Di weekend kali ini, empat sekawan yang melegenda di zamannya berkumpul di rumah sang pemimpin, Mikhayla.
Elly, teman sekaligus adik dari suaminya Mikhayla. Dia adalah ibu dari Rey dan istri dari Bramasta yang kebetulan adalah teman Mikhael sewaktu SMA.
Della, salah satu teman Mikhayla yang merupakan ibu dari anak teman anaknya, Zaidan. Della merupakan istri dari Rendy yang merupakan teman kelas mereka sejak kelas 1 SMA.
Dan yang terakhir adalah kembarannya, Bella. Yah, Bella. Sang Mommy dari Reyna itu baru saja tiba malam tadi di tanah air. Sengaja dia dan Marchel suaminya tidak memberi tahu kedua anaknya untuk memberi kejutan. Setelah menginap semalam di kamar hotel bintang lima, tepat pada saat anak-anak pergi sekolah mereka sampai di rumah Mikhayla.
Mikhayla senang bukan kepalang. Selain bisa berkumpul dengan para sahabatnya, juga bisa melepas rindu pada sang Kakak yang sangat jarang berkunjung ke tanah air.
Memang, Marchel dan Bella tidak tinggal di Jakarta. Mereka menetap di New York karena beberapa alasan. Kebetulan putra-putri mereka sekolah di Jakarta, sekalian saja mereka pulang untuk sekedar berkunjung dengan keluarga.
Jika tidak salah, sepuluh tahun yang lalu mereka menginjakkan kaki di Indonesia. Karena sudah terlalu lama juga akhirnya Marchel pun menyetujui permintaan sang Istri yang kebelet ingin pulang.
Dan di sinilah mereka berada! Di balkon rumah Mikhayla dengan banyaknya hidangan yang tersaji. Para tamu terduduk di sofa yang disediakan sementara anak-anak bermain di bawah sana. Jangan lupakan juga Baby Kia yang Mikhayla sodorkan pada si putra bungsu, Zaidan.
Malang sekali memang nasib Zaidan.
" Gila gak sih? Si Bella saking lupdirnya gak balik-balik. Mentang-mentang suaminya bule, " Ucap Elly tersungut-sungut.
" Bukan Bella namanya kalo gak lupdir! " Sambung Mikhayla.
" Bukan kembaran gue itu, " Tambah Della.
Bella mendelik, " Whatever! " Ucapnya yang langsung disoraki ketiga temannya.
" So inggris loe kampret! ".
" Tahu, makan sama kepala asin juga loe. "
" Heh durjana lu Key! Gini-gini Kakak loe termasuk suami idaman yah! Gak pernah tuh kasih gue makan ikan asin, apalagi makan hati. " Semprot Bella.
" Wuuuuhh!! " Sorak ketiganya diiringi dengan bantal kursi yang melayang ke arah Bella.
" Jangan lempar-lempar! " Bentak Marchel menarik Bella kedalam dekapannya.
" Hilih, posessivenya kumat. " Delik Elly.
" Bagus dong, sayang istri itu. " Ucap Della.
" Ya gak gitu juga kelez. Ah, gak asik Kak Ecel mah! " Rengek Mikhayla seperti biasa.
Sementara Bram, Rendy dan Mikhael hanya bisa terkekeh melihat wajah kesal istri-istri mereka. Kecuali Della tentunya. Karena bagaimana pun situasinya, wajahnya tetap sama. Datar.
" Bukan gitu, Key. Kamu mau keponakan kamu penyok? ".
" By! " Tegur Bella.
Karena ucapan Marchel, seluruh pasang mata terarah padanya. Dan Bella hanya bisa meringis sambil mengangguk kecil.
" Gue hamil lagi, guys. "
Krik.. Krik..
" Alhamdulillah!! " Mikhayla memekik senang. " Syukurlah Bell.. Loe bunting lagi. Kirain gue di antara kalian yang keseringan buat anak, sampe lahir Kia. Tapi ternyata, elo yang lebih sering Bella. Bwa ha ha.. ".
" Apa si? Omongan loe Mikhayla, buat gue keki. "
" Elah Bel.. Serius gue. Seneng loh ini, di antara kita bukan lagi gue yang punya anak kecil, " Ungkap Mikhayla.
" Serah loe deh! ".
" Mih, tuh lihat! Kembaran kamu aja hamil lagi. Anak ketiga. Masa kamu gak mau sih aku hamilin? Tasya sama Farzan udah gede loh, pas buat bikin adik lagi. " Bujuk Rendy menggoyang-goyangkan lengan Della layaknya anak kecil meminta jajan.
" Gak, ".
" Ah.. Maunya iya. Yah, Mih? ".
" Enggak, ".
" Mamih.. ".
" Bikin sendiri! ".
Rendy tertohok, " Astaga, minta di sumpal bibir Papih itu mulutnya. "
" Pih! ".
Mikhayla dan Bella tertawa melihat pertengkaran mereka. Namun seketika tawa mereka terhenti melihat wajah sedih Elly dengan Bram yang setia mengelus pundaknya.
" El, Sorry. " Mikhayla angkat suara.
" Gak kok, santai aja. " Balas Elly berusaha tersenyum.
" Emang masih belum ketemu ya, Ly? Udah belasan tahun loh ini, " Tanya Bella hati-hati.
" Udah, dia adik kelasnya Rey. Tapi.. Entah kenapa hati gue berkata itu bukan dia. Hiks.. " Tangisan Elly pun pecah.
Mikhayla, Bella dan Della saling tatap. Kompak mereka berjalan ke arah Elly dan bersama-sama memeluk sahabatnya.
" Udah dong, jangan nangis. Kalo memang Tuhan mengizinkan, loe bakalan nemuin dia kok. " Hibur Mikhayla.
" Bener tuh, ".
" Sabar Ly.. Ini ujian buat rumah tangga loe. Gak semua yang hidup berjalan mulus, " Ucap Bella.
" Serius dia? " Pertanyaan dari Mikhael membuat keempatnya menoleh.
Rupanya Bram sudah pindah tempat dan sedang menunjukkan foto gadis yang Elly ketahui adalah putrinya yang hilang.
" Iya. Dari mata-mata yang gue kirim, memang dia. Dan katanya, dialah anak gue yang hilang tujuh tahun yang lalu. "
" Kok gue gak yakin yah? " Ucapan Mikhael membuat keempat Bunda yang tengah terduduk bersama itu menegang.
" Coba loe lihat deh, di mana miripnya? Gak ada! " Mikhael menyodorkan selembar foto yang tadi diambilnya dari Bram.
" Gak semua anak memiliki kesamaan fisik orangtuanya, Mikhael. "
" Ya minimal ada lah, meskipun itu 5%. Entah dari hidung, mata, rahang, kesukaan, bahkan gigi sekalipun. "
" Gigi? ".
" Adik gue punya gigi gingsul. Bener kan Ly? " Tanya Mikhael.
" Iya, ".
" Loe suaminya masa gak tahu? " Ejek Mikhael.
" Bukan gitu. Gue— ".
" Perlu bantuan? " Semua tatapan teralih pada Marchel.
" Mencari orang, menculik orang, bahkan memusnahkan orangpun tidak membutuhkan waktu belasan tahun untukku. "
Deg.
Ucapan Marchel membuat mereka tertohok. Ditengah keterkejutannya, Rendy bergumam:
" Kok gue bisa lupa yah? Kalo suami si Bella ini iblisnya manusia, ".
--
Ditengah ketegangan para orang tua, para anak-anak mereka justru malah sedang merasakan hal lain di sekolah. Terutama Morgan.
Marah, kesal, ingin menghajar, dan ingin menangis menjadi satu melihat Reyna memeluk pria yang entah siapa namanya.
Morgan kesal bukan main. Dengan santainya Reyna memeluk pria lain tepat di hadapannya. Apalagi senyuman manisnya itu, membuat Morgan ingin menggigit bibir Reyna sampai berdarah. Supaya gadis itu tidak berani menebar senyumannya untuk pria lain lagi.
Hanya untuk Morgan senyuman Reyna diciptakan!.
" Reyna Angelica!!! " Teriakan Morgan menggelengar memenuhi lapangan.
Tidak tahan lagi rasanya dia hanya diam menyaksikan kegublukkan di depannya.
Bukan hanya Reyna dan Gavin saja yang terkejut, bahkan Nayara yang hendak duduk di barisan para siswi pun mendadak oleng. Untung ada David yang sigap menariknya.
" Ara, loe gak apa-apa? ".
" Gak papa kok. Tapi itu? ".
Tatapan David teralih pada Morgan. Dia berdecak sambil berkata:
" Gak ada akhlak banget si Morgan. Promosi belum di mulai udah teriak-teriak aja. Padahal ini bukan jamnya Osis, ".
Kembali pada Reyna. Gadis itu melepaskan pelukannya dari Gavin dan menatap nyalang pada pria yang meneriaki namanya.
" Apa sih?! Loe ngapain teriakin nama gue segala Morgan?! ".
" Loe yang ngapain peluk dia?! " Bentak Morgan.
Reyna tersentak. Baru kali ini dia melihat wajah Morgan yang dipenuhi amarah. Tapi kenapa? Mustahil karena dia memeluk sahabat kecilnya ini kan?.
Wait, kayak pacar yang kepergok selingkuh saja dia.
" Sini gak?! ".
" Loe kenapa sih Morgan? Masalah loe sama gue apa? " Reyna mulai kesal.
" Loe itu milik gue. Ngapain deketin dia segala?! " Tunjuk Morgan pada Gavin.
Sontak pernyataannya menjadi bincangan hangat para siswa.
" Serius pacarnya? ".
" Masa sih? Gue denger mereka sepupu loh, ".
" Gila gila, ini beneran? ".
" Meskipun sepupu, kalo cantiknya kayak gitu siapa yang nolak? ".
" Asli dong woy. Boro-boro Morgan, kalo gue jadi David aja udah gue embat tu si Angel. "
Bisikan demi bisikan mulai terdengar mericuhi lapangan. Di tempatnya, Gavin tersenyum miring.
" Reyna, siapa? " Tanyanya lembut.
Reyna mengadahkan kepalanya menatap Gavin.
" Sepupuku. Morgan, ".
Gavin tersenyum penuh misteri, " Oh.. Sepupu, " Ucapnya.
" Hubungan sama sepupu gak baik kan? " Tanyanya dengan seringai iblis.
" Anyingg!! ".
Morgan maju dan menghajar Gavin habis-habisan. Kejadian singkat itu tidak terprediksi oleh Reyna sebelumnya. Sehingga dia hanya bisa menutup mulutnya menyaksikan pertengkaran antara teman dan sepupunya.
" Angel, loe kok diem aja sih? Pisahin mereka! Loe mau diem sampai salah satunya mati?! ".
Mendengar teriakan Freya, cepat-cepat Reyna menengahi mereka karena baik di antara siswa maupun kumpulan Mahasiswa, tidak ada yang berani menengahi keduanya.
" Stop! " Dan kini, beradalah dia di antara Morgan dan Gavin yang kepalan tangan keduanya tepat berada di samping pipi Reyna.
Nafas mereka memburu, tatapan nyalang senantiasa keduanya pancarkan. Sudah jelas mereka saling membenci. Bahkan dipertemuan pertama ini.
Ketika Reyna membuka mata, Morgan mencekal pergelangan tangan Reyna dan menariknya menjauh. Sebelum benar-benar pergi, dia sempat menatap Gavin tajam dan berkata dengan penuh penekanan:
" Mine. Loe ganggu, kelar hidup loe! ".
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
maestuti dewi saraswati
gue kok ngira nayara deh adiknya rey yang hilang
2021-09-10
1
💝GULOJOWO💝
Kyak nya Nayara dech yang anak nya Elly 🤔
2021-05-12
2
Topik Hidayat
lanjut thor
2021-05-10
1