Di rooftop, Rey membolak-balikkan sebotol air mineral yang sempat dibelinya bersama Erza dan Arzan. Namun saat ini hanya ada dirinya seorang, karena kedua sahabat yang sepertinya mulai tidak menyukainya itu Rey usir jauh-jauh.
Sejak melihat kebersamaan David dan Nayara, perasaan Rey tidak karuan. Rasanya dia marah, kesal, kecewa, dan lega.
Marah, karena dengan berani David mendekati pacarnya.
Kesal, karena pengakuan Nayara yang seakan sudah enggan lagi berhubungan dengannya.
Kecewa, mungkin perasaan ini dia rasakan untuk dirinya sendiri. Dia kecewa karena tidak bisa mempertahankan Nayara di sisinya. Dan..
Lega, mengetahui gadis itu baik-baik saja meskipun bukan dia yang membuatnya baik.
Jika bukan karena permintaan Ayahnya untuk mendekati Vika, tidak akan Rey berbuat sejauh ini.
Dia tahu bagaimana perasaan Nayara. Gadis itu pasti sakit hati. Rey juga tidak tega. Namun apalah dayanya, dia ingin secepatnya menemukan sang adik yang hilang.
Mendekati Vika hanyalah modus untuk dia mengetahui kebenarannya. Dalam hati kecilnya, Rey tidak percaya bahwa Vika adalah adiknya. Secara, Vika adalah salah satu putri dari pengusaha ternama yang pastinya bukanlah anak angkat.
Tapi informasi dari bawahan ayahnya mengatakan jika gadis itu memanglah adiknya. Maka dari itu, demi menemukan sang adik dia harus kehilangan kekasih.
" Gak, enggak. Loe gak bakalan bisa lepas dari tangan gue, Naya. Gak bakalan pernah, " Gumam Rey menggeleng.
" Arghkk!! " Rey berdiri dan membuang asal botol yang sedang dipegangnya. " Sialan!! " Lanjutnya menggila.
" Naya! Arghkk!!! ".
Preng!.
Brak!.
Brak!.
Pria itu melempar dan menendang apa saja yang bisa menjadi pelampiasan amarahnya. Dan amarahnya semakin memuncak saat dia menunduk ke bawah menemukan Nayara yang sedang tertawa lepas bersama David di lapangan.
Mata Rey semakin memerah. Keringat bercucuran, rambut acak-acakan, kancing baju bagian atas terbuka dua dan tangan yang menggenggam ujung tembok kuat-kuat.
" Gak bisa. Ini gak bisa gue biarin. Sekali milik gue, tetep milik gue. Meskipun loe temen gue, tapi loe yang memulai peperangan ini, David. " Ucap Rey penuh penekanan.
Dengan emosi yang memuncak, Rey beranjak turun dari rooftop menuju tempat di mana kekasihnya berada. Bahkan saat di perempatan lorong sekolah dia bertemu dengan Vika yang menyapanya. Namun Rey abaikan dengan terus berjalan.
Nayara. Di pikirannnya terisi penuh oleh nama itu.
Namun saat tiba di lapangan, Rey tidak menemukan sosok yang dicarinya. Malah yang bisa dia lihat adalah sekumpulan para Mahasiswa yang sibuk membereskan sisa-sisa promosi yang bahkan tidak Rey dengarkan maupun ikuti.
Tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya dan berkata:
" Dek, mau daftar di Kampus Kakak? ".
" Maaf. Saya tidak minat, " Ketus Rey. " Apa ini berakhir? Kemana perginya para murid? " Lanjutnya bertanya.
" Pulang, " Ketus si Mahasiswa.
" Arghkk sial! " Rey menjambak rambutnya frustasi.
________-_________
" Lepas! ".
Reyna menghempaskan tangan Morgan yang mencengkram lengannya. Cukup sudah, perbuatan Morgan membuatnya kesal!.
Morgan menatap nyalang yang juga dibalas serupa oleh Reyna. Tanpa diduga, Morgan menghempasnya ke dinding dan menghimpitnya dengan sebelah tangan pria itu yang mencengkram rahangnya.
