"Hah? Iya dong, apalagi si Anggita, dia itu kan yang paling ember di kelas, nanti dia bikin gosip macam-macam, kamu juga nggak mau kan jadi bahan gosip temen-temen lainnya, hehehe." Aku tersenyum canggung sambil menggarukkan tanganku di bagian belakang kepala yang sama sekali tidak terasa gatal.
Ken mengernyitkan alisnya, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, dia berbalik lagi ke depan dan lanjut berjalan masih dengan menggenggam tanganku.
Sesampainya di depan pintu rumahku, Ken pun melepaskan genggaman itu, suasana terasa canggung, kami hanya berdiri diam sejenak dan saling memalingkan wajah.
"Hmm, Ken makasih ya udah dianterin, aku mau masuk dulu," ucapku.
Ken hanya diam tak bergeming seolah ingin menyampaikan sesuatu yang hanya ditahan di kepalanya.
"Kamu mau mampir dulu?" tanyaku.
"Boleh emang?" Ken bertanya seolah terkejut.
"Boleh dong, di dalam ada Ayahku kok, biasanya jam segini dia sudah pulang kerja," ucapku.
"Oke." sahut Ken.
Kami pun masuk ke dalam rumah, kali ini Ken mengikutiku berjalan dari belakang. Ini kedua kalinya Ken masuk ke dalam rumahku. Entah mengapa dia sampai mau mengantarku ke dalam rumah. Apakah dia hanya merasa bersalah padaku karena aku menjadi korban dari gadis yang tergila-gila olehnya? Padahal nyatanya diantara kita tidak ada hubungan apapun.
Di dalam Rumah.
"Ayah ... aku pulang ....," teriakku sambil cecelingukan.
Namun di dalam rumah tampak sepi, tak ada jawaban sama sekali seperti rumah yang tak berpenghuni.
"Ah Ken, kayaknya Ayahku belum pulang, mungkin lembur lagi di kantor, kamu duduk aja disini, aku mau ambilin minum sama sekalian cuci muka dulu ya," ucapku sambil bergegas pergi.
Ken pun langsung mendudukkan tubuhnya di sofa panjang sambil melepaskan jaketnya. Sementara itu aku sibuk membersihkan wajahku dan mengganti pakaianku yang basah karena terkena air yang diguyur oleh Luna.
Akhirnya setelah 15 menit di kamar mandi, wajahku kembali bersih dan Make Up penyamaran jelekku pun ikut hilang saat kubersihkan, aku juga sudah selesai mengganti pakaianku yang basah dengan yang baru, kini saatnya aku keluar untuk menemui Ken di ruang tamu. Dengan perasaan canggung yang terus berputar di kepalaku, aku berdiri di hadapannya dengan rasa gugup yang tak menentu.
"Hmm, Ken kamu mau minum apa? Apa kamu mau minum Cafe Latte lagi?" tanyaku sambil memalingkan wajahku karena terlalu gugup untuk melihat wajahnya.
"Enggak usah, air mineral aja," jawabnya.
"Oke aku ambilin dulu ya." Aku langsung bergegas ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa camilan untuk Ken.
***
"Ini minumannya," ucapku sambil menaruh satu persatu air mineral, beberapa potong cookies di atas piring kecil, dan Caffe Latte untuk diriku sendiri.
Aku pun mendudukkan tubuhku di atas sofa panjang tepat di samping Ken, kami hanya diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami masing-masing seolah sedang terperangkap dalam situasi yang sangat canggung, aku pun berusaha untuk memulai pembicaraan agar dapat melepaskan diri dari situasi yang canggung ini.
"Oh ya, Ken makasih ya udah nolongin aku tadi, aku jadi bisa lolos deh dari tamparan mautnya Luna, lagi-lagi kamu udah nolongin aku, makasih ya," ucapku dengan tersenyum.
"Hm." Hanya kata itu yang terdengar dari mulutnya.
"Cobain dong cookies nya!" sahutku.
Ken pun langsung mengambil sepotong cookies di atas piring kecil itu dan mulai mencicipinya.
"Gimana rasanya? Enak nggak?" tanyaku.
"Enak," jawabnya dengan begitu singkat.
"Itu buatan Ibu, di rumah kami selalu ada cookies karena sejak aku masih kecil kalau ada teman-teman yang datang kesini, Ibu selalu ngasih cookies dan banyak permen ke mereka," ucapku.
"Teman-teman?" tanya Ken.
"Iya, teman-temanku, padahal dulu awalnya aku sering di bully sama mereka, tapi Ibu justru memberikan banyak permen dan kue untuk mereka dan berpesan jika mau berteman denganku, akan diberi lebih banyak lagi permen dan kue, akhirnya mereka pun menjadi teman-teman baikku sampai sekarang, hehehe." Tanpa sadar aku bercerita banyak sambil tersenyum sendiri mengingat masa kecilku.
