Reyna berjalan menelusuri lorong Sekolah, dengan mata yang sesekali melirik setiap sudut yang dia lewati.
Hingga sampailah dia di perempatan toilet. Baru saja kakinya melangkah hendak masuk, sebuah suara menghentikan langkahnya:
" Lo gak boleh deketin dia, jalaang! ".
Byur.
" Hiks.. Bukan aku yang mau, hiks.. Kak Rey— ".
Plak!.
" Berani lo sebut nama dia yah? Mulut lo terlalu kotor buat nyebutin nama pacar gue!! Dasar anak miskin! ".
Byur.
Kening Reyna berkerut, suara tamparan, teriakan, serta guyuran air terdengar begitu jelas di telinganya. Itu artinya tempat kejadian dekat dengan dirinya berada.
" Hiks.. Mau kalian apa? Hiks.. Mau aku pisah dari Kak Rey? Oke, akan aku lakuin. Tapi gimana? Hiks.. Kak Rey gak mau putus dari aku, hiks.. Dia— Ahh!! ".
" Jangan kepedean lo! Lo belum tahu, apa alasan Rey nembak lo. Kalo lo tahu, gue jamin, kata Rey cinta sama lo gak bakalan keluar lagi dari mulut lo! ".
" Hiks.. Sakit, hiks.. Lepasin rambut aku! Hiks.. ".
" Sebenernya gue mau, bongkar segalanya sama lo. Tapi.. Demi hubungan gue sama Rey, gue tutup mulut. "
" Yang perlu lo tahu, hanyalah... Jangan kepedean dan pepetin pacar gue terus! Satu bulan. Tunggu semua ucapan gue terbukti. Kalo Rey, hanya jadiin cewek miskin kayak lo mainan! Tunggu dan nikmatin hasilnya nanti, ".
Bruk.
Reyna menyembunyikan tubuhnya di balik tembok saat tiga wanita berrok pendek keluar dari salah satu toilet.
Setelah ketiganya pergi, Reyna keluar. Dia berjalan menuju bilik toilet yang mereka singgahi tadi dan menemukan seorang gadis sedang menangis dengan kondisi badan yang basah kuyup.
" Lo gak apa-apa? ".
" Hiks.. " Dengan isakan tangis, gadis itu mendongak menatap Reyna.
" Aku gak apa-apa. Maaf, tangisan aku terlalu kenceng yah? " Ucapnya sembari menghapus air mata.
Reyna menghembuskan nafasnya pelan. Zaman sudah semakin maju, tapi ada saja orang yang masih mau di tindas. Apalagi penindasnya, apakah mereka tidak tahu jika hukum itu ada?.
Reyna membuka hoodie yang dipakainya dan langsung dipakaikan pada gadis itu.
" Ikut gue! " Gadis itu mengangguk. Mereka beranjak pergi dari toilet.
Di luar toilet, terlihat Morgan yang menyandarkan punggungnya pada tembok. Menatap Reyna dan sedikit terkejut pada wanita yang basah kuyup.
" Lo kenapa Nar? Perlu gue bilangin Rey? ".
" Gak apa kok, gak usah. "
" Na, bawa ke loketnya sana! Setiap siswa punya seragam cadangan kok, " Ujar Morgan.
Reyna mengangguk, " Ayo! ".
--
Reyna menyandarkan punggungnya di kursi Uks, dia sedang menunggu gadis yang ditolongnya ganti baju dan mengobati lebam di pipi.
" Udah? " Tanya Reyna saat gadis itu membuka gorden penghalang.
" Iya. Makasih ya, ".
" Hm, ".
" Kamu murid baru yah? Siapa nama kamu? " Tanya gadis itu lembut, dengan tangan yang sibuk memakai kembali kaos kaki.
" Gue Reyna, lo bisa panggil Angel. Btw, kelas 11 ya? ".
" Iya, aku Kakak kelas kamu. Kenalin, aku Nayara. Kamu bisa panggil Naya, " Ucapnya menyodorkan tangan.
Reyna menyambutnya dengan senyuman.
