Jam pulang sekolah pun tiba, kami sepakat berkumpul di depan pintu gerbang sekolah untuk pergi ke Toko Kue bersama. Dari banyaknya murid yang berlalu lalang di depan pintu gerbang, kini aku berdiri di sudut gerbang ditemani sepeda pink kesayanganku.
Kling!
Suara notifikasi dari sebuah group Telegram "Gibah Squad" terdengar dari ponselku.
Nina :
Maaf ya guys, kayaknya aku nggak bisa ikutan, soalnya aku disuruh cepet pulang sama mama aku, hiks...
Anggita :
Yahh, sayang banget.. Yaudah nggak papa kok. Aku hampir selesai nih piket nya, tunggu bentar ya Ruby hehe..
Ruby :
Oke Nin, nggak papa, salam ya buat mama kamu :) oke Nggit aku tunggu kok, ini aku di depan pintu gerbang yah, Sabina mana?
Sabina :
Guys aku diajak nonton nih sama Rio, maaf ya kayaknya aku nggak bisa ikutan deh,
Anggita :
Yahh.. Gimana sih?
Anggita :
Selalu deh, nggak kompak bener sih kalian! Kasihan Ruby tuh nunggu di depan pintu gerbang sendirian!
Sabina :
Maafin ya Ruby hiks :(
Anggita :
Ya udah Ruby sama aku dan Reyhan aja perginya, Reyhan mana? Udah sama kamu di sana kan?
Ruby :
Belum, paling juga bentar lagi..
***
Aku menyandarkan sepeda pink kesayanganku pada tubuhku dan mulai cecelingukan mencari sosok Reyhan yang tak kunjung tiba. Tak lama terdengar suara derap langkah kaki seseorang yang sedang berlari menuju ke arahku. Tampak dari kejauhan postur tubuh tingginya dan tatapannya yang begitu tenang. Dia adalah Reyhan.
"Ah, maaf ya Ruby, kamu udah lama ya nunggunya?" Reyhan mengusap wajahnya yang sudah memerahan akibat berlarian menghampiriku, dan menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Hmm, enggak kok Rey baru beberapa menit, tapi kayaknya Nina sama Sabina nggak jadi ikut, jadi cuman kita sama Anggita aja, nggak papa kan?" sahutku.
"Iya nggak papa kok," ucapnya.
"Kamu pulang sekolah nggak naik motor atau mobil gitu? Kok jalan kaki?" tanyaku terheran melihat Reyhan tak membawa kendaraan apapun.
"Tadi pagi diantar mobil, tapi kusuruh jemput nanti aja kalau udah selesai ke Toko Kue sama kamu," jawab Reyhan.
"Lah terus? Kita nanti berangkatnya?" tanyaku kebingungan.
"Biar aku bonceng aja kamu pake sepeda ini! Hehehe, boleh kan?" Reyhan tertawa sambil menunjuk ke arah sepeda pink kesayanganku.
Seketika aku hanya terbengong memikirkan bagaimana bisa Reyhan mau berboncengan denganku memakai sepeda berwarna pink ini, di saat dia adalah salah satu siswa laki-laki yang lumayan populer di sekolah ini.
"Kamu nggak malu?" sahutku.
"Malu? Kenapa?" jawabnya singkat.
"Oke deh." Aku terdiam dan langsung melihat ponselku untuk memastikan Anggita sudah menyelesaikan tugas piketnya atau belum.
Tak lama tampak seorang gadis yang mengendarai sebuah motor Sport Yimihi berwarna merah berhenti tepat di depan kami, dengan memakai jaket kulit, dia melepaskan helm full face berwarna hitam yang di dalamnya tampak rambut panjang berwarna pirang tergerai membuatnya semakin terlihat keren. Dia adalah Anggita si gadis tomboi.
"Sorry ya lama tadi piket nya agak banyak soalnya," ucap Anggita sambil meletakkan helm nya di pangkuan kaki sebelah kirinya.
"Iya nggak papa kok ayo berangkat, kamu duluan aja aku kirim GPS nya," sahutku.
"Oke, eh tapi Reyhan berangkatnya gimana?" tanya Anggita.
"Dia mau boncengin aku katanya," jawabku dengan ragu.
"Hah? Apa? Serius?" Anggita spontan menatap Reyhan karena terkejut.
"Iya Nggit, udah kamu duluan aja sana," sahut Reyhan.
"Ya udah deh, good luck ya," celetuk Anggita sambil tersenyum kecil ke arah Reyhan seolah di dalam benaknya telah menyimpulkan sesuatu.
"Hah? Good luck buat apaan?" tanyaku.
"Nggak papa kok, siapa tahu beruntung pendekatannya ya kan? Hahaha," celetuk Anggita sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dihh ... dasar ngawur, udah sana pergi duluan," celetukku.
"Oke bye ...."
Bruuummmmh!
