Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Darius kemudian menggeser tuas transmisi, lalu menginjak pedal gas secara perlahan. Bugatti Veyron itu meluncur halus keluar dari garasi bawah tanah.
Angelina dan para pelayan wanita seketika terperanjat saat mendengar raungan mesin yang begitu dahsyat.
Mereka menghentikan aktivitasnya dan menatap takjub ke arah Bugatti Veyron hitam-merah yang melintas anggun melewati pelataran mansion.
"Tuan benar-benar luar biasa..." gumam salah satu pelayan wanita dengan mata berbinar-binar.
Para petugas keamanan yang berada di pos penjagaan langsung berdiri tegak dan membungkukkan badan saat Bugatti Veyron itu mendekat.
Namun, rasa hormat yang mendalam itu seketika berpadu dengan ketakjuban yang luar biasa begitu mata mereka menatap secara langsung sosok hypercar tersebut.
"Astaga... Bugatti Veyron?" bisik salah satu pengawal dengan napas tertahan. "Aku hanya pernah melihat mobil ini di majalah otomotif dunia."
"Bukan cuma Bugatti Veyron biasa," timpal komandan keamanan dengan mata membelalak. "Lihat lapisan bodinya! Itu serat karbon murni dengan aksen merah khusus. Mobil itu harganya ratusan miliar!"
Pengawal lainnya segera menelan ludah dengan susah payah. "Bukan hanya itu, pajak dan perawatannya saja bisa untuk membeli belasan rumah mewah di Ibukota, Komandan!"
Melihat Bugatti Veyron itu makin dekat, komandan keamanan dengan sigap berteriak penuh hormat. "Buka gerbang! Jangan sampai menghalangi jalan Tuan!"
Gerbang besi setinggi lima meter terbuka lebar. Empat petugas keamanan berdiri dengan postur tegap sempurna dan memberikan penghormatan militer.
Saat kaca jendela mobil diturunkan beberapa sentimeter, aura keangkuhan dan kekuasaan yang pekat memancar dari dalamnya.
Darius hanya mengalihkan pandangannya sekilas, wajahnya tetap datar, sebelum kembali menatap lurus ke jalan raya di depan.
WROOOMMM!
Darius menginjak pedal gas sedikit lebih dalam. Raungan mesin W16 bertenaga quad-turbo itu menggelegar dahsyat, mengocok dada siapa pun yang mendengarnya.
Para pengawal di gerbang hanya bisa berdiri mematung, menatap pantulan cahaya merah dari lampu belakang Bugatti Veyron yang menghilang dalam hitungan detik di kejauhan.
"Luar biasa..." gumam sang komandan keamanan sambil mengusap keringat dingin di dahinya. "Bukan cuma sosoknya yang misterius, tapi kekayaannya benar-benar berada di tingkat yang berbeda."
Begitu melewati gerbang Perumahan Dama Sanctuary, Bugatti Veyron tersebut melesat seperti kilat di jalan raya Ibukota, meninggalkan deru suara mesin yang menggelegar.
Kendaraan lain yang melintas di jalan raya seketika menepi dan memberikan jalan, tidak ada satu pun pengemudi yang berani menghalangi jalan mobil bernilai puluhan miliar tersebut.
Setelah satu jam berkendara, Darius memperlambat laju kendaraannya. Bugatti Veyron itu kemudian memasuki pelataran sebuah bangunan megah berarsitektur klasik modern.
Bangunan megah itu adalah Savoire House. Salah satu restoran bintang lima di Ibukota, tempat berkumpulnya para pengusaha dan kalangan elite.
Kehadiran mobil mewah bernilai ratusan miliar tersebut seketika menarik perhatian semua orang di area luar restoran. Suara deru mesin yang bertenaga langsung membungkam riuh percakapan para tamu.
Dua orang petugas valet parking sampai terpaku sejenak sebelum akhirnya berlari-lari kecil menghampiri mobil tersebut dengan wajah tegang bercampur takjub.
Darius mematikan mesin, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Penampilannya yang mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu terlihat sangat kontras dengan mobil yang dikendarainya.
"S-Selamat datang di Savoire House, Tuan," sapa salah satu petugas dengan suara bergetar. "Izinkan saya membantu memarkirkan kendaraan Anda."
Darius melempar kunci mobil ke arah petugas tersebut tanpa bersuara, lalu melangkah tenang menaiki anak tangga menuju pintu masuk utama.