" Sekali lihat gue tahu, kalo lo orang baik. Biasanya kalo sama orang baru gue cuek, tapi entah kenapa kalo sama lo bawaannya gue nyaman. " Ujar Reyna sambil melepaskan tautan tangan mereka.
Nayara tersenyum, " Ada-ada saja, ".
Reyna terkekeh kecil.
" Kelas apa? ".
" Sebelas Ipa 3, ".
" Otw pindah sana, ".
Mata Nayara membelalak.
" Maksudnya? Kamu mau pindah ke kelas aku? Ya mana bisa, Angel. Kamu kan kelas sepuluh, adik kelas aku. Mana bisa pindah ke kelas sebelas, ".
" Bisa kok. Tunggu yah! " Reyna merogok sakunya dan menelpon seseorang.
" Hallo, Uncle. Angel mau pindah kelas, mau langsung kelas 11. "
" Apa? Angel, kapan kamu sampai? Kok Opa sama Oma gak ngabarin Om? ".
" Nanti aja bahasnya! Pokoknya urus permintaan Angel yah! Mau sebelas Ipa 3, ".
" Tapi kamu harus ngisi banyak soal, Angel. Mengganti PTS sama— ".
" Gak tahu aja ini orang jenius. Setelah pulang Angel menghadap Kepala Sekolahnya, buat bawa soal-soal yang mesti di kerjakan. Kalau perlu, Angel kerjakan di sana sekalian! " Potong Reyna.
" Jadi sebelum pulang Sekolah, Uncle harus udah bicara sama Kepala Sekolahnya, Yah! ".
" Angel, ini akan sulit. Kamu— ".
" Perlu kasih tahu Daddy? ".
" What?! Oke, Uncle usahakan. Tapi kalo— ".
" Kalo gak bisa Angel hubungi Daddy, bye! ".
" Ang— ".
Tut.
Reyna memutus telepon begitu saja. Dia menoleh menatap Nayara yang mulutnya terbuka lebar.
" Mingkem! ".
" Astagfirullah, " Nayara mengusap dadanya terkejut.
" Kamu ih! ".
Reyna malah cekikikan, dia berdehem dan kembali menatap Nayara serius.
" Lo tenang aja, Naya. Setelah gue pindah ke kelas lo, pembullyan gak bakalan ada lagi. Percaya sama gue, " Ucapnya memegang pundak Nayara.
" Percuma, Vika gak bakalan berhenti sebelum hubungan aku berakhir. " Lirih Nayara.
" Vika? Siapa? Nama yang bully elo di toilet tadi? ".
" Tadi kamu nelpon Om kamu? Kok dia nyanggupin kamu pindah kelas? Bukan, bukan pindah, tapi lewatin kelas tepatnya. " Ucap Nayara mengalihkan pembicaraan
" Bisalah! Yang gue telpon penyumbang dana terbesar di Sekolah ini. Bahkan tanahnya saja milik si Uncle, " Ucap Reyna.
" Penyumbang dana terbesar? Bukannya itu Papanya Kak Morgan ya? ".
" Iya, ".
Mata Nayara terbelalak, " Jadi kalian— ".
" Sepupu, " Lanjut Reyna.
" Wah.. Hebat, " Nayara bertepuk tangan.
" Pantesan aja kamu santai banget bilang mau lewatin kelasnya, orang Sekolah ini sudah bisa dibilang miliknya Papa Morgan. "
" Tapi sayang, ".
" Kenapa? " Tanya Reyna.
" Tadi aku sempet loh, kira kalau kamu itu pacarnya Kak Morgan. Soalnya kalian cocok, apalagi lihat cara Kak Morgan mandang kamu. Eh.. Taunya kalian sepupu, salah deh aku. " Ucap Nayara terkekeh.
Reyna tersenyum tipis.
" Si cengeng? Ogah banget gue sama dia! Asal lo tahu ya, waktu kecil dia itu sasaran empuk gigi gue! ".
" Kamu gigit dia? " Nayara Syok.
" Iya, ".
" Ya Allah, keterlaluan kamu Angel. " Ucap Nayara tertawa.
