Setelah bel pulang sekolah berdering, dengan riang Morgan berjalan setengah jingkrak-jingkrak menuju kelas Reyna. Tentu dengan David yang mengikutinya dari belakang.
Tidak hanya David, Rey, Arzan dan Erza pun turut serta berjalan bersama.
" Vid, teman loe tuh?! ".
" Stres dia, kelewatan rindu si Nana. " Ucap David menimpali pekataan Erza.
Arzan dan Erza terkekeh. Tiba-tiba tiga orang wanita yang salah satunya adalah Vika datang menghadang jalan mereka. Sontak David dan temannya berhenti melangkah.
" Kak David! ".
" Hm, ".
" Ganteng banget sih, " Ucap salah satu sahabat Vika dengan wajah malu-malu.
" Makasih, " David menimpalinya dengan mimik biasa.
" Sekarang? ".
Tatapan mereka teralih pada Rey yang berkata. Lalu tersenggol pada Vika yang tersenyum manis dengan tangan bergelayut manja di lengan Rey.
" Iya, sekarang. Aku maunya ke mall yang dekat cafe baru itu, hon. " Rengek Vika.
" Oke, " Balas Rey.
Rey menatap para sahabatnya yang seperti tengah dilanda kebingungan akan sikapnya. Karena tidak biasanya seorang Rey yang jarang bicara dan terkesan dingin itu meladeni gadis centil seperti Vika.
" Bro, duluan! " Pamit Rey menepuk pundak David. Lalu beranjak pergi bersama Vika dan kedua temannya.
Erza, Arzan dan David melongo keras.
" Itu.. Beneran si Rey? " Ucap Arzan tak percaya.
" Dia.. Si Vika?... Gila sih, " Sambung Erza.
" Bukannya Rey pacar Naya? ".
Deg.
Pertanyaan David membuat Erza dan Arzan salah tingkah. Keduanya menatap arah yang tidak pasti dengan mata mereka. Membuat David semakin curiga ada yang sahabatnya sembunyikan darinya.
" Kenapa? Za, Ar? ".
" Eng— anu.. Gue.. ".
" Vid, loe suka pacarnya si Rey kan? Ambil aja! Kasihan Nayara, sudah cukup dia berharap sama si bajingann Rey. "
Bukan hanya David, bahkan Erza pun terkejut dengan ucapan Arzan yang lurus tanpa ekspresi.
" A-Arzan, maksud loe apa? ".
" Kita salah, Erza. Loe gak seharusnya belain Rey mulu! Meskipun dia teman kita, kalo salah ya tetep salah! ".
Erza terdiam mendengarnya. Memang benar, selama hampir satu minggu ini dia maupun Arzan selalu menutupi asmara menyedihkan yang Rey buat untuk Nayara.
David dan Morgan memang tahu, jika Rey pacarnya Nayara. Tapi mereka tidak tahu, kejadian behind the scenenya. Dimana Rey selalu merendahkan Nayara. Tidak sekalipun pria itu menghargainya.
" Nutupin apa kalian dari gue? " Mimik wajah David terlihat tidak mengenakan mata. Dia menatap datar pada kedua sahabatnya.
" Loe tahu sendiri. Saran gue, kalo suka, perjuangin! Rebut aja, Nayara juga pasti sadar kok, kalo hubungan yang tidak mungkin bertahan harusnya dilepaskan. " Ucap Arzan.
" Sorry, bro! Gue tahu gue salah, loe tahu gue manusia. Bukan kucing yang gak ada salahnya selain nyuri kepala asin. Kasihan Nayara, loe pepet dia sampai dapat! Gue duluan, bye! " Lanjutnya sambil menjepit kepala Erza di ketiaknya.
" Woy, loe ngapain bawa gue? Tarzan! ".
" Udah diem! ".
David menatap kepergian kedua temannya dengan benak yang masih diliputi rasa bingung.
Dengan otak cerdasnya, bisa David simpulkan bahwa hubungan Rey dan si cantik Nayara tidak dalam keadaan baik.
Rebut? Perjuangkan? Bebaskan? Itu bisa dia lakukan jika memang David mencintai Nayara.
" Cinta? Gue gak tahu apakah rasa ini bisa disebut cinta atau penasaran semata, " Ucap David.
--
Di luar kelas Reyna, Morgan menatap gadis itu dengan mulut yang tersenyum cerah. Memperhatikan deretan gigi rapi dan lesung pipi yang pastinya membius para kaum hawa yang melihatnya.
