Freeckles

Di kelas sebelah ( Kelas Luna )

"Apa? Mana mungkin? Kamu nggak usah ngarang deh May!" ucap Luna yang sedang berbincang dengan Maya sahabatnya.

"Iya Lun, beneran. Aku tuh denger sendiri dari Mona di kelas sebelah kalau Ken beneran makan kue dari si udik itu, dan semua temen di kelasnya juga udah tau," sahut Maya.

"Sialan! Siapa sih sebenernya dia itu? Pertama dia bisa-bisanya jatuh diatas tubuh Ken saat olahraga, sekarang berani-beraninya dia ngasih kue ke Ken," ucap Luna dengan nada penuh emosi.

"Bener tuh, ngapain juga sih Ken mau-maunya makan kue murahan itu! Padahal kamu yang sering ngasih kue mahal dan banyak hadiah buat Ken, tapi Ken nggak pernah tuh mau makan ataupun nyentuh hadiah dari kamu. Kamu kurang apa coba kalau dibandingin si jelek itu? Udah cantik, kaya, banyak yang naksir. Iya kan Lun?" sahut Maya dengan wajah polos.

"Kamu bisa diem aja nggak sih?" Ucap Luna semakin geram mendengar perkataan Maya.

"Kayaknya ini nggak bisa di diemin. Anak itu harus diberi pelajaran." sahut Luna lagi sambil memikirkan sesuatu.

"Wah iya harus itu! Kita mau apakan dia Lun? Kamu udah ada rencana? Aku belum ada rencana soalnya hehe," tanya Maya dengan cengir polosnya lagi.

"Duh kamu ini May, bikin tambah jengkel aja kamu tuh! Udah kamu tenang aja aku udah mikirin itu, liat aja nanti!" ucap Luna sambil tersenyum kecut.

Di kantin setelah jam pelajaran

"Oh jadi orang tua mu punya usaha toko kue ya By?" tanya Anggita sambil menyantap bakso di mejanya.

"Iya nggit, kalian kalau mau mampir aja, nanti aku yang traktir," sahutku.

"Waaahh beneran nih? Aku ngajak Rio boleh nggak?" tanya Sabina sambil tersenyum sumringah.

"Boleh dong, emangnya kapan kalian mau mampir di toko?" ucapku sambil menyeruput es teh manis di meja.

"Gimana kalau nanti sepulang sekolah aja?" sahut Anggita.

"Okey, kalau gitu aku kabarin Rio dulu ya?" jawab Sabina.

"Maaf ya guys kayaknya aku nggak bisa ikutan deh, soalnya aku lagi nggak enak badan pengen langsung pulang aja. Kalian pergi aja nggak papa kok. Maaf ya ...," sahut Nina secara tiba-tiba.

"Loh kamu sakit Nin? Kamu kok nggak bilang sih kalau sakit?" Anggita bertanya sambil mengerutkan keningnya.

"Yaudah kita perginya nunggu Nina sembuh aja gimana? Masa Nina lagi sakit kita pergi sendiri, ya nggak?" ucapku.

"Iya.. Kita bareng-bareng aja, nunggu semuanya bisa," sahut Sabina.

"Maafin ya guys," ucap Nina dengan nada merasa bersalah.

"Hmm nggak papa kok Nin, kan masih ada lain waktu," sahutku. "Eh, aku ke toilet dulu ya, kalian nanti balik aja duluan ke kelas nggak papa!" sahutku lagi.

"Okey Ruby...," jawab Anggita.

Aduh, sakit banget sih perutku, kayaknya aku datang bulan deh, untung aja aku bawa roti bantal di tasku.

Aku pun pergi ke kelas untuk mengambil 'roti bantal' di tasku. Aku juga sempat bertemu dengan Nina di kelas.

"By kamu mau kemana lagi?" tanya Nina.

"Aku mau ke toilet bentar Nin," jawabku terburu-buru.

"Ah yaudah hati-hati ya," sahut Nina.

"Oke." Aku langsung berlari menuju ke toilet.

Setelah sampai di toilet dan selesai memakai 'roti bantal' itu, aku pun duduk berdiam sejenak di salah satu bilik toilet. Kedua tanganku kini kuletakkan erat-erat pada perut bagian bawahku karena menahan rasa nyeri dan kram yang sangat menggangu.

