Setibanya di ruang kesehatan, aku diperiksa oleh dr. Novina, dokter yang sedang bertugas di ruang kesehatan hari ini.
"Dok, tolongin ini kaki teman saya keseleo dok!" seru Nina sambil membopongku.
"Oke, baringkan disini dulu biar saya periksa kakinya," pinta dr. Novina.
"Kyaaaaaaaaaa ...." Aku berteriak kaget merasakan rasa sakit yang berdenyut-denyut saat dr.Novina menyentuh kakiku.
"Iya ini kakinya bengkak. Kok bisa begini?" tanya dr. Novina.
"Dia habis atraksi dok, dan mendarat sempurna diatas kasur yang empuk (*kasur empuk\= Ken)," celetuk Nina.
"Dihh, Nina apa'an sih ...," gumamku.
"Hm ... yaudah saya beri kompres es dan obat anti nyeri dulu, kamu bisa istirahat saja disini. Nanti kalau sudah selesai di kompres, baru kakimu akan saya perban," ucap dr. Novina meletakkan kompres es dikakiku.
"Makasih ya dok," sahutku.
"Iya sama-sama. Kamu istirahat saja dulu disini, saya tinggal ke ruang guru sebentar," kata dr. Novina.
"Baik dok," sahutku lagi.
Akupun langsung meminum obat anti nyeri yang diberikan oleh dr. Novina kepadaku.
"Nin, makasih ya udah dianterin kesini, aku nggak tau lagi deh gimana jadinya tadi kalau aku masih ada di lapangan. Huh, kenapa sih aku bisa jatuh diatasnya Ken, dan kamu tahu nggak apa yang ku pegang tadi? Roti sobek! Roti sobek kotak-kotak Nin, Omaygaad ...," ucapku sambil teriak histeris.
"Udah jangan terlalu dipikirin, kan kamu juga nggak sengaja jatuhnya, sampe kakimu bengkak gini, pokoknya jangan cerita ke Anggita aja tentang roti sobek nya Ken barusan, bisa-bisa dia heboh sendiri hehehe." Nina tertawa sambil mengompres kakiku lagi dengan air es.
"Oh ya kamu istirahat aja gih! Aku mau ke toilet bentar nanti aku balik lagi kesini," sahut Nina.
"Oke Nin, makasih ya peri baikku," ucapku sambil tersenyum manis.
"Ih peri baik apa'an sih? Males deh," gerutu Nina.
"Hahaha iya deh iya, cepetan ke toilet dulu sana! Aku mau rebahan santuy dulu," ucapku seraya menata bantal.
"Haha dasar. Nanti kalau aku belum datang, dan kamu perlu apa-apa telfon aku aja ya!" sahut Nina.
"Oke siap," jawabku dengan senyuman.
Akhirnya hanya aku seorang diri yang tersisa di dalam ruangan ini. Walaupun terdapat beberapa tempat tidur kosong disini, tapi ruangan disini selalu sepi. "Tik... tik... tik..." suara dentuman detik jam terdengar jelas membuat mataku terasa berat. Kuletakkan kacamata tebalku di samping tempat tidur. Sayup-sayup kelopak mataku tak dapat kutahan lagi. Akupun mulai memejamkan mata dan tertidur.
Samar-samar kurasakan kalau aku mulai bermimpi. Mimpi yang sangat sering kualami, yakni dimana aku sedang berada di abad pertengahan sejarah Eropa, dan disitu selalu ada sosok pangeran yang kuyakini dia adalah tunanganku di dalam mimpiku. Ya, dia adalah Pangeran Hanz.
Aku melihat pangeran itu sedang menangis di tepian sungai. Dia tampak dipenuhi dengan kesedihan. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, tapi terlihat jelas kalau dia sangat merasa kehilangan. Dengan wajah yang tertunduk lesu dan berlinang air mata, pangeran itu pun bangkit dan berjalan meninggalkan tepian sungai, diikuti dengan beberapa pengawal dibelakangnya. Entah mengapa dadaku pun terasa sakit sekali melihat pangeran yang seperti itu, dipenuhi dengan kesedihan. Sampai tak sadar aku pun ikut meneteskan air mata.