"Oh ya, Ibu juga suka naruh cookies di dalam tas ranselku saat aku berangkat sekolah untuk dibagi-bagikan ke temen-temenku yang lain di kelas, jadi dulu aku punya banyak teman karena cookies, hehe ... ah ... lebih tepatnya karena Ibu ...." Aku masih tetap bercerita sambil tertawa riang.
Setelah cukup lama aku tersenyum-senyum sendiri karena teringat masa kecilku, aku tiba-tiba mengarahkan pandanganku kepada Ken.
Namun saat aku melihatnya dia malah memalingkan wajahnya begitu cepat dan wajahnya tampak memerah, entah mengapa tiba-tiba wajahnya berubah menjadi semerah itu.
"Hmm Ken, kamu kenapa? Wajahmu kok tiba-tiba merah gitu?" tanyaku dengan wajah polos.
Ken hanya diam dan tetap memalingkan wajahnya.
"Ahh ... kamu kepanasan ya? Maaf ya disini emang nggak ada AC kayak di rumahmu, hehehe," jawabku masih dengan wajah yang polos.
Seketika tatapan Ken tampak terkejut saat mendengar apa yang baru saja kukatakan, tapi dia masih tetap diam, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, wajahnya pun masih tetap merah, semerah tomat.
Karena lelah bercerita panjang lebar, aku pun merasa haus dan langsung mengambil minuman Caffe Latte di atas meja yang sengaja kubuat untuk diriku sendiri. Aku mulai meniupnya pelan dengan bibirku di sudut cangkirnya.
"Ahh ... akhirnya ... aku bisa ngerasain minuman favoritku ini juga, soalnya tadi aku nggak sempet minum gara-gara ngebayangin bib ...." Aku seketika menghentikan kalimatku saat tersadar mengatakan hal yang tak seharusnya ku katakan.
"Duh ... gimana sih? Bisa-bisanya aku keceplosan di depan Ken!" gumamku.
Aku mulai panik dan kebingungan untuk menjelaskan apa yang baru saja aku katakan, perasaanku mulai campur aduk, entah apa lagi yang harus kukatakan untuk melepaskan diri dari situasi yang seketika berubah menjadi semakin canggung ini.
"Hmm ... maaf, maksudku tadi aku tiba-tiba ngebayangin ... emm ...," ucapku terbata-bata.
Namun tiba-tiba Ken justru membalikkan badannya ke arahku, tubuhnya semakin mendekat dan aku pun terkejut hingga tubuhku mematung, kini dia begitu dekat, tangannya tiba-tiba diletakkan di bibirku dan kurasakan jarinya terasa begitu lembut, fikiranku sekarang berlarian entah kemana, jantungku pun berdegup dengan kencang tanpa kutahu mengapa.
"Jadi beneran kamu tadi ngebayangin ciuman nggak langsung lewat cangkir itu?" ucap Ken yang sekarang begitu dekat di hadapanku dan masih memegang bibirku dengan jarinya yang terasa lembut.
"Hah? Enggak kok, mana berani aku ngebayangin kayak gitu, gila aja! Walaupun cuman ngebayangin, aku juga nggak berani kali, Luna secantik itu aja kamu tolak mentah-mentah, percaya deh aku nggak bayangin apa-apa kok, beneran!" jawabku dengan gugup.
Ken terdiam sejenak.
"Gimana kalau langsung aja tanpa dibayangin?" sahut Ken dengan wajah datar.
"Haah? Maksudnya?" tanyaku terkejut.
"Ciuman langsung," ucapnya.
"A ... a ... pa?" Aku semakin terkejut sampai tak bisa berkata lagi.
Aku masih tercengang dan seketika tubuhku bergetar tak menentu, lagi-lagi jantungku berdegup dengan kencang, sampai aku takut Ken dapat mendengarnya dari jarak sedekat ini. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dari luar, dan itu adalah suara Ayah yang baru saja pulang dari kerja lemburnya.
"Ruby ... kamu di dalem nak? Ayah pulang nih bawain ayam goreng buat kamu," ucap Ayahku yang sedang berjalan masuk.
Kami pun tertegun dan saling bertatapan sejenak, Ken mulai tersadar dan dengan cepat menarik tubuhnya yang sebelumnya begitu dekat denganku.
***
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, Favorit, Komen, dan vote ya :)...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Rizky Anindiya
hampir ke pergok sama pak satpam😂
2022-03-12
0
Abah Adoen
Ah gagal gagal lagi,Ken !
2021-10-11
0
Yuliana Nasbi
hampir ketauan deh
2021-08-19
0