Tak lama berselang terdengar suara cewek yang masuk dan mereka langsung mengunci bilik pintu toiletku dari luar. "Hah siapa kalian? Kenapa ngunciin aku sih?" gumamku sambil menggedor-gedor pintu toilet dari dalam.

Tak hanya itu, tiba-tiba dia mengguyurku dengan air dari atas pintu dan akhirnya mengenai baju seragamku. Baju seragamku pun basah kuyup. Tanpa sepatah kata mereka langsung pergi meninggalkanku sendiri dengan keadaan terkunci di dalam toilet.

Aku pun semakin merasa lemas karena rasa nyeri dan kram pada perut bagian bawah yang semakin lama semakin menyiksa, kepalaku kini juga terasa berat dan pening karena pengaruh hormon datang bulan yang sedang bekerja di tubuhku.

Beberapa menit kemudian pintu toilet pun akhirnya terbuka. Siapa itu? Apa itu Nina atau Anggita? gumamku lirih. Ternyata yang membukakan pintu toilet dan sedang berdiri tepat di depanku sekarang adalah Ken. Dia melihatku terduduk lemas diatas WC duduk dengan wajah pucat menahan sakit.

"Ken? Ngapain kamu disini?" ucapku dengan nada lirih karena lemas.

"Kamu beneran bodoh atau gimana sih? Kenapa cuman diem aja disini?" sahut Ken dengan wajah sedikit kesal.

"Perutku sakit banget karena disminore, terus tiba-tiba tadi ada yang ngunciin aku dari luar nggak tau siapa." Aku memegang perutku menahan sakit. (disminore adalah nyeri perut yang normal terjadi saat haid).

Tak lama Ken langsung melemparkan jaket yang dia pakai ke arah wajahku sehingga menutupi baju seragamku yang basah. Tiba-tiba dia pun mulai mendekat dan meraih tubuhku. Ternyata dia ingin menggendongku menuju ke ruang kesehatan.

"Ka.. kamu ngapain?" ucapku dengan terkejut.

"Turunin! aku bisa jalan sendiri! Gimana kalau ada yang ngeliatin kita," sahutku lagi dengan penuh kepanikan.

Tetapi dia sama sekali tak bergeming dan terus berjalan sambil menggendongku menuju ke ruang kesehatan.

Setibanya di ruang kesehatan, dia menurunkanku di salah satu bed yang ada di ruang kesehatan, tapi sayangnya tak ada satupun petugas kesehatan yang bertugas.

"Udah kamu bisa tinggalin aku disini, kamu pergi aja nggak papa, nanti juga ada petugasnya yang dateng, makasih ya." sahutku sambil menundukkan wajah.

Ken hanya terdiam seperti biasanya dan langsung pergi. Syukurlah dia sudah pergi, gumamku dalam hati. Akupun melepas kacamataku dan berbaring sambil memikirkan siapa sebenarnya yang sengaja mengunciku di toilet tadi. Tak lama kemudian, Ken yang kukira sudah pergi ternyata dia kembali dengan membawa kompres air hangat dan segelas jahe panas ditangannya.

"Kamu kok balik lagi? ucapku yang langsung kembali duduk melihat Ken kembali.

"Cepet minum ini, sama kompres perutmu pakai ini!" sahut Ken dengan nada dingin sambil menyodorkan segelas jahe panas dan kompres air hangat yang ada ditangannya.

"Hmm ... makasih ya," ucapku lirih.

"Udah kamu pergi aja Ken, kamu emangnya nggak ikut pelajaran?" tanyaku sambil menyeruput segelas jahe yang diberikan Ken.

Lagi-lagi Ken hanya diam. Tak banyak kata yang terucap darinya. Ken hanya duduk di kursi sebelah tempat tidur ku sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Bintik-bintik di wajahmu udah hilang!" ucap Ken secara tiba-tiba.

"Hah? Apa?" ucapku dengan keras karena terkejut.

*F*reeckles buatanku udah hilang? Apa mungkin hilang dari tadi saat aku diguyur air di toilet? Aku pun sekarang juga sudah melepaskan kacamataku semenjak Ken tadi pergi sebentar, dan juga rambut pirangku pun sedang tergerai karena basah. Ah tidak..! Berarti Ken sudah tau dari tadi wujud asliku. Kenapa baru sekarang dia bilang?

