Setelah penampilan temannya tadi, Renara dan teman-temannya berbaris sesuai kelompok masing-masing dan di depan tendanya masing-masing.
Hari mulai gelap, di tengah barisan mereka ada api unggun untuk menerangi setiap acaranya. Namun bagi Renara cahaya itu malah menjadi hal yang paling mengerikan, dia bisa dengan leluasa melihat mereka yang tak kasat mata sedang menatap acara ini, Di tambah dirinya baris di paling belakang.
"Ta, lo di belakang, gue takut," ucap Renara sambil memegang tangan Metta yang berada di depannya.
"Gak Ra, gue juga takut," ujar Metta yang sedang melihat anggota pramuka tampil.
Renara melihat banyak sekali di belakang nya sosok yang terbang berseliweran dengan tawa yang melengking nyaring karena melihat banyak cowok di sekitar sini.
Renara memang tidak terlalu menghiraukan sosok nya yang mengerikan, dia terlalu sering melihat sosok mengerikan di setiap harinya, yang dia khawatirkan adalah dirinya yang tidak bisa menahan energi negatif dari banyak nya sosok jahil yang buang kemari.
"Tolong bantu aku," ucap salah satu sosok yang tadi berseliweran di atas, kini sudah berada di samping Renara dengan rambut panjang menutupi wajahnya dan tanpa sehelai kain.
Renara merinding saat sosok itu berada di sampingnya, duduk memegang lututnya seolah dia memang membutuhkan bantuan.
"Aku kedinginan, tolong aku," sambung sosok tersebut yang kini sudah menatap Renara. Renara tidak menjawab perkataan itu, dirinya bersembunyi di balik tangan Metta.
"Ra, lo. kenapa sih?" tanya Metta yang melihat Renara ketakutan.
"Gak apa-apa, gue cuman dingin aja," jawab Renara berbohong, padahal dirinya sedang menahan mulut untuk tidak teriak saat melihat sosok itu kini berpindah menatap wajahnya.
Sedangkan Renara yang mendapat perlakuan seperti itu langsung memejamkan matanya sambil menutup mulutnya agar tidak teriak.
Sosok yang kini berada di hadapan Renara itu langsung tertawa nyaring yang mampu membuat sekujur tubuh Renara merinding mendengarnya.
"Kau takut dengan ku?" tanya sosok tersebut. Renara menutup rapat-rapat matanya, tidak ingin melihat sosok yang berada di hadapannya ini.
Dan tiba-tiba saja sosok itu menghilang dengan cepat di gantikan dengan sosok tua yang bisa di sebut sebagai penjaga tempat tersebut.
"Kenapa kalian membawa sosok aneh kemari?" tanya penjaga tempat tersebut.
"Aku tidak tahu, dia yang membawanya sendiri," jawab Renara dalam hati saat melihat sosok itu adalah penjaga tempat ini.
Ada rasa tenang, damai dan hangat ketika sosok penjaga itu menghampiri Renara.
"Beritahu dia untuk tidak membawa aneh-aneh," ucap Penjaga tersebut.
"Aku juga takut untuk memberitahukan itu padanya, bahkan aku juga sering di ganggu oleh sosok yang dia bawa," ujar Renara.
Sosok yang penjaga itu maksud adalah sosok kiriman Violetta yang menempel pada tubuh Angkasa dan Daren, sejauh ini baru mereka berdua yang Renara lihat menjadi target Violetta.
"Baiklah, biar aku yang mengusirnya," ucap penjaga tempat tersebut.
"Apa kamu takut dengan yang disini?" tanya sosok penjaga.
"Iya, mereka selalu mengganggu, padahal aku sama sekali tidak mengganggu mereka," jawab Renara.
"Kamu tidak usah khawatir, aku akan menjaga dengan sebisa ku," ucap penjaga tersebut yang langsung pergi bagai hembusan angin yang menyejukkan.
Saat ini Renara sedikit lega ketika mendapat penjagaan dari sosok tertua di sini.
"Ra," panggil seseorang dari arah belakang sambil menepuk pundaknya.
Renara yang mendapat perlakuan seperti itu langsung terlonjak kaget sambil melotot kan matanya menatap orang yang memanggil namanya.
"Ngagetin aja bang," ucap Renara saat melihat yang memanggil namanya itu adalah Daren.
"Kamu kenapa? baru segitu aja udah kaget," tanya Daren yang melihat Renara terlonjak kaget.
