Reyna bermain dengan Kia, si bayi montok yang super lincah. Karena kelincahannya dalam merangkak, membuat Reyna kewalahan dan memilih menggendongnya saja.
Di ruang keluarga, Mikhayla sedang makan sedangkan Morgan dan David entah berada di mana. Lyandra, Alex dan Mikhael meminum teh buatan Reyna sementara Reyna sendiri sibuk bermain dengan Kia di kasur lantai.
" Angel, kamu udah makan belum? Jangan sampai kamu mati kelaparan gara-gara Kia, " Canda Mikhayla.
" Sudah kok, Aunty. Tadi di rumah temen, " Balas Reyna.
" Eh, Kia. Jangan ke sana sayang, sini sama Onty! " Reyna kembali hendak menangkap Kia yang entah akan merangkak ke mana, padahal baru beberapa menit Reyna turunkan.
" Hap, mau ke mana sayang? " Morgan yang baru muncul terlebih dahulu memangku Kia.
" Dedek maen sama calon Kakak ipar, iya? ".
" Dih, apaan. " Ketus Reyna.
Morgan tertawa, " Nih! " Ucapnya memberikan Kia pada Reyna.
Reyna menerima Babby Kia. Lalu tindakan Morgan selanjutnya membuat mata Reyna melotot dengan nafas tertahan.
Cup.
" Lucu deh, gembul banget tuh pipi. " Morgan menyeringai, dia sengaja mencium Kia yang berada dalam gendongan Reyna. Jadi secara otomatis wajahnya berhadapan dengan dada besar Reyna.
Reyna berdehem, dia berbalik dan meninggalkan Morgan yang masih menunjukkan wajah puasnya.
" Aunty udah? Ini Kianya, Angel mau mandi, gerah. "
" Oh, iya. Makasih yah, " Mikhayla menerima Kia yang disodorkan oleh Reyna.
" Pakai air hangat, Angel! Udah malam ini, " Teriaknya.
" Baik! " Reyna berjalan menaiki tangga dan hilang ditelan pintu kamar.
Morgan menatap kepergian Reyna, dia tersenyum bahkan sedikit tertawa mengingat modus yang dia lakukan tadi.
" Astaga.. Si Nana lucu banget kalo lagi kaget. Gimana ya ekspresinya saat mendesah? Eh Anjimm, dosa goblokk! " Morgan kembali tertawa dengan pemikirannya sendiri.
Mikhayla yang melihatnya tidak tahan untuk tidak melayangkan ejekan pada putra sulungnya.
" Jangan cintai sepupumu, Abang! Inget, dosa kamu terlalu banyak. "
Morgan tersedak salivanya sendiri, dia berdehem dan menatap wajah jahil sang Mommy.
" Apa si Mom? Ya enggaklah! Lagian kalian kenapa si? Tadi Daddy yang ceramahin Mor, sekarang Mommy. " Gerutunya.
" Emang tadi Daddy bilang apa? ".
" Katanya, Mor gak boleh suka Reyna. Kalo suka, gak bakalan dapet restu dari kalian. " Curhat Morgan dengan wajah tidak mengenakan.
" Siapa bilang Mommy gak restuin? " Tanya Mikhayla.
" Kata Dad— Apa? " Perubahan ekspresi Morgan membuat Mikhayla tertawa.
" Selama dia menjadi alasan kamu bahagia, kenapa tidak? Kalian hanya sepupu, bukan Kakak adik. Well, seharusnya tidak jadi masalah. "
Wajah Morgan melotot tak percaya, senyuman perlahan mengembang di bibirnya saat mengerti apa yang Mommynya katakan. Dia mendekat dan memeluk Mikhayla erat.
" Makasih, Mom. Mommy memang yang paling mengerti Morgan, ".
Mikhayla tertawa, dia mengelus kepala belakang putranya.
" Jangan sekarang, Mor! Dapatkan kepercayaannya, baru hatinya. Kalian masih muda, belum pada dewasa. Karena kebersamaan sesungguhnya adalah setelah pernikahan, " Ucap Mikhayla.
" Jika kamu masih ingin bermain, jangan Rain! Selain sepupu kamu, dia juga anak Uncle Marchel, Kakak Mommy. Mommy gak mau jika Daddymu harus berkelahi dengan Unclemu hanya karena kamu mematahkan hati Rain. Jangan sakiti dia, ingat itu! ".
Dalam pelukan Mommynya, Morgan mengangguk.
" Jika benar Morgan menginginkannya, maka Morgan berjanji tidak akan menyakitinya. Apalagi menyia-nyiakannya, ".
Mikhayla melepaskan pelukannya, lalu menatap putranya dengan alis berkerut.
" Jika? ".
" Morgan masih bingung dengan perasaan Mor sendiri, Mom. Morgan gak akan ambil langkah salah, yang berakhir dengan menyakiti si Nana. Untuk sekarang, biarlah berjalan sesuai alurnya! Morgan akan memperjuangkannya jika hati ini benar-benar menginginkannya lebih dari sepupu, ".
