Luna mendidih, sekujur tubuhnya bergetar, emosinya kini meluap-luap seolah sedang menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Kenapa kamu begitu bodoh?!" ucap Luna dengan nada yang berat seakan menahan amarahnya.
"Hah, maaf Luna aku beneran nggak sengaja, tadi waktu aku lagi minum tiba-tiba aku kepikiran bibirnya ... eh, enggak ... enggak ... maksudnya aku beneran nggak sengaja, maaf ya Luna," sahutku menjelaskan dengan panik dan raut wajah menyesal.
"Bibirnya? Jangan-jangan kamu lagi mikirin ciuman nggak langsung sama Ken lewat cangkir itu ya Ruby? Hahaha, polos amat sih kamu Ruby," sahut Anggita.
"Apa? Apa maksudnya? Ciuman nggak langsung apa?" tanya Luna seolah terkejut.
"Hem, tadi Ken sengaja nuker Cafe Latte punya dia sama punyanya Ruby soalnya punya Ruby masih panas," jawab Anggita dengan nada puas.
Sontak Luna terkejut, dia melototkan matanya saat mendengar pernyataan dari Anggita, emosinya kian mendidih, pikirannya juga kian membuncah, dia tak dapat menahan diri untuk melayangkan tangannya padaku, namun sebelum tangannya mendarat mulus di pipiku, Ken langsung menangkap tangannya dengan genggamannya.
Semua mata pun terbelalak saat melihat Ken menangkap tangan Luna sebelum mendarat mulus di wajahku. Ken mengernyitkan keningnya dan menatap Luna dengan tajam. Dia mengepal kuat tangannya, kali ini kemarahannya sudah memuncak. Ken benar-benar marah, tetapi dia masih berusaha keras untuk menahan amarahnya karena tidak lain Luna adalah seorang wanita.
"Siapa kamu beraninya nyentuh dia?" ucap Ken sambil menghempaskan tangan Luna yang hendak dilayangkan padaku.
Suaranya begitu dalam dan dingin, seakan dapat menggidikkan bulu roma yang mendengarnya. Kami semua tertegun. Terlebih lagi Luna, dia diam seribu bahasa dan tak bergeming.
"Ken, apa maksudnya kamu belain dia? Kamu lebih belain si jelek ini dari pada aku?" sahut Luna yang tak dapat lagi membendung air matanya.
"Gimana bisa kamu lebih belain dia? Apa kurangnya aku kalau dibandingin sama si jelek ini!" teriak Luna.
"Hei Ruby, kamu dasar nggak tahu diri! Jangan kira kamu pantas sama Ken," timpa Luna lagi yang mengarahkan tatapannya terhadapku.
Byuuuurrrrr!
Luna menumpahkan minuman Cola nya di wajahku dengan penuh amarah. Seluruh wajahku pun akhirnya basah kuyup. Seluruh pengunjung Toko terpaku memandangi kejadian ini, semuanya seakan mematung. Tak lama Ibuku pun keluar karena mendengar suara gaduh dari dalam dapur.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Ibuku menghampiri dengan tatapan terkejut.
"Oh, jadi ini yang punya Toko, Ibu asal tau ya, pelayan di Toko Ibu ini sudah berani numpahin minuman di baju saya, jadi saya beri dia sedikit pelajaran," gerutu Luna di depan Ibuku.
Ibuku langsung mengarahkan pandangannya padaku, dia melihat keadaanku yang basah kuyup dan tampak sangat menyedihkan. Sekejap tatapannya berubah menjadi murka, dia langsung mengambil minuman Strawberry Smoothies milik Anggita yang tepat berada di sampingnya dan langsung menumpahkan minuman itu di wajah Luna.
Byuuuurrrrr!
Suara tumpahan air membasahi wajah Luna, dia pun terkejut dan mulutnya terbuka lebar.
"Jadi sekarang pelajaran kita sudah impas ya, Nona pikir dia sengaja menumpahkan sedikit minuman itu di baju Nona? Tapi kenapa Nona membalasnya dengan sengaja mengguyur wajahnya?! Jadi supaya impas saya juga sekalian mengguyurkan minuman itu di wajah Nona, dan satu lagi, dia bukan pelayan, dia anak saya, anak saya satu-satunya. Nona berani menghinanya, sama saja Nona berurusan dengan saya!" ucap Ibuku dengan geram.
