" Nana?! " Pekik para sahabat Morgan, kecuali David yang tahu nama panggilan norak itu.
" Kapan lo ke sini, Na? Kok gue gak denger lo mau ke sini? " Tanya Morgan menghiraukan pekikan para sahabatnya.
Reyna mengerutkan keningnya, " Lo siapa? ".
" Hah? " Morgan melongo, dia menatap David seolah meminta penjelasan.
David berdehem, " Dek, ini Morgan. Anaknya Aunty Mikhayla, yang dulu lo sebut si cengeng. "
Alis Reyna terangkat satu, dia berusaha mengingat nama itu. Tapi sayang, dia sama sekali tidak ingat.
" Gak inget gue, " Ucapnya santai, membuat mata Morgan membelalak.
" Gila ya lo, sama sepupu sendiri gak inget. Wah.. Bahaya nih, ".
David cekikikan, " Maklum lah Mor, 12 tahun. "
Rey dan Arzan yang hanya diam rupanya sedang mengagumi wajah ayu si bule.
" Astoge.. Matanya gak biru, tapi tetep indah. Hidungnya, uh.. gemes gue, pengen gigit. " Celetuk Arzan, membuat fokus mereka teralihkan kepadanya.
" Gigit gigit, jari lo gue gigit! " Semprot Morgan.
" Apa si woy, ngegas amat. Selagi Angel jomblo, dia milik bersama. Ya gak?! " Seru Arzan disambuti sorakan dari para anggota Osis.
" Bicit amat lu, " Tatapan Morgan kembali pada Reyna. " Na, lo serius gak inget gue? Demi Alex, gue gak pernah lupain lo loh Na. Masa lo lupain wajaj ganteng gue sih, ".
" Apa sih? Kok Kakak sebut gue Na Na mulu? " Ketus Reyna.
Mendengar kata ' Kakak ', membuat senyuman merekah di wajah Morgan, namun itu terlihat begitu menyeramkan di mata para teman-temannya.
" Nah, kan. Sebut Kakak. Berarti lo inget gue yah? ".
" Gak. Kak David, di mana kelas Angel? " Tanya Reyna mengalihkan pembicaraan.
" Oh, lupa gue Dek. Kelas belum di atur, MOS nya aja baru mau di laksanain siang ini. Jadi para Mubar diem aja di sisi lapangan. Kayak gitu tuh! " Tunjuk David pada banyaknya siswa-siswi yang berjejer di pinggir lapangan.
Reyna menahan nafasnya sejenak, saat melihat penampilan para murid yang seangkatan dengannya.
" Osisnya kampungan baget, yah? Di suruh pake rok kok dari tali rapia. Gak bisa apa bahannya jeans? Biar keren, " Gumam Reyna yang sayangnya di dengar Morgan.
" Gue loh Osisnya, Na. ".
" Katro berarti, ".
" Lo— " Morgan menunjuk Reyna, membuat David dan Rey menahan nafasnya was-was.
Reyna menatap Morgan, lalu turun pada telunjuk Morgan yang menunjuk ke arahnya. Cepat dia mendekat dan—.
Hap.
" Aaa!! Reyna!!! " Morgan menjerit, berusaha menjauhkan kepala Reyna yang sedang menggigit jari telunjuknya keras-keras.
Arzan syok, begitupun para anggota Osis yang menutup mulut mereka dengan David yang berusaha menarik tubuh adiknya.
Reyna menjauhkan wajahnya dari jari Morgan. Dia menatap puas pada hasil karyanya pada jari sepupu itu.
Sebenarnya Reyna merasa bersalah, tapi salah Morgan juga yang menunjuknya! Rupanya kebiasaannya memang sudah mendarah daging, selalu menggigit jika ada yang menunjuknya.
" Hiks.. Jari gue, Mommy.. " Rengek Morgan mengusap jari telunjuknya yang merah. Bahkan banyak bekas gigi Reyna di sana.
" Cengeng, ".
" Dek, jangan gitulah! Gak baik loh. Gimana kalo— ".
" Ya salah sendiri. Udah tahu itu kebiasaan Angel, tu orang malah sengaja minta Angel gigit. " Belanya.
" Na, jangan jari gue napa? Kalo mau gigit, nih bibir gue aja! " Ujar Morgan memanyunkan bibirnya.
" Ih, " Reyna bergidik.
Beberapa anggota Osis terkikik dengan candaan Ketua mesum mereka, berbeda dengan gadis yang berada di sisi Morgan.
Nadia, dia menatap Reyna tidak suka.
" Siapa si tu cewek? Caper banget sama si Morgan, " Batinnya.
