Akupun cemberut, seperti ada sesuatu yang menusuk saat Ken menatapku dengan sinis. Baru kemarin aku melihat senyumannya yang begitu indah seakan membuat terbuai siapapun yang melihatnya, tetapi sekarang hanya wajah ketus, dingin, dan ucapan menohok yang sedang bergelora di dalam dirinya. Entah apa yang sudah kulakukan hingga membuatnya begitu marah. Sungguh sulit untuk memahami apa yang ada di pikirannya saat ini.
Kini tugas kelompok yang diberikan Bu Enny telah usai, kami kembali ke tempat duduk masing-masing dan menunggu pergantian jam berikutnya. Karena merasa bosan aku hanya berdiam dan menidurkan kepalaku diatas meja sambil berimajinasi dan mencoret-coret bagian belakang buku tulisku.
"Don't hate you,
No, I couldn't if I wanted to
I just hatIe all the hurt that you put me through
And that I blame myself for letting you
Did you know I already knew..?"
Aku bersenandung pelan, terdengar halus dan merdu. Membuat siapa saja yang mendengar senandungku tanpa sadar menoleh kearahku, karena aku dari kecil memang sudah pandai dan menyukai seni seperti bernyanyi dan melukis.
"Couldn't even see you through the smoke
Lookin' back, I probably should have known
But I just wanted to believe that you were out sleepin' alone.."
Aku masih asyik bernyanyi, tanpa menyadari bahwa dari tadi Ken sudah kembali dari kamar mandi dan sedang mendengarkan nyanyianku dari tempat duduknya di belakangku.
"Love me with your worst intentions
Didn't even stop to question
Every time you burned me down
Don't know how, for a moment it felt like heaven.."
Aku mengakhiri nyanyianku karena mataku terasa berat dan tanpa sadar aku pun mulai tertidur. Aku sungguh tak dapat melawan rasa kantukku sekarang karena mungkin semalam aku tidak dapat tidur dengan nyenyak karena banyak pikiran yang menggangguku.
5 menit kemudian.
"Ctuuuukkk"
Suara tutup bolpoin melayang di kepalaku. Ternyata yang melempar tutup bolpoin itu adalah Bu Lina, guru Kimia killer yang sudah berdiri di depan kelas dan sedang melihatku asyik tertidur sejak tadi.
"Enak ya tidurnya Ruby?" ucap Bu Lina.
"Ah, maaf Bu saya tidak tahu kalau Ibu sudah datang," jawabku.
"Awas jangan diulang lagi! Ya udah cepat buka buku kalian halaman 62, kerjakan latihan soal!" perintah Bu Lina padaku dan murid-murid yang lainnya.
"Aduh memalukan sekali sih, lagi-lagi aku membuat ulah," gumamku dalam hati.
Satu jam kemudian.
Jam istirahat pun tiba. Sebagian besar murid bergegas keluar kelas dan tentu saja mereka akan ke kantin. Termasuk aku, Nina, Anggita dan Sabina. Sesampainya di kantin aku hanya membeli minuman jeruk hangat karena entah mengapa nafsu untuk makan ku menghilang.
"Ruby, maaf ya tadi aku udah coba bangunin kamu waktu ketiduran di kelas, tapi kamu nggak bangun juga," sahut Nina secara tiba-tiba.
"Ah nggak papa Nin, lagian aku juga yang salah nggak sadar kalau Bu Lina udah dateng," ucapku sambil menyeruput minuman jeruk hangat yang sudah ku pesan.
"Oh ya Ruby hubungan kamu sama Ken emang deket banget ya? Kemarin waktu kamu pingsan di kolam, dia kelihatan panik banget dan dia langsung gendong kamu loh, kami semua sampai nggak percaya kalau itu beneran Ken," celetuk Nina.
"Eh, enggak kok, kami nggak deket banget, kami cuman temenan biasa, buktinya tadi dia juga marah saat aku mintain tolong ajarin matematika, padahal aku banguninnya cuman toel-toel lengannya doang, enggak sakit! Emangnya aku kuman apa? Dia sampe segitu marahnya, huft!" omelku sambil memanyunkan bibir.
"Berarti dia emang nggak suka bersentuhan sama cewek dong ya, kemarin saat dipegang sama Luna juga gitu, dia juga marah banget," ucap Anggita.
"Kalian ngomongin aku?" terdengar sahutan Luna dari belakang yang sedang berdiri bersama dua orang temannya, Maya dan Shinta. "Oh jadi ini yang namanya Ruby si anak udik yang berani-beraninya godain Ken, iya?" timpa Luna lagi sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Apa sih maksudmu? Ruby nggak pernah godain Ken tau!" balas Anggita.
