"Mau apa kamu, Mas?" tanya Yumna dengan nada waspada.
Langit tidak menjawab. Ia terus melangkah semakin dekat dengan Yumna. Reflek, Yumna melangkah mundur saat Langit berjalan mendekat. Dengan tangan yang gemetar, ia remas kuat-kuat handuk yang masih melilit di tubuhnya.
"Ma-Mas...jangan begini," ucap Yumna sembari mendorong tubuh Langit yang begitu dekat dengannya.
Langit tersenyum miring. Ia merasa sangat puas bisa mengerjai Yumna. Karena sedari tadi, Yumna terus menerus menggodanya. Ia hanya ingin membalas apa yang di lakukan oleh Yumna.
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan indah, yang istriku suguhkan," bisik Langit di telinga Yumna. Membuat tubuh Yumna menegang seketika, serta wajah yang sudah memerah karena malu.
Langit tersenyum puas melihat ekspresi Yumna. Wanita ini terlihat nakal, namun ternyata masih sangat polos. Ucap Langit dalam hati.
Yumna memejamkan mata saat wajah Langit semakin mendekat. Jantungnya berdetak lebih cepat, tidak seperti biasa. Ia harus mencari ide untuk menggagalkan rencana Langit.
Disaat hidung mereka hampir bersentuhan, dengan keberanian penuh, Yumna menginjak kaki Langit hingga mengaduh kesakitan. Membuat celah untuk Yumna, dengan cepat Yumna menyambar bajunya lalu berlari masuk kedalam kamar mandi.
Dengan detak jantung yang belum normal, Yumna melihat pantulan dirinya dari cermin. Pantas saja dia seperti itu. Mana tahan lihat tubuhku yang bahenol seperti ini, apalagi yang tertutup hanya sebagian. Jangan memantik api, bila kamu tidak siap terbakar. Yumna bermonolog sendiri.
Sedangkan Langit tertawa puas melihat reaksi Yumna seperti itu. Menjahili wanita ini sangatlah menyenangkan. Tapi kenapa tadi aku sangat menginginkan untuk menyentuh kulitnya? Benar-benar bahaya banget, tuh cewek. Bila-bila aku tadi lepas kendali, bila saja dia tidak menginjak kaki ku. Rutuk Langit dalam hati.
Setelah beberapa saat Yumna menunggu Langit keluar dari kamar mandi, Langit keluar dengan handuk yang melilit di pinggang. Membiarkan tubuh bagian atasnya bebas terekspos.
Yumna sempat terperangah sebentar, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia tidak mau terkena serangan jantung di usia yang masih muda.
Setelah selesai memakai baju, Langit menghampiri Yumna yang duduk di sofa sebelah jendela. Dengan langkah yang tegas, Langit mendekat sambil membawa kertas yang ada di tangannya.
"Nih baca! Jangan sampai ada yang terlewat," Langit menyodorkan kertas itu, lalu duduk di sebelah Yumna. "Lalu tulis apa yang menjadi persyaratan darimu."
Yumna membaca kertas yang di berikan oleh Langit. Sejenak ia terdiam lalu mengerutkan keningnya. Lihat saja, sampai mana kau akan bertahan denganku. Jangan panggil aku Ayumna Natakusuma, bila tidak bisa menahlukkan lelaki sepertimu. Ayumna tersenyum miring saat selesai membaca isi kontrak tersebut. Menurutnya, isi kontrak itu terlalu konyol.
Perjanjian Kontrak Nikah.
Persyaratan dari pihak pertama:
~Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.
~Bersikap mesra hanya di depan keluarga dan di depan umum.
~Pihak kedua harus selalu siap bila pihak pertama membutuhkan.
~Pihak kedua tidak boleh memiliki hubungan dengan laki-laki lain.
~Tidur di ranjang terpisah meski satu kamar.
~No ****, no love
"Hanya ini?" tanggapan Yumna di luar dugaan Langit.
Akan ku buat kau terikat bersamaku selamanya. Ucap Yumna penuh tekad. Lalu ia menulis di atas kertas itu.
Persyaratan dari pihak kedua:
~Pihak pertama tidak boleh menceraikan pihak kedua, kecuali pihak kedua yang menginginkan perceraian itu.
