berbicara kepada siapa pun dan menolak menemui para pelayat.

Identitasnya sebagai putra kandung James Harrington masih ingin ia rahasiakan karena itu, ia meminta Arman untuk selalu berada di sisinya selama prosesi berlangsung.

Keesokan harinya... Langit tampak mendung seolah ikut berduka.

Prosesi pemakaman dilaksanakan dengan khidmat.

Sebastian datang didampingi Arman, sementara Anton mengurus seluruh jalannya acara.

Ratusan orang menghadiri pemakaman itu.

Suasana begitu sunyi yang terdengar hanyalah doa-doa yang dipanjatkan dan langkah kaki para pelayat yang mengiringi peti menuju tempat peristirahatan terakhir.

Dengan penuh penghormatan, James Harrington dimakamkan.

Setelah seluruh prosesi selesai...

Satu per satu para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman.

Beberapa mobil mewah perlahan keluar dari kompleks makam hingga suasana menjadi semakin sepi.

Saat itulah Sebastian turun dari mobil.

Ia berjalan perlahan menuju makam papanya, lalu berdiri seorang diri di depan batu nisan yang baru saja dipasang.

Tatapannya tidak pernah lepas dari nama yang terukir di sana.

Keheningan menyelimuti tempat itu.

Beberapa menit berlalu...

Akhirnya, Sebastian membuka suara dengan lirih.

"Aku berjanji Pah..."

Suaranya bergetar, menahan duka yang sejak tadi ia pendam.

"Aku akan memenuhi semua keinginan terakhir Papa."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku akan menjaga perusahaan ini. Aku akan meneruskan semua yang Papa bangun dengan susah payah."

Matanya mulai memerah.

"Aku juga akan menjaga orang yang aku cintai... sama seperti Papa selalu menjagaku."

Sebastian memejamkan kedua matanya, setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Aku tidak pernah menyangka... pertemuan kemarin adalah percakapan dan pertemuan terakhir kita, Pa." Ucapnya

"Tapi Papa tenang saja... mulai hari ini, semua tanggung jawab Papa akan menjadi tanggung jawabku." Lanjutnya

Tak ada jawaban.

Hanya embusan angin yang berhembus pelan, seolah membawa doa dan kerinduan yang tak sempat terucap.

Di kejauhan, Anton berdiri memperhatikan dalam diam, sementara Arman memilih menjaga jarak agar Sebastian memiliki waktu bersama mendiang papanya.

Anton telah mengabdi kepada keluarga Harrington sejak Sebastian masih kecil.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana James Harrington membesarkan putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.

Melihat Sebastian berdiri seorang diri di depan makam Papanya membuat hati pria tua itu ikut terasa sesak.

Beberapa saat kemudian, Anton melangkah mendekat.

"Tuan muda..." panggilnya

Sebastian tidak langsung menjawab.

Pandangannya masih tertuju pada batu nisan di hadapannya.

Anton berdiri di sampingnya, lalu berkata dengan lembut,

"Tuan besar pasti sangat bangga kepada Anda."

Sebastian tetap terdiam.

Anton melanjutkan,

"Beliau selalu membicarakan Anda di hadapan saya, beliau tidak pernah sekalipun meragukan kemampuan Anda."

"Beliau selalu berkata... suatu hari nanti, Andalah yang akan memimpin Crown Empire Group." Ucap Anton

Sebastian mengepalkan kedua tangannya.

"Saya belum sempat membuat beliau bangga."

Anton menggeleng pelan.

"Tidak, Tuan muda. Sejak lama Anda sudah menjadi kebanggaan beliau."

"Beliau hanya tidak pernah mengatakannya secara langsung karena ingin Anda tumbuh menjadi pria yang kuat." Ucap Anton lagi

Sebastian menundukkan kepalanya.

Anton kembali berbicara,

"Sekarang Tuan besar sudah tenang yang harus Anda lakukan adalah melanjutkan semua yang telah beliau percayakan kepada Anda."

Sebastian kembali menatap batu nisan Papanya, sorot matanya yang semula dipenuhi kesedihan perlahan berubah menjadi tekad.

Ia menganggukkan kepala pelan.

"Ya... kamu benar, Anton, saya tidak akan mengecewakan Papa."

Anton tersenyum tipis.

Arman yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut menghela napas panjang dan merasa lega

Mereka melihat kembali secercah semangat dalam diri Sebastian.

"Terima kasih untuk kalian berdua yang selalu ada untuk saya" Ucap Sebastian sambil memandang Arman dan Anton secara bergantian

__Bersambung__

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!