Di kelas sebelah ( Kelas Luna )
"Apa? Mana mungkin? Kamu nggak usah ngarang deh May!" ucap Luna yang sedang berbincang dengan Maya sahabatnya.
"Iya Lun, beneran. Aku tuh denger sendiri dari Mona di kelas sebelah kalau Ken beneran makan kue dari si udik itu, dan semua temen di kelasnya juga udah tau," sahut Maya.
"Sialan! Siapa sih sebenernya dia itu? Pertama dia bisa-bisanya jatuh diatas tubuh Ken saat olahraga, sekarang berani-beraninya dia ngasih kue ke Ken," ucap Luna dengan nada penuh emosi.
"Bener tuh, ngapain juga sih Ken mau-maunya makan kue murahan itu! Padahal kamu yang sering ngasih kue mahal dan banyak hadiah buat Ken, tapi Ken nggak pernah tuh mau makan ataupun nyentuh hadiah dari kamu. Kamu kurang apa coba kalau dibandingin si jelek itu? Udah cantik, kaya, banyak yang naksir. Iya kan Lun?" sahut Maya dengan wajah polos.
"Kamu bisa diem aja nggak sih?" Ucap Luna semakin geram mendengar perkataan Maya.
"Kayaknya ini nggak bisa di diemin. Anak itu harus diberi pelajaran." sahut Luna lagi sambil memikirkan sesuatu.
"Wah iya harus itu! Kita mau apakan dia Lun? Kamu udah ada rencana? Aku belum ada rencana soalnya hehe," tanya Maya dengan cengir polosnya lagi.
"Duh kamu ini May, bikin tambah jengkel aja kamu tuh! Udah kamu tenang aja aku udah mikirin itu, liat aja nanti!" ucap Luna sambil tersenyum kecut.
Di kantin setelah jam pelajaran
"Oh jadi orang tua mu punya usaha toko kue ya By?" tanya Anggita sambil menyantap bakso di mejanya.
"Iya nggit, kalian kalau mau mampir aja, nanti aku yang traktir," sahutku.
"Waaahh beneran nih? Aku ngajak Rio boleh nggak?" tanya Sabina sambil tersenyum sumringah.
"Boleh dong, emangnya kapan kalian mau mampir di toko?" ucapku sambil menyeruput es teh manis di meja.
"Gimana kalau nanti sepulang sekolah aja?" sahut Anggita.
"Okey, kalau gitu aku kabarin Rio dulu ya?" jawab Sabina.
"Maaf ya guys kayaknya aku nggak bisa ikutan deh, soalnya aku lagi nggak enak badan pengen langsung pulang aja. Kalian pergi aja nggak papa kok. Maaf ya ...," sahut Nina secara tiba-tiba.
"Loh kamu sakit Nin? Kamu kok nggak bilang sih kalau sakit?" Anggita bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Yaudah kita perginya nunggu Nina sembuh aja gimana? Masa Nina lagi sakit kita pergi sendiri, ya nggak?" ucapku.
"Iya.. Kita bareng-bareng aja, nunggu semuanya bisa," sahut Sabina.
"Maafin ya guys," ucap Nina dengan nada merasa bersalah.
"Hmm nggak papa kok Nin, kan masih ada lain waktu," sahutku. "Eh, aku ke toilet dulu ya, kalian nanti balik aja duluan ke kelas nggak papa!" sahutku lagi.
"Okey Ruby...," jawab Anggita.
Aduh, sakit banget sih perutku, kayaknya aku datang bulan deh, untung aja aku bawa roti bantal di tasku.
Aku pun pergi ke kelas untuk mengambil 'roti bantal' di tasku. Aku juga sempat bertemu dengan Nina di kelas.
"By kamu mau kemana lagi?" tanya Nina.
"Aku mau ke toilet bentar Nin," jawabku terburu-buru.
"Ah yaudah hati-hati ya," sahut Nina.
"Oke." Aku langsung berlari menuju ke toilet.
Setelah sampai di toilet dan selesai memakai 'roti bantal' itu, aku pun duduk berdiam sejenak di salah satu bilik toilet. Kedua tanganku kini kuletakkan erat-erat pada perut bagian bawahku karena menahan rasa nyeri dan kram yang sangat menggangu.
Tak lama berselang terdengar suara cewek yang masuk dan mereka langsung mengunci bilik pintu toiletku dari luar. "Hah siapa kalian? Kenapa ngunciin aku sih?" gumamku sambil menggedor-gedor pintu toilet dari dalam.
Tak hanya itu, tiba-tiba dia mengguyurku dengan air dari atas pintu dan akhirnya mengenai baju seragamku. Baju seragamku pun basah kuyup. Tanpa sepatah kata mereka langsung pergi meninggalkanku sendiri dengan keadaan terkunci di dalam toilet.
Aku pun semakin merasa lemas karena rasa nyeri dan kram pada perut bagian bawah yang semakin lama semakin menyiksa, kepalaku kini juga terasa berat dan pening karena pengaruh hormon datang bulan yang sedang bekerja di tubuhku.
Beberapa menit kemudian pintu toilet pun akhirnya terbuka. Siapa itu? Apa itu Nina atau Anggita? gumamku lirih. Ternyata yang membukakan pintu toilet dan sedang berdiri tepat di depanku sekarang adalah Ken. Dia melihatku terduduk lemas diatas WC duduk dengan wajah pucat menahan sakit.
"Ken? Ngapain kamu disini?" ucapku dengan nada lirih karena lemas.
"Kamu beneran bodoh atau gimana sih? Kenapa cuman diem aja disini?" sahut Ken dengan wajah sedikit kesal.
