"Wow lihat siapa itu?"
"Lihat deh cowok itu ganteng banget,"
"Kyaaa ... nggak rugi aku kesini tadi,"
"Subhanallah siapa dia?"
"Alhamdulillah aku disuruh Ibuk beli roti,"
Beberapa pelanggan wanita yang melihat Ken lagi-lagi heboh sendiri. Ken berusaha untuk tidak peduli karena dia sudah terbiasa menjadi sorotan. Dia hanya berdiam sejenak memperhatikan kami bertiga dari kejauhan, tatapan matanya dingin lebih dingin dari biasanya, lalu dia pun mulai mendekat.
"Ad ... a yang bisa dibantu? Ken?" ucapku terbata-bata masih tidak percaya Ken sedang berada di Toko Kue sekarang.
"Mau ambil jaket!" ucap Ken dengan singkat.
Seketika aku langsung teringat bahwa Ken pernah meminjamkan jaket miliknya saat aku terkunci dan diguyur air oleh seseorang tak dikenal di dalam toilet, namun aku lupa untuk mengembalikannya.
"Haish, kok bisa lupa sih aku ... dasar Ruby bodoh," gumamku.
"Ah iya, sudah aku cuci tapi lupa ngembalikan ke kamu, maaf ya Ken," ucapku. "Kamu duduk dulu disini biar aku ambilkan," sahutku lagi.
"Oh ya, kamu mau minum apa Ken? Sama kuenya sekalian?" tanyaku.
"Caffe Latte sama kue yang pernah kamu kasih dulu." jawab Ken sambil mengambil kursi untuk dia duduki.
"Hmm, kue Tiramisu ya, oke ..., tunggu sebentar ya Ken." Aku bergegas mengambil kue dan minuman pesanan Ken dan segera pergi untuk mengambil jaket milik Ken di sebelah rumah, karena kebetulan Toko Kue dan rumahku bersebelahan.
***
"Ken, kamu jauh-jauh kesini cuman mau ambil jaket?" tanya Anggita seakan penasaran.
Ken hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Anggita, dia hanya diam dan tak mau mengatakan apapun.
"Hai Ken, apa kabar? Kita nggak pernah ketemu di luar kelas seperti ini ya sebelumnya?" sapa Reyhan dengan senyuman ramah.
Lagi-lagi Ken hanya diam tak menghiraukan sapaan dari Reyhan sama sekali. Sangat sulit untuk mengajaknya bicara, apalagi mendapatkan senyuman balasan darinya, seakan hal yang sangat mustahil.
***
Setibanya di Toko Kue setelah aku berlarian mengambil jaket milik Ken, aku pun mengembalikan jaket yang sudah ku tata rapi dan wangi di dalam sebuah tas kertas berwarna biru.
"Ini Ken makasih ya, maaf telat ngembalikan ke kamu soalnya lupa hehee, tapi aku nggak ada niat buat ngambil jaket mu kok, beneran!" ucapku sambil mengangkat dua jariku dengan spontan.
"Nggak papa," jawab Ken.
Aku pun mengambil tempat duduk di sebelah Anggita karena merasa lelah usai berlarian. Nafasku masih terengah-engah dan dahiku sedikit basah. Tiba-tiba Reyhan mengambil tisyu yang ada di atas meja dan diberikannya padaku.
"Ini buat ngelap keringet kamu tuh," ucap Reyhan sambil menyodorkan tisyu.
"Hmm, makasih ya Rey," aku pun menerimanya dan langsung mengusap dahiku yang sedikit basah.
"Nih minum aja air mineral punyaku, belum ku buka kok, kayaknya kamu haus banget," sahut Reyhan.
"Ah, nggak usah, kamu minum aja, aku bisa ambil di dalem kok," jawabku.
"Ciyeee Reyhan dari tadi perhatian amat sih sama Ruby hahaha," celetuk Anggita yang lagi-lagi menggodaku dengan Reyhan.
"Ih, apa'an sih Nggit, dasar ngawur aja kamu tuh dari tadi," sahutku.
"Oh ya Ken, gimana kuenya? Kamu suka kue rasa Tiramisu ya?" tanyaku.
"Hm." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ken sambil terus memakan kue di mejanya.
Seketika suasana pun menjadi semakin canggung. Tak lama Ibuku datang menghampiri dengan membawa beberapa potong kue dan minuman Caffe Latte di atas baki yang ada di tangannya.