Terakhir aku bermimpi tentangnya, aku melihat dia tersenyum dengan penuh rasa bahagia saat melihatku, tapi sekarang apa yang membuatnya begitu sedih? Apa maksud semua ini? Kenapa dadaku rasanya sakit sekali? Tiba-tiba semua bayangan itu sedikit demi sedikit mulai menghilang, dan akupun terbangun dari mimpiku.
Saat aku tersadar
Kembali ke kenyataan sebelumnya dimana aku masih terbaring di ruang kesehatan. Saat aku membuka mata, samar-samar kulihat ada seseorang yang sedang berdiri tepat disamping tempat tidurku. Apakah itu Nina? Kenapa Nina kembali begitu cepat? Aku tak bisa melihatnya dengan begitu jelas karena saat sebelum tidur aku sengaja melepaskan kacamataku.
Akupun meraih kacamata tebalku di samping tempat tidur dan langsung memakainya. Tak disangka, ternyata yang sedang berdiri disamping tempat tidurku sekarang adalah Ken. Hah? Kenapa dia ada disini? Aku tidak sanggup melihat wajahnya sekarang karena terlanjur malu dengan kejadian tadi saat aku terjatuh tepat diatas tubuh Ken.
"Ke.. ke.. napa kamu disini?" tanyaku dengan terbata-bata.
"Hm jadi beneran, kamu si bebek itu?" ucap Ken yang enggan menjawab pertanyaanku. (*bebek ada di chapter pertama).
"Apa maksudmu?" tanyaku balik.
"Bebek yang mandi di sungai, katamu saat wajahmu penuh dengan lumpur. Sekaligus orang yang ngasih surat nggak jelas, iya kan?" Ken menyilangkan tangannya dan terus menatapku.
"Hm, iya ... iya ... aku yang ngasih kamu surat itu, kamu nggak perlu minta maaf kok aku udah maafin kamu," jawabku spontan mengingat dia adalah seseorang yang tidak bisa kusinggung seenaknya.
Ken terdiam dan hanya mengangkat sebelah alisnya dengan wajah yang dingin seperti biasanya.
"Terus ngapain kamu ada disini?" tanyaku.
"Bukan urusanmu, lebih baik kamu urus dirimu sendiri. Si aneh yang tidur sambil nangis, kayak anak kecil aja," jawab Ken dengan nada sedikit menyindir.
Akupun hanya terdiam dan baru tersadar, apakah Ken sudah disini sejak tadi? Saat aku bermimpi dan melihat pangeran di mimpiku begitu sedih, apakah aku jadi ikut menangis saat tertidur? Dan apakah Ken sudah ada disini melihatku sedari tadi? Mengapa juga dia begitu kesal melihatku menangis. Dan yang lebih anehnya lagi mengapa dia ada disini? Bukankah katanya dia tidak pernah mau bicara dengan gadis-gadis di sekolah ini? Apa dia sekarang sedang peduli? Begitu banyak pertanyaan di otakku sehingga membuat aku tak sadar bahwa aku sedang melamun saat masih ada Ken di sampingku.
"Kamu bodoh ya?" sahut Ken dengan wajah datar melihat aku terbengong saat dia sedang bicara.
"Ah, maaf ... masak sih aku tadi nangis? Kayaknya aku mimpi ditagih hutang sama Anggita deh, jadinya aku nangis gitu hehe". jawabku spontan dengan tidak masuk akal.
Duh apa sih yang kubilang barusan, nggak ada apa jawaban yang lebih konyol lagi?
"Hmm.. dasar bodoh, mendingan kamu tidur aja daripada ngomong gak jelas!" sahut Ken dan langsung pergi begitu saja.
