Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)

Setibanya di ruang kesehatan, aku diperiksa oleh dr. Novina, dokter yang sedang bertugas di ruang kesehatan hari ini.

"Dok, tolongin ini kaki teman saya keseleo dok!" seru Nina sambil membopongku.

"Oke, baringkan disini dulu biar saya periksa kakinya," pinta dr. Novina.

"Kyaaaaaaaaaa ...." Aku berteriak kaget merasakan rasa sakit yang berdenyut-denyut saat dr.Novina menyentuh kakiku.

"Iya ini kakinya bengkak. Kok bisa begini?" tanya dr. Novina.

"Dia habis atraksi dok, dan mendarat sempurna diatas kasur yang empuk (*kasur empuk\= Ken)," celetuk Nina.

"Dihh, Nina apa'an sih ...," gumamku.

"Hm ... yaudah saya beri kompres es dan obat anti nyeri dulu, kamu bisa istirahat saja disini. Nanti kalau sudah selesai di kompres, baru kakimu akan saya perban," ucap dr. Novina meletakkan kompres es dikakiku.

"Makasih ya dok," sahutku.

"Iya sama-sama. Kamu istirahat saja dulu disini, saya tinggal ke ruang guru sebentar," kata dr. Novina.

"Baik dok," sahutku lagi.

Akupun langsung meminum obat anti nyeri yang diberikan oleh dr. Novina kepadaku.

"Nin, makasih ya udah dianterin kesini, aku nggak tau lagi deh gimana jadinya tadi kalau aku masih ada di lapangan. Huh, kenapa sih aku bisa jatuh diatasnya Ken, dan kamu tahu nggak apa yang ku pegang tadi? Roti sobek! Roti sobek kotak-kotak Nin, Omaygaad ...," ucapku sambil teriak histeris.

"Udah jangan terlalu dipikirin, kan kamu juga nggak sengaja jatuhnya, sampe kakimu bengkak gini, pokoknya jangan cerita ke Anggita aja tentang roti sobek nya Ken barusan, bisa-bisa dia heboh sendiri hehehe." Nina tertawa sambil mengompres kakiku lagi dengan air es.

"Oh ya kamu istirahat aja gih! Aku mau ke toilet bentar nanti aku balik lagi kesini," sahut Nina.

"Oke Nin, makasih ya peri baikku," ucapku sambil tersenyum manis.

"Ih peri baik apa'an sih? Males deh," gerutu Nina.

"Hahaha iya deh iya, cepetan ke toilet dulu sana! Aku mau rebahan santuy dulu," ucapku seraya menata bantal.

"Haha dasar. Nanti kalau aku belum datang, dan kamu perlu apa-apa telfon aku aja ya!" sahut Nina.

"Oke siap," jawabku dengan senyuman.

Akhirnya hanya aku seorang diri yang tersisa di dalam ruangan ini. Walaupun terdapat beberapa tempat tidur kosong disini, tapi ruangan disini selalu sepi. "Tik... tik... tik..." suara dentuman detik jam terdengar jelas membuat mataku terasa berat. Kuletakkan kacamata tebalku di samping tempat tidur. Sayup-sayup kelopak mataku tak dapat kutahan lagi. Akupun mulai memejamkan mata dan tertidur.

Samar-samar kurasakan kalau aku mulai bermimpi. Mimpi yang sangat sering kualami, yakni dimana aku sedang berada di abad pertengahan sejarah Eropa, dan disitu selalu ada sosok pangeran yang kuyakini dia adalah tunanganku di dalam mimpiku. Ya, dia adalah Pangeran Hanz.

