Morgan berjalan di lorong sekolah dengan ditemani tiga ajudannya. Rey tidak ikut, katanya ada urusan.
" Mor, gue denger si Nana pindah ke kelas 11. Emang bisa? " Tanya Arzan.
" Gak tahu gue.. Kelewatan pinter mungkin dia, " Jawab Morgan.
" Kok si Adek gak bilang ya sama gue? " Ucap David.
" Ck.. Baru aja semalem gue ceramahin, ngelunjak lagi dia. Dasar.. Si setan! ".
Morgan tertawa kecil mendengar umpatan David.
" Gila lo, nama dia udah bagus Angel, lo ganti jadi Devil. " Celetuk Morgan.
" Dahlah! Males gue bahas si Angel, makin dewasa makin ngelunjak aja tu anak. "
" Daripada bacotin si cantik, mending kita ke rooftop aja kuy! Jarang kita gak ngebul, " Erza memprofokator.
" Aslinya, kuylah! Kita mabar, ada waktu nih setengah jam. " Ucap Arzan melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Gue cabut, " David melangkah pergi dengan santainya, membuat ketiga temannya melongo atas tindakannya.
" Kemana tuh anak? ".
" Tempe, ".
" Nyamperin si Nana mungkin, yo lah! " Morgan melangkah pergi dengan disusul oleh dua temannya.
--
...Sebelas Ipa 3......
" Din, lo denger kan, kalo di kelas kita bakalan ada mubar? ".
" Masa sih? Kok gue gak denger? Dari siapa lo tahu? ".
" Itu.. Anak-anak pada ngomong, katanya cewek, pinter lagi. Wah.. Saingan si Wawan nih, ".
" Cantik? Awas aja kalo centil, ".
Percakapan demi percakapan terus keluar dari mulut para siswa, yang hanya disambut oleh senyuman Nayara yang terduduk di kursi belakang paling pojok.
" Yakin deh, itu Angel. " Ucapnya.
" Shutt.. Ada bu Linda woy, diem-diem! " Sorak murid laki-laki dengan penampilan acak-acakan ala bad boynya.
Tidak lama setelah itu, seorang guru berparas cantik dengan pakaian ala gurunya datang bersama gadis yang tak kalah cantiknya. Reyna.
" Itu ya? ".
" Mybe! ".
" Cantik, ".
" Wah.. Vik, saingan lo nih. "
" Apaan, ".
" Pagi anak-anak!! " Sapaan kencang dari Bu Linda membuat kelas recok itu mendadak hening.
" Pagi Bu! ".
" Anak-anak, kelas kita mendapatkan murid baru dari kelas 10. Yah.. Aneh memang, tapi bagaimana lagi? Orang cerdas mah bebas! " Ucap Bu Linda membuat kelas itu kembali direcoki dengan tawaan.
" Baiklah, Nak. Silahkan perkenalkan diri kamu! ".
" Baik, " Ucap Reyna. " Halo, semua. Gue Reyna Angelica, kalian bisa panggil gue Angel. "
" Hallo Angel!! " Sapa para murid.
" Angel, cantik banget sih. " Goda si bad boy yang tidak Reyna ketahui namanya.
" Makasih, ".
" Aaa!! Woww, bales dia Za! " Para siswa dibuat recok saat Reyna menimpali godaan si Bad boy.
" Uh! Ngena banget Neng, " Ucap pria bernama Reza, yang tadi menggoda Reyna sambil meraba jantungnya.
" Diam! " Teriak Bu Linda.
" Nah, Angel. Kamu boleh duduk sekarang! Pilih kursi kosong yang kamu mau, ".
Reyna mengangguk, " Baik, ".
Reyna mengedarkan pandangannya, dan tatapannya berhenti pada Nayara yang duduk sendirian di pojokan. Tanpa banyak bicara, dia pun berjalan menuju tempat Nayara.
Saat melewati sekumpulan siswi dengan seragam serba ketat, Reyna menghentikan langkahnya karena seseorang berkata:
" Tunggu! ".
Reyna menoleh, " Ya? ".
Gadis itu mengkode teman sebangkunya untuk pindah, kemudian bergeser seakan meminta Reyna untuk duduk bersamanya.
" Loe boleh duduk di sini, " Ucap gadis itu. Lalu dia mencondongkan wajahnya berbisik pada Reyna. " Dan loe.. Boleh gabung sama geng gue. Cuz, gue suka gaya loe! ".
Reyna menatap gadis yang sedang tersenyum manis itu dengan wajah bingung. Seketika alisnya Reyna naikkan sebelah, dengan seringaian kecil terbit di bibir kecilnya.
Reyna balik mencondongkan badan dan berbisik:
" Sorry, gue gak minat. "
Dengan wajah datar, Reyna kembali melangkah menuju Nayara tanpa menghiraukan gadis yang kini menatapnya dengan mulut terbuka.
" Dia nolak gue? ".
" Vik, dia duduk sama si anak miskin. "
" Dia lebih milih Nayara daripada elo, Vika. "
Tangan gadis yang bernama Vika itu mengepal, dia menatap Reyna penuh amarah. Apalagi dengan kedua temannya yang membuat dirinya semakin panas saja. Hingga sorot kebencian dia layangkan pada Reyna, murid baru yang dengan berani menolak ajakannya.
" Awas loe, Angel. Gue udah baik-baik ngajak loe gabung, tapi loe injek harga diri gue dengan lebih milih si anak panti itu! "
Vika memiringkan kepalanya, " Tunggu sambutan dari gue, anak baru. " Ucapnya tersenyum jahat.
--
...Jam Istitahat pun tiba......
Nayara dan Reyna berjalan di lorong sekolah, tujuan mereka adalah pergi ke kantin untuk mengisi para cacing yang demo dalam perut.
Mereka berjalan sambil mengobrol ria, kadang-kadang keduanya saling cubit dan saling memukul dengan diakhiri dengan kejar-kejaran.
Sesampainya di kantin, Nayara memesan makanan sementara Reyna memilih meja untuk mereka duduk nanti.
Sambil menunggu Nayara, Reyna membuka ponselnya dan memainkannya. Hingga sebuah pesan tanpa nama membuat alis Reyna berkerut bingung.
^^^+68315....^^^
^^^Welcome, Angel. Remember me?^^^
" Nomor siapa? Kok gue gak kenal? Punya nomor gue dari mana dia? " Gumam Reyna.
" Dek! ".
" Hem? " Reyna mengangkat kepalanya, menatap David yang baru datang bersama antek-anteknya.
" Hp si Morgan lowbet, hp gue juga lagi di pinjem sama si Arzan. Morgan pinjek hp loe, boleh? ".
" Hp gue? Ogah banget! Lagian— ".
" Pelit loe! " Potong Morgan. " Ayolah, Na Na! Gak bakalan gue obrak-abrik hp lo kok. Jadi gak usah khawatir kalo vidio anu-anu yang lo simpan gue bongkar, ".
Reyna memutar bola matanya malas.
" Gue gak mesum kayak loe yah! Unfaedah bener simpen vidio gituan, ".
" Alah.. Gak usah muna deh loe! ".
" Cih, ".
" Yo, minjem yah? Cari materi sama cerita bersambung aja, buat nge Mos anak-anak. Jangan pelit lah! ".
" Ya udah nih! Tapi sebelum bel masuk, loe harus udah kasih ke gue. " Dengan terpaksa Reyna menyerahkan ponsel logo apel tergigitnya kepada Morgan.
" Lagian idiot banget, tahu butuh malah ngasih ke orang lain. " Ketus Reyna membuat David darah tinggi.
" Jangan gitulah Dek! Kasihan Arzan, hpnya rusak kemaren, dan dia anak kos. Dia mau minta transfer uang sama keluarganya buat beli hp, makannya pinjem hp Kakak. " Ujar David.
" Alasan. Udah sana! ".
" Oke, makasih yah! " Morgan, David dan Erza pun pergi meninggalkan area kantin setelah mendapat apa yang si Ketos mau.
Tidak lama berselang, Rey datang bertepatan dengan Nayara. Seperdetik tatapan mereka bertemu, tatapan dingin Rey dan tatapan malu-malu Nayara.
Melihatnya, Reyna merasa ada sesuatu antara keduanya. Dan ingatannya pun berputar pada di toilet kemarin.
" Hiks.. Mau kalian apa? Hiks.. Mau aku pisah dari Kak Rey? Oke, akan aku lakuin. Tapi gimana? Hiks.. Kak Rey gak mau putus dari aku, hiks... ".
" Owh, jadi Rey sama Naya.. Pacaran? Tapi.. Dari tatapan Rey gue curiga. Kayak... Gak ada cinta di dalamnya, " Batin Reyna, setia menatap menyelidik pada iris hitam milik Rey.
" Kak Rey, ada apa? ".
Lamunan mereka buyar, Nayara duduk dengan agak salah tingkah sementara Rey beralih menatap Reyna dengan pandangan dan sikap yang biasa saja.
" Gue denger si David tadi ke sini. Mana dia? " Tanya Rey to the point.
" Oh.. Si Kakak udah pergi lagi, ".
" Ngapain? ".
" Pinjem hp gue, ".
" Buat apa? ".
" Kayaknya sih.. Hp Kakak gue di pinjem sementara hpnya si Ketos lowbet. Jadi mereka minjem hp gue, " Jelas Reyna.
" Oh, iya bener. Hp Erza juga lagi kena razia, " Gumam Rey.
" Apa? ".
" Hah? Enggak. Kalau gitu gue duluan, Angel. "
" Oke, ".
Rey melangkah pergi tanpa menyapa bahkan menatap Nayara lagi.
" Nay! ".
" Pacar aku, " Aku Nayara malu-malu, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Reyna.
" Wow, " Reyna membuka mulut dan menaikkan kedua alisnya.
Sedetik kemudian, ekspresi biasa langsung Reyna tampilkan. Tidak, lebih tepatnya ekspresi dingin dengan mata tajam yang mengekori kemana Rey pergi.
" Lo salah pilih mainan, Rey Bramasta. "
--
Ting.
Morgan yang sedang menulis kata demi kata di papan tulis dengan bermodalkan ponsel Reyna menghentikan kegiatannya. Dia menatap heran pada pesan dengan kontak nomor tidak di kenal yang baru saja masuk pada ponsel sepupu tercintanya ini.
" Kenapa Mor? Ayo lanjut! ".
" Bentar, Vid. Gue nyearchingnya salah, " Alibi Morgan.
Morgan keluar dari dalam kelas dan dengan lancang membuka pesan yang baru masuk itu.
^^^+68315...^^^
^^^Basement B4 no 115. Kayang tunggu kamu di sana, Sweetie❣️^^^
" Apaan ini? Si Nana punya pacar? Orang Jakarta? Secepat ini? " Morgan berkata dengan nada mengebu-ngebu, seperti tidak terima.
Morgan merenung, mentap aneh pada nomor yang tidak tersimpan di kontak Reyna. Jika pacar, tidak mungkin tidak Reyna simpan nomornya bukan?.
" Siapa dia? ".
_-_
Tbc!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Septi Kiki
yah kok bersambung..
2021-04-07
1