"Perutku sakit banget karena disminore, terus tiba-tiba tadi ada yang ngunciin aku dari luar nggak tau siapa." Aku memegang perutku menahan sakit. (disminore adalah nyeri perut yang normal terjadi saat haid).
Tak lama Ken langsung melemparkan jaket yang dia pakai ke arah wajahku sehingga menutupi baju seragamku yang basah. Tiba-tiba dia pun mulai mendekat dan meraih tubuhku. Ternyata dia ingin menggendongku menuju ke ruang kesehatan.
"Ka.. kamu ngapain?" ucapku dengan terkejut.
"Turunin! aku bisa jalan sendiri! Gimana kalau ada yang ngeliatin kita," sahutku lagi dengan penuh kepanikan.
Tetapi dia sama sekali tak bergeming dan terus berjalan sambil menggendongku menuju ke ruang kesehatan.
Setibanya di ruang kesehatan, dia menurunkanku di salah satu bed yang ada di ruang kesehatan, tapi sayangnya tak ada satupun petugas kesehatan yang bertugas.
"Udah kamu bisa tinggalin aku disini, kamu pergi aja nggak papa, nanti juga ada petugasnya yang dateng, makasih ya." sahutku sambil menundukkan wajah.
Ken hanya terdiam seperti biasanya dan langsung pergi. Syukurlah dia sudah pergi, gumamku dalam hati. Akupun melepas kacamataku dan berbaring sambil memikirkan siapa sebenarnya yang sengaja mengunciku di toilet tadi. Tak lama kemudian, Ken yang kukira sudah pergi ternyata dia kembali dengan membawa kompres air hangat dan segelas jahe panas ditangannya.
"Kamu kok balik lagi? ucapku yang langsung kembali duduk melihat Ken kembali.
"Cepet minum ini, sama kompres perutmu pakai ini!" sahut Ken dengan nada dingin sambil menyodorkan segelas jahe panas dan kompres air hangat yang ada ditangannya.
"Hmm ... makasih ya," ucapku lirih.
"Udah kamu pergi aja Ken, kamu emangnya nggak ikut pelajaran?" tanyaku sambil menyeruput segelas jahe yang diberikan Ken.
Lagi-lagi Ken hanya diam. Tak banyak kata yang terucap darinya. Ken hanya duduk di kursi sebelah tempat tidur ku sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Bintik-bintik di wajahmu udah hilang!" ucap Ken secara tiba-tiba.
"Hah? Apa?" ucapku dengan keras karena terkejut.
*F*reeckles buatanku udah hilang? Apa mungkin hilang dari tadi saat aku diguyur air di toilet? Aku pun sekarang juga sudah melepaskan kacamataku semenjak Ken tadi pergi sebentar, dan juga rambut pirangku pun sedang tergerai karena basah. Ah tidak..! Berarti Ken sudah tau dari tadi wujud asliku. Kenapa baru sekarang dia bilang?
Akupun tak sadar, lagi-lagi aku melamun karena terlalu terkejut memikirkan penyamaranku yang telah diketahui oleh Ken.
"Kamu bodoh ya?" sahut Ken melihatku melamun saat bicara dengannya.
"Kamu nggak kedinginan pake baju basah kayak gitu? Daripada jaket ku kamu pegang terus, kenapa nggak kamu pake aja!" ucap Ken dengan nada dingin.
"Iya ... iya ... tapi aku boleh minta tolong nggak Ken? Tolong ambilkan tasku dikelas dong!" ucapku dengan wajah melas.
"Hm!" jawab Ken sambil bergegas pergi untuk mengambil tasku di kelas.
Aku membutuhkan tasku karena aku harus mengambil makeup pouch ku didalam tas untuk membuat freeckles baru. Sepertinya Ken sama sekali tak memperdulikan tetang penyamaranku ini. Walaupun dia terkesan sangat dingin, angkuh dan tak banyak omong, tapi sebenarnya menurutku dia orangnya cukup baik dan tak seburuk yang aku kira, dan juga Ken lebih banyak bertindak dari pada bicara. Kini aku sedikit mengerti kenapa banyak gadis di sekolah ini yang tergila-gila padanya.
Akupun langsung mengganti seragamku yang basah dengan jaket milik Ken sebelum Ken datang. Tapi belum selesai aku memakai jaket, tiba-tiba Ken datang dengan membawa tasku. Dengan posisi tanganku yang masih terangkat keduanya dan jaketnya yang masih berada diatas kepalaku, Ken melihat semuanya dan dia pun dengan spontan langsung menutupi wajahnya dengan tasku. Bagaimana bisa dia melihat semuanya? Dia melihatku saat aku dalam kondisi tak berdaya di dalam toilet, melihat wajah asliku tanpa penyamaran, melihat rambutku yang basah tergerai dan parahnya melihatku belum selesai berganti pakaian.
"Kyaaaaaa dasar mesum...," teriakku dengan wajah yang memerah karena malu.
"Yee lha kamu sendiri ngapain ganti baju disitu?" jawab Ken.
"Ahhh udah sana keluar dulu, awas kamu macam-macam ya," gerutuku.
"Iya iya bawel, aku juga gak nafsu sama kamu," sahut Ken sambil melempar tasku ke dalam dan langsung keluar.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Lailatul Azizah
mulai dech cerobohnya si Ruby
2022-02-14
0
⍣⃝ƒᴬᴮ•サᶳᴺᵀ₀₆❥ͥ ͣ͢ ͫʀɪᴀɴ s꧂
lihat apaan si ken ??
2021-12-20
0
Yani Suharyani
mulai cair niiii
2021-11-03
1