Akupun tak sadar, lagi-lagi aku melamun karena terlalu terkejut memikirkan penyamaranku yang telah diketahui oleh Ken.

"Kamu bodoh ya?" sahut Ken melihatku melamun saat bicara dengannya.

"Kamu nggak kedinginan pake baju basah kayak gitu? Daripada jaket ku kamu pegang terus, kenapa nggak kamu pake aja!" ucap Ken dengan nada dingin.

"Iya ... iya ... tapi aku boleh minta tolong nggak Ken? Tolong ambilkan tasku dikelas dong!" ucapku dengan wajah melas.

"Hm!" jawab Ken sambil bergegas pergi untuk mengambil tasku di kelas.

Aku membutuhkan tasku karena aku harus mengambil makeup pouch ku didalam tas untuk membuat freeckles baru. Sepertinya Ken sama sekali tak memperdulikan tetang penyamaranku ini. Walaupun dia terkesan sangat dingin, angkuh dan tak banyak omong, tapi sebenarnya menurutku dia orangnya cukup baik dan tak seburuk yang aku kira, dan juga Ken lebih banyak bertindak dari pada bicara. Kini aku sedikit mengerti kenapa banyak gadis di sekolah ini yang tergila-gila padanya.

Akupun langsung mengganti seragamku yang basah dengan jaket milik Ken sebelum Ken datang. Tapi belum selesai aku memakai jaket, tiba-tiba Ken datang dengan membawa tasku. Dengan posisi tanganku yang masih terangkat keduanya dan jaketnya yang masih berada diatas kepalaku, Ken melihat semuanya dan dia pun dengan spontan langsung menutupi wajahnya dengan tasku. Bagaimana bisa dia melihat semuanya? Dia melihatku saat aku dalam kondisi tak berdaya di dalam toilet, melihat wajah asliku tanpa penyamaran, melihat rambutku yang basah tergerai dan parahnya melihatku belum selesai berganti pakaian.

"Kyaaaaaa dasar mesum...," teriakku dengan wajah yang memerah karena malu.

"Yee lha kamu sendiri ngapain ganti baju disitu?" jawab Ken.

"Ahhh udah sana keluar dulu, awas kamu macam-macam ya," gerutuku.

"Iya iya bawel, aku juga gak nafsu sama kamu," sahut Ken sambil melempar tasku ke dalam dan langsung keluar.

***

.

.

.

.

.

*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..

Terpopuler

Comments

Lailatul Azizah

Lailatul Azizah

mulai dech cerobohnya si Ruby

2022-02-14

0

⍣⃝ƒᴬᴮ•サᶳᴺᵀ₀₆❥ͥ ͣ͢  ͫʀɪᴀɴ s꧂

⍣⃝ƒᴬᴮ•サᶳᴺᵀ₀₆❥ͥ ͣ͢ ͫʀɪᴀɴ s꧂

lihat apaan si ken ??