Aku melihat pangeran itu sedang menangis di tepian sungai. Dia tampak dipenuhi dengan kesedihan. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, tapi terlihat jelas kalau dia sangat merasa kehilangan. Dengan wajah yang tertunduk lesu dan berlinang air mata, pangeran itu pun bangkit dan berjalan meninggalkan tepian sungai, diikuti dengan beberapa pengawal dibelakangnya. Entah mengapa dadaku pun terasa sakit sekali melihat pangeran yang seperti itu, dipenuhi dengan kesedihan. Sampai tak sadar aku pun ikut meneteskan air mata.

Terakhir aku bermimpi tentangnya, aku melihat dia tersenyum dengan penuh rasa bahagia saat melihatku, tapi sekarang apa yang membuatnya begitu sedih? Apa maksud semua ini? Kenapa dadaku rasanya sakit sekali? Tiba-tiba semua bayangan itu sedikit demi sedikit mulai menghilang, dan akupun terbangun dari mimpiku.

Saat aku tersadar

Kembali ke kenyataan sebelumnya dimana aku masih terbaring di ruang kesehatan. Saat aku membuka mata, samar-samar kulihat ada seseorang yang sedang berdiri tepat disamping tempat tidurku. Apakah itu Nina? Kenapa Nina kembali begitu cepat? Aku tak bisa melihatnya dengan begitu jelas karena saat sebelum tidur aku sengaja melepaskan kacamataku.

Akupun meraih kacamata tebalku di samping tempat tidur dan langsung memakainya. Tak disangka, ternyata yang sedang berdiri disamping tempat tidurku sekarang adalah Ken. Hah? Kenapa dia ada disini? Aku tidak sanggup melihat wajahnya sekarang karena terlanjur malu dengan kejadian tadi saat aku terjatuh tepat diatas tubuh Ken.

"Ke.. ke.. napa kamu disini?" tanyaku dengan terbata-bata.

"Hm jadi beneran, kamu si bebek itu?" ucap Ken yang enggan menjawab pertanyaanku. (*bebek ada di chapter pertama).

"Apa maksudmu?" tanyaku balik.

"Bebek yang mandi di sungai, katamu saat wajahmu penuh dengan lumpur. Sekaligus orang yang ngasih surat nggak jelas, iya kan?" Ken menyilangkan tangannya dan terus menatapku.

"Hm, iya ... iya ... aku yang ngasih kamu surat itu, kamu nggak perlu minta maaf kok aku udah maafin kamu," jawabku spontan mengingat dia adalah seseorang yang tidak bisa kusinggung seenaknya.

Ken terdiam dan hanya mengangkat sebelah alisnya dengan wajah yang dingin seperti biasanya.

"Terus ngapain kamu ada disini?" tanyaku.

"Bukan urusanmu, lebih baik kamu urus dirimu sendiri. Si aneh yang tidur sambil nangis, kayak anak kecil aja," jawab Ken dengan nada sedikit menyindir.

Akupun hanya terdiam dan baru tersadar, apakah Ken sudah disini sejak tadi? Saat aku bermimpi dan melihat pangeran di mimpiku begitu sedih, apakah aku jadi ikut menangis saat tertidur? Dan apakah Ken sudah ada disini melihatku sedari tadi? Mengapa juga dia begitu kesal melihatku menangis. Dan yang lebih anehnya lagi mengapa dia ada disini? Bukankah katanya dia tidak pernah mau bicara dengan gadis-gadis di sekolah ini? Apa dia sekarang sedang peduli? Begitu banyak pertanyaan di otakku sehingga membuat aku tak sadar bahwa aku sedang melamun saat masih ada Ken di sampingku.

"Kamu bodoh ya?" sahut Ken dengan wajah datar melihat aku terbengong saat dia sedang bicara.

"Ah, maaf ... masak sih aku tadi nangis? Kayaknya aku mimpi ditagih hutang sama Anggita deh, jadinya aku nangis gitu hehe". jawabku spontan dengan tidak masuk akal.

Duh apa sih yang kubilang barusan, nggak ada apa jawaban yang lebih konyol lagi?

