Brum... Cekik...
" Guys, Morgan!! ".
" Aaaaa!!! ".
Di pagi hari yang cerah, secerah ketiak Morgan, pria itu melepas helm dan langsung tebar pesona pada para siswi berteriak-teriak histeris melihatnya.
" Hello, guys! Osis tampan datang! ".
" Aaaa!!! " Teriakan-teriakan itu kembali terdengar, membuat Morgan si Osis narsis dengan kemesuman tiada tara tersenyum secerah mentari pagi ini.
Morgan Eduardo, siapa di Sekolah ini yang tidak mengenal dirinya? Ketua Osis dengan kadar ketampanan dan kemanisan yang membuat para siswi diabetes melihatnya.
" Pansos terus.. Pansos... " Rey datang dengan kedua temannya.
Morgan melirik teman-temannya, kemudian turun dari motor hijau kesayangannya.
" Hello, everybody! Mana si David? Gak kelihatan dia, " Tanya Morgan sambil menyalami tiga temannya dengan ala-ala remaja gaul.
" Belakangan dia, ".
" Oh, gitu ya. " Morgan menampilkan wajah tengilnya, " Gimana, kemarin? Pada percayakan kalo gue lagi ngasuh bocil? ".
Wajah marah terpasang jelas di wajah tampan Rey dan Arzan, berbeda dengan Erza yang menampilkan wajah mualnya.
" Tayi, kampret! Ngapain lo tunjukin yang gituan, hah?! Dikira gue gak jijik apa?! " Semprot Rey.
" Tau lo, dasar dodol! " Sambung Arzan menepuk kepala Morgan yang cekikikan.
" Eh.. Gue kurang solid gimana coba? Punya makanan gue kasih, lihat tayii bayi pun gue kasih lihat juga ke kalian. Takutnya kalian penasaran, sama warna beraknya bocil. Baik kan gue? ".
" Mor, sumpah. Lo jangan bahas lagi, please! Mual gue dengernya, ueks.. " Erza menutup mulutnya dan lari meninggalkan ketiga temannya.
" Lah, napa dia? ".
" Gara-gara lo, oon! " Arzan kembali menjitak kepala Morgan.
Memang gara-gara Morgan. Setelah menunjukkan hal menjjikan via video call kemarin, setiap makan Erza yang notabennya cowok jijian mengurungkan niatnya saat bentuk air warna kuning dengan kerikil-kerikil kecil kembali memenuhi ingatannya.
" Sakit anjingg, " Keluh Morgan mengusap kepalanya.
" Tahu gak lo? Kemaren— ".
" Gak tahu, ".
" Belum selesai ngomong, Morgan! " Geram Arzan.
" Iya iya, si ganteng diem, si ganteng dengerin. "
" Tayi adik lo ganteng, ".
" Dia cantik woy, mana ada cewek ganteng! ".
" Tayinya, ".
" Jijik kampret! Ngapain kalian bahas yang gituan? " Sang Rey Bramasta anaknya papa Bram dan Mama Elly angkat suara.
Morgan tertawa.
" Eh, bukannya itu mobil Opanya si David? " Morgan bertanya, padahal mobil itu bisa dibilang mobilnya juga. Karena Opa David adalah Opanya juga. Ya.. Mereka sepupuan.
Pandangan Rey dan Arzan teralih pada mobil hitam mewah yang baru datang.
" Yakin gue, si David muntah. " Ucap Morgan.
" Yakin gue, dia sama si barbie. " Lanjut Arzan.
" Barbie? Siapa barbie? " Tanya Morgan.
" Ad— ".
" Morgan! " Panggilan dari gadis bernama Nisa membuat perkataan Rey terpotong.
Morgan berbalik, " Ya? ".
" Ditungguin di ruang Osis. Lo gak lupa 'kan, kalo pagi ini ada rapat Osis? ".
" Oh, oke. Bro, gue duluan, " Pamit Morgan.
" Mor, David datang sama— ".
" Iya iya, ntar gue datengin si David. Eh, suruh aja dia ke ruangan Osis! Lu pada juga jangan lupa nyusul! ".
" Tapi— ".
" Bye! ".
Arzan menatap kepergian Morgan, " Yah.. Kurang beruntung dia. Padahal kan gue mau ngasih tahu, kalau si David datang bareng adiknya. Denger-denger si Morgan juga kenal kan, sama si cantik. Rey? " Tanyanya.
" Udahlah! Mungkin Morgan datangin nanti, ".
Sepeninggalan Morgan, David dan Reyna turun dari mobil. Yang mana membuat mereka langsung menjadi pusat perhatian publik. Terutama Reyna.
" Murid baru? ".
" Cantik bener. Siapa dia? ".
" Kok bareng David? Pacarnya ya? ".
" Saudara mungkin, ".
" Gila, cantiknya.. Kayak-kayak bule dia, ".
" Astaga.. Calon bini gue, ".
" Rambutnya pirang, di warna apa asli tuh? ".
" Bitchh, ".
" Cantik!!! ".
" Huuu!! ".
Jika tadi para siswi yang berteriak-teriak, kini giliran para siswa yang berteriak dan di balas sorakan oleh para siswi kaum iri.
David menyeka mulut dan keningnya yang banjir keringat.
" Gila, kenapa jiwa katro gue mendarah daging ya kalo pake mobil? " Gumamnya.
David beralih menatap Reyna, " Risih? ".
" Biasa aja, ".
" Buka kaca mata lo! Di sini aturannya ketak. Gak boleh pake kaca mata, topi, sama barang-barang lain. " Jelas David.
Reyna melirik, " Lo Osis? " David mengangguk.
" Pantesan, " Ucap Reyna membuang muka.
" Gak suka? ".
" Enggak, kita kan saudara. "
David menatap geram adiknya, " Siapa juga yang cinta sama lo, begoo! " Ucapnya menyentil pelan kening Reyna.
" Awh, Kakak! " Pekik Reyna kaget.
" Apa lo? Yuk masuk! ".
Reyna diam sesaat, kemudian ekor matanya tidak sengaja menangkap sosok dua orang pemuda yang dia ingat ada di rumahnya kemarin.
" Tar deh, Kak. Bukannya itu.. Temen-temen lo? " Tunjuk Reyna dengan matanya.
David mengikuti arah tatap Reyna. Seketika dia tersenyum, kemudian melambaikan tangan pada teman-temannya.
" Bro! ".
" Sini lo! ".
" Oke! " Balas David. " Yuk! " Lanjutnya menggenggam tangan Reyna.
" Mana si Erza? " Tanya David sambil menyatukan kepalan tangan dengan Rey dan Arzan.
" Toilet dia, ".
" Sepagi ini? ".
" Mual, gara-gara si Morgan bahas pantatt bayi. "
" Ftt.. Pantatt bayi, " David menahan tawanya.
" Vid, gak mau kenalin nih? " Arzan menunjuk Reyna yang matanya sedang meneliti bangunan sekolah.
" Oh, bentar. Dek, temen gue. " Ucap David menyenggol lengan adiknya.
Tatapan Reyna teralih pada keduanya, dia menatap Rey dan Arzan secara bergantian.
" Lo yang nolongin gue kemarin kan? " Ucapnya pada Arzan. " Makasih. Dan sorry juga gue dorong lo, ".
" It's okay. Btw, gue Arzan. " Arzan mengulurkan tangannya, yang langsung disambut baik oleh Reyna.
" Reyna, lo bisa panggil gue Angel. "
" Angel? Bukannya nama lo Reyna? " Tanya Arzan tanpa mau melepaskan tangan lembut Reyna.
" Kepanjangannya itu. Udah ah lepas! " David melepas kasar tautan tangan Arzan dan adiknya. " Modus lo! ".
Arzan menyengir.
" Cuma tanya, elah. Lo jadi Brother Posesif banget sih? Jangan-jangan lo cinta lagi sama adik lo? " Celetuk Arzan.
" Gila lo! Ya kali gue suka si bocah, ".
" Berisik lo, anak kampung! ".
" Angel! ".
" Apa? ".
Arzan dan Rey terkekeh melihat wajah nyolot Reyna dan raut emosi David.
" Gue Rey, anaknya Mommy Elly. Lo tahu pasti, " Ucapnya mengulurkan tangan.
Reyna mengangguk sambil menyambut uluran tangan Rey.
" Tahu gue. Gimana kabar Kak Dira? ".
" Baik. Mommy gue tahu lo jadi ke sini, katanya sesekali main gih ke rumah gue! ".
" Next time, " Balas Reyna seraya melepaskan tautan tangan mereka.
" I wait, ".
Kring....
Bel berbunyi, yang mana membuat Reyna menatap David.
" Kak, kelas gue? ".
" Gue anter ke Kepala sekolah, ".
" Oke, ".
" Bro, duluan! " Saat David dan Reyna hendak melangkah, suara cempreng terdengar memanggil:
" David!!! " Morgan datang dengan ajudan Osis yang lainnya.
" Mor, ke mana lo? ".
" Para anggota Osis di tunggu di lapangan. Lah lo sendiri, mau ke mana lo? Sama.. " Ucapan Morgan tergantung saat melihat Reyna.
" Elah Vid, punya gandengan bening aja lo. Siapa? " Goda salah satu anggota Osis.
" Dia— ".
" Lepas kaca mata lo! " Morgan berkata dengan dingin, khas seorang Ketua Osis yang siap menghukum murid pembangkang.
Reyna melirik, " Gue? ".
" Bukan, monyett. "
" Oh, ".
" Iya, elu. Emang di sini yang pake kaca mata siapa? ".
" Tuh, " Tunjuk Reyna pada satpam sekolah yang dikenal banyak gaya. Dan hal itu membuat para anggota Osis terkikik, kecuali Morgan yang menghela nafasnya panjang.
" Dia udah biasa, matanya kataran. Sini, kaca mata lo gue sita! " Morgan membuka kaca mata milik Reyna, dan Reyna hanya diam tanpa melawan.
Deg.
Morgan terkejut, mulutnya terbuka dengan mata membelakak melihat mata indah yang agak familiar di pandangannya. Tidak, bukan familiar lagi, tapi dia kenal!.
" Lo.. Astaga, Nana!! ".
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments