Tak terasa kami pun sudah sampai di depan rumahku. Rumah sederhana dengan gaya klasik yang masih terawat. Dengan berbagai jenis tanaman dan bunga-bunga indah di halaman membuatnya terlihat semakin sejuk dan nyaman. Tetapi mungkin tidak lebih nyaman jika dibandingkan dengan rumah Ken yang super mewah dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih dan juga terdapat banyak pelayan didalamnya.
"Udah sampai nih, makasih ya udah dianterin," ucapku sambil sedikit membungkukkan badan dari luar jendela mobil.
"Iya." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, dia sama sekali tak bergeming seolah ingin menyampaikan sesuatu yang sulit untuk dia katakan.
"Kenapa? Kamu mau mampir dulu?" ucapku dengan wajah polos.
"Oke," sahutnya dan langsung turun dari mobil.
"Hah? Padahal aku cuman bercanda kok, kamu nggak perlu nganter aku sampai dalem rumah kali, aku tahu kamu pasti nggak nyaman soalnya di rumahku nggak ada AC (Air Conditioner) kayak di rumahmu, sempit juga, nanti kamu gerah! Aku udah makasih banget kok kamu anterin sampe sini hehe," sahutku dengan spontan.
"Udah, kamu langsung pulang aja deh, nggak papa kok, beneran," tindihku lagi.
"Enggak, aku mau mampir," jawabnya datar.
"Apa sih yang dipikirin anak ini? Kenapa dia mau masuk ke dalem rumahku? Ngapain juga aku tadi nawarin dia mampir! Dasar Ruby bodoooh..." batinku dalam hati.
Tak lama tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari balik pintu rumahku. Ternyata yang keluar adalah Ayah, dia tampak seperti akan menyirami tanaman di halaman, dia pun melihatku dari jauh sambil membenarkan kacamatanya seolah masih belum yakin kalau anaknya sedang berada di depan rumah dengan seorang laki-laki.
"Ruby ...?" teriaknya dari kejauhan.
Ayah pun langsung berlari menghampiriku dan berkata, "Ruby, siapa dia? Hei anak muda, kamu mau godain putriku ya?" ucap Ayahku sambil memasang wajah galak dihadapan Ken.
Seketika aku dan Ken hanya terbengong melihat reaksi Ayah yang diluar dugaan.
"Ayah, apa'an sih? Dia ini temenku yang nganterin aku pulang, soalnya tadi aku sempat pingsan di sekolah," jawabku dengan spontan.
"Oh temenmu ...," sahut Ayah.
"Siapa namamu nak?" tanya Ayahku lagi.
Belum sempat Ken menjawab, tiba-tiba Ibuku datang menghampiri dari dalam rumah dengan celemek yang terpasang di bajunya.
"Ada apa sih kok ribut-ribut diluar?" teriak Ibu sambil berjalan menghampiri.
"Selamat siang om, tante, saya Ken temannya Ruby di sekolah." Ken memperkenalkan diri dengan senyuman ramah walaupun sedikit kaku.
"Waw, ya ampuuuuun ganteng amat kamu nak. Kamu artis ya?" sahut Ibuku sambil terus memandangi wajah Ken. "Ayo masuk-masuk ngapain pada diem disini semuanya sih! Kebetulan Ibu masak gado-gado banyak di rumah," ucap Ibuku dengan semangat sambil mengajak Ken masuk ke dalam rumah.
"Ah Ibuuu ...," gumamku dari belakang sambil menghela nafas panjang.
Di meja makan dalam rumah
"Oh jadi ini anak yang dulu kamu seruduk sampai jatuh itu?" celetuk Ibuku.
"Iya, tapi Ruby kan nggak sengaja!" sahutku sambil memakan gado-gado di atas meja.
"Oh ya Ruby, tadi kenapa kamu sampai pingsan? Kamu sakit?" tanya Ayahku.
"Hm, nggak kok, mungkin karena kecapekan aja sama lagi datang bulan," jawabku.
"Aneh, biasanya kamu juga jarang pingsan," sahut Ayahku sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Hah, pingsan? Kamu habis pingsan Ruby? Kok nggak bilang sama Ibu? Bukannya kamu sudah makan pagi tadi?" ucap Ibuku dengan nada panik.
"Ruby udah nggak apa-apa kok Bu, beneran," sahutku.