"Kata abang baru segitu? abang gak liat nAra ada di belakang? sedangkan di belakang nAra hutan?" tanya Renara bertubi-tubi.
"Udah, Nih abang lupa ngasih uang jajan," jawab Daren sambil memberi uang kepada Renara.
"Makasih bang," ucap Renara sambil tersenyum dan menerima uang tersebut.
"Fira mana?" tanya Daren sambil melihat dimana kekasihnya itu.
"Noh di depan, dia gak mau di tengah atau pun di belakang," jawab Renara yang menunjukkan safira berada di barisan kedua.
"Oh ya udah, jangan biarin dia tidur malam," ucap Daren.
"Emang Nara kotak pos apa?" tanya Renara.
"Ck, tinggal bilang gitu aja Ra," jawab Daren.
"Ya udah iya, nanti nara kasih tau sama Safira jangan tidur malem kata abang," ucap Renara.
"Adik baik," ujar Daren sambil mengacak rambut Renara dan berlalu pergi begitu saja.
Renara menahan kekesalannya saat rambutnya yang rapih itu di hancurkan seenak jidat, memang Daren halal untuk di banting jika sudah mengganggu mood Renara.
"Ra," panggil Angkasa yang berada di samping Renara.
"Eh, kenapa kak?" tanya Renara.
"Nih, minum nya bagiin ke depan," jawab Angkasa sambil memberikan minum kepada Renara untuk di bagikan ke depan dengan cara estafet.
"Ta, kedepanin," ucap Renara sambil memberikan minum kepada Metta.
"Kenapa di belakang?" tanya Angkasa.
"Gak ada yang mau di belakang katanya takut, jadi Nara ngalah aja, padahal Nara sendiri juga takut di belakang," jawab Renara.
"Mau kakak temenin?" tanya Angkasa menawarkan dirinya untuk menemani Renara.
"Tapi kakak harus bagiin ini," jawab Renara sambil melihat dus berisi minuman untuk di bagikan kepada yang lain.
"Iya, nanti abis ini kakak kesini, nemenin nara," ucap Angkasa.
"Boleh kak, kalau emang kakak mau tapi kalau kakak gak mau atau sibuk sama kegiatan kakak mending jangan ya kak, nanti Nara takut gara-gara kakak nemenin Nara malah buat kakak kena hukuman," ujar Renara sambil tersenyum manis kearah Angkasa.
"Iya, kalau kakak gak sibuk nanti kakak temenin ya," ucap Angkasa sambil mencubit pipi Renara.
"Sakit kak," ujar Renara sambil mengelus pipinya yang terasa sakit karena cubitan dari Angkasa.
"Maaf," ucap Angkasa sambil mengelus pipi Renara.
Renara tidak merasakan apapun ketika Angkasa menyentuhnya berbeda ketika Irsyam yang dengan menatap matanya dapat membuat Renara salah tingkah.
Lagi dan lagi, tanpa Renara sadari ada seseorang yang sedang menahan amarahnya ketika melihat adegan yang membuat hatinya sakit.
"Kakak pergi dulu ya," ujar Angkasa.
Metta dan yang lain tidak mendengar percakapan antara Angkasa dan dirinya, karena musik dari penampilan anggota pramuka itu bisa di bilang kencang.
Di saat Renara sedang asik menonton penampilan dari anggota pramuka, Tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di sampingnya dengan memasang wajah dingin andalannya.
"Sam," gumam Renara saat melihat orang yang berada di sampingnya itu adalah Irsyam.
"Kenapa kesini?" tanya Renara.
"Gak ada tempat duduk lagi," jawab Irsyam tanpa melihat kearah Renara.
Renara melihat sekeliling, masih banyak tempat kosong yang bisa di duduki bahkan layak untuk di tempati.
"Nara liat masih banyak tempat," ucap Renara yang masih melihat sekeliling.
"Basah," ujar Irsyam ketus.
"Tapi tadi gak ujan," ucap Renara.
"Kabut," ujar Irsyam.
"Lo kenapa sih dari tadi ketus mulu?" tanya Renara yang geram mendengar jawaban Irsyam.
"Gak," jawab Irsyam singkat.
"Terserah," ucap Renara yang kesal dengan tingkah Irsyam. Dia kembali melihat penampilan dari anggota pramuka tanpa memperdulikan Irsyam yang kini sedang menatap dirinya gemas.