" Habis dia lempar boneka gue dulu. Mana nyangkut lagi di pohon. Kesel kan gue, ".
Nayara tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Reyna.
" Kamu asik juga ya? Sekali lagi makasih, kamu mau nolongin aku. Kalau gak ada kamu, gak tahu deh aku keluar gimana dari toilet tadi. Mana seragam aku basah, ".
" Iya, daleman lo kelihatan. " Celetuk Reyna.
" Angel! ".
Kini giliran Reyna yang tertawa.
" Nih! Tulis nomor lo, gue mau deket sama lo. "
Nayara menerima ponsel Reyna, dia mengetik nomor ponselnya dan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
" Udah. Sekali lagi makasih ya, ".
" Iya. Eum, gue ke toilet dulu yah? Kebelet, ".
" Iya, hati-hati! ".
" Siap! Lo gak usah ke kelas, tunggu aja di sini! Ntar gue balik lagi, ".
" Oke, ".
Reyna keluar dari Uks meninggalkan Nayara yang sedang bermain ponsel. Dia berjalan menuju toilet.
--
Bruk.
" Gimana? Lega? ".
Baru saja Reyna menutup kembali pintu toilet, Morgan sudah terlihat berdiri dengan punggung yang menyandar di tembok depan.
" Apanya? ".
" Pipisnya, ".
" Gila, " Ucap Reyna sambil membuang muka.
" Na, ".
" Apa sih? " Ketus Reyna.
" Lo inget gue kan? " Tanya Morgan sambil berjalan mendekati Reyna.
Reyna mundur, dia mengalihkan pandangannya dari mata tajam Morgan.
" Bilang lo inget gue, Na! ".
" Gue bukan Nana! ".
" Atau mau elo gue Nana-Nini in dulu biar ngaku? ".
" Gila lo, ".
" Jawab gue, Na! Lo inget kan sama gue? " Morgan mulai memojokkan Reyna.
" G-gak, apasih. Awas ah! " Ketus Reyna mendorong dada Morgan.
Bukannya menyingkir, Morgan malah menyimpan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Reyna, dengan kepala yang menunduk membuat wajah mereka berdekatan.
" Jawab gue, Na. Lo inget kan sama gue? ".
Reyna mengepalkan tangannya, dia menahan nafas saat Morgan semakin mendekat dengan tatapan yang perlahan turun ke bibir pink miliknya.
" Bibir lo kecil, Na. Jadi pengen ciipok gue. Boleh? ".
Bughk.
" Aww!! Reyna!!! " Morgan memegang asetnya yang Reyna tendang, dia meringis kesakitan dengan menatap tajam pada Reyna yang tersenyum puas.
" Na, telur gue pecah gimana? Nanti kita gak punya anak loh, Na! ".
" Ih.. Kita apaan. Siapa juga yang mau punya suami gesrek kayak lo. Boro-boro suami, sepupu aja kalo boleh tawar ogah yang kayak elo. " Semprot Reyna menatap Morgan tidak suka.
" Jahat lo! Gesrek-gesrek gini gue bisa loh, buat lo melayang di awang-awang merasakan kenikmataa— ".
Bughk!.
Reyna menendang pinggang Morgan yang sedang membungkuk menyentuh asetnya. Dan alhasil, jatuhlah Morgan di lantai toilet!.
" Makan tuh kenikmatan! Morgan, go to hell! " Reyna mengacungkan jari tengahnya, dengan seringaian muncul di bibir kecilnya.
Tanpa rasa bersalah, Reyna melangkah keluar meninggalkan Morgan yang sedang kesakitan.
" Sialan lo, sepupu dakjall lo. Awas aja lo, Reyna. Gue yakin lo bakalan ketagihan sama sodokan gue nanti!! " Teriak Morgan.
" Anjirtt sakit, " Gumamnya kembali memegang asetnya yang berdenyut.
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nur Adam
visual dong thoor
2021-08-21
1
MYRA🍃
hahahah
2021-03-28
1
pacarnya Jungkook
lanjut thor
2021-03-28
1