Senyuman

Tak terasa kami pun sudah sampai di depan rumahku. Rumah sederhana dengan gaya klasik yang masih terawat. Dengan berbagai jenis tanaman dan bunga-bunga indah di halaman membuatnya terlihat semakin sejuk dan nyaman. Tetapi mungkin tidak lebih nyaman jika dibandingkan dengan rumah Ken yang super mewah dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih dan juga terdapat banyak pelayan didalamnya.

"Udah sampai nih, makasih ya udah dianterin," ucapku sambil sedikit membungkukkan badan dari luar jendela mobil.

"Iya." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, dia sama sekali tak bergeming seolah ingin menyampaikan sesuatu yang sulit untuk dia katakan.

"Kenapa? Kamu mau mampir dulu?" ucapku dengan wajah polos.

"Oke," sahutnya dan langsung turun dari mobil.

"Hah? Padahal aku cuman bercanda kok, kamu nggak perlu nganter aku sampai dalem rumah kali, aku tahu kamu pasti nggak nyaman soalnya di rumahku nggak ada AC (Air Conditioner) kayak di rumahmu, sempit juga, nanti kamu gerah! Aku udah makasih banget kok kamu anterin sampe sini hehe," sahutku dengan spontan.

"Udah, kamu langsung pulang aja deh, nggak papa kok, beneran," tindihku lagi.

"Enggak, aku mau mampir," jawabnya datar.

"Apa sih yang dipikirin anak ini? Kenapa dia mau masuk ke dalem rumahku? Ngapain juga aku tadi nawarin dia mampir! Dasar Ruby bodoooh..." batinku dalam hati.

Tak lama tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari balik pintu rumahku. Ternyata yang keluar adalah Ayah, dia tampak seperti akan menyirami tanaman di halaman, dia pun melihatku dari jauh sambil membenarkan kacamatanya seolah masih belum yakin kalau anaknya sedang berada di depan rumah dengan seorang laki-laki.

"Ruby ...?" teriaknya dari kejauhan.

Ayah pun langsung berlari menghampiriku dan berkata, "Ruby, siapa dia? Hei anak muda, kamu mau godain putriku ya?" ucap Ayahku sambil memasang wajah galak dihadapan Ken.

Seketika aku dan Ken hanya terbengong melihat reaksi Ayah yang diluar dugaan.

"Ayah, apa'an sih? Dia ini temenku yang nganterin aku pulang, soalnya tadi aku sempat pingsan di sekolah," jawabku dengan spontan.

"Oh temenmu ...," sahut Ayah.

"Siapa namamu nak?" tanya Ayahku lagi.

Belum sempat Ken menjawab, tiba-tiba Ibuku datang menghampiri dari dalam rumah dengan celemek yang terpasang di bajunya.

"Ada apa sih kok ribut-ribut diluar?" teriak Ibu sambil berjalan menghampiri.

"Selamat siang om, tante, saya Ken temannya Ruby di sekolah." Ken memperkenalkan diri dengan senyuman ramah walaupun sedikit kaku.

"Waw, ya ampuuuuun ganteng amat kamu nak. Kamu artis ya?" sahut Ibuku sambil terus memandangi wajah Ken. "Ayo masuk-masuk ngapain pada diem disini semuanya sih! Kebetulan Ibu masak gado-gado banyak di rumah," ucap Ibuku dengan semangat sambil mengajak Ken masuk ke dalam rumah.

"Ah Ibuuu ...," gumamku dari belakang sambil menghela nafas panjang.

Di meja makan dalam rumah

"Oh jadi ini anak yang dulu kamu seruduk sampai jatuh itu?" celetuk Ibuku.

"Iya, tapi Ruby kan nggak sengaja!" sahutku sambil memakan gado-gado di atas meja.

"Oh ya Ruby, tadi kenapa kamu sampai pingsan? Kamu sakit?" tanya Ayahku.

"Hm, nggak kok, mungkin karena kecapekan aja sama lagi datang bulan," jawabku.