"Hmm.. dasar bodoh, mendingan kamu tidur aja daripada ngomong gak jelas!" sahut Ken dan langsung pergi begitu saja.

Apaan sih? Nyebelin banget! Apa semua orang jenius gitu ya ngatain orang bodoh seenaknya? Sabar.. sabar.. Ruby.. kamu nggak boleh buat masalah dengan dia, dia bukan orang sembarangan yang bisa disinggung seenaknya. Bisa-bisa aku dikeluarin dari sekolah kalau berurusan sama dia. Sabar ini hanya ujian.

Tak lama berselang Nina, Anggita, dan Sabina pun datang dengan membawa sekotak makanan.

"Ruby, maaf ya aku tadi belikan makanan dulu buat kamu, jadi agak lama. Kamu kok udah bangun sih?" tanya Nina.

"Ruby ... gimana keadaanmu? Udah mendingan kan? Aku khawatir tau." Anggita berlari dan memelukku.

"Hei ... hei ... jangan lebay gitu ah, bukannya kamu tadi malah lebih khawatir sama badan Ken yang tertimpa Ruby ya?" sahut Sabina.

"Hahaha dasar kalian ini, makasih ya kalian udah ada peduli sama aku," jawabku dengan senyuman.

"Hmm iya yang penting sekarang kamu udah nggak papa," sahut Nina.

"Oh ya kamu tau nggak Ruby, tadi di lapangan saat kamu baru aja pergi ada kejadian heboh. Jadi gini, nggak lama saat Ken abis jatuh, Luna kan langsung nyamperin Ken maksudnya sengaja mau bantuin gitu. Eh, tapi Ken malah marah dan pergi gitu aja ninggalin Luna. Kayaknya rumor yang bilang Ken nggak suka bersentuhan sama cewek disekolah ini itu bener deh." Anggita bercerita dengan menggebu-gebu.

"Hah masak sih? Terus ... terus ...?" Aku masih bertanya karena penasaran.

"Iya, terus Luna ya marah sejadi-jadinya lah, walaupun wataknya si Luna nyebelin gitu, tapi dia juga bukan orang sembarangan yang bisa dianggap remeh karena orang tuanya kan juga donatur terbesar nomer tiga di sekolah ini, jadi dari kecil dia udah terbiasa dimanja dan apa yang dia mau dengan cara apapun pasti mudah buat dia, apalagi dia cantik dan banyak cowok yang naksir, pastinya dia semakin percaya diri dan tetep bakal ngejar si Ken sampai dapat dong, iya nggak?" sahut Sabina.

"Eh tapi tadi saat Ruby jatuh diatas tubuhnya Ken kok Ken nggak marah ya?" Anggita mengingat kembali kejadian tadi.

"Hm ... mungkin karena Ruby kan nggak sengaja jatuhnya, dan kakinya sampe bengkak gini masa Ken tega marahin Ruby, ya nggak sih?" ucap Nina sambil membuka kotak makan yang dibawa untukku.

"Haha iya, aku juga nggak mau lah jatuh kayak gini, sakit tau!" jawabku dengan wajah memelas.

"Udah, kamu makan aja dulu nih, dari tadi belum makan gitu," sahut Nina.

"Oke makasih ya ibu peri," jawabku sambil mulai memakan makanan yang diberikan Nina.

Setelah mendengar cerita Anggita, aku langsung teringat saat kulihat banyak tatapan mata gadis-gadis di lapangan yang tergila-gila oleh Ken, mereka menatapku dengan tajam seolah ingin menerkamku saat aku tak sengaja terjatuh dan menyentuh cowok kesayangan mereka.

Menakutkan!

Rasanya seperti aku menjadi seekor kelinci yang dikelilingi oleh macan-macan betina yang sedang kelaparan.

Pokoknya sekarang aku nggak boleh berurusan sama Ken lagi, sebelum aku habis dimakan oleh macan-macan betina itu, apalagi si Luna.

