Keesokan harinya di dalam kelas
Akhirnya kuputuskan untuk mengembalikan uang kompensasi yang kudapat dari Ken melalui sepucuk surat yang sudah kusiapkan dari rumah. Aku juga sengaja berangkat pagi-pagi sekali sebelum yang lainnya datang supaya tidak ada yang tahu kalau aku menaruh surat di meja Ken. Sebenarnya aku pun ragu apakah Ken masih ingat, ataukah sudah melupakan gadis yang terkena lumpur oleh mobilnya kemarin. Tetapi walaupun begitu, aku tetap tidak ingin terus-terusan membawa uang kompensasi milik Ken ini.
Didalam surat itu, sengaja kusisipkan beberapa kata mutiara yang khusus kutulis untuknya.
"Aku tidak butuh uang kompensasi dari kamu dasar cowok angkuh, nyebelin, dan jelek!"
Itu isi suratnya. Sebelum ada yang datang melihat, akupun menaruh surat itu dimejanya. Tak lama kemudian tiba-tiba kulihat Sabina datang dengan seorang laki-laki, dia adalah Rio pacarnya, teman sekelas kita juga.
"Hai Ruby, rajin amat datangnya pagi-pagi gini." Sabina duduk dan meletakkan tasnya.
"Haha iya nih, takut telat lagi bin," jawabku.
"Loh apa'an itu di mejanya si Ken?" Rio celingukan sambil menunjuk surat diatas meja Ken.
"Gak tau deh, sebelum aku datang udah ada disitu kok," jawabku dengan spontan mengikuti naluri menyelamatkan diri yang kuat.
Murid-murid lainnya pun mulai berdatangan dan masuk ke dalam kelas termasuk Ken yang sudah datang bersama golongannya yaitu Anton, Roy, dan Virgo.
"Apa'an tuuh? Kayaknya Ken dapet surat cinta lagi nih," ucap Anton teman sebangku Ken.
"Yang Mulia Ken, seperti biasa karena kamu gak bakalan mau baca suratnya, biar aku aja yang baca ya!" celetuk Anton.
"Terserah." Ken hanya langsung duduk dan meletakkan tasnya tanpa menghiraukan surat itu.
Anton pun mulai membaca isi surat itu dengan lantang di depan kelas.
"Aku tidak butuh uang kompensasi dari kamu dasar cowok angkuh, nyebelin, dan jelek!"
Sontak semua murid yang sudah berada di dalam kelas pun kaget termasuk Sabina, Anggita, dan Nina.
"Kompensasi apa'an nih? Kamu nggak hamilin anak orang kan Ken?" tanya Anton.
"Gila lu ya...," jawab Ken dengan nada dingin.
"Hahaha, beneran nggak nyangka deh gue. Yang Mulia Ken yang biasanya dapat surat cinta dari gadis-gadis, akhirnya sekarang dapat surat kutukan juga." Anton tertawa terbahak-bahak sambil mengejek Ken.
"Bisa diem nggak?!" jawab Ken masih dengan nada dingin.
Aku pun berpura-pura dan berakting tidak mengetahui apapun. Tampak semua yang berada di dalam kelas masih sedikit terkejut dan mulai melepaskan pandangan dari surat itu. Tanpa kusadari tiba-tiba mataku berpapasan dengan mata Ken yang sedang menatapku dengan tatapan yang sangat dingin seolah tubuhku dihujani oleh balok es.
Menakutkan!
Oh tidak, apa dia sudah mengetahui kalau yang menaruh surat itu adalah aku?
Jam pelajaran akhirnya dimulai. Semua murid duduk di tempatnya masing-masing dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Tak terasa waktu berlalu begitu saja hingga bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa aku bersama dengan Nina dan yang lainnya menuju ke kantin untuk makan siang bersama.
"Gila ya gaes siapa ya yang berani nulis surat kayak gitu tadi?" celetuk Anggita secara tiba-tiba.
"Iya ini pertama kalinya sih ada yang berani ngomong kayak gitu ke Ken. Siapa ya? Takutnya bisa-bisa kalau ketahuan dia dibully sama penggemar fanatiknya si Ken, secara sebagian besar murid cewek di sekolah ini kan fans girls nya Ken," sahut Nina.
Glek!
Tenggorokanku pun terasa berat untuk menelan salivaku sendiri.
"Iya siapa ya? Aku juga penasaran." Aku menjawab dengan sedikit senyuman palsu.
Waduh gimana nih kalau aku sampai ketahuan? Kok jadi runyam begini sih!
"Eh tapi kalian kan termasuk penggemarnya Ken juga?" sahutku.
"Iya memang, tapi kami kan penggemarnya Ken yang cinta damai dan anti rusuh rusuh club hehe." Anggita menjawab dengan cengir di bibirnya.
Setelah jam istirahat berakhir, tibalah jam pelajaran berikutnya yaitu pelajaran olahraga.