"Aneh, biasanya kamu juga jarang pingsan," sahut Ayahku sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Hah, pingsan? Kamu habis pingsan Ruby? Kok nggak bilang sama Ibu? Bukannya kamu sudah makan pagi tadi?" ucap Ibuku dengan nada panik.

"Ruby udah nggak apa-apa kok Bu, beneran," sahutku.

"Hmm ya sudah, oh ya makasih ya Ken udah nganterin Ruby pulang," ucap Ibuku.

"Iya tante, sama-sama," jawab Ken dengan senyuman ramah yang lagi-lagi terlihat sedikit kaku.

"Oh ya, kamu kok mau sih Ken temenan sama Ruby, padahal dia ini selalu ceroboh dan suka bikin ulah, yah walaupun sebenernya agak cantik dikit sih," sahut Ibuku dengan nada menyindir.

"Ibu apa'an sih," gumamku sambil mengarahkan pandangan pada Ibuku.

"Kamu tahu nggak Ken, Ruby emang dari dulu itu udah suka bikin ulah, dulu waktu kecil dia pernah hampir aja diseruduk kebo, terus terpeleset jatuh deh di atas kotoran kebo hahahaha, lagian dia sih sukanya gangguin kebo-kebo di sawah neneknya," ucap Ibu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ahhh Ibuuu ... kenapa cerita itu sih ...," sahutku sambil memasang wajah cemberut.

Rasanya aku ingin menggali lubang dalam-dalam dan bersembunyi di dalamnya, mengingat banyak hal tak terduga yang diketahui oleh Ken. Kenapa harus dia yang mengetahui semuanya? Semua kejadian dan tingkahku sejak awal, sejak pertemuan pertama kita, sungguh aku sampai tak berani dan merasa malu untuk menatap wajahnya.

Tanpa sadar tiba-tiba aku melihat pemandangan yang tak biasa. Aku melihat ada guratan senyuman yang terlukis di wajah Ken, senyuman yang indah dan sangat mempesona. Seakan siapapun yang melihatnya bisa langsung jatuh dan terbuai seketika. Ini pertama kalinya bagiku melihat ekspresi tersenyum Ken yang tidak biasa, karena dia selalu memasang wajah dingin dan datar setiap bertemu. Aku pun tidak yakin apakah aku salah satu orang yang beruntung yang bisa melihat indahnya senyuman Ken seperti sekarang ini. Seketika aku juga teringat senyuman hangat pangeran dalam mimpiku saat aku bermimpi melihat bunga tulip bersamanya (di chapter pertama).

"Ah ... emang ya senyuman cowok ganteng tuh sulit dilupakan hehe ...," gumam ku dalam hati dan tanpa sadari aku sedang melamun.

"Hey ... hey ... Ruby! Kamu mikirin apa sih sampe senyum-senyum sendiri gitu? Kebiasaan! Nggak malu dilihat Ken?" celetuk Ibu.

"Ah maaf, maaf ...," sahutku dengan wajah memerah karena menahan malu.

"Lagi-lagi aku ngelamun saat ada Ken, malu-maluin aja sih Ruby ...," gumamku dalam hati.

"Oh ya Ken, enak nggak gado-gado buatan Ibu?" tanya Ibuku.

"Enak kok tante", jawab Ken sambil mengangguk dengan senyuman ramah dan sudah tidak kaku lagi.

"Aduuhh ... senyuman kamu kayak gitu bisa bikin tante meleleh loh nak, hehe." Ibuku menopangkan tangan di dagunya sambil ikut tersenyum.

"Oh ya Ken, chef di rumahmu sering masakin gado-gado nggak? Pasti namanya ganti jadi Vegetable Salad with Peanut Sauce ya? hehehe," celetuk Ibuku.

"Duh Ibuuu apa'an sih dari tadi kok nggak jelas gitu ngomongnya!" ucapku sambil memanyunkan bibir.