Tak berselang lama dr. Novina pun datang dan membalutkan perban di kakiku.

***

.

.

.

.

.

*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..

Terpopuler

Comments

Sahril Banong Potabuga Lasene

Sahril Banong Potabuga Lasene

ruby lembek nga ada keahlian kyk pintr bela diri juga licik jdi nga ada yg bisa nyakiti ruby

2022-01-24

1

Nofiayu Puspitasari

Nofiayu Puspitasari

suka

2022-01-04

0

Eliyana Mustikarini

Eliyana Mustikarini

q dkung trus thor... 👍👍

2021-11-14

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Penyamaran
3 Teman
4 Roti Sobek
5 Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)
6 Kue
7 Freeckles
8 Perlombaan
9 Deja Vu
10 Senyuman
11 Marah
12 PENGUMUMAN VISUAL
13 Lelaki Lembut
14 Bersembunyi
15 Sendok Emas
16 Caffe Latte
17 Caffe Latte 2
18 Siluet Punggung
19 Cookies Buatan Ibu
20 Kecewa
21 Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
22 Greentea Cheese dan Reyhan
23 Filosofi Pohon
24 Ruby si Upik Abu
25 Love Test for Reyhan
26 Love Test for Reyhan (2)
27 First Kiss
28 Apakah Dia Mengenalku?
29 Ujian Akhir Semester
30 Rahasia
31 It's Time to Change
32 It's Time to Change (2)
33 It's Time to Change (3)
34 Liburan di Pulau Bali
35 Permainan Bola Kertas
36 Hal yang Mengejutkan
37 Lubang Hitam
38 Ken Psycopath?
39 Rahasia Kecil
40 Hukuman Ayah dan Ibu (Mimpi)
41 Second Kiss
42 Surat Kabar
43 Teman Masa Kecil
44 Reyhan POV
45 Reyhan POV (Setitik Cahaya)
46 Perjalanan Pulang
47 Menunggumu
48 Siapa Sesungguhnya Di Balik Semuanya?
49 Gantungan Kunci
50 Gunung Es Mencair?
51 Sirloin Steak
52 Jadian
53 Hujan
54 Surat Misterius
55 Pertandingan Basket
56 Lily Putih
57 Mie Ramyun
58 Situs Web Sekolah
59 Gadis Kecil Menangis (Mimpi)
60 Pengakuan Reyhan
61 Setitik Kebenaran
62 Kencan Pertama
63 Kecupan Perpisahan
64 Naik Kereta Api
65 Siapa Gadis Itu? (Mimpi)
66 Secercah Harapan
67 Titik Terang
68 Saat Terakhir
69 S2 ~ Reinkarnasi
70 S2 ~ Permainan Dimulai
71 S2 ~ Pertemuan Pertama
72 S2 ~ Cambukan
