"Ruby ... kamu di dalem nak? Ayah bawain ayam goreng kentucky kesukaan kamu nih," teriak Ayah yang terdengar dari balik pintu.
Aku pun segera membangkitkan tubuhku dari sofa panjang itu dan bergegas menghampiri Ayah, lebih tepatnya aku bergegas melarikan diri dari situasi yang tidak masuk akal yang baru saja terjadi di antara kami.
Kulihat Ayah sedang berdiri di dekat pintu sambil sibuk melepaskan sepatu kerjanya, di tangan kirinya tampak membawa sebuah bungkusan ayam goreng yang sengaja dibelinya sepulang kerja.
"Wah, Ayah bawa ayam goreng kesukaan aku ya?" tanyaku sambil berjalan mendekati Ayah.
"Iya nih ayah beli banyak," jawab Ayah yang masih sibuk melepaskan sepatunya.
Tiba-tiba tanpa sengaja Ayah melihat sepasang sepatu laki-laki dari brand ternama Guzzi edisi terbatas sedang bertengger di samping rak sepatu.
Loh kok ada sepatu cowok disini?" tanya Ayahku sambil mengarahkan jari telunjuknya di atas sepatu milik Ken.
"Hmm, iya yah itu sepatunya Ken, ada tuh lagi duduk di dalem," ucapku sambil mengambil bungkusan ayam goreng dari tangan ayah.
"Oh, dia main ke rumah? Yaudah kita makan ayam goreng sama-sama aja, kebetulan ayah beli banyak!" ajak Ayahku.
"Ibumu mana kok nggak kelihatan?" timpa Ayah lagi.
Tak lama terdengar suara pintu pagar terbuka dari halaman, Itu adalah Ibu yang baru saja pulang dari Toko Kue.
"Lah itu Ibu, baru aja diomongin," sahutku.
"Ruby sama Ayah ngapain kok pada berdiri di depan situ?" tanya Ibu sembari berjalan mendekati kami.
"Iya Ayah baru aja pulang Bu, dan bawa ayam goreng kesukaanku nih, di dalem juga ada Ken," ucapku.
"Hah ada Ken juga?" sahut Ibu dengan mata yang berbinar karena senang.
Ibu pun bergegas masuk ke dalam untuk dapat segera menemui Ken, sedangkan Ayah ditinggalkannya di belakang, seketika raut wajah Ayah berubah menjadi masam karena diabaikan oleh Ibu.
"Hehe sabar ya Ayah," celetukku menggoda Ayah yang sedang dipenuhi rasa cemburu.
Kami pun bersama masuk ke dalam. Tampak Ken masih tetap duduk di sofa panjang itu seorang diri sambil membubuhkan tangannya di atas meja, dia pun tersenyum canggung ke arah Ayah dan Ibuku.
"Loh nak Ken ada disini ya, ayo ikut makan ayam goreng dulu," ajak Ibu.
"Hm, nggak usah tante makasih, saya mau langsung pulang aja," jawab Ken masih dengan nada yang canggung.
"Loh kok keburu-buru sih, udah nggak papa makan dulu aja sebentar, di Toko Kue nak Ken kan juga belum makan banyak karena sempet ada keributan kecil tadi," sahut Ibu yang sedang memaksa Ken untuk ikut makan bersama.
Ken pun akhirnya mengiyakan ajakan Ibu dengan pasrah.
Di Meja Makan
"Bu, emangnya ada keributan apa tadi di Toko?" tanya Ayah penasaran.
"Hmm, tadi Ruby nggak sengaja nyembur temennya," sahut Ibu.
"Lah terus?" tanya Ayah.
"Ya terus temennya itu marah dan nyiram air minum ke wajahnya Ruby, akhirnya Ibu bantu Ruby nyiram dia juga sekalian biar impas, hehehe," jawab Ibu sambil membuka bungkusan ayam goreng di atas meja.
"Tapi Ibu denger dari cerita Anggita tadi, temennya itu emang suka gangguin Ruby kalau di sekolah, dan kayaknya tadi dia nyiram Ruby karena lagi cemburu," timpa Ibu lagi.
"Hmm, ayah jadi inget dulu waktu Ruby di bully karena banyak cowok yang naksir sama dia, padahal apa sih yang dilihat cowok-cowok itu dari Ruby yang suka bikin masalah dan ceroboh ini selain wajahnya aja yang cantik dikit, hahaha." Ayah tertawa terbahak-bahak sambil mengejekku.