"Tau nih Ibumu itu bawel amat dari tadi! Ayah aja seumur-umur nggak pernah digombalin kayak gitu, selalu aja ayah yang jadi bucin (budak cinta) Ibumu," celetuk Ayahku yang sedari tadi hanya memandangi kami.

"Hehe Ayah apa'an sih? sekali-sekali Ibu kan juga butuh cuci mata sama yang seger-seger. Cemburuan amat dah!" sahut Ibuku membela diri.

"Udah, udah ... aku mau ganti baju dulu. Ibu jangan ngomong yang aneh-aneh sama Ken loh ya saat aku nggak ada!" sahutku lagi sambil berdiri dan bersiap menuju kamar.

"Iya.. Iya," sahut Ibu.

Aku pun mulai mengganti baju seragamku dengan kaos sehari-hari yang biasa kupakai, mengingat Ken sudah mengetahui wujud asliku tanpa penyamaran, aku akhirnya melepas kacamata dan menghapus freeckles di pipiku, dan bersiap untuk keluar kamar.

Ken masih terduduk di meja makan, namun sekarang dia hanya sendiri. Entah kemana perginya Ayah dan Ibu. Sepertinya mereka sudah ke Toko Kue seperti biasanya. Tanpa sengaja kulihat Ken menatapku dengan begitu lembut dan mendalam, dia menatapku berlama-lama dan tak mengalihkan pandangannya, entah apa artinya semua itu, bukankah dia sudah mengetahui wujud asliku tanpa melakukan penyamaran? Aku pun merasa bingung dan mulai salah tingkah.

"Oh ya, Ayah sama Ibu kemana Ken?" tanyaku memecah keheningan.

"Ke Toko Kue katanya," jawab Ken.

"Ah iya, aku biasanya juga ikut bantu-bantu di Toko Kue kalau pulang sekolah," jawabku canggung dengan situasi yang sedang terjadi.

"Ken kamu nggak dicariin sama mama papamu di rumah?" tanyaku seakan menyuruhnya untuk segera pulang.

"Nggak, mereka di luar negeri semua," sahutnya dengan nada datar.

"Oh ...."

Suasana pun semakin canggung dan hening. Ken hanya duduk diam dan hanya menjawab setiap obrolanku dengan singkat, padat, dan dingin, sedingin balok es di Kutub Utara.

"Oh ya Ken, kamu kayaknya deket ya sama Luna? Dia cantik banget loh, aku yang cewek aja suka lihatnya," sahutku.

"Biasa aja," jawab Ken dengan singkat.

"Hmm Luna yang secantik itu aja kamu bilang biasa aja, pasti kalau bukan seleramu yang tinggi banget atau jangan-jangan kamu gay ya?" tanyaku dengan wajah polos.

Ken hanya terdiam, dia mengangkat sebelah alisnya seakan terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan, lagi-lagi dia menatapku dengan tajam dan dingin. Hanya dengan melihat tatapannya saja aku bisa merasakan seolah sekujur tubuhku dihujani oleh balok es. Di dalam keheningan itu, tiba-tiba perlahan dia mulai mendekat, entah apa yang dilakukannya saat ini.

Aku pun perlahan berusaha untuk menghindar, aku terus menghindar hingga tubuh bagian belakangku menempel dengan tembok. Kini Ken berdiri tepat di hadapanku dengan tangannya yang diangkat sebelah dan di letakkan tembok tepat di samping kepalaku. Aku mulai kebingungan dan panik. Aku tidak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya, sekujur tubuhku gemetar, wajahku mulai merah, dan aku pun mulai salah tingkah.

"K..k..kamu mau ngapain?" ucapku dengan terbata-bata.

"Mau langsung buktiin kalau aku bukan gay," bisiknya sangat dekat di samping telingaku.

"Ah, nggak perlu kok iya-iya aku percaya," jawabku dengan cepat.

Tapi Ken seakan tak menghiraukan perkataanku, tubuhnya masih terus mencoba mendekat. Entah apa yang ingin dilakukannya saat ini. Jantungku pun berdegup dengan kencang sampai aku takut dia bisa mendengar suara degupan jantungku karena jaraknya yang sedekat ini. Tak sadar aku mulai memejamkan mata.