73 S2 ~ Serigala Berbulu Domba
74 S2 ~ Kekesalan
75 S2 ~ Tak Seindah Dongeng
76 S2 ~ Pesta Pengenalan Regina
77 S2 ~ Berdansa
78 S2 ~ Genggaman Pertama
79 S2 ~ Time Travel 2
80 S2 ~ Istana Karoling
81 S2 ~ Sambal Terong
82 S2 ~ Pangeran Felix
83 S2 ~ Pangeran Hanz
84 S2 ~ Acara Minum Teh
85 S2 ~ Ksatria Merah
86 S2 ~ Melarikan Diri
87 S2 ~ Curahan Hati
88 S2 ~ Pemilihan Regina Tahap Kedua
89 S2 ~ Pangeran Mesum
90 S2 ~ Perasaan
91 S2 ~ Jawaban
92 S2 ~ The Secret
93 S2 ~ Perangkap
94 S2 ~ Pernyataan Cinta
95 S2 ~ Semangat
96 S2 ~ Crying
97 S2 ~ Penobatan
98 S2 ~ Kesepakatan
99 S2 ~ New Day
100 S2 ~ Penyamaran
101 S2 ~ Rindu
102 S2 ~ Sapu Tangan
103 S2 ~ Foie Gras dan Ratatouille
104 S2 ~ Ginger
105 S2 ~ Black Death
106 S2 ~ Wangi Lavender
107 S2 ~ Usulan Ruby
108 S2 ~ Memperbaiki Benang Kusut?
109 S2 ~ Salep
110 S2 ~ Sisi Lain
111 S2 ~ Kesal
112 S2 ~ Baling-baling Bambu
113 S2 ~ Rapat Delegasi
114 S2 ~ Rapat Delegasi 2
115 S2 ~ Cemburu
116 S2 ~ Membuka Tirai
117 S2 ~ Matahari Terbit Lagi
118 S2 ~ Awal Hari Baru
119 S2 ~ Genggaman Hangat
120 S2 ~ Kaisar Bucin
121 S2 ~ Rumah Ginger
122 S2 ~ Masalah Air Bersih
123 S2 ~ Masalah Air Bersih 2
124 S2 ~ A Kiss That's You Can't Resist
125 S2 ~ Ruby is an Angel of Love
126 S2 ~ Ruby is an Angel of Love 2
127 S2 ~ It's Not Dream
128 S2 ~ Barbara Bar-Bar
129 S2 ~ Nilai 7 Dari Kaisar
130 S2 ~ The Story About a Witch
131 S2 ~ The Story About a Witch 2
132 S2 ~ Tekhnologi Tepat Guna
133 S2 ~ Senyuman Menawan Lelaki Tampan
134 S2 ~ Mata-mata
135 S2 ~ Masalah Air Telah Usai
136 S2 ~ Rencana Jahat
137 S2 ~ Rambut Brokoli
138 S2 ~ Gadis yang Bersinar
139 S2 ~ Bukti Mencurigakan
140 S2 ~ Pinky Promise
141 S2 ~ Wanita Paruh Baya
142 S2 ~ Dokter Patricia
143 S2 ~ Sejarah Kopi di Benua Eropa
144 S2 ~ Diabaikan
145 S2 ~ Kesal
146 S2 ~ Kopi Bubuk
147 S2 ~ Terbalaskan
148 S2 ~ Tenda Biru Tua
149 S2 ~ Your Grades Still Remain
150 S2 ~ Modus
151 S2 ~ Rayuan Lily
152 S2 ~ Menepati Janji
153 S2 ~ Hari Bahagia Bersamanya