"Dih, Ayah apa'an sih, selalu sukanya ngejekin aku kalau lagi ada temen," gumamku sambil memanyunkan bibir.
"Hahaha kamu inget nggak dulu pernah bikin heboh satu kampung karena dikiranya hilang, Pak RT sama warga-warga pada nyariin kamu kemana-mana nggak ketemu, eh ternyata malah tidur di bawah kolong kasur, sampe malu Ayahmu ini." Ayah masih bercerita panjang lebar sambil tertawa sendiri mengingat kejadian dulu.
"Duh Ayah ... udah deh, cukup, Ruby malu tau ada Ken juga ...," gerutuku.
Tanpa sadar aku menolehkan pandanganku kepada Ken, untuk kedua kalinya aku melihat hal yang tak biasa, yaitu guratan senyuman yang terlukis di wajahnya, senyuman itu tampak bagaikan lukisan siluet indah yang pernah kulihat, perasaanku pun tiba-tiba menjadi tenang teduh dan terhanyut di dalamnya.
Aku seketika teringat saat pertama kali melihat senyuman itu, saat itu juga pertama kalinya dia masuk ke dalam rumahku dan bertemu dengan Ayah dan Ibu, kurasa Ken menyukai kehangatan keluarga seperti ini, aku jadi sedikit merasa kasihan kepadanya karena orang tuanya selalu sibuk dan berada di luar negeri, sepertinya dia sangat kesepian dan merindukan kehangatan keluarga seperti yang dirasakan sekarang. Tanpa sadar lagi-lagi aku termenung.
"Ya kan Ruby?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Hah? Iya ... iya ...," jawabku dengan asal karena sebenarnya tak tahu apa yang dikatakan Ibu sebelumnya karena terlalu asyik termenung.
"Tuh kan Ruby aja bilang iya," sahut Ibu.
"Hah emang ngomongin apa sih?" tanyaku bingung.
"Loh ... ya jadi pacarnya Ken, gimana sih dari tadi kamu nggak dengerin Ibu ngomong apa?" ucap Ibu.
"Apaaaaaaaa?!" teriakku kaget karena tercengang dengan topik pembicaraan tidak masuk akal yang tiba-tiba kuiyakan begitu saja.
"Gi ... gi ... mana bisa? Aku jadi pacarnya Ken? Ibu ngomongin apa sih, jangan aneh-aneh deh Bu ...," ucapku terbata-bata.
"Gimana sih nih anak, Ibu cuman ngomong kalau menurut Ibu kamu sama Ken itu cocok, jadi Ibu tanya langsung sama kamu, dan kamu jawabnya Iya hahaha," celetuk Ibu.
Seketika aku semakin tercengang, seperti tersambar petir di siang bolong. Apa yang dipikirkan oleh Ibu sampai-sampai membicarakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Aku pun mengarahkan pandanganku kepada Ken, kulihat dia hanya diam saja walaupun nampak begitu canggung.
"Udah deh, kalian jadian aja kenapa sih? Kan lumayan kalau menikah nanti Ibu jadi bisa cuci mata lihat yang bening-bening seperti nak Ken terus hahaha," celetuk Ibu.
"Apaaaaaa? I ... i ... bu ngomong apaan sih? Kok sampe menikah segala, duh udah deh Ibu jangan bicara sembarangan, kita tuh nggak mungkin saling suka, apalagi sampai menikah, Ibu nih bercanda aja ngomongnya, he ... he ...," ucapku sambil tertawa canggung menahan malu, seketika pipiku pun terasa panas dan aku mulai kegerahan.
Disisi lain Ken tampak terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, matanya menatapku sejenak dalam diam seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Wajahnya yang awalnya penuh senyuman itu tiba-tiba saja berubah menjadi wajah yang penuh keterkejutan, bersama raut wajah masamnya dia pun berpamitan untuk segera pulang karena tak terasa waktu sudah larut.
***
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
HoneyXing 🍯
kalau anggita kan magang jd pegawai toko lah reyhan di tinggalin di toko 🤣
2022-05-16
0
Eliyana Mustikarini
gmn,,, gmn...
bknny td d tko ibuny ruby udh ktmu ma ken y,,,, in kog
trus reyhan ma anggita ap kbr... 😑😑
2021-11-14
1
❃ᵐᵘᵗᶦᵃʳᵃ•ᵇᶦˡⓠᶦˢ𖤓꙰?
weew kaya.a ken tmn kecil.a rubyy😅
2021-02-24
0