"Haduuuh Ruby, kamu tuh ya, selalu aja ceroboh. Kenapa kakimu bisa sampe begini sih? Kamu emangnya main voli pake gaya apa kok bisa sampe nyeruduk anak orang? Tuman!" celoteh Ibuku.
"Hmm Ibuuu ... aku kan nggak sengaja, tadi saking semangat mainnya jadi gini," gumamku sambil menyantap sup ikan yang dibuat oleh Ibu.
"Paling gara-gara kamu main voly pake kacamata tebel gitu sih jadi nggak fokus! Lagian ngapain sih kamu pake acara nyamar segala, emangnya kamu mau jadi intel? pake bintik-bintik dibawah mata (freeckles), pake kacamata tebel, rambut dicepol udah kayak nenek-nenek. Awas kamu ya kalau terus-terusan bikin ulah!" gerutu Ibuku lagi.
"Iya ... iya Ibu ... ini udah mendingan kok, nggak seberapa sakit, palingan besok juga udah sembuh," jawabku.
"Terus gimana nasib anak yang kamu seruduk itu? dia nggak pingsan kan ketiban pohon nangka kayak kamu?" gumam Ibuku lagi.
"Ihh ... Ibu apa'an sih, kok bisa dibilang pohon nangka? Ruby langsing giniloh," ocehku.
"Ya udah cepet habisin makanannya, jangan lupa diminum obatnya! Habis ini Ibu mau ke Toko Kue dulu," lanjut Ibu sambil bersiap keluar rumah.
Ya, kami memang punya usaha Toko Kue sederhana yang sudah dibuka sejak aku masih kecil. Dan akupun biasanya sehabis pulang sekolah ikut membantu Ibu di Toko Kue itu.
"Oh ya, besok kamu bawa aja kue dari toko kita buat anak yang habis kamu seruduk itu. Sekalian kamu minta maaf yang bener!" ucap Ibuku secara tiba-tiba.
"Siap kanjeng mami ... maafin Ruby ya hari ini nggak bisa ikut bantu jaga Toko Kue seperti biasanya," ucapku dengan wajah lesu.
Keesokan harinya di dalam kelas
Akhirnya kakiku sudah tak terasa lagi nyerinya dan perban yang terbalut di kakiku sudah bisa dilepas. Aku pun tak lupa membawa sekotak kue rasa Tiramisu yang khusus dipanggang ibu untuk diberikan pada Ken sebagai tanda permintaan maaf. Di atas kotak kue itu juga sengaja kusisipkan secarik kertas kecil berwarna pink. "Maaf ya.." tulisan yang ada di kertas itu.
Sebenarnya aku sudah bertekad untuk tidak berurusan lagi dengan Ken, tapi ini semua karena ibu yang memintanya, dan kuanggap permintaan maaf ini untuk yang terakhir kalinya aku berurusan dengannya.
Tak berselang lama Ken pun datang dan langsung duduk di bangkunya tepat di belakang mejaku. Aku yang sudah menunggunya datang dari tadi pun mencoba memberanikan diri menoleh ke belakang dan langsung memberikan sekotak kue Tiramisu itu.
"Ini, buat kamu sebagai tanda permintaan maaf kemarin udah buat kamu jatuh. Udah jatuh tertimpa aku lagi," ucapku.
"Maaf ya ...," sahutku lagi sambil menundukkan kepala.
Ken hanya terdiam. Tiba-tiba ada dua orang murid perempuan datang menghampiri, namanya adalah Mona dan Sinta. Mereka adalah teman sekelas sekaligus salah seorang murid di sekolah yang tergila-gila dengan Ken.
"Apa'an itu yang kamu kasih ke Ken?" sahut Mona dengan wajah sinis.
"Ini kue buatan Ibuku dari toko kami sebagai tanda permintaan maaf," jawabku.
"Ya ampun Ruby kamu tuh nggak tau ya kalau Ken mana mungkin mau makan kue murahan kayak gini," celetuk Mona dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Iya nih, kok nggak sadar diri banget. Udah jelek, wajahnya bintikan, berani-beraninya ngasih kue ke Ken. Kita yang sering ngasih kue buatan chef di rumah kita aja nggak pernah disentuh Ken sama sekali, apalagi kue murahanmu yang cuman bisa dibuat ibumu ini," ucap Sinta dengan tertawa kecil seolah mengejek.
"Iya Ken jangan dimakan, sini aku buangin di tempat sampah! Kamu pasti nggak level sama kue murahan kayak gini kan," sahut Mona yang berbicara pada Ken dengan nada menggoda.
"Heh kalian berdua kalau ngomong dijaga ya, kalian boleh bilang aku jelek, tapi jangan pernah hina kue bikinan Ibuku! Gimana bisa kalian bandingin Ibuku sama chef kalian? Lebih baik satu Ibuku daripada beribu chef di rumahmu, tau? Kalau bukan Ibuku yang nyuruh aku ngasih kue ini buat permintaan maaf, aku juga nggak mungkin ngasih kue yang berharga ini buat Ken." Aku mulai geram mendengar hinaan yang mereka lontarkan.
Tak lama secara mengejutkan, Ken langsung membuka kotak kue yang kuberi dan langsung memakannya. Ken menikmati satu persatu bagian kue itu. Perpaduan tekstur kue yang lembut dengan rasa kopi dan keju yang kuat seakan membuat Ken terbangun untuk merasakannya. Sama seperti arti dari kue itu sendiri, Tirami Su yang bisa diartikan Pick Me Up (bangunkan aku).
"Makasih, kuenya enak," ucap Ken dengan nada datar.
Sontak seluruh murid yang ada di kelas pun terkaget, terutama Mona dan Sinta. Bagaimana tidak? Dimana setiap ada gadis-gadis di sekolah ini yang memberikan suatu hadiah berupa barang ataupun makanan, Ken tidak pernah mau menyentuhnya, tapi sekarang Ken malah memakannya dan menghabiskan kue itu sampai tak bersisa dihadapan yang lainnya.
"I.. i..ya.. sama-sama," ucapku terbata-bata karena masih terkejut dengan sikap Ken.
Dia lapar apa doyan sih? Kok gitu amat makannya.
Tiba-tiba suara bel masuk berbunyi, para murid pun kembali duduk pada bangkunya masing-masing. Mereka menunggu kedatangan Bu Enny di dalam kelas. Tidak sedikit yang masih menggunjingkan kejadian barusan, mereka berbisik-bisik sambil melihat ke arahku dan tersenyum kecut. Entah apa yang mereka pikirkan dengan tatapan mengejek dan senyuman kecut itu. Tak hanya sampai disitu kabar menghebohkan tentang Ken yang mau menerima kue dariku pun sontak langsung tersebar di seluruh sekolah, dan terdengar juga oleh Luna si gadis tercantik di sekolah.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote, dan komen..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Yusneli Usman
Hai....Thor aku mampir.... kayaknya bagus ni.....🙏🙏😍😍
2022-04-10
0
Yuliana Nasbi
bagus ken
2021-08-18
0
Koket Ayu
membopong itu menggendong.
memapah mungkin ...
2021-07-23
0