154 S2 ~ Dibius
155 S2 ~ Satu Lagi Kepingan Puzzle
156 S2 ~ Rasa Takut
157 S2 ~ Kecurigaan
158 S2 ~ Titik Terang
159 S2 ~ Lily is a Witch
160 S2 ~ Sosok Yang Dirindukan
161 S2 ~ Saat Terakhir
162 S2~ New World
163 S2 ~ On The Way
164 S2 ~ My Prince (END)
165 Pengumuman
166 S3 ~ Flashback
167 S3 ~ Melepas Rindu
168 S3 ~ Berjalan-jalan
169 S3 ~ Sayang
170 S3 ~ Ken Mesum?
171 S3 ~ Ken Mesum? (2)
172 S3 ~ Sosok Lama
173 S3 ~ Flying Fish Channel
174 S3 ~ Gunung Es Mencair
175 S3 ~ Flashback Reyhan & Sabina
176 S3 ~ Breakfast Together
177 S3 ~ Lukisan
178 S3 ~ Remember
179 S3 ~ Firasat Buruk
180 S3 ~ The Secret
181 S3 ~ Ambyar
182 S3 ~ Tersedak
183 S3 ~ Keano Abian
184 S3 ~ Cincin dan Rindu
185 S3 ~ Aura Suram
186 S3 ~ Dua Kutub yang Berbeda
187 S3 ~ Pesan Singkat
188 S3 ~ Miranda
189 S3 ~ Jembatan Keledai
190 S3 ~ Benci Jadi Cinta?
191 S3 ~ Kutu Mati
192 S3 ~ Hari Terakhir
193 S3 ~ Ken's Story
194 S3 ~ Pertarungan Sengit
195 S3 ~ A Thousand Years
196 S3 ~ Mata Tidak Bersalah
197 S3 ~ CPR
198 S3 ~ Breathing
199 S3 ~ Salah Bicara
200 S3 ~ Pendekatan
201 S3 ~ Informasi Dari Reyhan
202 S3 ~ Kisah Baru
203 S3 ~ Teman Lama
204 S3 ~ Married?
205 S3 ~ Operan
206 S3 ~ Pesona Ruby
207 S2 ~ Cemburu?
208 S3 ~ Cemburu? (2)
209 S3 ~ Hitam Berenda
210 S3 ~ Kode
211 S3 ~ Poli Jantung
212 S3 ~ Don't Hate Me
213 S3 ~ Reuni
214 Pengumuman
215 S3 ~ Candelaria Bar
216 S3 ~ Candelaria Bar (2)
217 S3 ~ Truth or Dare
218 S3 ~ Pompa balon intra-aorta (IABP)
219 S3 ~ Kafetaria
220 S3 ~ Bus
221 S3 ~ Dua Lelaki
222 S3 ~ Tiga Lelaki
223 S3 ~ Cemburu Kecil
224 S2 ~ Siapakah wanita itu?
225 S3 ~ Red Velvet
226 S3 ~ Cemburu Lagi
227 S3 ~ Menuju Titik Terang
228 S3 ~ Titik Terang
229 S3 ~ Virus
230 S3 ~ Virus 2
231 S3 ~ Virus 3
232 S3 ~ Virus 4
233 S3 ~ Last Virus
234 Epilog
235 PENGUMUMAN
236 Bonus Chapter 1
237 Bonus Chapter 2
238 Bonus Chapter 3
239 Bonus Chapter 4
240 Bonus Chapter 5
241 Bonus Chapter 6
242 Bonus Chapter 7
243 END
244 PENGUMUMAN
245 Pengumuman
Episodes