Di lapangan olahraga
Setelah berganti pakaian olahraga, kami pun bersama-sama menuju ke lapangan. Sarana dan prasarana di sekolah ini terbilang cukup lengkap dan mewah. Terdapat lapangan basket yang cukup luas, kolam renang, cafetaria, perpustakaan yang sangat bersih dan rapi, taman dll. Bagaimana tidak, karena memang di sekolah ini pun telah memiliki beberapa donatur tetap salah satunya adalah orang tua Ken, yang terkenal memiliki usaha bisnis yang sudah tersebar dimana-mana. Aku seharusnya dari awal tidak boleh mencari masalah dengannya, apalagi sampai menyinggungnya seperti tadi pagi. Memang dimana-mana penyesalan datangnya selalu terlambat, karena kalau di awal namanya pendaftaran.
Pelajaran olahraga kali ini akan dibimbing oleh Pak Dhimas selaku guru olahraga kami.
"Baik anak-anak, olahraga kali ini kita akan bermain Voli. Permainan akan dimainkan oleh 2 tim, yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain yang akan berlomba mencapai angka 25 terlebih dahulu. Bapak akan langsung bagi tim untuk kalian. Untuk tim A adalah Anton, Ruby, Sabina, Ken, Anggita, dan Rio. Untuk tim B adalah bla, bla, bla.." ucap pak Dhimas.
Hah apa? Aku satu tim sama Ken? Gila sumpah!
Kami akhirnya memasuki lapangan dan bersiap untuk memulai permainan. Selama menit pertama jalannya permainan, kami sudah bermain cukup baik. Hingga saat dimana aku akan melakukan block bersama Ken didekat net, tiba-tiba kakiku tergelincir dan jatuh ke arah Ken.
"Oh, tidak!" teriakku lirih.
.
.
.
.
.
.
Bruuuaaakkkkk!
Suara tubuhku yang jatuh menimpa tubuh Ken. Tubuhku sekarang tepat berada diatas tubuhnya yang sedang terbaring di lantai. Aku pun tidak dapat mengalihkan pandangan ku dari wajahnya yang semakin terlihat jelas ketampanannya jika dilihat sedekat ini. Alis yang tebal, bibir yang berwarna merah muda alami, hidung mancung proposional, dan bulu mata yang lentik, seakan membuat berdebar siapapun yang melihatnya.
Walaupun terhalang oleh kacamata tebal yang kupakai, tanpa kusadari ternyata wajah Ken semakin dilihat dari dekat, semakin mirip dengan pangeran yang ada di mimpiku itu. Ah tidak mungkin! Sepertinya aku masih belum bisa percaya. Bagaimana bisa? Atau apakah karena mereka berdua sama-sama lelaki tampan jadi terlihat mirip.
Parahnya lagi, aku tak sadar jika tanganku saat ini sedang menyentuh bagian dada Ken, aku bisa merasakan setiap ritme detak jantungnya dan juga lekukan roti sobek miliknya. Kenapa roti sobek ini terasa nyata sekali ditanganku. Aku pun mematung diatas tubuh Ken tanpa bergerak sedikitpun dan tanpa berkedip sedetikpun. "Degup ... degup ... degup ...." Suara detak jantungku yang berdebar kencang seakan ingin meledak sekarang juga.
"Mau sampai kapan kamu diatas situ?" ucap Ken dengan wajah datar.
"Ah.. maaf!" Akupun langsung tersadar dan spontan bangkit sambil menarik tanganku dengan cepat.
Karena terlalu terkejut saat terjatuh tadi, lagi-lagi tanpa sadar aku juga lupa jika disini ada banyak mata yang sedang menatapku. Dan yang paling tampak menonjol adalah tatapan mata Luna yang menatapku seolah ingin membunuhku sekarang juga. Rasanya aku pun ingin segera pergi dari sini.
"Ruby ... kamu nggak papa kan?" tanya Nina yang bergegas lari menghampiriku.
"Nggak papa kok Nin, tapi kayaknya kakiku terkilir nih," jawabku sambil memegang pergelangan kakiku.
"Ya sudah kalau gitu Nina tolong kamu antar Ruby ke ruang kesehatan ya! Yang lainnya bisa lanjut lagi," ucap Pak Dhimas.
"Baik pak," jawab Nina sambil membopongku berjalan menuju ke ruang kesehatan.
"Makasih banyak ya Nin ...," ucapku penuh rasa syukur dan haru, trimakasih Tuhan akhirnya ada yang membawaku pergi dari situasi yang canggung ini.
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, dan komen..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
*
dadi kelingan jaman sekolah
2021-10-06
0
annisa sullivan
sabar ya Ruby, tahan baik baik perasaanmu.😂😂😂..
hayoo kakak mampir juga dong di ceritaku.
2021-03-26
0
❃ᵐᵘᵗᶦᵃʳᵃ•ᵇᶦˡⓠᶦˢ𖤓꙰?
wah bau" permusuhan mulai tercium😅😅
2021-02-24
0