Begitu melangkah masuk, ketenangan dan alunan musik instrumental yang lembut menyambutnya. Desain interior restoran tersebut didominasi warna emas yang memancarkan kemewahan.
Seorang pramusaji berparas cantik dengan seragam formal segera melangkah menyambut Darius dengan senyuman profesional.
"Selamat siang, Tuan. Selamat datang di Savoire House," sapa pramusaji itu seraya membungkuk sopan. "Apakah Anda sudah melakukan reservasi tempat sebelumnya?"
Pramusaji itu tersenyum dengan sangat ramah dan profesional, menantikan jawaban dari Darius.
"Belum," jawab Darius datar. "Tolong carikan saya meja yang tenang untuk satu orang."
Pramusaji itu kemudian membungkuk anggun. "Tentu, Tuan. Mari ikut saya. Kami memiliki meja privat di area yang sangat tenang."
Darius melangkah mengikuti pramusaji itu. Di sepanjang ruangan, para tamu yang sedang menikmati santap siang seketika melirik ke arahnya, terpesona oleh ketenangan dan wibawa yang ia pancarkan.
Pramusaji itu menarikkan sebuah kursi kayu di area meja privat yang diminta. Darius pun duduk dengan tenang, menikmati alunan musik piano yang lembut.
"Ini menu kami, Tuan. Apa yang ingin Anda pesan?" tanya pramusaji tersebut seraya menyerahkan buku menu bersampul mewah.
Darius membuka menu itu sekilas tanpa benar-benar memperhatikannya. "Satu porsi Wagyu A5 Ribeye, medium rare. Lalu secangkir kopi hitam tanpa gula."
"Baik, Tuan. Pesanan Anda akan segera kami siapkan. Mohon tunggu sebentar," sahut pramusaji itu dengan ramah sebelum membungkuk dan berbalik pergi.
Sambil menunggu pesanannya disajikan, Darius menyandarkan punggungnya di kursi. Ia mengamati suasana restoran Savoire House yang megah ini.
Beberapa menit berlalu dalam ketenangan. Namun, alunan lembut musik piano yang memenuhi ruangan mendadak terhenti, tergantikan oleh bisik-bisik yang menjalar ke seluruh penjuru restoran.
Pintu utama restoran terbuka lebar. Dua orang pengawal bertubuh tegap dan mengenakan setelan jas hitam melangkah masuk terlebih dahulu, berdiri secara sigap di sisi kiri dan kanan.
Tak lama kemudian, seorang wanita yang cantik dan anggun melangkah masuk.
Kehadiran wanita itu seketika menarik seluruh perhatian tamu, seolah waktu mendadak terhenti khusus untuknya. Dia adalah Bianca Mahadinata.
Sebagai putri dari Keluarga Mahadinata, keluarga pengusaha sekaligus dinasti paling berkuasa dan berpengaruh di seluruh negeri Bianca bukan sekadar wanita elit biasa.
Wajahnya cantik, rambutnya hitam lurus terurai, dan matanya bagaikan permata. Ia mengenakan gaun formal berwarna putih yang menyoroti lekuk tubuhnya yang jenjang dan proporsional.
"Astaga... itu Nona Bianca!" bisik seorang pengusaha di meja sebelah dengan napas tertahan. "Putri dari Keluarga Mahadinata..."
"Benar-benar cantik... Aura keanggunan dan kekuasaannya memang berada di tingkat yang sama sekali berbeda dari wanita lain di Ibu Kota ini," timpal rekannya dengan mata tak berkedip.
Manajer restoran Savoire House yang melihat kedatangan Bianca langsung berlari kecil menghampirinya dengan raut wajah sangat tegang.
"S-Selamat datang, Nona Bianca!" sapa manajer itu dengan suara bergetar penuh rasa hormat. "Ruangan VIP utama di lantai atas sudah kami siapkan khusus untuk Anda."
Bianca tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, memberikan gestur dingin yang amat minim namun sudah cukup membuat sang manajer menghela napas lega.
Saat Bianca melangkah melintasi area makan utama menuju lantai atas, matanya yang tajam secara tidak sengaja bergulir mengawasi sekeliling ruangan.
Para pria yang duduk di meja mereka buru-buru menegakkan posisi duduknya. Mereka berusaha menarik perhatian atau sekadar melemparkan senyuman ramah.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya