Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan. Hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman restoran yang lumayan mewah.
Ayumna baru menyadari tempat janji dirinya dan Gio bertemu adalah di restoran yang terkenal dengan nuansa keromantisannya. Bagi pasangan muda, belum afdol rasanya bila mereka tidak berkunjung ke restoran ini. Selain tempatnya yang romantis, menu makanan di sini juga tidak diragukan lagi kelezatannya.
Langit membiarkan Ayumna berjalan lebih dulu memasuki restoran dan menemui Gio, kekasihnya. Setelah Ayumna masuk dan mendekat ke arah Gio, baru Langit mencari tempat duduk yang tidak jauh dari tempat Ayumna dan Gio. Langit duduk di belakang Gio yang hanya terpisah satu meja dengan meja Gio. Tentu saja Langit tidak mengetahui keberadaan Langit.
"Maaf, aku telat. Ada pasien yang harus ku periksa terlebih dahulu."
Ayumna mencoba sebisa mungkin tidak menampilkan rasa rindunya terhadap lelaki di hadapannya kini. Menjalin hubungan yang sudah bertahun-tahun lamanya, tidak ia pungkiri bahwa di hatinya masih ada Gio. Lelaki yang selalu ada saat dirinya membutuhkannya.
"Santai aja, aku juga baru datang. Oh ya, mau pesan apa? Kebetulan aku belum makan siang tadi," Gio berusaha tidak menampilkan kekecewaannya terhadap wanita yang sudah ia jaga selama ini.
Selama ini Gio selalu menjaga Ayumna dengan setulus hati. Ia juga tidak pernah menyentuh Ayumna, meski penampilan Ayumna yang suka sekali dengan pakaian yang melekat pas di tubuh nya. Tak sekali pun Gio berpikiran untuk melecehkan Ayumna, karena ia terlalu mencintai wanita itu.
Saat mereka jalan, mereka hanya sebatas berpegang tangan dan tak lebih dari itu. Ia juga belum pernah mencium Ayumna. Gio selalu menghargai apa yang kekasih hatinya itu inginkan.
Gio tidak marah pada Ayumna saat mengetahui Ayumna menggantikan posisi Jesicka. Ia hanya menyesalkan kenapa Ayumna tidak meminta pendapatnya terlebih dulu dan membicarakan masalah itu dengan nya.
Padahal selama ini mereka selalu bertukar pikiran, karena profesi mereka yang sama. Ya, Gio juga seorang dokter umum di rumah sakit Mahardika.
"Emmm ... Sebenarnya ada yang aku omongin. Aku ...." Ayumna tidak bisa melanjutkan ucapannya karena langsung di potong oleh Gio.
"Kita makan dulu. Baru bahas apa yang mau kamu omongin!" potong Gio dengan cepat.
Dia tahu apa yang mau di omongin sama Ayumna. Tapi, dia hanya ingin makan bersama untuk yang terakhir kalinya dengan Ayumna. Karena tidak mungkin hubungan mereka bisa di perbaiki lagi.
Kemudian mereka makan malam dengan sesekali mengobrol tentang masa-masa indah mereka. Ada rasa sakit di hati Ayumna saat membahas tentang itu. Begitu sakit namun tidak berdarah.
"Gio ...." Ayumna mulai mengutarakan apa yang mau ia sampaikan.
"Bicaralah, aku siap mendengarkan keputusanmu," Gio berusaha tersenyum meski hatinya juga merasa sakit.
Ayumna meremas ujung baju yang ia pakai. Genangan air di pelupuk matanya pun sudah mendesak ingin mengalir bebas. Sekuat tenaga ia menahannya namun, apa yang di pertahankan lolos juga.
"A-aku ...." Ayumna menangis sejadi-jadinya sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Gio yang melihat Ayumna seperti itu, bangun dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah Ayumna. Ia bawa tubuh wanita yang selama ini ia jaga dengan aman ke dalam dekapannya.
Hatinya tidak sanggup melihat Ayumna seperti ini. Ini pertama kalinya mereka berpelukan, dan mungkin juga menjadi yang terakhir untuk mereka lakukan.
Gio mengusap punggung Ayumna dengan penuh cinta, memberi kenyamanan agar Ayumna bisa lebih tenang. Setelah di rasa tenang, Gio melepas dekapannya pada Ayumna.
Sementara Langit yang melihat itu, mengepalkan tangan dan menggertakan rahangnya. Ia merasa marah dan ingin memukul Gio, karena sudah berani menyentuh istrinya. Namun, itu semua ia urungkan agar permasalahan Ayumna dengan kekasihnya cepat terselesaikan.
"Udah, jangan nangis. Aku tau apa yang mau kamu sampaikan," tangan Gio mengusap air mata yang membasahi wajah wanita cantik itu.
"Maaf ...." hanya itu yang mampu Ayumna ucapkan.
"Kita tidak tau apa yang di rencanakan oleh sang Pencipta. Manusia hanya bisa berencana namun, Tuhan lah sebaik-baiknya perencana itu. Kita jalani saja apa yang sudah di gariskan. Meskipun hati kita sakit, tapi kita harus menjalaninya dengan ikhlas. Jadilah seorang istri yang patuh pada suami, turuti semua perintahnya. Karena surgamu ada di ridho suamimu, Ay. Meski berat bagiku untuk melupakan semua kenangan tentang kita, mungkin ini skenario yang paling baik untukku," Gio mengusap kembali air mata yang terus mengalir di pipi Ayumna.
"Maaf ...." ucap Ayumna di sela tangisannya. Hanya itu yang mampu di ucapkan olehnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
pipi gemoy
baca ulang Thor 🙏🏼😎
2025-04-03
0
Diana diana
sadboy , tapi aku salut sama Gio . .
2024-06-23
1
Katherina Ajawaila
kasihan cinta setia, perlu pengorbanan gede, demi teman dekat yg spt saudara
2024-03-13
2