"Hmm ya sudah, oh ya makasih ya Ken udah nganterin Ruby pulang," ucap Ibuku.
"Iya tante, sama-sama," jawab Ken dengan senyuman ramah yang lagi-lagi terlihat sedikit kaku.
"Oh ya, kamu kok mau sih Ken temenan sama Ruby, padahal dia ini selalu ceroboh dan suka bikin ulah, yah walaupun sebenernya agak cantik dikit sih," sahut Ibuku dengan nada menyindir.
"Ibu apa'an sih," gumamku sambil mengarahkan pandangan pada Ibuku.
"Kamu tahu nggak Ken, Ruby emang dari dulu itu udah suka bikin ulah, dulu waktu kecil dia pernah hampir aja diseruduk kebo, terus terpeleset jatuh deh di atas kotoran kebo hahahaha, lagian dia sih sukanya gangguin kebo-kebo di sawah neneknya," ucap Ibu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ahhh Ibuuu ... kenapa cerita itu sih ...," sahutku sambil memasang wajah cemberut.
Rasanya aku ingin menggali lubang dalam-dalam dan bersembunyi di dalamnya, mengingat banyak hal tak terduga yang diketahui oleh Ken. Kenapa harus dia yang mengetahui semuanya? Semua kejadian dan tingkahku sejak awal, sejak pertemuan pertama kita, sungguh aku sampai tak berani dan merasa malu untuk menatap wajahnya.
Tanpa sadar tiba-tiba aku melihat pemandangan yang tak biasa. Aku melihat ada guratan senyuman yang terlukis di wajah Ken, senyuman yang indah dan sangat mempesona. Seakan siapapun yang melihatnya bisa langsung jatuh dan terbuai seketika. Ini pertama kalinya bagiku melihat ekspresi tersenyum Ken yang tidak biasa, karena dia selalu memasang wajah dingin dan datar setiap bertemu. Aku pun tidak yakin apakah aku salah satu orang yang beruntung yang bisa melihat indahnya senyuman Ken seperti sekarang ini. Seketika aku juga teringat senyuman hangat pangeran dalam mimpiku saat aku bermimpi melihat bunga tulip bersamanya (di chapter pertama).
"Ah ... emang ya senyuman cowok ganteng tuh sulit dilupakan hehe ...," gumam ku dalam hati dan tanpa sadari aku sedang melamun.
"Hey ... hey ... Ruby! Kamu mikirin apa sih sampe senyum-senyum sendiri gitu? Kebiasaan! Nggak malu dilihat Ken?" celetuk Ibu.
"Ah maaf, maaf ...," sahutku dengan wajah memerah karena menahan malu.
"Lagi-lagi aku ngelamun saat ada Ken, malu-maluin aja sih Ruby ...," gumamku dalam hati.
"Oh ya Ken, enak nggak gado-gado buatan Ibu?" tanya Ibuku.
"Enak kok tante", jawab Ken sambil mengangguk dengan senyuman ramah dan sudah tidak kaku lagi.
"Aduuhh ... senyuman kamu kayak gitu bisa bikin tante meleleh loh nak, hehe." Ibuku menopangkan tangan di dagunya sambil ikut tersenyum.
"Oh ya Ken, chef di rumahmu sering masakin gado-gado nggak? Pasti namanya ganti jadi Vegetable Salad with Peanut Sauce ya? hehehe," celetuk Ibuku.
"Duh Ibuuu apa'an sih dari tadi kok nggak jelas gitu ngomongnya!" ucapku sambil memanyunkan bibir.
"Tau nih Ibumu itu bawel amat dari tadi! Ayah aja seumur-umur nggak pernah digombalin kayak gitu, selalu aja ayah yang jadi bucin (budak cinta) Ibumu," celetuk Ayahku yang sedari tadi hanya memandangi kami.
"Hehe Ayah apa'an sih? sekali-sekali Ibu kan juga butuh cuci mata sama yang seger-seger. Cemburuan amat dah!" sahut Ibuku membela diri.
"Udah, udah ... aku mau ganti baju dulu. Ibu jangan ngomong yang aneh-aneh sama Ken loh ya saat aku nggak ada!" sahutku lagi sambil berdiri dan bersiap menuju kamar.
"Iya.. Iya," sahut Ibu.