Updated 245 Episodes

1
Prolog
2
Penyamaran
3
Teman
4
Roti Sobek
5
Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)
6
Kue
7
Freeckles
8
Perlombaan
9
Deja Vu
10
Senyuman
11
Marah
12
PENGUMUMAN VISUAL
13
Lelaki Lembut
14
Bersembunyi
15
Sendok Emas
16
Caffe Latte
17
Caffe Latte 2
18
Siluet Punggung
19
Cookies Buatan Ibu
20
Kecewa
21
Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
22
Greentea Cheese dan Reyhan
23
Filosofi Pohon
24
Ruby si Upik Abu
25
Love Test for Reyhan
26
Love Test for Reyhan (2)
27
First Kiss
28
Apakah Dia Mengenalku?
29
Ujian Akhir Semester
30
Rahasia
31
It's Time to Change
32
It's Time to Change (2)
33
It's Time to Change (3)
34
Liburan di Pulau Bali
35
Permainan Bola Kertas
36
Hal yang Mengejutkan
37
Lubang Hitam
38
Ken Psycopath?
39
Rahasia Kecil
40
Hukuman Ayah dan Ibu (Mimpi)
41
Second Kiss
42
Surat Kabar
43
Teman Masa Kecil
44
Reyhan POV
45
Reyhan POV (Setitik Cahaya)
46
Perjalanan Pulang
47
Menunggumu
48
Siapa Sesungguhnya Di Balik Semuanya?
49
Gantungan Kunci
50
Gunung Es Mencair?
51
Sirloin Steak
52
Jadian
53
Hujan
54
Surat Misterius
55
Pertandingan Basket
56
Lily Putih
57
Mie Ramyun
58
Situs Web Sekolah
59
Gadis Kecil Menangis (Mimpi)
60
Pengakuan Reyhan
61
Setitik Kebenaran
62
Kencan Pertama
63
Kecupan Perpisahan
64
Naik Kereta Api
65
Siapa Gadis Itu? (Mimpi)
66
Secercah Harapan
67
Titik Terang
68
Saat Terakhir
69
S2 ~ Reinkarnasi
70
S2 ~ Permainan Dimulai
71
S2 ~ Pertemuan Pertama
72
S2 ~ Cambukan
73
S2 ~ Serigala Berbulu Domba
74
S2 ~ Kekesalan
75
S2 ~ Tak Seindah Dongeng
76
S2 ~ Pesta Pengenalan Regina
77
S2 ~ Berdansa
78
S2 ~ Genggaman Pertama
79
S2 ~ Time Travel 2
80
S2 ~ Istana Karoling
81
S2 ~ Sambal Terong
82
S2 ~ Pangeran Felix
83
S2 ~ Pangeran Hanz
84
S2 ~ Acara Minum Teh
85
S2 ~ Ksatria Merah
86
S2 ~ Melarikan Diri
87
S2 ~ Curahan Hati
88
S2 ~ Pemilihan Regina Tahap Kedua
89
S2 ~ Pangeran Mesum
90
S2 ~ Perasaan
91
S2 ~ Jawaban
92
S2 ~ The Secret
93
S2 ~ Perangkap
94
S2 ~ Pernyataan Cinta
95
S2 ~ Semangat
96
S2 ~ Crying
97
S2 ~ Penobatan
98
S2 ~ Kesepakatan
99
S2 ~ New Day
100
S2 ~ Penyamaran
101
S2 ~ Rindu
102
S2 ~ Sapu Tangan
103
S2 ~ Foie Gras dan Ratatouille
104
S2 ~ Ginger
105
S2 ~ Black Death
106
S2 ~ Wangi Lavender
107
S2 ~ Usulan Ruby
108
S2 ~ Memperbaiki Benang Kusut?
109
S2 ~ Salep
110
S2 ~ Sisi Lain
111
S2 ~ Kesal
112
S2 ~ Baling-baling Bambu
113
S2 ~ Rapat Delegasi
114
S2 ~ Rapat Delegasi 2
115
S2 ~ Cemburu
116
S2 ~ Membuka Tirai
117
S2 ~ Matahari Terbit Lagi
118
S2 ~ Awal Hari Baru
119
S2 ~ Genggaman Hangat
120
S2 ~ Kaisar Bucin
121
S2 ~ Rumah Ginger
122
S2 ~ Masalah Air Bersih
123
S2 ~ Masalah Air Bersih 2
124
S2 ~ A Kiss That's You Can't Resist
125
S2 ~ Ruby is an Angel of Love
126
S2 ~ Ruby is an Angel of Love 2