Reyna mendelik. Dia risih dengan keberadaan Morgan yang pastinya untuk menemuinya.
" Mingkem! Risih gue, " Decis Reyna.
Morgan tidak menimpali, malah semakin menaikkan sudut bibirnya.
" Gel, gila kali sepupu loe! Dateng-dateng malah senyam senyum gak jelas. Bukannya terpesona, yang ada gue ngeri lihatnya. " Celetuk Freya.
" Bener loe. Emang sinting ni orang, " Timpal Reyna membuat senyuman Morgan punah seketika.
" Jahat loe Na. Durhaka loh, sama calon suami kasar gitu. Loe mau dilaknat para malaikat yah?! ".
" Cih, mimpi! ".
Morgan tertawa.
" Yuk ke market! " Lanjutnya menggandeng lengan Reyna.
" Eh, apaan sih nih?! Loe mau apa, Morgan?! " Kesal Reyna.
" Si Mommy nyuruh gue belanja perlengkapan makanan sama perlengkapan bayi. Karena gue yang anak ganteng ini gak tahu merek sama kecocokannya, makannya Mommy gue yang cantik cetar membahana nyuruh loe yang nemenin! " Jelas Morgan sambil memperhatikan isi chat dari Mikhayla ibunya.
" And so?.. Let's go to market, baby! ".
Reyna mendelik. Tiba-tiba dia berteriak saat Nayara keluar dari kelas dan hendak pulang.
" Nayara!! ".
" Ya? " Jawab gadis itu berbalik.
" Hari ini ada waktu kosong gak? Temenin gue shopping yah! ".
" Eum.. Ada sih. Tapi gak mau ah! Kamu kalo belanja suka traktir aku, mana kalo barang suka yang mahal-mahal lagi. Aku gak mau loh, di kira memanfaatkan uang kamu. " Omel si cantik.
" Apa sih.. Gak gitulah! Lagian bicitan orang loe dengerin, " Kesal Reyna.
" Mau yah?! Gak ke mall juga gak apa-apa, loe bisa belanjanya di pasar sama abang gue. " Reyna menyeringai saat melihat David yang tengah berjalan di belakang Nayara.
" Hah? Abang? Maksudnya aku sama— ".
" Angel, loe kok bawa-bawa gue? " Potong David.
" Ogah ah! Sore ini gue ada latihan futsal, mana bisa istirahat kalo nganter loe belanja. "
" Gue ketuanya! Jangan lupa kalo gue bisa liburin latihan buat hari ini, " Ucap Morgan membuat Reyna tersenyum senang.
" See? Mau yah! Sama Nayara kok, belanja bahan makanan buat Aunty Mikhayla. Sementara gue sama Morgan belanja perlengkapan baby Kia, ".
David terlihat berpikir. Dan hal itu disalah artikan oleh Nayara. Dia kira David keberatan jika jalan bersamanya.
" Angel, gak usah sama Kak David! Aku bisa kok, belanja sendiri. Sebutin aja apa yang dibutuhkan, aku— ".
" Okelah! Yuk cantik, loe naik mobil gue. " Potong David menarik Nayara tiba-tiba.
" Eh, tapi? Angel!! Ini kok? ".
" Kita ketemu di rumahnya si Morgan yah? Bye!! ".
Reyna melambaikan tangan tanpa beban. Sementara Nayara mulai was-was saat mendapat tatapan menusuk para siswi yang melihatnya dipegang David.
" Ah.. Hatersku makin banyak... " Batinnya lelah sebelum dimulai.
Di tempatnya, mata Morgan memicin menatap si cantik yang sedari tadi menampilkan senyum bahagianya.
" Segitu senengnya elu gue ajak jalan, Na. Wah.. Curiga gue, kalo loe— ".
" Shut up! " Potong Reyna menatap tajam Morgan, membuat si mesum diam tak berkutik.
" Gel, kalo loe mau jalan, gue duluan yah! Kakaknya temen gue ngajak ketemuan, " Ucap Freya.
" Oh, oke. Loe bawa mobil? Perlu gue anter dulu? ".
" Gak usah! Dia kirim jemputan kok, baru sampai di depan katanya, ".
" Hm. Hati-hati Frey! ".
" Bye Angel! ".
" Bye! ".
Morgan menatap kepergian Freya, lalu beralih menatap Reyna.
" Sekarang Na? ".
" Iya, ".
" Eh loe ngapain?! " Pekik Reyna saat melihat Morgan membuka kancing seragamnya sendiri.
" Kata loe sekarang, ".
" Morgan!! Dasar mesum!!! ".
--
" Aduh.. Ara bentar dong, becek nih! " Protes David saat mereka melewati jalan sempit dengan berdesakkannya orang-orang.
Nayara terkekeh. Memang susah jika orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional seperti David.
" Makannya, jangan mall mulu yang Kakak tahu! Sekali-kali pergi ke sini. Di sini lebih murah loh, asik juga. "
" Asik apaan, yang ada kotor nih sepatu gue. Mana badan gue bisa bau anyir sama ikan asin lagi, " Dumel David.
" Sini bantu! " Lanjutnya merentangkan sebelah tangan.
Nayara menggeleng kecil. Dia mendekati David dan membatu pria itu keluar dari kumpulan tanah yang basah. Basah, karena sebelumnya hujan turun. Untung saja saat mereka turun dari mobil David, hujannya lumayan reda.
" Ara, nanti-nanti jangan ajakin gue ke sini lagi. Fobia gue. Ah.. Malu banget gila, ganteng-ganteng datangnya ke pasar. Oh hellow.. Apa kata— Ikan teri!! " Teriak David saat melihat pedang ikan teri, salah satu makanan yang tertera dalam daftar yang Mikhayla beri.
Nayara terkekeh, " Apa kata ikan teri ya?.. Ikan teri mana bisa ngomong, Kak David. "
" Ish.. Bukan itu maksud gue. Ah, gak asik loe mah! ".
" Ha ha.. Iya iya, maaf. Kamu tunggu di sini aja, biar aku yang beli! ".
" Ikut!! ".
Setelah membeli beberapa bahan dapur yang berhasil mereka kantongi dengan dua kerek besar, David dan Nayara pun berjalan ke bagian penjual daging ayam dan daging sapi.
Selama perjalanan, David terus mengomel jijik membuat Nayara tertawa sesekali menggelengkan kepalanya.
" Bang, ayamnya sekilo berapa? ".
" 50.000 Neng! ".
" Mahal amat. Di toko sebelah cuman 45.000, gak Saya beli karena sudah langganan di sini. Gak bisa di kurangin gitu bang? Ini belinya banyak loh, sepuluh kilo. "
Si pedagang berfikir.
" Sepuluh kilo? ".
" Iya, ".
" Eum.. Ya udah kalo belinya banyak, Abang kasih 42.000 aja per kilonya. Gimana? Jadi? ".
" Sip! 10 kilo ya bang, daging ayamnya. Sama lima kilo hati sama burihnya, " Ucap Nayara.
" Wah alhamdulillah.. Rezeki nomplok. Udah pembelinya cantik, belinya banyak juga. Aduh.. Makasih loh Neng, bisa pulang cepat abang kalo gini. "
Nayara tertawa, " Rezeki abang, bang! ".
David melirik Nayara yang tersenyum lebar. Entah kenapa, senyum Nayara membuat hatinya berdecis tak karuan.
Namun David tidak bisa mengatakan ini cinta. Karena jika nanti dia berhasil mendapatkan Nayara, dan rasa yang dirasakannya ini bukanlah cinta, maka akan sangat menyakiti Nayara. David tidak mau itu sampai terjadi!.
" Aa, pintet banget sih milih cewek. Udah cakep, baik hati pula. " Puji si pedagang pada David.
David tersenyum bangga.
" Iya dong bang! Gue nya aja cakep, cocoklah.. Dapetin yang bening dan pinter ngibulin pedangan kayak dia, ".
" Kak David! ".
" Maksudnya? " Si pedagang cengo.
--
Di tempat lain, Morgan mendorong troli dengan perasaan riang. Bagaimana tidak? Karena sepupu cantiknya itu sedang berjalan tepat didepannya dengan senyuman yang mengembang.
Jarang sekali Morgan melihat Reyna tersenyum. Karena jika bersamanya, gadis itu selalu ketus dan bersikap dingin. Boleh dibilang Morgan lebih nyaman para Reyns yang ini, daripada Reyna yang acuh dan ketus.
" Ah.. Tahu gue. Lo seneng ya Na, gue ajak jalan? " Ucap Morgan tiba-tiba, yang mana membuat langkah Reyna terhenti.
" Gue seneng karena Naya, bukan karena jalan sama lo! Lagian ini shopping kok, bukan jalan. " Ketus Reyna.
Morgan tergelak, " Ini kita jalan, Na. Emang elu dari parkiran sampe keliling-keliling gini melayang?! " Semprotnya.
" Serah! ".