"Ctaaaaaakkk!!!"

Suara Ken menjentikkan jarinya di dahiku.

"Dasar bodoh!" ucapnya dengan nada datar sambil melepaskan tubuhnya yang sebelumnya begitu dekat denganku.

"Auuuttchh ... apa'an sih? Sakit tau!" gumamku.

"Aku mau pulang dulu, salam ke orang tuamu, bilang makasih makanannya enak," sahut Ken sambil berlalu dan pergi.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud Ken barusan? Kenapa aku memejamkan mataku? Arrgh sial.. Kenapa aku memejamkan mata seolah aku ingin berciuman dengan Ken. Tidaaaakk**...."

***

.

.

.

.

.

*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..

Terpopuler

Comments

Anie Juliana

Anie Juliana

seru deh hhee

2022-11-03

0

Zayn vinn

Zayn vinn

halu nya tinggi ya my😂

2022-05-14

0

Diah Ramadhani

Diah Ramadhani

2021 baru tau ada novel yg sebagus ini

2021-12-12

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Penyamaran
3 Teman
4 Roti Sobek
5 Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)
6 Kue
7 Freeckles
8 Perlombaan
9 Deja Vu
10 Senyuman
11 Marah
12 PENGUMUMAN VISUAL
13 Lelaki Lembut
14 Bersembunyi
15 Sendok Emas
16 Caffe Latte
17 Caffe Latte 2
18 Siluet Punggung
19 Cookies Buatan Ibu
20 Kecewa
21 Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
22 Greentea Cheese dan Reyhan
23 Filosofi Pohon
24 Ruby si Upik Abu
25 Love Test for Reyhan
26 Love Test for Reyhan (2)
27 First Kiss
28 Apakah Dia Mengenalku?
29 Ujian Akhir Semester
30 Rahasia
31 It's Time to Change
32 It's Time to Change (2)
33 It's Time to Change (3)
34 Liburan di Pulau Bali
35 Permainan Bola Kertas
36 Hal yang Mengejutkan
37 Lubang Hitam
38 Ken Psycopath?
39 Rahasia Kecil
40 Hukuman Ayah dan Ibu (Mimpi)
41 Second Kiss
42 Surat Kabar
43 Teman Masa Kecil
44 Reyhan POV
45 Reyhan POV (Setitik Cahaya)
46 Perjalanan Pulang
47 Menunggumu
48 Siapa Sesungguhnya Di Balik Semuanya?
49 Gantungan Kunci
50 Gunung Es Mencair?
51 Sirloin Steak
52 Jadian
53 Hujan
54 Surat Misterius
55 Pertandingan Basket
56 Lily Putih
57 Mie Ramyun
58 Situs Web Sekolah
59 Gadis Kecil Menangis (Mimpi)
60 Pengakuan Reyhan
61 Setitik Kebenaran