Mikhayla terbahak mendengar penuntunan putranya.
" Mommy jadi keinget Daddy kamu tahu gak? Seinget Mommy, Daddy kamu juga mulai serius akan cinta saat kelas 12. Sama kayak kamu. Bahkan dulu kami nikah muda, dianya juga playboy. " Ucap Mikhayla.
" Semoga kamu benar-benar menemukan belahan jiwamu, Abang! Tapi Mommy gak yakin, karena kamu masih kecil. Perjalanan hidup kamu maupun Reyna masih sangat panjang. Jangan habiskan dengan rasa sakit, gunakan masa remajamu untuk bermain! Jadilah pria dewasa jika keadaan memaksamu untuk dewasa, ".
Morgan kembali mengangguk semangat, dia kembali memeluk Mikhayla erat.
" Makasih, Mom. Mommy yang terbaik! ".
--
Di kamarnya, Reyna baru selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah berpakaian lengkap, serta handuk kecil yang dia gunakan untuk mengacak rambutnya yang basah.
" Kakak? Ngapain di sini? " Tanya Reyna.
Reyna sedikit terkejut saat melihat David yang duduk di ujung ranjang miliknya.
" Pintunya gak kekunci, ya masuk aja. " Balas David santai.
Reyna menyimpan handuk kecil yang dia bawa, lalu beralih mendekat dan terduduk di samping David.
" Kenapa? ".
David menatap adiknya, " Loe suka, tinggal di Jakarta? ".
" Ya suka gak suka sih. Sukanya, Angel punya temen yang selama ini Angel harapkan. Tidak memanfaatkan, dan tulus dalam berteman. Kakak tahu sendiri, 'kan? Kalo di sana susah banget nemu temen kayak gituh? ".
David tersenyum, dia ikut bahagia melihat binar antusias di mana adiknya saat menceritakan teman baru yang Reyna maksud.
" Kalo kamu gak bahagia, Kakak bisa bantu bicara sama Daddy. Dia pasti ngerti kok, ".
" Gak usah! Kalo memang gak betah, Angel akan bicara langsung sama Daddy! Dan.. Eum.. Sepertinya Angel akan coba betah-betahin di sini. Apalagi Angel belum keliling tempat-tempat bagus di Indonesia, " Ucap Reyna.
" Cih, dasar. Gak bakalan Kakak izinin! Apalagi kamu cewek, bahaya pergi sendirian. " Ujar David.
" Ih.. Kakak kan tahu aku suka travelling, " Rengek Reyna.
" Otak kamu travelling! ".
" Kakak!! ".
David membawa Reyna kedalam pelukannya, dia mengusap kepala belakang Reyna penuh sayang.
" Gue rindu loe, Dek. Loe rindu gue gak? ".
" Enggak, ".
" Durhaka! ".
Reyna tertawa, " Lagian Kakak nyebelin, selama di Jakarta gak pernah telpon Angel. " Rengek Reyna mengeratkan pelukannya.
" Ya maaf.. Kan waktunya beda jauh, Angel. " Ucap David.
" Sekarang loe di sini, bareng Kakak. Loe juga harus kabarin Kakak kalau mau pergi ke mana-mana, jangan kayak tadi. Loe tahu kan kalau Kakak khawatir? ".
" Iya, maaf. Abang, ".
" Gelik gue, ".
Reyna melepaskan pelukannya sambil tertawa.
David menatap adiknya sendu, dia mendekat dan mencium pipi Reyna penuh sayang. Lalu mengelus kepalanya.
" Di sana maupun di sini sama kerasnya, Dek. Kalo loe gak Kakak awasin, loe bakalan ambil jalan yang salah, dan ketemu orang yang salah juga. Mulai sekarang, andelin Kakak yah? Loe gak boleh keluyuran kalo gak bareng Kakak, apalagi tanpa seizin Kakak. "
" Iya, Angel paham kok. "
" Sini cium! ".
Cup.
Reyna mengecup pipi David, lalu kembali berhambur kedalam pelukan sang Kakak.
" Maaf yah, Kak. Angel lupa ngabarin Kakak tadi, serius deh. "
" Iya, gue maafin. Asal jangan ulangi lagi, ".
" Hem, ".
David maupun Reyna semakin mengeratkan pelukannya. Meraka sama-sama rindu. Walaupun sering memaki dan bertengkar, tetap saja rasa sayang antar saudara yang dipisah jauh itu ada dalam hati mereka.
--
Pagi harinya, seluruh keluarga berkumpul di meja makan. Mereka sedang menikmati sarapan pagi dengan Baby Kia yang tidak mau lepas dari gendongan Reyna.
Sehari saja bayi montok itu langsung akrab dengan Reyna, membuat Mikhayla tersenyum senang karena bisa bebas dari si rewel.
Bukan hanya Mikhayla, Morgan juga senang adik perempuannya senang bersama Reyna. Itu artinya adiknya pun setuju dia bersama Reyna, sama seperti Mikhayla. Tidak nyambung memang.
" Dad, Mom. Key sama suami gak jadi netap, cuma Morgan saja. Dia kekeh ingin tinggal di sini, " Ucap Mikhayla di sela makannya.
" Lalu Kia? Bukannya selama ini kamu suka andelin Morgan? " Tanya Lyandra.
" Pensiun, Oma! Bosan urus pantatt si Kia mulu, ".
" Kewalat kamu! " Ucap Lyandra.
" Gak apa, Oma. Kalo Kakak mau di sini, ada Zaidan yang jaga Dedek. " Si putra second angkat suara.
" Tumben lo peka, biasanya juga— ".
" Abang, jangan mulai! ".
Morgan berdehem, dia pun memilih diam dan melanjutkan makannya saat melihat wajah serius sang Daddy.
" Mom, serius gak apa? Morgan nakal, dia sering keluyuran. Ael gak enak kalo— ".
" Tenang saja, itu malah bagus. Jika Morgan di sini gak ada istilah keluar malam, " Tegas Lyandra.
" Loh, kok? Ya jangan gitulah, Oma... Masa iya anak laki dikurung layaknya gadis, " Protes Morgan.
" Sama saja. Jika tidak mau dengan peraturan yang Oma buat, pulang saja! ".
" Ih, kok jahat sih? ".
" Bodo amat! ".
" Astaga.. Rempot sekali ngomong sama Nenek ngolot, " Celetuk Morgan memancing amarah Lyandra.
" Apa katamu?! ".
" Udah Mom, tenang! Jangan debat sama Morgan, dia jawaranya buat naikin darah kita. " Ucap Mikhayla.
Morgan terkekeh, " Tahu aja, " Ucapnya tanpa dosa.
" Uh.. Uh.. " Si kecil Kia menunjuk roti yang baru di oles selai oleh Morgan. Posisi Morgan dan Reyna memang berhadapan.
" Apa? Mau ini? ".
Baby Kia bertepuk tangan menjawab tawaran Kakaknya.
" Aunty, gak apa memang? " Tanya Reyna.
" Gak apa-apa, lagian rotinya lembut. Beri saja! Tapi jangan sama selainya, pinggirnya juga jangan. "
" Tuh, boleh katanya. Ayo aa!! " Ucap Morgan menyodorkan potongan roti pada adiknya.
Karena jarak meja makan yang lumayan luas, membuat Morgan maupun Reyna yang memajukan tubuh Baby Kia tidak sampai.
" Na, duduk samping gue! " Morgan menepuk kursi di sampingnya.
" Og— ".
" Eaks.. Hiks.. " Kia menangis, yang mana membuat Reyna menghela nafasnya dan terpaksa menuruti perkataan Morgan.
Kini, keduanya duduk saling berhadapan, dengan Morgan yang menyuapi roti pada Baby Kia.
" Ih.. Lucu banget sih Dedek, gemes deh Abang. Sini sun! ".
Reyna memundurkan tubuhnya, membuat Morgan menatapnya sambil tersenyum gelik melihat tingkat kewaspadaan sepupunya itu.
Mungkin Reyna tidak ingin kejadian semalam terulang, saat Morgan mencium Kia yang berada dalam pangkuan Reyna, membuat kepala Morgan berdekatan bahkan hampir menyentuh dadanya.
" Na, kenapa mundur? Gue mau cium Si Dedek, kenapa si loe? Cemburu? Sini gue sun juga, ".
" Ih, " Reyna bergidik mendengarnya, membuat Morgan tertawa dan dengan sengaja mencium kening Baby Kia secepat kilat.
Reyna kembali dibuat menegang, apalagi sebelum beranjak dengan sengaja Morgan mengangkat kepalanya saat berada tepat di depan dadanya, dengan menunjukkan wajah tengilnya pada Reyna.
Mereka kembali sarapan dengan keadaan tenang, namun David berulang kali melirik interaksi keduanya. Dia merasa ada yang aneh, terutama pada Morgan. Dia lihat sejak tadi Morgan selalu curi-curi pandang dari adiknya.
Seketika perasaan David tidak enak, mungkinkah Morgan mencintai adiknya?.
" Enggak, gak boleh. Loe salah jika memiliki rasa lain pada Angel, Mor. " Batin David.
" Rain, cocok deh kalo jadi Ibu. Jiwa keibuan kamu keluar gituh, kalo sama Kia. " Celetuk Mikhayla yang langsung ditimpali Morgan:
" Iya, apalagi kalo ada gue suaminya. Serasi kita Na! ".
Reyna mendelik, " Suami apanya, mati muda gue yang ada. " Gumam Reyna membuat seisi meja tertawa.
" Elah.. Canda kali, baperan amat sih loe. Atau emang seriusan mau nikah sama gue? " Tidak ada puasnya bagi Morgan dalam hal menggoda Reyna.
Sementara yang digoda terlihat memutar bola matanya.
" Darah tinggi gue, ".
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Fitria Dafina
Authornya the best, ngk bosan bacanya 😍😍😍
2021-08-20
1
Siti Aisyah
up yg bnyak dong Thor😁🤭🙏
2021-04-05
3