"Oh ya, lihat aja tampangnya yang udik, jelek, gitu gimana bisa Ken kemarin mau nyentuh cewek jijay kayak dia kalau bukan dia yang godain?" celetuk Maya.
"Atau jangan-jangan si udik ini main pelet kali ya?" sahut Shinta sambil tertawa bersama teman-temannya.
"Hey, hey, kalian ini kalau ngomong jangan sembarangan ya," bela Sabina.
"Udah, udah bin, biarin! Aku lagi males debat sama mereka," sahutku.
"Heh, Ruby kamu jangan kebanyakan gaya! Lihat tampang mu yang jelek itu, jangan sok kecakepan apalagi kecentilan deh di hadapan Ken! Punya kaca nggak kamu dirumah? Kamu itu nggak pantes, karena Ken pantesnya cuman sama Luna, cewek tercantik di sekolah ini," ucap Maya.
"Iya, iya, ambil aja deh, lagian aku juga nggak suka sama Ken kok, dan berita baiknya lagi, kita nggak ada hubungan apa-apa seperti yang ada di pikiranmu!" jawabku dengan nada cuek.
"Bagus deh kalau kamu sadar diri juga, lagian walaupun kamu suka sama Ken, emangnya Ken juga bakalan mau sama kamu? Hahaha, udah jelek, udik, cupu, miskin lagi," celetuk Maya dengan berbagai hinaan yang dia lontarkan padaku.
"Hey, aku bisa sabar ya kalau yang kalian ributin cuman karena takut aku godain Ken, karena aku sama sekali nggak ada niat buat godain dia! Tapi kalian harus tau, aku lebih milih punya wajah yang jelek seperti yang kalian bilang, dari pada punya mulut dan kelakuan yang jelek kayak kalian! Bad attitude is more disgusting ngerti nggak?" jawabku dengan menahan emosi.
"Byuuuurrrr"
Suara air minum yang sengaja ditumpahkan Luna di wajahku. "Berani kamu ya bicara seperti itu?" ucapan Luna lirih seolah sedang mengancam.
"Haha syukurin, lagian belagu banget sih jadi orang, kamu pikir kamu lebih baik dari kami gitu? Sekarang lihat deh, laki-laki disini mana ada yang mau sama cewek udik kayak kamu jika dibandingin sama Luna yang cantik, body goals pula," celetuk Maya dengan sedikit senyuman kecut di bibirnya.
Aku pun hanya terdiam, karena yang dikatakan Maya barusan juga tidak sepenuhnya salah. Semua cowok disini pasti akan memilih Luna jika dibandingkan dengan aku yang saat ini sedang berpenampilan biasa-biasa saja.
"Siapa bilang? Aku lebih suka sama Ruby kok!" terdengar sahutan suara laki-laki dari belakang. Dia adalah Reyhan yang sedang duduk menyantap makanannya di meja dari kejauhan. Sepertinya dia merasa terganggu dan sudah memperhatikan kami sejak tadi.
Dia pun mulai berjalan mendekat, semua mata pun sontak melihat kami dan terkejut dengan pernyataan Reyhan.
"Kalian pikir body shaming itu keren ya? Sudah sana pergi, cewek kayak kalian malah bikin muak tau nggak?" timpal Reyhan.
"Apaan sih ikut campur aja, ayo gaes kita pergi!" ucap Luna.
Seketika terdengar bisikan suara dari murid-murid lainnya yang sedang menyaksikan kejadian barusan di kantin.
"Lihat deh, Reyhan belain si Ruby tuh!"
"Wah cool banget sih cowok kayak gitu,"
"Dia ketua kelas gue tau!"
Reyhan memang cukup populer di sekolah, walaupun tidak lebih populer dari Ken, tetapi dia memiliki daya tarik dan kharisma tersendiri sebagai ketua kelas yang dikenal ramah, baik, tampan dan suka menolong teman-teman yang lainnya. Siapa gadis yang tidak menyukai tipe lelaki yang lembut, perhatian, dan baik seperti Reyhan? Walaupun banyak juga gadis yang lebih menyukai lelaki yang dingin dan cuek seperti Ken karena menurut mereka lelaki seperti itu lebih menggoda.
***
Body shaming adalah tindakan mengejek atau berkomentar negatif terhadap keadaan fisik atau tubuh seseorang.
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, komen, dan vote..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Suharti Suharti
hahaha. ,iya tooorr
2022-05-11
0
Desi Ratna
next
2022-01-17
0
❃ᵐᵘᵗᶦᵃʳᵃ•ᵇᶦˡⓠᶦˢ𖤓꙰?
reyan urutan ke2 itu y thor
2021-02-24
1