62 Kencan Pertama
63 Kecupan Perpisahan
64 Naik Kereta Api
65 Siapa Gadis Itu? (Mimpi)
66 Secercah Harapan
67 Titik Terang
68 Saat Terakhir
69 S2 ~ Reinkarnasi
70 S2 ~ Permainan Dimulai
71 S2 ~ Pertemuan Pertama
72 S2 ~ Cambukan
73 S2 ~ Serigala Berbulu Domba
74 S2 ~ Kekesalan
75 S2 ~ Tak Seindah Dongeng
76 S2 ~ Pesta Pengenalan Regina
77 S2 ~ Berdansa
78 S2 ~ Genggaman Pertama
79 S2 ~ Time Travel 2
80 S2 ~ Istana Karoling
81 S2 ~ Sambal Terong
82 S2 ~ Pangeran Felix
83 S2 ~ Pangeran Hanz
84 S2 ~ Acara Minum Teh
85 S2 ~ Ksatria Merah
86 S2 ~ Melarikan Diri
87 S2 ~ Curahan Hati
88 S2 ~ Pemilihan Regina Tahap Kedua
89 S2 ~ Pangeran Mesum
90 S2 ~ Perasaan
91 S2 ~ Jawaban
92 S2 ~ The Secret
93 S2 ~ Perangkap
94 S2 ~ Pernyataan Cinta
95 S2 ~ Semangat
96 S2 ~ Crying
97 S2 ~ Penobatan
98 S2 ~ Kesepakatan
99 S2 ~ New Day
100 S2 ~ Penyamaran
101 S2 ~ Rindu
102 S2 ~ Sapu Tangan
103 S2 ~ Foie Gras dan Ratatouille
104 S2 ~ Ginger
105 S2 ~ Black Death
106 S2 ~ Wangi Lavender
107 S2 ~ Usulan Ruby
108 S2 ~ Memperbaiki Benang Kusut?
109 S2 ~ Salep
110 S2 ~ Sisi Lain
111 S2 ~ Kesal
112 S2 ~ Baling-baling Bambu
113 S2 ~ Rapat Delegasi
114 S2 ~ Rapat Delegasi 2
115 S2 ~ Cemburu
116 S2 ~ Membuka Tirai
117 S2 ~ Matahari Terbit Lagi
118 S2 ~ Awal Hari Baru
119 S2 ~ Genggaman Hangat
120 S2 ~ Kaisar Bucin
121 S2 ~ Rumah Ginger
122 S2 ~ Masalah Air Bersih
123 S2 ~ Masalah Air Bersih 2
124 S2 ~ A Kiss That's You Can't Resist
125 S2 ~ Ruby is an Angel of Love
126 S2 ~ Ruby is an Angel of Love 2
127 S2 ~ It's Not Dream
128 S2 ~ Barbara Bar-Bar
129 S2 ~ Nilai 7 Dari Kaisar
130 S2 ~ The Story About a Witch
131 S2 ~ The Story About a Witch 2
132 S2 ~ Tekhnologi Tepat Guna
133 S2 ~ Senyuman Menawan Lelaki Tampan
134 S2 ~ Mata-mata
135 S2 ~ Masalah Air Telah Usai
136 S2 ~ Rencana Jahat
137 S2 ~ Rambut Brokoli
138 S2 ~ Gadis yang Bersinar
139 S2 ~ Bukti Mencurigakan
140 S2 ~ Pinky Promise
141 S2 ~ Wanita Paruh Baya
142 S2 ~ Dokter Patricia
143 S2 ~ Sejarah Kopi di Benua Eropa
144 S2 ~ Diabaikan
145 S2 ~ Kesal
146 S2 ~ Kopi Bubuk
147 S2 ~ Terbalaskan
148 S2 ~ Tenda Biru Tua