Reyna tahu itu, dia tahu ada wanita yang menatapnya tidak suka. Namun baginya, itu sudah menjadi hal yang biasa! Memang, memiliki paras cantik bukan hal yang tabu lagi dengan yang namanya tatapan iri.
" Kak, Angel ke sana! ".
" Hm. Gue anter, ".
" Gak usah! " Reyna melangkah pergi bergabung dengan kumpulan para murid baru.
Morgan mengikuti punggung Reyna, sebelum disadarkam oleh perkataan David.
" Jadi kita di kumpulin di lapang buat mulai Mos nya, Mor? ".
" Hah? Iya. Kata Pak Kepala Sekolah, Mosnya satu minggu. Dan di minggu terakhir pembagian kelas, " Jelas Morgan.
" Ayok, mulai aja! Bel udah bunyi dari tadi loh, " Nadia angkat suara.
Semua mengangguk setuju. Mereka pun melangkah bersama menuju tengah lapangan untuk memulai keseruan bersama para murid baru.
--
Di pinggir lapangan, Reyna mendapat banyak godaan dan tatapan tidak suka dari para siswa/siswi yang terduduk dekat dengannya.
Namun Reyna yang terbiasa acuh para orang yang tidak dikenalnya hanya menunjukkan wajah biasa dengan tatapan fokus ke depan di mana para anggota Osis memulai permainan.
" Pagi anak-anak!! Monyett, " Morgan berseru, dengan memelankan kalimat terakhirnya.
" Pagi Kak!! ".
Arzan yang berada tepat di sebelah Morgan terkekeh.
" Dosol lo, Mor! Gimana kalo mereka denger coba? Dasar Osis sengklek! ".
" Bodo amat, ".
" Pada semangat gak nih?! " Seru salah satu perempuan beralmamater Osis.
" Enggak! ".
" Kok enggak? Sarapan gak siang tadi? " Teriak Morgan.
" Pagi Kak! " Ralat para murid.
" Pagi juga, ".
" Huh.... Modus lo! " Sorak para anggota Osis.
Morgan terkekeh.
" Mau main gak? " Teriaknya lagi.
" Enggak! ".
" Kok enggan? ".
" Bosen!! ".
" Kok bosen? Maunya apa dong? Kencan sama gue? Ayok! ".
" Aaaa!! " Para siswi berteriak histeris. Sementara para siswa:
" Ih najis!! ".
" Gelay! ".
Tawa Morgan semakin pecah. Lalu tatapannya teralihkan pada gadis cantik yang duduk di pojokan, dengan mata yang tertuju padanya.
Seperdetik tatapan mereka memenjara satu sama lain, hingga membuat para murid termasuk anggota osis menatap apa yang di tatap si ketua.
" Ekhm, adik gue itu. "
Deheman David membuat Morgan tersadar. Dia sedikit gelagapan sementara Reyna biasa saja meskipun siswi di dekatnya menatap tidak suka.
" Eh, hem. Ekhm, ayo main!! " Teriak Morgan kembali membuat lapangan ricuh.
" Main apa lo? Gak ah, gak mau main gue. Sana pulang! " Sorakan kembali terdengar saat si Osis sengklek mempermainkan para murid baru.
Di tempatnya, Reyna mendesah pelan. " Ada ya, Osis kayak gitu? " Gumamnya.
Di saat para Osis sibuk bertepuk tangan sambil menyanyikan yel-yel ala-ala anak pramuka, Reyna merasa ingin ke kamar mandi. Yang mana membuatnya berbicara pada siswi di sebelahnya.
" Sorry, toilet di mana ya? ".
" Oh, di ujung lorong sana! " Tunjuknya. " Mau gue anter? ".
" Gak usah. Makasih, ".
" Oke, ".
Reyna bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet. Sedangkan di depan sana, tatapan Morgan mengikuti kemana Reyna pergi. Langsung dia mendekati David dan berkata:
" Gue out sebentar, lo ambil alih yah! ".
" Ke mana lo? ".
" Susul si Erza, gak nongol juga tu anak. " Alasannya.
" Oke, ".
Morgan menepuk pundak David dan berlalu dari sana. Baru dua langkah melangkah, suara murid terdengar:
" Kak, mau ke mana?! ".
Morgan menoleh, " Berak. Ikut lo? ".
" Ogah!! ".
Morgan terkekeh, dia berlalu pergi meninggalkan lapangan.
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
maestuti dewi saraswati
ketua osisnya pada sengklek semua
2021-09-09
3
Fitria Dafina
Ketos Sengklek bgtu, dimana Wibawanya 🤣🤣🤣🤣
2021-08-20
1
Na_ernaauk
ada ketos sengklek gitu ya😁
2021-04-03
5