Suara motor Anggita terdengar kian menjauh. Reyhan mulai mengambil sepedaku dan langsung menaikinya, sebenarnya aku masih ragu karena selama ini belum ada yang pernah menaiki sepeda kesayanganku ini kecuali diriku sendiri, dan kini aku harus duduk di belakang Reyhan, dengan tanganku yang memegang jaketnya.
Reyhan mulai mengayuh pedal sepedaku, ku lewati jalan demi jalan bersamanya, ku nikmati setiap jalan itu bagaikan angin yang menerpaku dan menyejukkan hatiku. Tanpa kusadari banyak mata yang memandangi kami, tapi aku berusaha untuk tidak peduli. Karena sudah terlalu banyak hal yang terjadi hari ini.
*D**i Toko Kue Ibu*
Sesampainya di Toko Kue, aku pun mulai turun, Reyhan memarkirkan sepeda ku tepat di depan Toko. Tampak banyak pelanggan di dalam Toko dan Anggita juga sudah sedari tadi menunggu di dalam. Aku dan Reyhan pun masuk dan menghampirinya.
"Lama kah nunggunya?" tanya Reyhan.
"Nggak kok justru kalian cepet amat dateng nya, nggak kurang lama apa? Hehehe." Lagi-lagi Anggita mencoba menggoda kami.
"Hmm dasar kamu Nggit, ya udah aku bantu Ibuku di dalam, kamu lihat-lihat dulu daftar menu Kue dan minumnya nanti sekalian aku ambilin?" sahutku.
"Oke, aku kuenya Red Velvet dua ya, sama buat bungkusin Sabina satu. Dia suka sekali sama kue itu. Lalu minumnya Strawberry Smoothies aja hehe," sahut Anggita.
"Aku Greentea Cheese sama air mineral aja," sahut Reyhan.
"Oke tunggu sebentar ya."
Aku mulai menghampiri Ibuku yang sedang membuat kue di dapur untuk para pelanggan.
"Loh udah pulang?" tanya Ibuku.
"Udah Bu, oh ya tuh ada temenku di luar boleh ku traktir ya ... hehehe," cengirku.
"Ya boleh dong, kok cuman 2 orang aja? Mana yang lainnya?" tanya ibuku sambil menyiapkan adonan.
"Lainnya tadi nggak jadi ikut," jawabku sambil menaruh tas ranselku di dekat lemari.
"Oh ya Ken juga kok nggak ikut?" tanya Ibu.
"Ya nggaklah Bu, ngapain juga Ken ada di Toko Kue kecil kayak gini, kalau seperti kata pepatah ya Bu, dia tuh orang yang sudah terlahir dengan sendok emas di mulutnya, atau lahir seperti dewa, apapun keinginannya pasti hadir di depannya," gerutuku.
"Di rumahnya juga udah ada banyak Chef yang bisa buatin kue model apapun yang dia mau, dan yang nggak ada di Toko ini, jadi ngapain dia kesini, ya kan Bu?" timpaku lagi sambil mengambil pesanan kue milik Anggita dan Reyhan.
"Hmm, Ruby ... Ruby ... kamu kok lihat orang dari luarnya aja! Ibu bilangin ya, nggak selamanya yang di luar terlihat baik, di dalam nya juga baik-baik aja," ucap Ibu.
"Walaupun Ken serba ada semuanya bak Raja, tapi kita juga nggak tahu masalah dan luka apa aja yang ada di dalamnya kan? Semuanya tuh "Sawang Sinawang" kalau nenekmu bilang, ya udah cepet anter itu kuenya, udah ditungguin temen-temenmu tuh!" timpal Ibu lagi.
"Iya ... iya ... Bu ..."
Aku berjalan keluar dengan membawa baki berisi kue Red Velvet dan Greentea Cheese milik Reyhan dan Anggita.
"Ini silakan dinikmati kuenya," ucapku pada mereka sembari menaruh Kue di meja.
"Hehehe makasih Ruby ..." Anggita tersenyum ceria dan langsung mencicipi kuenya.
Kliiiingggg!
Terdengar bel Toko yang berbunyi otomatis saat ada pelanggan masuk ke dalam Toko. Aku pun berbalik badan dan bersiap untuk menyambutnya.
"Selamat Sore ... ada yang bisa diban ..."
Belum selesai menyambut pelanggan itu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sosok laki-laki yang tampak tak asing sedang berdiri di dekat pintu masuk Toko, auranya tampak bersinar walaupun dari kejauhan, dengan tubuhnya yang tinggi dan wajah tampan yang sulit ditemukan, semakin membuatnya menjadi sorotan di manapun dia berada. Dia adalah Ken.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungan untuk Author ya..
dengan klik Like, favorit, komen, dan vote :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
bungaAaAaA
emang mencurigakan nianak
2022-08-27
0
Alya Yuni
Curiga dng Nina jngn smpai kya serigala brbulu domba
2021-10-09
1
Mul Yati Zayadi
jadi ingat pas dulu SMA Thor 😊😊😊 boncengan sepeda berdua..., jaman blm banyak motor kayak sekarang 🤭🤭🤭
2021-04-03
0