149 S2 ~ Your Grades Still Remain
150 S2 ~ Modus
151 S2 ~ Rayuan Lily
152 S2 ~ Menepati Janji
153 S2 ~ Hari Bahagia Bersamanya
154 S2 ~ Dibius
155 S2 ~ Satu Lagi Kepingan Puzzle
156 S2 ~ Rasa Takut
157 S2 ~ Kecurigaan
158 S2 ~ Titik Terang
159 S2 ~ Lily is a Witch
160 S2 ~ Sosok Yang Dirindukan
161 S2 ~ Saat Terakhir
162 S2~ New World
163 S2 ~ On The Way
164 S2 ~ My Prince (END)
165 Pengumuman
166 S3 ~ Flashback
167 S3 ~ Melepas Rindu
168 S3 ~ Berjalan-jalan
169 S3 ~ Sayang
170 S3 ~ Ken Mesum?
171 S3 ~ Ken Mesum? (2)
172 S3 ~ Sosok Lama
173 S3 ~ Flying Fish Channel
174 S3 ~ Gunung Es Mencair
175 S3 ~ Flashback Reyhan & Sabina
176 S3 ~ Breakfast Together
177 S3 ~ Lukisan
178 S3 ~ Remember
179 S3 ~ Firasat Buruk
180 S3 ~ The Secret
181 S3 ~ Ambyar
182 S3 ~ Tersedak
183 S3 ~ Keano Abian
184 S3 ~ Cincin dan Rindu
185 S3 ~ Aura Suram
186 S3 ~ Dua Kutub yang Berbeda
187 S3 ~ Pesan Singkat
188 S3 ~ Miranda
189 S3 ~ Jembatan Keledai
190 S3 ~ Benci Jadi Cinta?
191 S3 ~ Kutu Mati
192 S3 ~ Hari Terakhir
193 S3 ~ Ken's Story
194 S3 ~ Pertarungan Sengit
195 S3 ~ A Thousand Years
196 S3 ~ Mata Tidak Bersalah
197 S3 ~ CPR
198 S3 ~ Breathing
199 S3 ~ Salah Bicara
200 S3 ~ Pendekatan
201 S3 ~ Informasi Dari Reyhan
202 S3 ~ Kisah Baru
203 S3 ~ Teman Lama
204 S3 ~ Married?
205 S3 ~ Operan
206 S3 ~ Pesona Ruby
207 S2 ~ Cemburu?
208 S3 ~ Cemburu? (2)
209 S3 ~ Hitam Berenda
210 S3 ~ Kode
211 S3 ~ Poli Jantung
212 S3 ~ Don't Hate Me
213 S3 ~ Reuni
214 Pengumuman
215 S3 ~ Candelaria Bar
216 S3 ~ Candelaria Bar (2)
217 S3 ~ Truth or Dare
218 S3 ~ Pompa balon intra-aorta (IABP)
219 S3 ~ Kafetaria
220 S3 ~ Bus
221 S3 ~ Dua Lelaki
222 S3 ~ Tiga Lelaki
223 S3 ~ Cemburu Kecil
224 S2 ~ Siapakah wanita itu?
225 S3 ~ Red Velvet
226 S3 ~ Cemburu Lagi
227 S3 ~ Menuju Titik Terang
228 S3 ~ Titik Terang
229 S3 ~ Virus
230 S3 ~ Virus 2
231 S3 ~ Virus 3
232 S3 ~ Virus 4
233 S3 ~ Last Virus
234 Epilog
235 PENGUMUMAN
236 Bonus Chapter 1
237 Bonus Chapter 2
238 Bonus Chapter 3
239 Bonus Chapter 4
240 Bonus Chapter 5
241 Bonus Chapter 6
242 Bonus Chapter 7
243 END
244 PENGUMUMAN
245 Pengumuman
Episodes