Apaan sih? Nyebelin banget! Apa semua orang jenius gitu ya ngatain orang bodoh seenaknya? Sabar.. sabar.. Ruby.. kamu nggak boleh buat masalah dengan dia, dia bukan orang sembarangan yang bisa disinggung seenaknya. Bisa-bisa aku dikeluarin dari sekolah kalau berurusan sama dia. Sabar ini hanya ujian.
Tak lama berselang Nina, Anggita, dan Sabina pun datang dengan membawa sekotak makanan.
"Ruby, maaf ya aku tadi belikan makanan dulu buat kamu, jadi agak lama. Kamu kok udah bangun sih?" tanya Nina.
"Ruby ... gimana keadaanmu? Udah mendingan kan? Aku khawatir tau." Anggita berlari dan memelukku.
"Hei ... hei ... jangan lebay gitu ah, bukannya kamu tadi malah lebih khawatir sama badan Ken yang tertimpa Ruby ya?" sahut Sabina.
"Hahaha dasar kalian ini, makasih ya kalian udah ada peduli sama aku," jawabku dengan senyuman.
"Hmm iya yang penting sekarang kamu udah nggak papa," sahut Nina.
"Oh ya kamu tau nggak Ruby, tadi di lapangan saat kamu baru aja pergi ada kejadian heboh. Jadi gini, nggak lama saat Ken abis jatuh, Luna kan langsung nyamperin Ken maksudnya sengaja mau bantuin gitu. Eh, tapi Ken malah marah dan pergi gitu aja ninggalin Luna. Kayaknya rumor yang bilang Ken nggak suka bersentuhan sama cewek disekolah ini itu bener deh." Anggita bercerita dengan menggebu-gebu.
"Hah masak sih? Terus ... terus ...?" Aku masih bertanya karena penasaran.
"Iya, terus Luna ya marah sejadi-jadinya lah, walaupun wataknya si Luna nyebelin gitu, tapi dia juga bukan orang sembarangan yang bisa dianggap remeh karena orang tuanya kan juga donatur terbesar nomer tiga di sekolah ini, jadi dari kecil dia udah terbiasa dimanja dan apa yang dia mau dengan cara apapun pasti mudah buat dia, apalagi dia cantik dan banyak cowok yang naksir, pastinya dia semakin percaya diri dan tetep bakal ngejar si Ken sampai dapat dong, iya nggak?" sahut Sabina.
"Eh tapi tadi saat Ruby jatuh diatas tubuhnya Ken kok Ken nggak marah ya?" Anggita mengingat kembali kejadian tadi.
"Hm ... mungkin karena Ruby kan nggak sengaja jatuhnya, dan kakinya sampe bengkak gini masa Ken tega marahin Ruby, ya nggak sih?" ucap Nina sambil membuka kotak makan yang dibawa untukku.
"Haha iya, aku juga nggak mau lah jatuh kayak gini, sakit tau!" jawabku dengan wajah memelas.
"Udah, kamu makan aja dulu nih, dari tadi belum makan gitu," sahut Nina.
"Oke makasih ya ibu peri," jawabku sambil mulai memakan makanan yang diberikan Nina.
Setelah mendengar cerita Anggita, aku langsung teringat saat kulihat banyak tatapan mata gadis-gadis di lapangan yang tergila-gila oleh Ken, mereka menatapku dengan tajam seolah ingin menerkamku saat aku tak sengaja terjatuh dan menyentuh cowok kesayangan mereka.
Menakutkan!
Rasanya seperti aku menjadi seekor kelinci yang dikelilingi oleh macan-macan betina yang sedang kelaparan.
Pokoknya sekarang aku nggak boleh berurusan sama Ken lagi, sebelum aku habis dimakan oleh macan-macan betina itu, apalagi si Luna.
Tak berselang lama dr. Novina pun datang dan membalutkan perban di kakiku.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Sahril Banong Potabuga Lasene
ruby lembek nga ada keahlian kyk pintr bela diri juga licik jdi nga ada yg bisa nyakiti ruby
2022-01-24
1
Nofiayu Puspitasari
suka
2022-01-04
0
Eliyana Mustikarini
q dkung trus thor... 👍👍
2021-11-14
1