Yumna menyodorkan kembali kertas yang berisi perjanjian tersebut. Langit memicingkan matanya saat membaca persyaratan dari Yumna.
"Bagaimana mungkin, hanya kamu yang boleh meminta bercerai?" Langit tidak percaya dengan apa yang di tulis oleh Yumna.
"Kenapa memangnya? Toh, aku tidak boleh memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Jadi apa masalahnya?" Yumna berkata dengan santainya. "Bisa saja sih, aku ganti. Tapi ada persyaratan yang harus aku ubah. Pertama, Mas harus bersikap terbuka denganku. Kedua, tidak boleh ada orang ketiga diantara rumah tangga kita. Ketiga, aku wanita normal. Mungkin suatu saat juga akan menginginkan hubungan yang intim. Gimana? Dengan begitu, Mas boleh menceraikan aku setelah setahun pernikahan kita." Yumna menantang Langit.
Langit mendengus kesal. Ternyata wanita yang menjadi istrinya ini adalah wanita licik. Jika tetap dengan pendiriannya, ia akan terperangkap dengan wanita ini selamanya. Bila memilih pilihan terakhir dari Yumna, maka ia harus bersiap dengan segala pertanyaan yang di lontarkan Yumna di masa mendatang.
"Baik. Aku Terima tawaranmu."
"Tawaran yang mana?" tanya Yumna menatap lebih dekat mata Langit.
"Yang terakhir," jawab Langit. "Lebih baik, siapkan dirimu dari sekarang. Karena aku bisa melakukan itu tanpa cinta," bisik Langit di telinga Yumna, dengan kata sebuah ancaman bagi Yumna.
Yumna mendorong tubuh Langit. Lalu memberikan kertas itu lagi. "Kalo begitu, ubahlah!" ucap Yumna memalingkan wajahnya. Detak jantungnya, berdetak lebih cepat dari batas normal. Kenapa jantungku yang heboh. Tidak mungkin 'kan, aku jatuh cinta padanya secepat ini? Pasti ada yang tidak beres dengan kesehatan jantungku. Aku harus memeriksakannya besok ke dokter. Yumna menggelengkan kepalanya.
Langit tersenyum tipis, saat mendapati raut muka Yumna yang memerah. Ia bisa tahu kalau Yumna itu sebenarnya masih polos.
Malam pengantin yang seharusnya menjadi malam paling indah dan penuh kenangan. Namun tidak berlaku bagi mereka. Dengan terang-terangan, mereka mengibarkan bendera perang.
Karena ini masih malam pertama bagi mereka, dengan terpaksa mereka tidur di ranjang yang sama dan saling berbagi.
Hawa malam yang dingin, di tambah AC yang menyala. Membuat mereka saling mencari kehangatan. Tanpa di sadari, mereka tidur dengan saling berpelukan. Saling menyalurkan kehangatan di tubuh mereka.
Keesokan harinya. Yumna mengerjapkan matanya dengan pelan. Tubuhnya terasa berat, terutama di bagian perut dan kakinya. Yumna terkejut saat menoleh kesamping mendapati wajah Langit yang begitu dekat dengannya.
Lalu menatap ke bawah. Ternyata penyebab tubuhnya terasa berat, karena lengan Langit dan kakinya memeluk tubuh Yumna dengan posesif. Dengan hati-hati dan pelan, Yumna mengurai pelukan dari tangan Langit. Namun sangat sulit sekali, bahkan Langit semakin mengeratkan pelukannya.
"Ma-Mas...bangun," Yumna mencoba menusuk-nusuk pipi Langit dengan Jemarinya.
"Mmhh," bukannya melepas, Langit malah menyerukan wajahnya di ceruk leher Yumna dengan mata yang masih terpejam. Entah hal itu Langit lakukan dengan sadar atau tidak.
"Aku mau sholat, Mas. Lepasin tangannya!" Karena merasa kesal, akhirnya Yumna berkata dengan nada sedikit tinggi.
Love You Gaes😘
Sorry, slow up ya masihan🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
nt 5 semangat
2024-06-17
1
Diana diana
ngontrak hati . .
2024-02-20
0
H A R U K A ~C H A N
aiiihhhhh... pake acara kontrak2an segala. kayak rumah aja dikontrak 😂😂😂
2023-09-22
0