2021-12-20

0

Yani Suharyani

Yani Suharyani

mulai cair niiii

2021-11-03

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Penyamaran
3 Teman
4 Roti Sobek
5 Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)
6 Kue
7 Freeckles
8 Perlombaan
9 Deja Vu
10 Senyuman
11 Marah
12 PENGUMUMAN VISUAL
13 Lelaki Lembut
14 Bersembunyi
15 Sendok Emas
16 Caffe Latte
17 Caffe Latte 2
18 Siluet Punggung
19 Cookies Buatan Ibu
20 Kecewa
21 Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
22 Greentea Cheese dan Reyhan
23 Filosofi Pohon
24 Ruby si Upik Abu
25 Love Test for Reyhan
26 Love Test for Reyhan (2)
27 First Kiss
28 Apakah Dia Mengenalku?
29 Ujian Akhir Semester
30 Rahasia
31 It's Time to Change
32 It's Time to Change (2)
33 It's Time to Change (3)
34 Liburan di Pulau Bali
35 Permainan Bola Kertas
36 Hal yang Mengejutkan
37 Lubang Hitam
38 Ken Psycopath?
39 Rahasia Kecil
40 Hukuman Ayah dan Ibu (Mimpi)
41 Second Kiss
42 Surat Kabar
43 Teman Masa Kecil
44 Reyhan POV
45 Reyhan POV (Setitik Cahaya)
46 Perjalanan Pulang
47 Menunggumu
48 Siapa Sesungguhnya Di Balik Semuanya?
49 Gantungan Kunci
50 Gunung Es Mencair?
51 Sirloin Steak
52 Jadian
53 Hujan
54 Surat Misterius
55 Pertandingan Basket
56 Lily Putih
57 Mie Ramyun
58 Situs Web Sekolah
59 Gadis Kecil Menangis (Mimpi)
60 Pengakuan Reyhan
61 Setitik Kebenaran
62 Kencan Pertama
63 Kecupan Perpisahan
64 Naik Kereta Api
65 Siapa Gadis Itu? (Mimpi)
66 Secercah Harapan
67 Titik Terang
68 Saat Terakhir
69 S2 ~ Reinkarnasi
70 S2 ~ Permainan Dimulai
71 S2 ~ Pertemuan Pertama
72 S2 ~ Cambukan
73 S2 ~ Serigala Berbulu Domba
74 S2 ~ Kekesalan
75 S2 ~ Tak Seindah Dongeng
76 S2 ~ Pesta Pengenalan Regina
77 S2 ~ Berdansa
78 S2 ~ Genggaman Pertama
79 S2 ~ Time Travel 2
80 S2 ~ Istana Karoling
81 S2 ~ Sambal Terong
82 S2 ~ Pangeran Felix
83 S2 ~ Pangeran Hanz
84 S2 ~ Acara Minum Teh
85 S2 ~ Ksatria Merah
86 S2 ~ Melarikan Diri
87 S2 ~ Curahan Hati
88 S2 ~ Pemilihan Regina Tahap Kedua
89 S2 ~ Pangeran Mesum
90 S2 ~ Perasaan
91 S2 ~ Jawaban
92 S2 ~ The Secret
93 S2 ~ Perangkap
94 S2 ~ Pernyataan Cinta
95 S2 ~ Semangat
96 S2 ~ Crying
97 S2 ~ Penobatan
98 S2 ~ Kesepakatan
99 S2 ~ New Day
100 S2 ~ Penyamaran
101 S2 ~ Rindu
102 S2 ~ Sapu Tangan
103 S2 ~ Foie Gras dan Ratatouille
104 S2 ~ Ginger
105 S2 ~ Black Death
106 S2 ~ Wangi Lavender
107 S2 ~ Usulan Ruby
108 S2 ~ Memperbaiki Benang Kusut?
109 S2 ~ Salep
110 S2 ~ Sisi Lain
111 S2 ~ Kesal
112 S2 ~ Baling-baling Bambu
113 S2 ~ Rapat Delegasi
114 S2 ~ Rapat Delegasi 2
115 S2 ~ Cemburu
116 S2 ~ Membuka Tirai
117 S2 ~ Matahari Terbit Lagi
118 S2 ~ Awal Hari Baru
119 S2 ~ Genggaman Hangat
120 S2 ~ Kaisar Bucin
121 S2 ~ Rumah Ginger
122 S2 ~ Masalah Air Bersih
123 S2 ~ Masalah Air Bersih 2
124 S2 ~ A Kiss That's You Can't Resist