Mereka diam dan melanjutkan langkahnya membeli beberapa setelan bayi, popok, dan perlengkapan lainnya.
" Morgan, lihat deh! Lucu yah? " Reyna memperhatikan satu set gaun anak kecil yang menurutnya sangat cantik.
" Hm.. Cantik, " Jawab Morgan menatap lekat Reyna.
Reyns mendelik, " Yang gue maksud itu gaunnya, Morgan! ".
" Apa si Na? Nana baperan deh, ".
" Bodo! ".
Mogan tertawa. Tiba-tiba dia mengambil beberapa pakaian yang letaknya di samping kanan Reyna, sementara dirinya berada di samping kiri gadis itu.
Alhasil, Morgan seperti memeluk Reyna. Memaksa gadis itu memajukan tubuhnya agar tidak menempel pada tubuh Morgan.
" Nah, yang ini nih. Pasti cocok buat Baby Kia, " Ucap Morgan tersenyum tanpa dosa.
Reyna berdehem.
" Iya. Kayaknya, ".
" Na, muka loe merah loh. Acie.. Loe baper yah? Minta gue peluk yah? Gak usah peluk, sini gue ciipok aja sekalian! " Goda Morgan memajukan tubuhnya.
" Ih.. Dasar sinting! " Pekik Reyna mendorong dada Morgan.
" Gak nyaman gue sama loe, otak loe perlu dibersihin pakai so clean, biar bersih. Ngilang aja sekalian tu otak! " Kesal Reyna.
Morgan tertawa, " Durhaka banget kamu... Cayang, ".
" Jijik! " Ucap Reyna melangkah pergi.
Dengan tawa khasnya, Morgan kembali mendorong troli mengikuti Reyna.
--
" Na, ini kali yah buat Baby Kia? " Morgan menunjukkan satu pak popok berukuran L.
" Bege loe! Mana cukup, Morgan. Buat adik loe yang ini! ".
" Oh.. Ukuran M. Wait, cukup yah? Adik gue montok, Na na.. Kayak calon iparnya, ".
Reyna bergidik, " Calon ipar kok lihatinnya gue sih? ".
" Ya kan elo calon bini gue, " Ucap Morgan tak tanggung-tanggung.
" Astaga.. ".
" Ambil empat aja, Na. Yang dua ukuran M, dan yang duanya lagi L. Kalo M gak cukup, ada L. Kalo L gak cukup, ada M. Kalo hidup gue hambar, ada elo perasanya. "
" Cih, modus! ".
Morgan kembali tergelak. Melihat Reyna yang lagi-lagi pergi meninggalkannya, buru-buru Morgan menyusul.
" Eh.. Neng, nikah muda yah? Aduh.. Moga debaynya kayak bapaknya, ni kasep pisan duh.. ".
" Oh My God, hot daddy!! ".
" Aaa!! Ceweknya cantik breh.. Serasa perawan, padahal badan dua. "
" Daddynya tampan, Mommynya juga cantik. Ah.. Nanti babynya kayak gimana ya?.. ".
" Serasi. Iri deh ana, ".
Senyuman mengembang di bibir Morgan saat mendengar ocehan-ocehan para pengunjung yang melihat mereka berjalan bersama dengan banyaknya perlengkapan bayi dalam troli yang Morgan dorong.
Morgan bahagia, sementara Reyna biasa-biasa saja. Sepertinya gadis itu tutup mata tutup telinga.
" Na.. Loe ngerasa gak? ".
" Hm, ".
" Kita serasi loh Na, katanya. "
" Terus? ".
" Nikah kuy! Terus kawin, bikin dedek bayi yang banyak. Kalo perlu, tiap hari, tiap malam, bahkan tiap detik kita buat biar bisa nyetak tim sepak bola. " Ungkap Morgan dengan ekspresi bahagianya.
Langlah Reyna terhenti. Dia menoleh mentap Morgan datar.
" Maaf, Saya manusia. Jika ingin mempunyai anak 12 dengan cepat, silahkan Anda produksi bersama kucing tetangga! ".
--
Di cafe sebrang Mall, tepatnya Mall yang didalamnya terdapat Reyna dan Morgan.
Freya, gadis keturunan Indo-Amrik itu tersenyum lebar pada pria yang sudah lama dia nanti-nantikan untuk bertemu.
" Pesan apa, Frey? " Tawar pria itu.
" Samain aja, Kak Gavin. "
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Mikeyy Nouna Muda
kapan up Lagi thor udah nunggu nunggu nih
2021-04-21
1
Topik Hidayat
lanjut thor
2021-04-15
1