"Hati gue sakit liat lo sama cowok lain Ra," ucap Irsyam dalam hati sambil menatap kearah Renara yang sedang menggembungkan pipinya.
"Kenapa liat-liat?" tanya Renara kesal.
"Lo cantik, jangan biarin cowok lain nyentuh lo," jawab Irsyam sambil mengelus pipi Renara yang tadi di pegang oleh Angkasa.
Renara masih mencerna kata-kata Irsyam, dirinya di buat salah tingkah ketika tanpa aba-aba Irsyam mengelus pipinya lembut.
Mungkin saja saat ini pipinya sudah bersemu merah karena hal kecil yang dilakukan oleh Irsyam padanya, padahal sebelum ini Angkasa menyentuh pipinya tapi tidak sampai membuat dirinya bersemu dan salah tingkah.
Irsyam memberhentikan perlakuannya tersebut, membuat Renara membuang muka ke sembarang arah, menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Gue gak suka liat lo sama Angkasa," bisik Irsyam tepat di telinga Renara dan berlalu pergi meninggalkan Renara yang diam mematung mencerna kalimat yang baru saja di bisikan kepadanya.
"Apa maksudnya?" tanya Renara dalam hati.
"Gue gak suka liat lo sama Angkasa?" tanya Renara.
"Apa dia cuman main-main sama gue karena gabut?" tanya Renara pada dirinya sendiri.
"Apa itu sebuah peringatan atau pernyataan saja?" tanya Renara dalam hati.
Batinnya terus bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk memenuhi hatinya, karena kalimat yang keluar dari mulut Irsyam mampu membuatnya beralibi yang tidak tentangnya.
"Lo baik-baik aja kan Ra?" tanya Metta yang merasakan Renara tidak memegang tangannya lagi.
"Gak apa-apa Ta, gue cuman ngantuk aja," jawab Renara berbohong.
"Sama gue juga Ra, pengen rasanya tidur," ucap Metta.
"Ini kapan selesainya sih ra?" tanya Metta.
"Kayaknya bentar lagi," jawab Renara. Metta tidak lagi membalas perkataan Renara, dia kembali melihat penampilan dari kakak kelasnya itu.
Yang Renara pikirkan saat ini adalah kalimat yang Irsyam lontarkan pada telinganya, dia melihat kearah Irsyam yang saat ini sedang menatap dirinya.
"Kenapa ganteng banget?" tanya Renara dalam hati saat melihat Irsyam yang tersenyum tipis kearahnya.
Namun tiba-tiba saja saat Renara sedang menatap Irsyam, ada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Liatin apa Ra?" tanya Angkasa yang sedang duduk di samping Renara.
"Eh, engga apa-apa kak," jawab Renara sambil sesekali melihat Irsyam yang merubah raut wajahnya menjadi dingin dan tatapannya yang menjadi tajam saat Angkasa duduk di sebelahnya.
Tidak ada percakapan lagi diantara Angkasa dan Renara, dia tidak berani memulai obrolan ketika Irsyam masih terus menatap dirinya.
"Ngantuk?" tanya Angkasa yang melihat Renara menyandarkan kepalanya di punggung Metta.
"Iya," jawab Renara kembali bangkit dari punggung Metta.
"Bentar lagi juga beres," ucap Angkasa.
"Emang kakak gak sibuk?" tanya Renara.
"Sibuk tapi nyempetin waktu kesini," jawab Angkasa.
"Kan Nara udah bilang kalau sibuk jangan maksain, nanti kakak kena hukuman," ucap Renara.
"Ini mau pergi lagi," ujar Angkasa.
"Yaudah sana, nanti kakak malah kena hukuman gara-gara nemenin Nara," ucap Renara.
"Khawatir ya?" tanya Angkasa sambil mengelus mengacak rambut Renara gemas.
"Engga," jawab Renara sambil menurunkan tangan Angkasa dari kepalanya, sambil sesekali menatap kearah Irsyam yang sedang melihatnya dengan tatapan tajam.
"Kakak pergi dulu ya," ucap Angkasa berlalu pergi meninggalkan Renara yang sedang di tatap tajam oleh Irsyam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
atmaranii
klo cinta blg bos?!
2021-09-17
0
ᶜᶠkavella hera🌿🌿[🐧²⁴]
cieee irsyam cembokir berat,,😁 lanjjut thor
2021-06-30
0
Nurhalimah Al Dwii Pratama
sam cemburu😂😂😂
2021-06-10
0