"Ruby ini minum dulu kamu kan suka Caffe Latte." Ibuku menaruh secangkir Caffe Latte itu di atas meja.
"Hem, sama kayak Ken dong, barusan Ken juga pesen Caffe Latte," sahut Anggita.
"Loh nak Ken disini juga?" ucap Ibuku sambil tersenyum melihat Ken.
"Hah emangnya Ken sering ke rumahmu ya Ruby?" tanya Anggita secara tiba-tiba karena terkejut.
"Heee? Enggak kok Nggit, cuman sekali doang waktu nganterin aku yang habis pingsan itu," jawabku.
"Maaf ya tante baru bisa nyapa kalian sekarang, soalnya tadi kebetulan banyak pelanggan datang jadi agak repot," sahut Ibuku.
"Enggak papa kok tante, kita malahan yang nggak enak udah ngerepotin di sini." Reyhan menjawab dengan senyuman ramah.
"Hmm anak yang baik." Ibu tersenyum melihat ke arah Reyhan. "Oh ya nama kalian siapa nak?" sahut Ibuku.
"Saya Anggita tante, kalau yang di sebelah saya ini namanya Reyhan, dia ketua kelas kita," ucap Anggita. "Reyhan ini baik banget loh tante dia suka nolongin Ruby, ya kan Rey?" celetuk Anggita sambil tersenyum menggoda ke Arah Reyhan.
"Oh gitu ya, makasih ya nak Rey, Ruby emang gitu kadang sukanya bikin ulah dan ceroboh, Ibu nitip ke kalian ya kalau di sekolah," ucap Ibuku.
"Ih ... Ibu mulai deh ... sukanya jelek-jelekin aku terus kalau ada temen-temen," gumamku sambil memanyunkan bibir.
"Hehe enggak kok tante, Ruby anaknya baik kalau di sekolah, dan dia selalu ceria dan tulus." Reyhan tersenyum dan seakan membelaku.
Seketika kami semua pun tak bergeming, Reyhan memang anak yang baik, tapi terlewat baik sampai membelaku di depan Ibuku sendiri.
"Tuh, hehe aku anak yang baik katanya Bu," sahutku dengan canggung memecah keheningan.
"Hem ya udah kalian lanjutin dulu, tante mau ke dapur dulu ya, itu ada pelanggan," sahut Ibuku sambil bergegas pergi melayani pelanggan.
Sore ini begitu dingin dan sedikit mendung, kami berada di tempat duduk yang paling ujung, jarak terdekat melihat pemandangan bunga-bunga yang indah, Ibuku memang sengaja menaruh banyak bunga di dalam Toko Roti karena dia sangat menyukai bunga.
Tanpa sadar tatapanku melihat ke arah Ken yang sedang duduk tepat di depanku. Dia memandangi cangkir Caffe Latte di hadapannya. Uap tak lagi mengepul dari cangkir itu karena dia sudah cukup lama mendiamkan minumannya. Dia tetap memandanginya dengan tatapan menerawang. Seolah berusaha menarik keluar seluruh kenangan yang pernah dia pendam dalam-dalam.
Kenangan yang dipaksa untuk diputar kembali oleh masa lalunya. Kenangan yang selalu membangkitkan penyesalannya. Kenangan yang membawa air mata. Seketika aku teringat perkataan Ibuku jika semua yang terlihat baik di luar belum tentu baik-baik saja di dalamnya. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Ken dengan memandangi secangkir Caffe Latte itu.
Tanpa sadar aku terus memperhatikannya begitu dalam, tiba-tiba Ken melihat ke arahku, mata kami pun bertemu dan alisnya menyatu ketika menatapku. Lebih tepatnya menatapku di depannya yang terus memandanginya sejak tadi.
"Udah puas kamu lihatnya?"
Sebuah kata yang terucap dari mulutnya, seketika membuat beberapa pengunjung Toko melihat ke arah kami, termasuk Anggita dan Reyhan. Sementara aku hanya diam. Tertegun. Hanya sanggup memikirkan alasan apa yang akan kukatakan nanti.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
ARA
idih si Ken..galak-galak tapi diam2 seneng sama Ruby😜😀😀😀
2022-02-15
0
Koket Ayu
nanya kenapa kopinya ngga diminum sama Ken ... apa peelu dibikinkan lagi ...😋😋
2021-07-26
0
annisa sullivan
belum puas ken, aku masih mau mandangin kamu
2021-03-26
0