125 S2 ~ Ruby is an Angel of Love
126 S2 ~ Ruby is an Angel of Love 2
127 S2 ~ It's Not Dream
128 S2 ~ Barbara Bar-Bar
129 S2 ~ Nilai 7 Dari Kaisar
130 S2 ~ The Story About a Witch
131 S2 ~ The Story About a Witch 2
132 S2 ~ Tekhnologi Tepat Guna
133 S2 ~ Senyuman Menawan Lelaki Tampan
134 S2 ~ Mata-mata
135 S2 ~ Masalah Air Telah Usai
136 S2 ~ Rencana Jahat
137 S2 ~ Rambut Brokoli
138 S2 ~ Gadis yang Bersinar
139 S2 ~ Bukti Mencurigakan
140 S2 ~ Pinky Promise
141 S2 ~ Wanita Paruh Baya
142 S2 ~ Dokter Patricia
143 S2 ~ Sejarah Kopi di Benua Eropa
144 S2 ~ Diabaikan
145 S2 ~ Kesal
146 S2 ~ Kopi Bubuk
147 S2 ~ Terbalaskan
148 S2 ~ Tenda Biru Tua
149 S2 ~ Your Grades Still Remain
150 S2 ~ Modus
151 S2 ~ Rayuan Lily
152 S2 ~ Menepati Janji
153 S2 ~ Hari Bahagia Bersamanya
154 S2 ~ Dibius
155 S2 ~ Satu Lagi Kepingan Puzzle
156 S2 ~ Rasa Takut
157 S2 ~ Kecurigaan
158 S2 ~ Titik Terang
159 S2 ~ Lily is a Witch
160 S2 ~ Sosok Yang Dirindukan
161 S2 ~ Saat Terakhir
162 S2~ New World
163 S2 ~ On The Way
164 S2 ~ My Prince (END)
165 Pengumuman
166 S3 ~ Flashback
167 S3 ~ Melepas Rindu
168 S3 ~ Berjalan-jalan
169 S3 ~ Sayang
170 S3 ~ Ken Mesum?
171 S3 ~ Ken Mesum? (2)
172 S3 ~ Sosok Lama
173 S3 ~ Flying Fish Channel
174 S3 ~ Gunung Es Mencair
175 S3 ~ Flashback Reyhan & Sabina
176 S3 ~ Breakfast Together
177 S3 ~ Lukisan
178 S3 ~ Remember
179 S3 ~ Firasat Buruk
180 S3 ~ The Secret
181 S3 ~ Ambyar
182 S3 ~ Tersedak
183 S3 ~ Keano Abian
184 S3 ~ Cincin dan Rindu
185 S3 ~ Aura Suram
186 S3 ~ Dua Kutub yang Berbeda
187 S3 ~ Pesan Singkat
188 S3 ~ Miranda
189 S3 ~ Jembatan Keledai
190 S3 ~ Benci Jadi Cinta?
191 S3 ~ Kutu Mati
192 S3 ~ Hari Terakhir
193 S3 ~ Ken's Story
194 S3 ~ Pertarungan Sengit
195 S3 ~ A Thousand Years
196 S3 ~ Mata Tidak Bersalah
197 S3 ~ CPR
198 S3 ~ Breathing
199 S3 ~ Salah Bicara
200 S3 ~ Pendekatan
201 S3 ~ Informasi Dari Reyhan
202 S3 ~ Kisah Baru
203 S3 ~ Teman Lama
204 S3 ~ Married?
205 S3 ~ Operan
206 S3 ~ Pesona Ruby
207 S2 ~ Cemburu?
208 S3 ~ Cemburu? (2)
209 S3 ~ Hitam Berenda
210 S3 ~ Kode
211 S3 ~ Poli Jantung
212 S3 ~ Don't Hate Me
213 S3 ~ Reuni
214 Pengumuman
215 S3 ~ Candelaria Bar
216 S3 ~ Candelaria Bar (2)
217 S3 ~ Truth or Dare
218 S3 ~ Pompa balon intra-aorta (IABP)
219 S3 ~ Kafetaria
220 S3 ~ Bus
221 S3 ~ Dua Lelaki
222 S3 ~ Tiga Lelaki
223 S3 ~ Cemburu Kecil
224 S2 ~ Siapakah wanita itu?
225 S3 ~ Red Velvet
226 S3 ~ Cemburu Lagi
227 S3 ~ Menuju Titik Terang
228 S3 ~ Titik Terang
229 S3 ~ Virus
230 S3 ~ Virus 2
231 S3 ~ Virus 3
232 S3 ~ Virus 4
233 S3 ~ Last Virus
234 Epilog
235 PENGUMUMAN
236 Bonus Chapter 1
237 Bonus Chapter 2
238 Bonus Chapter 3
239 Bonus Chapter 4
240 Bonus Chapter 5
241 Bonus Chapter 6
242 Bonus Chapter 7
243 END
244 PENGUMUMAN
245 Pengumuman
Episodes

Updated 245 Episodes

1
Prolog
2
Penyamaran
3
Teman
4
Roti Sobek
5
Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)
6
Kue
7
Freeckles
8
Perlombaan
9
Deja Vu
10
Senyuman
11
Marah
12
PENGUMUMAN VISUAL
13
Lelaki Lembut
14
Bersembunyi
15
Sendok Emas
16
Caffe Latte
17
Caffe Latte 2
18
Siluet Punggung
19
Cookies Buatan Ibu
20
Kecewa
21
Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
22
Greentea Cheese dan Reyhan
23
Filosofi Pohon
24
Ruby si Upik Abu
25
Love Test for Reyhan
26
Love Test for Reyhan (2)
27
First Kiss
28
Apakah Dia Mengenalku?
29
Ujian Akhir Semester
30
Rahasia
31
It's Time to Change
32
It's Time to Change (2)
33
It's Time to Change (3)
34
Liburan di Pulau Bali
35
Permainan Bola Kertas
36
Hal yang Mengejutkan
37
Lubang Hitam
38
Ken Psycopath?
39
Rahasia Kecil
40
Hukuman Ayah dan Ibu (Mimpi)
41
Second Kiss
42
Surat Kabar
43
Teman Masa Kecil
44
Reyhan POV
45
Reyhan POV (Setitik Cahaya)
46
Perjalanan Pulang
47
Menunggumu
48
Siapa Sesungguhnya Di Balik Semuanya?
49
Gantungan Kunci
50
Gunung Es Mencair?
51
Sirloin Steak
52
Jadian
53
Hujan
54
Surat Misterius
55
Pertandingan Basket
56
Lily Putih
57
Mie Ramyun
58
Situs Web Sekolah
59
Gadis Kecil Menangis (Mimpi)
60
Pengakuan Reyhan
61
Setitik Kebenaran
62
Kencan Pertama
63
Kecupan Perpisahan
64
Naik Kereta Api
65
Siapa Gadis Itu? (Mimpi)
66
Secercah Harapan
67
Titik Terang
68
Saat Terakhir
69
S2 ~ Reinkarnasi
70
S2 ~ Permainan Dimulai
71
S2 ~ Pertemuan Pertama
72
S2 ~ Cambukan
73
S2 ~ Serigala Berbulu Domba
74
S2 ~ Kekesalan
75
S2 ~ Tak Seindah Dongeng
76
S2 ~ Pesta Pengenalan Regina
77
S2 ~ Berdansa
78
S2 ~ Genggaman Pertama
79
S2 ~ Time Travel 2
80
S2 ~ Istana Karoling
81
S2 ~ Sambal Terong
82
S2 ~ Pangeran Felix
83
S2 ~ Pangeran Hanz
84
S2 ~ Acara Minum Teh
85
S2 ~ Ksatria Merah
86
S2 ~ Melarikan Diri
87
S2 ~ Curahan Hati
88
S2 ~ Pemilihan Regina Tahap Kedua
89
S2 ~ Pangeran Mesum
90
S2 ~ Perasaan
91
S2 ~ Jawaban
92
S2 ~ The Secret
93
S2 ~ Perangkap
94
S2 ~ Pernyataan Cinta
95
S2 ~ Semangat
96
S2 ~ Crying
97
S2 ~ Penobatan
98
S2 ~ Kesepakatan
99
S2 ~ New Day
100
S2 ~ Penyamaran
101
S2 ~ Rindu
102
S2 ~ Sapu Tangan
103
S2 ~ Foie Gras dan Ratatouille
104
S2 ~ Ginger
105
S2 ~ Black Death
106
S2 ~ Wangi Lavender
107
S2 ~ Usulan Ruby
108
S2 ~ Memperbaiki Benang Kusut?
109
S2 ~ Salep
110
S2 ~ Sisi Lain
111
S2 ~ Kesal
112
S2 ~ Baling-baling Bambu
113
S2 ~ Rapat Delegasi
114
S2 ~ Rapat Delegasi 2
115
S2 ~ Cemburu
116
S2 ~ Membuka Tirai
117
S2 ~ Matahari Terbit Lagi
118
S2 ~ Awal Hari Baru
119
S2 ~ Genggaman Hangat
120
S2 ~ Kaisar Bucin
121
S2 ~ Rumah Ginger
122
S2 ~ Masalah Air Bersih
123
S2 ~ Masalah Air Bersih 2
124
S2 ~ A Kiss That's You Can't Resist
125
S2 ~ Ruby is an Angel of Love
126
S2 ~ Ruby is an Angel of Love 2
