Wushh-wussh!
Suara hembusan angin kencang saat aku mengayuh sepeda seakan menjadi iringan yang mengantarku sampai di depan pintu gerbang sekolah.
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi murid pindahan di 'Wisley International School ', sekolah SMA terfavorit di Kota X tempat aku baru saja pindah dan juga sekolah yang terkenal akan kekayaan dan prestasi murid-muridnya. Ayahku memang hanya seorang pekerja kantoran biasa, dan ibuku hanya bekerja di toko kue sederhana warisan keluarga turun temurun. Tetapi karena aku lumayan giat belajar, akupun berhasil mendapatkan beasiswa untuk bisa masuk dan melanjutkan di sekolah elite ini.
Dengan wajah kotor yang penuh dengan lumpur dan jaket yang sedikit basah, aku pun bergegas masuk dan lekas memakirkan sepeda berwarna pink kesayanganku. Semua mata pun tertuju kepadaku, bukan mata yang biasa melihatku karena kecantikanku melainkan mata yang melihatku karena aku tampak aneh dan kotor. Jelas saja, karena wajahku sekarang sedang tertutup dengan lumpur. Aku pun langsung bergegas mencari denah kamar kecil di sekolah itu untuk segera membersihkan wajahku.
Ini pertama kalinya bagiku, mendapat tatapan dari orang-orang disekitar yang melihatku penuh dengan rasa jijik dan memprihatinkan. Dahulu di sekolah lamaku aku adalah seorang dewi yang dihormati karena penampilanku. Memang sungguh tidak adil dunia ini. Dimana yang cantik dipuja-puja dan yang jelek dihina-hina.
Akhirnya aku pun tidak dapat membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang modus. Bukankah percuma jika hanya luarnya saja yang nampak seperti batu kristal namun di dalamnya hanya berisi terumbu karang? Yah, walaupun sudah sebaik apapun kita pasti tetap ada yang membalas sebaliknya, namun bukankah lebih baik terlanjur berbuat baik pada seseorang yang tidak layak mendapat perlakuan baik, dibanding terlanjur berbuat buruk terhadap seseorang yang tidak layak mendapat perlakuan buruk.
Tetapi walaupun begitu, aku tetap ingin menemukan mana yang benar-benar menyayangiku sebagai seorang sahabat, dan mana yang benar-benar menyayangiku sebagai seorang kekasih. Tiba-tiba munculah sebuah ide yang absurd di dalam benakku.
Jeng-Jeng!
Akupun membulatkan tekad untuk melakukan 'Penyamaran'. Dengan berdiri didepan kaca yang ada di toilet sekolah elite itu, aku mengambil make up pouch yang sengaja kubawa di tas ranselku. Kuambil pensil alis berwarna coklat natural yang ada di dalamnya untuk membuat freeckless di daerah hidung dan bawah mataku. Kini aku melukis wajahmu dengan penuh percaya diri.
Tak lupa juga kuambil kacamata tebal yang khusus kugunakan untuk membaca buku di rumah, karena aku selalu memakai lensa kontak jika keluar rumah. Aku pun akhirnya memutuskan untuk memakai kacamata tebal itu dan melepaskan lensa kontak yang sekarang terpasang di mataku. Yah, kurasa kacamata tebal dan freeckles ini sudah cukup untuk menutupi wajahku.
Mulai sekarang aku harus mengingat bahwa aku bukanlah lagi si cantik Ruby hehehe.
Aku bergumam sendiri sambil tertawa di depan cermin besar itu. Selesai melakukan penyamaran, aku pun bergegas ke ruang guru dan bertemu dengan Bu Enny, guru yang akan menjadi walikelasku di kelas 2-B. Sekilas jika dilihat-lihat Bu Enny tampak ramah dan bijaksana, beliau menungguku di ruang guru dan mau menerima penjelasanku mengapa bisa datang sedikit terlambat menemuinya di ruang guru.
Saat di dalam kelas (dalam penyamaran)
Bu Enny membuka pintu kelas. Suara hiruk pikuk bergemuruh dari murid-murid di dalam kelas tiba-tiba menjadi hening. Aku mulai masuk ke dalam ruangan kelas itu. Kulihat satu persatu tatapan dari murid-murid yang berada di dalam kelas itu menatap ku dengan begitu dingin, bahkan ada yang memiringkan alisnya seakan mengolok penampilanku. Sungguh berbeda jauh seperti saat aku biasanya masuk ke dalam kelas di sekolah lamaku dulu. Bukankan ini artinya penyamaranku berhasil?
"Ruby silahkan perkenalan diri didepan kelas!" pinta Bu Enny.
"Baik nama saya Rubina Putri Mauza biasa dipanggil Ruby, saya adalah murid pindahan dari SMA Harapan Bangsa, saya harap kita semua bisa berteman baik dan dapat mengikuti pelajaran bersama." Aku berdiri dan tersenyum ramah di depan murid-murid.
"Ya sudah Ruby kamu silahkan duduk di bangku kosong disebelah sana ya!" sahut Bu Enny sambil menunjuk bangku kosong urutan ketiga dari belakang.
"Baik Bu ...," jawabku sambil sedikit menganggukkan kepala.
Aku pun berjalan kearah bangku yang ditujukan untukku, tiba-tiba mataku terfokus pada murid laki-laki yang duduk tepat dibelakang mejaku. Wajah yang nampak tak asing bagiku dan pernah kulihat sebelumnya.
Loh itukan cowok yang bikin aku kecipratan air lumpur tadi pagi, kok dia bisa disini sih, duduk di belakang mejaku pula, sialan!
Mata kami pun bertemu, cowok itu melihatku dengan tatapan yang aneh sambil mengangkat sebelah alisnya, seolah dia juga mengenaliku.
Ah! Tidak mungkin kan dia bisa mengenaliku? Karena saat bertemu sebelumnya wajahku dipenuhi dengan lumpur, dan sekarang aku pun sedang menyamar.
Aku tetap berjalan mendekatinya, lebih tepatnya mendekati bangku yang ada di depannya. Kutundukan pandanganku seolah takut penyamaranku akan diketahui olehnya.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, komen dan vote..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Lingga Lingga
smnggttttt
2023-01-15
0
Anie Juliana
seru nih😁
2022-11-03
0
Mat Grobak
lanjutkan penyamaran
2022-05-26
0