Aku pun mulai mengganti baju seragamku dengan kaos sehari-hari yang biasa kupakai, mengingat Ken sudah mengetahui wujud asliku tanpa penyamaran, aku akhirnya melepas kacamata dan menghapus freeckles di pipiku, dan bersiap untuk keluar kamar.
Ken masih terduduk di meja makan, namun sekarang dia hanya sendiri. Entah kemana perginya Ayah dan Ibu. Sepertinya mereka sudah ke Toko Kue seperti biasanya. Tanpa sengaja kulihat Ken menatapku dengan begitu lembut dan mendalam, dia menatapku berlama-lama dan tak mengalihkan pandangannya, entah apa artinya semua itu, bukankah dia sudah mengetahui wujud asliku tanpa melakukan penyamaran? Aku pun merasa bingung dan mulai salah tingkah.
"Oh ya, Ayah sama Ibu kemana Ken?" tanyaku memecah keheningan.
"Ke Toko Kue katanya," jawab Ken.
"Ah iya, aku biasanya juga ikut bantu-bantu di Toko Kue kalau pulang sekolah," jawabku canggung dengan situasi yang sedang terjadi.
"Ken kamu nggak dicariin sama mama papamu di rumah?" tanyaku seakan menyuruhnya untuk segera pulang.
"Nggak, mereka di luar negeri semua," sahutnya dengan nada datar.
"Oh ...."
Suasana pun semakin canggung dan hening. Ken hanya duduk diam dan hanya menjawab setiap obrolanku dengan singkat, padat, dan dingin, sedingin balok es di Kutub Utara.
"Oh ya Ken, kamu kayaknya deket ya sama Luna? Dia cantik banget loh, aku yang cewek aja suka lihatnya," sahutku.
"Biasa aja," jawab Ken dengan singkat.
"Hmm Luna yang secantik itu aja kamu bilang biasa aja, pasti kalau bukan seleramu yang tinggi banget atau jangan-jangan kamu gay ya?" tanyaku dengan wajah polos.
Ken hanya terdiam, dia mengangkat sebelah alisnya seakan terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan, lagi-lagi dia menatapku dengan tajam dan dingin. Hanya dengan melihat tatapannya saja aku bisa merasakan seolah sekujur tubuhku dihujani oleh balok es. Di dalam keheningan itu, tiba-tiba perlahan dia mulai mendekat, entah apa yang dilakukannya saat ini.
Aku pun perlahan berusaha untuk menghindar, aku terus menghindar hingga tubuh bagian belakangku menempel dengan tembok. Kini Ken berdiri tepat di hadapanku dengan tangannya yang diangkat sebelah dan di letakkan tembok tepat di samping kepalaku. Aku mulai kebingungan dan panik. Aku tidak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya, sekujur tubuhku gemetar, wajahku mulai merah, dan aku pun mulai salah tingkah.
"K..k..kamu mau ngapain?" ucapku dengan terbata-bata.
"Mau langsung buktiin kalau aku bukan gay," bisiknya sangat dekat di samping telingaku.
"Ah, nggak perlu kok iya-iya aku percaya," jawabku dengan cepat.
Tapi Ken seakan tak menghiraukan perkataanku, tubuhnya masih terus mencoba mendekat. Entah apa yang ingin dilakukannya saat ini. Jantungku pun berdegup dengan kencang sampai aku takut dia bisa mendengar suara degupan jantungku karena jaraknya yang sedekat ini. Tak sadar aku mulai memejamkan mata.
"Ctaaaaaakkk!!!"
Suara Ken menjentikkan jarinya di dahiku.
"Dasar bodoh!" ucapnya dengan nada datar sambil melepaskan tubuhnya yang sebelumnya begitu dekat denganku.
"Auuuttchh ... apa'an sih? Sakit tau!" gumamku.
"Aku mau pulang dulu, salam ke orang tuamu, bilang makasih makanannya enak," sahut Ken sambil berlalu dan pergi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud Ken barusan? Kenapa aku memejamkan mataku? Arrgh sial.. Kenapa aku memejamkan mata seolah aku ingin berciuman dengan Ken. Tidaaaakk**...."
***
.
.
.
.
.
*Mohon dukungannya untuk Author ya :) dengan klik favorit, like, vote dan komen..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Anie Juliana
seru deh hhee
2022-11-03
0
Zayn vinn
halu nya tinggi ya my😂
2022-05-14
0
Diah Ramadhani
2021 baru tau ada novel yg sebagus ini
2021-12-12
0