127
S2 ~ It's Not Dream
128
S2 ~ Barbara Bar-Bar
129
S2 ~ Nilai 7 Dari Kaisar
130
S2 ~ The Story About a Witch
131
S2 ~ The Story About a Witch 2
132
S2 ~ Tekhnologi Tepat Guna
133
S2 ~ Senyuman Menawan Lelaki Tampan
134
S2 ~ Mata-mata
135
S2 ~ Masalah Air Telah Usai
136
S2 ~ Rencana Jahat
137
S2 ~ Rambut Brokoli
138
S2 ~ Gadis yang Bersinar
139
S2 ~ Bukti Mencurigakan
140
S2 ~ Pinky Promise
141
S2 ~ Wanita Paruh Baya
142
S2 ~ Dokter Patricia
143
S2 ~ Sejarah Kopi di Benua Eropa
144
S2 ~ Diabaikan
145
S2 ~ Kesal
146
S2 ~ Kopi Bubuk
147
S2 ~ Terbalaskan
148
S2 ~ Tenda Biru Tua
149
S2 ~ Your Grades Still Remain
150
S2 ~ Modus
151
S2 ~ Rayuan Lily
152
S2 ~ Menepati Janji
153
S2 ~ Hari Bahagia Bersamanya
154
S2 ~ Dibius
155
S2 ~ Satu Lagi Kepingan Puzzle
156
S2 ~ Rasa Takut
157
S2 ~ Kecurigaan
158
S2 ~ Titik Terang
159
S2 ~ Lily is a Witch
160
S2 ~ Sosok Yang Dirindukan
161
S2 ~ Saat Terakhir
162
S2~ New World
163
S2 ~ On The Way
164
S2 ~ My Prince (END)
165
Pengumuman
166
S3 ~ Flashback
167
S3 ~ Melepas Rindu
168
S3 ~ Berjalan-jalan
169
S3 ~ Sayang
170
S3 ~ Ken Mesum?
171
S3 ~ Ken Mesum? (2)
172
S3 ~ Sosok Lama
173
S3 ~ Flying Fish Channel
174
S3 ~ Gunung Es Mencair
175
S3 ~ Flashback Reyhan & Sabina
176
S3 ~ Breakfast Together
177
S3 ~ Lukisan
178
S3 ~ Remember
179
S3 ~ Firasat Buruk
180
S3 ~ The Secret
181
S3 ~ Ambyar
182
S3 ~ Tersedak
183
S3 ~ Keano Abian
184
S3 ~ Cincin dan Rindu
185
S3 ~ Aura Suram
186
S3 ~ Dua Kutub yang Berbeda
187
S3 ~ Pesan Singkat
188
S3 ~ Miranda
189
S3 ~ Jembatan Keledai
190
S3 ~ Benci Jadi Cinta?
191
S3 ~ Kutu Mati
192
S3 ~ Hari Terakhir
193
S3 ~ Ken's Story
194
S3 ~ Pertarungan Sengit
195
S3 ~ A Thousand Years
196
S3 ~ Mata Tidak Bersalah
197
S3 ~ CPR
198
S3 ~ Breathing
199
S3 ~ Salah Bicara
200
S3 ~ Pendekatan
201
S3 ~ Informasi Dari Reyhan
202
S3 ~ Kisah Baru
203
S3 ~ Teman Lama
204
S3 ~ Married?
205
S3 ~ Operan
206
S3 ~ Pesona Ruby
207
S2 ~ Cemburu?
208
S3 ~ Cemburu? (2)
209
S3 ~ Hitam Berenda
210
S3 ~ Kode
211
S3 ~ Poli Jantung
212
S3 ~ Don't Hate Me
213
S3 ~ Reuni
214
Pengumuman
215
S3 ~ Candelaria Bar
216
S3 ~ Candelaria Bar (2)
217
S3 ~ Truth or Dare
218
S3 ~ Pompa balon intra-aorta (IABP)
219
S3 ~ Kafetaria
220
S3 ~ Bus
221
S3 ~ Dua Lelaki
222
S3 ~ Tiga Lelaki
223
S3 ~ Cemburu Kecil
224
S2 ~ Siapakah wanita itu?
225
S3 ~ Red Velvet
226
S3 ~ Cemburu Lagi
227
S3 ~ Menuju Titik Terang
228
S3 ~ Titik Terang
229
S3 ~ Virus
230
S3 ~ Virus 2
231
S3 ~ Virus 3
232
S3 ~ Virus 4
233
S3 ~ Last Virus
234
Epilog
235
PENGUMUMAN
236
Bonus Chapter 1
237
Bonus Chapter 2
238
Bonus Chapter 3
239
Bonus Chapter 4
240
Bonus Chapter 5
241
Bonus Chapter 6
242
Bonus Chapter 7
243
END
244
PENGUMUMAN
245
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!