127
S2 ~ It's Not Dream
128
S2 ~ Barbara Bar-Bar
129
S2 ~ Nilai 7 Dari Kaisar
130
S2 ~ The Story About a Witch
131
S2 ~ The Story About a Witch 2
132
S2 ~ Tekhnologi Tepat Guna
133
S2 ~ Senyuman Menawan Lelaki Tampan
134
S2 ~ Mata-mata
135
S2 ~ Masalah Air Telah Usai
136
S2 ~ Rencana Jahat
137
S2 ~ Rambut Brokoli
138
S2 ~ Gadis yang Bersinar
139
S2 ~ Bukti Mencurigakan
140
S2 ~ Pinky Promise
141
S2 ~ Wanita Paruh Baya
142
S2 ~ Dokter Patricia
143
S2 ~ Sejarah Kopi di Benua Eropa
144
S2 ~ Diabaikan
145
S2 ~ Kesal
146
S2 ~ Kopi Bubuk
147
S2 ~ Terbalaskan
148
S2 ~ Tenda Biru Tua
149
S2 ~ Your Grades Still Remain
150
S2 ~ Modus
151
S2 ~ Rayuan Lily
152
S2 ~ Menepati Janji
153
S2 ~ Hari Bahagia Bersamanya
154
S2 ~ Dibius
155
S2 ~ Satu Lagi Kepingan Puzzle
156
S2 ~ Rasa Takut
157
S2 ~ Kecurigaan
158
S2 ~ Titik Terang
159
S2 ~ Lily is a Witch
160
S2 ~ Sosok Yang Dirindukan
161
S2 ~ Saat Terakhir
162
S2~ New World
163
S2 ~ On The Way
164
S2 ~ My Prince (END)
165
Pengumuman
166
S3 ~ Flashback
167
S3 ~ Melepas Rindu
168
S3 ~ Berjalan-jalan
169
S3 ~ Sayang
170
S3 ~ Ken Mesum?
171
S3 ~ Ken Mesum? (2)
172
S3 ~ Sosok Lama
173
S3 ~ Flying Fish Channel
174
S3 ~ Gunung Es Mencair
175
S3 ~ Flashback Reyhan & Sabina
176
S3 ~ Breakfast Together
177
S3 ~ Lukisan
178
S3 ~ Remember
179
S3 ~ Firasat Buruk
180
S3 ~ The Secret
181
S3 ~ Ambyar
182
S3 ~ Tersedak
183
S3 ~ Keano Abian
184
S3 ~ Cincin dan Rindu
185
S3 ~ Aura Suram
186
S3 ~ Dua Kutub yang Berbeda
187
S3 ~ Pesan Singkat
188
S3 ~ Miranda
189
S3 ~ Jembatan Keledai
190
S3 ~ Benci Jadi Cinta?
191
S3 ~ Kutu Mati
192
S3 ~ Hari Terakhir
193
S3 ~ Ken's Story
194
S3 ~ Pertarungan Sengit
195
S3 ~ A Thousand Years
196
S3 ~ Mata Tidak Bersalah
197
S3 ~ CPR
198
S3 ~ Breathing
199
S3 ~ Salah Bicara
200
S3 ~ Pendekatan
201
S3 ~ Informasi Dari Reyhan
202
S3 ~ Kisah Baru
203
S3 ~ Teman Lama
204
S3 ~ Married?
205
S3 ~ Operan
206
S3 ~ Pesona Ruby
207
S2 ~ Cemburu?
208
S3 ~ Cemburu? (2)
209
S3 ~ Hitam Berenda
210
S3 ~ Kode
211
S3 ~ Poli Jantung
212
S3 ~ Don't Hate Me
213
S3 ~ Reuni
214
Pengumuman
215
S3 ~ Candelaria Bar
216
S3 ~ Candelaria Bar (2)
217
S3 ~ Truth or Dare
218
S3 ~ Pompa balon intra-aorta (IABP)
219
S3 ~ Kafetaria
220
S3 ~ Bus
221
S3 ~ Dua Lelaki
222
S3 ~ Tiga Lelaki
223
S3 ~ Cemburu Kecil
224
S2 ~ Siapakah wanita itu?
225
S3 ~ Red Velvet
226
S3 ~ Cemburu Lagi
227
S3 ~ Menuju Titik Terang
228
S3 ~ Titik Terang
229
S3 ~ Virus
230
S3 ~ Virus 2
231
S3 ~ Virus 3
232
S3 ~ Virus 4
233
S3 ~ Last Virus
234
Epilog
235
PENGUMUMAN
236
Bonus Chapter 1
237
Bonus Chapter 2
238
Bonus Chapter 3
239
Bonus Chapter 4
240
Bonus Chapter 5
241
Bonus Chapter 6
242
Bonus Chapter 7
243
END
244
PENGUMUMAN
245
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!