"Hah, berani sekali Toko murahan menghinaku seperti ini! Kalian tidak tau siapa aku?" teriak Luna masih penuh emosi.
"Saya tidak perduli siapa kamu! Lebih baik sekarang kamu pergi dari toko saya, saya tidak mengijinkan orang sombong seperti kamu menginjakkan kaki di Toko ini lagi," sahut Ibuku dengan nada tegas.
"Hahaha siapa yang sudi menginjakkan kaki lagi di toko murahan ini! Kalian lihat saja nanti, aku akan menghancurkan dengan mudah toko murahan kalian ini!" ucap Luna sambil berlalu pergi.
Air mataku tak terasa turun begitu saja membasahi pipiku. Aku terharu dengan apa yang dilakukan oleh Ibuku, seketika aku teringat dulu saat masih kecil aku selalu di bully oleh anak-anak nakal, tetapi Ibu justru memberikan banyak permen dan kue untuk anak-anak nakal itu dan berpesan jika mau berteman denganku, akan diberi lebih banyak lagi permen dan kue, akhirnya mereka pun menjadi teman-teman baikku. Namun sekarang Ibu sangat murka melihat aku diperlakukan seperti ini. Aku sangat menyayanginya, aku sangat menyayangi Ibuku.
Semua pengunjung toko mulai duduk lagi di tempatnya masing-masing. Anggita dan Reyhan masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ruby kamu nggak papa kan? Dasar kebangetan emang dia itu siluman buaya putih!" celetuk Anggita.
"Nggak papa kok," jawabku.
"Ruby kamu bersihkan wajahmu dulu, sekalian ganti baju di rumah, biar toko ibu yang jaga," sahut Ibuku.
"Ah gimana kalau saya bantuin aja tante, saya dari dulu pingin banget kerja sambilan, tapi nggak ada yang nerima karena tampilan saya yang tomboi seperti anak yang suka bikin masalah, padahal saya cukup cekatan! Apa boleh saya bekerja disini?" tanya Anggita secara tiba-tiba.
"Boleh," jawab Ibuku sambil tersenyum.
"Hah? Beneran tante? Beneran aku boleh kerja sambilan disini? Asyik, pulang sekolah kita masih bisa ketemu lagi Ruby," gumam Anggita kegirangan.
"Ya udah aku bersihin muka di rumah dulu ya," ucapku.
"Biar aku antar Ruby," sahut Reyhan.
"Ah nggak perlu kok, rumahku di sebelah Toko ini, deket banget lagi," ucapku.
"Nggak papa aku anter aja sampai depan rumah," paksa Reyhan.
Seketika aku diam berfikir sejenak karena tidak enak menolak ajakan Reyhan, tanpa sadar mataku melihat ke arah Ken, dia lagi-lagi menatapku dengan dingin seperti balok es, Ken pun mulai menghampiriku, dia menyahut tanganku dan segera menarikku keluar dari Toko, aku terkejut dan hanya bisa pasrah berjalan mengikutinya dari belakang, entah apa yang dipikirkan orang-orang di dalam Toko saat ini, terutama Anggita, Reyhan, dan Ibuku. Mereka sontak tertegun melihat Ken menarikku keluar.
Ken masih memegang tanganku. Kini aku bisa melihat dengan jelas punggungnya dari belakang, punggung itu bagaikan sebuah siluet yang dalam benakku tampak seperti lukisan yang indah. Kulewati jalan demi jalan bersamanya, kunikmati setiap jalan itu bagaikan angin yang menerpaku dan menyejukkan hatiku. Dia terus berjalan dengan kaki jenjangnya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, entah apa yang sedang dilakukannya sekarang, dan akupun tak mengerti mengapa genggaman ini terasa begitu nyaman.
"Hmm, Ken ... kamu nggak perlu nganterin aku kok, nanti Reyhan dan yang lainnya jadi mikir macem-macem," gumamku lirih di belakangnya.
Seketika Ken menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang dan menatapku dalam-dalam.
"Kamu takut Reyhan mikir macem-macem?" tanya Ken dengan tatapan yang begitu dingin.
***
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
lusi
kok aku mikir nya si Ken juga ngalamin mimpi kayak ruby yaa
2022-02-25
0
Elya Roza Herel
waduh bucinnya Ken
2021-10-20
0
neza קק"ל
Cemburu menguras jiwa
🚴♀️🚴♀️🚴♀️🚴♀️🚴♀️🚴♀️
2021-04-27
0