Di malam hari sekitar pukul 10 malam, Morgan melihat Reyna yang turun tergesa-gesa dari anak tangga. Pakaian wanita itu serba hitam, serta mata yang celengak-celinguk seperti hendak pergi diam-diam.
Mata Morgan memicin. Dia yang kebiasaan makan malam-malam membuat perutnya lapar dan turun untuk mengambil makanan. Tapi rupanya tidak ada, membuat Morgan dengan terpaksa hanya meminum air saja.
Tapi kesialannya berubah jadi keberuntungan, karena dalam kegelapan dapur dia bisa menyaksikan kenakalan Reyna yang kelihatannta akan keluar di malam yang sudah terbilang larut. Apalagi Reyna seorang perempuan.
" Wah.. Curiga gue, " Gumam Morgan.
Tap.
" Mau ke mana loe?! ".
Deg.
Reyna yang baru saja sampai di lantai bawah mematung seketika saat suara bariton terdengar menggelegar di telinganya.
Mata Reyna terpejam kuat, dia menggigit bibir bawahnya dan menarik nafas dalam sebelum menoleh ke sumber suara.
Morgan, pria berperawakan tinggi dengan tubuh atletis dan pahatan wajah sempurnanya itu tersenyum menyebalkan para Reyna. Dengan tangan yang memegang gelas, dan satu lagi menyelusup ke dalam saku celana.
" Mau kemana, Nana? Jangan bilang lo kayak gue, haus jadi turun cari minum. Masa iya orang tidur pake jaket sama jeans, hitam-hitam lagi. Kayak ke kuburan aja, ".
Reyna memutar bola matanya, dia berbalik hendak meninggalkan Morgan berceloteh sendiri.
" Gue bilangin Oma ah!! ".
Tap.
Langkah Reyna kembali terhenti. Gadis dengan stok kesabaran terbatas jika bersangkutan dengan sepupu gilanya itu berbalik dan berjalan cepat menuju Morgan.
Kini, keduanya saling berhadapan. Dengan jarak yang bisa dibilang cukup dekat.
Di mana Reyna mencondongkan wajahnya pada Morgan, dan Morgan dengan ekspresi santainya menunduk menatap gadis yang mengadahkan kepala pasanya dengan tinggi yang hanya sampai bahunya saja.
" Mau loe apa, Morgan? Gak usah sok ngatur hidup gue, gue gak suka! " Ucap Reyna kenekankan.
" Durhaka loe, sama Kakak sebut nama. Panggil gue Kakak! ".
Tangan Reyna mengepal. Waktunya akan habis jika dia gunakan untuk melayani ucapan Morgan yang pastinya tidak ada akhirnya.
Dan piligan terbaik, adalah tidak menghiraukan keberadaan Morgan!.
" Eits.. Tunggu dong. Sepupuku... Sayang, " Morgan menahan lengan Reyna, memaksa gadis itu untuk kembali menghadap padanya.
" Loe mau ke mana? " Kali ini, ekspresi serius Morgan perlihatkan. Membuat Reyna dengan terpaksa menjelaskan.
" Temen gue yang di Amrik, baru sampe. Jadi loe tahu gue mau ke mana, ".
Kening Morgan berkerut, temen? Dari luar negri?.
Morgan kira gadis yang dia panggil si Na na ini akan pergi bersama pria misterius yang mengirim SMS tadi pagi. Tapi...
" Elah.. Mana bisa. Tadi kan pesannya gue hapus. Si Nana pasti gak tahulah, kalo ada yang ngajak ketemuan tadi siang. " Batin Morgan.
" Lepasin! ".
Morgan tersadar. Tapi bukannya melepaskan tangan Reyna yang masih dipegangnya, dia malah mengeratkan pegangannya seolah melarang Reyna pergi.
" Kak! ".
" Udah malem, Nana. Loe cewek. Gimana kalo loe di begal terus di anu-anuin sama mereka? Rugi gue! ".
" Apasih? Lepas! " Reyna menghempas tangan Morgan yang masih memegangnya. Lalu menatap pria itu kesal.
" Lagian kalo gue yang di apa-apainnya apa masalah loe? Kok loe yang rugi?! " Tanya Reyna nyolot.
" Iyalah rugi! Masa iya gue dapet bekas, gue aja masih di segel. " Jawab Morgan tetap pada otak ngeresnya.
Tarikan nafas panjang dari Reyna membuat Morgan terkekeh.
" Balik ke kamar! Loe tidur! Biar gue yang telepon anak buah Daddy, buat jemput temen loe itu. " Ucap Morgan.
" Lagian pindah satu, satunya ngikut. Tu orang gak bisa hidup tanpa loe apa? Atau jangan-jangan.. Loe punya pasangan L— ".
" Gue kirim foto sama nomornya, biar nanti orang loe gak susah cari temen gue. " Potomg Reyna yang semakin jengah berbicara dengan Morgan.
" Oke, ".
Morgan merogok ponsel yang kebetulan ada di saku celananya. Dia mengirim sms pada salah satu anak buah Daddynya dan mengirim foto serta kontak whatsapp wanita yang barusan Reyna kirimkan kepadanya.
" Udah, " Ucap Morgan.
" Hem, ".
" Sana masuk kamar, tidur! ".
Reyna diam di tempat, yang mana membuat Morgan menatapnya penuh selidik.
" Loe bohongin gue yah? Selain jemput teman loe, loe punya janji sama cowok yah malam-malam gini? Wah.. Sarapan hot nih buat Oma nanti siang, ".
" Bukan gitu! ".
" Terus? ".
Reyna melipat bibirnya ke dalam, " Loe punya bir gak? ".
Marchel melongo, " Hah? ".
Treng!.
Suara kaleng yang bertubrukan membuat suasana malam yang sunyi mendadak bersuara karena kehasiran dua muda-mudi di balkon lantai atas.
Reyna dan Morgan. Manusia berbeda jenis itu tengah menikmati beberapa kaleng bir dengan posisi duduk berhadapan terhalang meja bundar yang terdapat di tengah-tengah mereka.
" Ah.. " Reyna mendesah segar, dia menjilati ujung kaleng yang menurutnya masih terasa manis meskipun isinya sudah dia habiskan.
Morgan terkekeh.
" Jadi ini kebiasaan loe di Amrik? Gak nyangka gue, anaknya si Om galak itu kelakuannya kayak gini. " Ujar Morgan menggeleng, kemudian mengangkat kepalanya guna memasukkan minuman ke dalam tenggorokannya.
" Asal loe tahu, gue bukan orang baik! " Seru Reyna. Sepertinya dia mulai mabuk. " Tapi.. Gue juga bukan orang buruk sih, " Lanjutnya bergumam.
" Om Marchel tahu, kecanduan lo sama minuman kayak ini? " Tanya Marchel mengangkat kaleng yang sedang dinikmati isinya.
Pandangan Reyna kabur, dia menutup dan membuka setengah matanya guna menatap Morgan.
" Eum.. He he.. Gue cuma pecinta soda, Morgan. Gak terlalu suka gue sama alkohol. Tapi.. Baru minum dua kaleng kok gue oleng yah? ".
Bruk.
Reyna menjatuhkan kepalanya ke atas meja, membuar Morgan tertawa.
" Woi, bangun woi! " Ucapnya mengguncang bahu Reyna.
" Bentar, kepala gue pusing. " Gumam Reyna.
Reyna mengangkat kepalanya, namun tetap masih berada di atas meja.
" Morgan, loe campurin apaan sama bir ini? Loe campurin alkohol kan? Gila loe, mabuk nih gue. "
" Bukan gue, tapi di dalamnya aja yang udah kecampur. " Elak Morgan. " Lagian elo, asal minum tanpa tahu kandungannya. Ini tuh bir yang Daddy gue dapet dari Om Rendy, suami bibi loe! ".
" Oh.. Iya. Si Om memang punya pabrik minuman beginian, " Gumam Reyna setengah sadar.
Morgan kembali meneguk menimannya hingga habis, lalu beralih menatap Reyna yang matanya tertutup dengan kepala masih pada posisi yang sama.
" Soda gak baik loe konsumsi secara rutin, Nana! Loe masih kecil, sayang rahim kek. Gimana sebelum gue tabur bibit unggul tu rahim loe udah duluan rusak? Gak punya anak kita, " Celoteh Morgan.
" Apa hubungannya? " Reyna bergumam.
" Loe searching sendiri di googlee! ".
" Em.. Iya, ".
" Jangan minum lagi, ".
" Hem.. ".
" Awas kalo setelah ini gue tahu loe minum. Habis loe sama gue! ".
" Iya.. ".
" Minimal dua minggu jangan minum soda ataupun alkohol dulu, Na na. Asli, gue pantauin loe! ".
" Hem.. ".
Morgan berdecak. Dia memutari meja dan terduduk di samping Reyna.
" Dari tadi loe iya heem iya heem mulu. Loe denger gue gak sih? " Tanyanya sambil menarik Reyna supaya terbangun.
Setengah kesadarannya, Reyna membuka setengah mata. Menyengir melihat Morgan yang wajahnya sangat dekat dengannya. Lalu tanpa sungkan, tangan berjari lentik itu terangkat meraba pipi Morgan.
" Loe ganteng, Morgan. Sayang, loe nyebelin, begoo, tololl, mesum. Jadi gak suka deh gue! Mwhe he... " Ucap Reyna sambil mendorong kening Morgan dengan jari telunjuknya.
Morgan setia menatap gadis mabuk di depannya. Dengan kedua tangan yang menahan bahu Reyna agar tetap tegak.
" Na, loe inget gue kan? " Demi Tuhan, ingin sekali Morgan mengetahui kebenarannya di saat kondisi Reyna yang sekarang. Pastinya, apa yang menjadi jawaban Reyna nanti adalah kebenarannya.
" Na, ".
" Hem.. ".
" Loe, inget gue. Kan? " Ulang Morgan.
Reyna menyipitkan matanya, menatap Morgan dengan kening yang naik turun merasakan pusing di kepalanya.
Ketika bibirnya terbuka, permohonan dan harapan Morgan gumamkan sambil menatap Reyna harap-harap cemas.
" Gue—, ".
Bruk.
Pingsanlah gadis itu! Membuat Morgan menggigit bibir bawahnya kesal. Kenapa di saat-saat seperti ini Reyna harus pingsan duluan tanpa sempat membalas pertanyaannya?.
" Arghkk... Gila loe Na! Gak tahu gue nunggu sampai rela nahan laper buat kata ' Iya ' dari loe doang. Hiks.. Lapar gue. " Guman Morgan nelangsa.
Matanya berbinar kala mendengar dengkuran halus Reyna. Otak mesumnya berputar hingga mulutnya mengucapkan kata jahanam berupa:
" Eum.. Apa gue makan loe aja yah? Mumpung loe lagi gak sadar. Mwhe he.. ".
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Dilla
sah aja lah, ibunya morgan kan cuma anak angkat jadi bisalah kejar mumpung Reyna jomblo 😂
2021-04-13
3
Septi Kiki
penasaran banget sih si Morgan. emang kenapa klo nana inget sama dia..
2021-04-11
1
Na_ernaauk
ach Morgan nakal🤣🤣
2021-04-10
1