Updated 245 Episodes

1
Prolog
2
Penyamaran
3
Teman
4
Roti Sobek
5
Kesedihan Pangeran Hanz (Mimpi)
6
Kue
7
Freeckles
8
Perlombaan
9
Deja Vu
10
Senyuman
11
Marah
12
PENGUMUMAN VISUAL
13
Lelaki Lembut
14
Bersembunyi
15
Sendok Emas
16
Caffe Latte
17
Caffe Latte 2
18
Siluet Punggung
19
Cookies Buatan Ibu
20
Kecewa
21
Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
22
Greentea Cheese dan Reyhan
23
Filosofi Pohon
24
Ruby si Upik Abu
25
Love Test for Reyhan
26
Love Test for Reyhan (2)
27
First Kiss
28
Apakah Dia Mengenalku?
29
Ujian Akhir Semester
30
Rahasia
31
It's Time to Change
32
It's Time to Change (2)
33
It's Time to Change (3)
34
Liburan di Pulau Bali
35
Permainan Bola Kertas
36
Hal yang Mengejutkan
37
Lubang Hitam
38
Ken Psycopath?
39
Rahasia Kecil
40
Hukuman Ayah dan Ibu (Mimpi)
41
Second Kiss
42
Surat Kabar
43
Teman Masa Kecil
44
Reyhan POV
45
Reyhan POV (Setitik Cahaya)
46
Perjalanan Pulang
47
Menunggumu
48
Siapa Sesungguhnya Di Balik Semuanya?
49
Gantungan Kunci
50
Gunung Es Mencair?
51
Sirloin Steak
52
Jadian
53
Hujan
54
Surat Misterius
55
Pertandingan Basket
56
Lily Putih
57
Mie Ramyun
58
Situs Web Sekolah
59
Gadis Kecil Menangis (Mimpi)
60
Pengakuan Reyhan
61
Setitik Kebenaran
62
Kencan Pertama
63
Kecupan Perpisahan
64
Naik Kereta Api
65
Siapa Gadis Itu? (Mimpi)
66
Secercah Harapan
67
Titik Terang
68
Saat Terakhir
69
S2 ~ Reinkarnasi
70
S2 ~ Permainan Dimulai
71
S2 ~ Pertemuan Pertama
72
S2 ~ Cambukan
73
S2 ~ Serigala Berbulu Domba
74
S2 ~ Kekesalan
75
S2 ~ Tak Seindah Dongeng
76
S2 ~ Pesta Pengenalan Regina
77
S2 ~ Berdansa
78
S2 ~ Genggaman Pertama
79
S2 ~ Time Travel 2
80
S2 ~ Istana Karoling
81
S2 ~ Sambal Terong
82
S2 ~ Pangeran Felix
83
S2 ~ Pangeran Hanz
84
S2 ~ Acara Minum Teh
85
S2 ~ Ksatria Merah
86
S2 ~ Melarikan Diri
87
S2 ~ Curahan Hati
88
S2 ~ Pemilihan Regina Tahap Kedua
89
S2 ~ Pangeran Mesum
90
S2 ~ Perasaan
91
S2 ~ Jawaban
92
S2 ~ The Secret
93
S2 ~ Perangkap
94
S2 ~ Pernyataan Cinta
95
S2 ~ Semangat
96
S2 ~ Crying
97
S2 ~ Penobatan
98
S2 ~ Kesepakatan
99
S2 ~ New Day
100
S2 ~ Penyamaran
101
S2 ~ Rindu
102
S2 ~ Sapu Tangan
103
S2 ~ Foie Gras dan Ratatouille
104
S2 ~ Ginger
105
S2 ~ Black Death
106
S2 ~ Wangi Lavender
107
S2 ~ Usulan Ruby
108
S2 ~ Memperbaiki Benang Kusut?
109
S2 ~ Salep
110
S2 ~ Sisi Lain
111
S2 ~ Kesal
112
S2 ~ Baling-baling Bambu
113
S2 ~ Rapat Delegasi
114
S2 ~ Rapat Delegasi 2
115
S2 ~ Cemburu
116
S2 ~ Membuka Tirai
117
S2 ~ Matahari Terbit Lagi
118
S2 ~ Awal Hari Baru
119
S2 ~ Genggaman Hangat
120
S2 ~ Kaisar Bucin
121
S2 ~ Rumah Ginger
122
S2 ~ Masalah Air Bersih
123
S2 ~ Masalah Air Bersih 2
124
S2 ~ A Kiss That's You Can't Resist
125
S2 ~ Ruby is an Angel of Love
126
S2 ~ Ruby is an Angel of Love 2
127
S2 ~ It's Not Dream
128
S2 ~ Barbara Bar-Bar
129
S2 ~ Nilai 7 Dari Kaisar
130
S2 ~ The Story About a Witch
131
S2 ~ The Story About a Witch 2
132
S2 ~ Tekhnologi Tepat Guna
133
S2 ~ Senyuman Menawan Lelaki Tampan
134
S2 ~ Mata-mata
135
S2 ~ Masalah Air Telah Usai
136
S2 ~ Rencana Jahat
137
S2 ~ Rambut Brokoli
138
S2 ~ Gadis yang Bersinar
139
S2 ~ Bukti Mencurigakan
140
S2 ~ Pinky Promise
141
S2 ~ Wanita Paruh Baya
142
S2 ~ Dokter Patricia
143
S2 ~ Sejarah Kopi di Benua Eropa
144
S2 ~ Diabaikan
145
S2 ~ Kesal
146
S2 ~ Kopi Bubuk
147
S2 ~ Terbalaskan
148
S2 ~ Tenda Biru Tua
149
S2 ~ Your Grades Still Remain
150
S2 ~ Modus
151
S2 ~ Rayuan Lily
152
S2 ~ Menepati Janji
153
S2 ~ Hari Bahagia Bersamanya
154
S2 ~ Dibius
155
S2 ~ Satu Lagi Kepingan Puzzle
156
S2 ~ Rasa Takut
157
S2 ~ Kecurigaan
158
S2 ~ Titik Terang
159
S2 ~ Lily is a Witch
160
S2 ~ Sosok Yang Dirindukan
161
S2 ~ Saat Terakhir
162
S2~ New World
163
S2 ~ On The Way
164
S2 ~ My Prince (END)
165
Pengumuman
166
S3 ~ Flashback
167
S3 ~ Melepas Rindu
168
S3 ~ Berjalan-jalan
169
S3 ~ Sayang
170
S3 ~ Ken Mesum?
171
S3 ~ Ken Mesum? (2)
172
S3 ~ Sosok Lama
173
S3 ~ Flying Fish Channel
174
S3 ~ Gunung Es Mencair
175
S3 ~ Flashback Reyhan & Sabina
176
S3 ~ Breakfast Together
177
S3 ~ Lukisan
178
S3 ~ Remember
179
S3 ~ Firasat Buruk
180
S3 ~ The Secret
181
S3 ~ Ambyar
182
S3 ~ Tersedak
183
S3 ~ Keano Abian
184
S3 ~ Cincin dan Rindu
185
S3 ~ Aura Suram
186
S3 ~ Dua Kutub yang Berbeda
187
S3 ~ Pesan Singkat
188
S3 ~ Miranda
189
S3 ~ Jembatan Keledai
190
S3 ~ Benci Jadi Cinta?
191
S3 ~ Kutu Mati
192
S3 ~ Hari Terakhir
193
S3 ~ Ken's Story
194
S3 ~ Pertarungan Sengit
195
S3 ~ A Thousand Years
196
S3 ~ Mata Tidak Bersalah
197
S3 ~ CPR
198
S3 ~ Breathing
199
S3 ~ Salah Bicara
200
S3 ~ Pendekatan
201
S3 ~ Informasi Dari Reyhan
202
S3 ~ Kisah Baru
203
S3 ~ Teman Lama
204
S3 ~ Married?
205
S3 ~ Operan
206
S3 ~ Pesona Ruby
207
S2 ~ Cemburu?
208
S3 ~ Cemburu? (2)
209
S3 ~ Hitam Berenda
210
S3 ~ Kode
211
S3 ~ Poli Jantung
212
S3 ~ Don't Hate Me
213
S3 ~ Reuni
214
Pengumuman
215
S3 ~ Candelaria Bar
216
S3 ~ Candelaria Bar (2)
217
S3 ~ Truth or Dare
218
S3 ~ Pompa balon intra-aorta (IABP)
219
S3 ~ Kafetaria
220
S3 ~ Bus
221
S3 ~ Dua Lelaki
222
S3 ~ Tiga Lelaki
223
S3 ~ Cemburu Kecil
224
S2 ~ Siapakah wanita itu?
225
S3 ~ Red Velvet
226
S3 ~ Cemburu Lagi
227
S3 ~ Menuju Titik Terang
228
S3 ~ Titik Terang
229
S3 ~ Virus
230
S3 ~ Virus 2
231
S3 ~ Virus 3
232
S3 ~ Virus 4
233
S3 ~ Last Virus
234
Epilog
235
PENGUMUMAN
236
Bonus Chapter 1
237
Bonus Chapter 2
238
Bonus Chapter 3
239
Bonus Chapter 4
240
Bonus Chapter 5
241
Bonus Chapter 6
242
Bonus Chapter 7
243
END
244
PENGUMUMAN
245
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!