" Gak seharusnya loe peluk-peluk pria lain di hadapan gue, Reyna Angelica. Loe gak tahu gimana emosinya gue lihat loe lakuin itu. Ngerti? ".
" Uhuk.. Lepas! Uhuk.. Mor, sa-kit. "
Morgan melepas kasar rahang Reyna. Dia berbalik dan menendang kursi yang ada di sana. Saat ini, dia dan Reyna sedang berada di sebuah ruangan yang entah ruangan apa.
Morgan yang kelewatan kesal tadi dengan penuh amarah menarik Reyna dan berhenti di sebuah gudang. Ya.. Mereka berada di gudang. Tepatnya gudang sekolah tempat dia dan para sahabatnya membolos.
" Pergi, Na! Gue gak mau lampiasin amarah gue sama loe, ".
Reyna menghela nafasnya kasar. Dia maju dan membalik paksa tubuh Morgan agar berhadapan dengannya. Setelah itu, dengan lantang Reyna berkata sambil mengangkat dagunya:
" Amarah loe bilang? Amarah Mor? Sebenarnya loe itu kenapa sih? Apa masalah loe sampai marah-marah kayak gini, hah?! Loe gak suka gue sama Kak Gavin? Terserah! Gue gak peduli. Terus apa lagi? Loe gak mau gue deket-deket sama lelaki lain selain loe, gitu? Loe cemburu? Loe cemburu karena— ".
" Iya gue cemburu! " Bentak Morgan. Morgan mendekat dan kembali mendorong Reyna menyandar ke tembok yang langsung ditempeli kedua lengannya dekat kepala Reyna.
" Gue cemburu, gue gak suka. Gue gak suka loe sama dia sementara perasaan gue gak loe hiraukan dari dulu, " Morgan mengulurkan tangannya menyentuh pipi Reyna.
" Gue sayang sama loe, Na. Jangan bikin gue gila dengan lihat loe sama cowok lain. Terutama dia, ".
" Apa hak loe larang-larang gue! ".
" Lo itu milik gue! " Bentak Morgan dengan mata melotot.
Reyna mulai ketakutan. Tatapannya terus menatap nyalang kedua mata Morgan yang sedikit berair.
" Ki-kita sepupu, Morgan. "
" Itu lagi itu lagi, arghkk!! ".
Bughk!.
Bughk!.
Bughk!.
Bughk!.
" Arghkk!! ".
Morgan memukul dinding yang letaknya tepat di samping kepala Reyna. Reyna syok. Dia menatap Morgan dengan mata bulatnya. Seketika tangannya gemetaran, dia takut melihat Morgan yang sekarang.
Morgan si tengil berwajah menyebalkan yang sering menggodanya dengan gombalan maut maupun perkataan mesum kini berubah menjadi sisi lain yang tentunya tidak pernah Reyna lihat dan ini... Menyeramkan!.
" Kenapa loe selalu ungkit-ungkit status kita sih, Na? Sepupu gak apa-apa nikah, asalkan jangan adik-kakak! Memangnya loe adik gue, Na? Adik kandung gue hah?! " Teriak Morgan.
Reyna menunduk. Matanya memejam dan seketika lelehan air mata tidak bisa lagi dia bendung. Dirinya terisak dengan Morgan yang masih marah-marah.
" Loe denger gue gak Rey-na?! " Teriakan Morgan memelan saat dirinya mengangkat dagu Reyna dan melihat gadisnya menangis.
Perasaan bersalah memenuhi hatinya. Apa dia telah keterlaluan? Apa amarahnya membuat Reyna takut? Apalagi tangannya. Tangan Reyna mengepal dan bergetar di samping jahitan rok pendek yang gadis itu kenakan.
Morgan memejamkan matanya sejenak. Berusaha meredam amarah yang masih mengebu-ngebu dan belum terlampiaskan dalam dirinya.
" Maaf, ".
Mendengar kata maaf dari Morgan, Reyna memberanikan diri mengangkat kepalanya.
" G-gue gak suka di gini-in, Morgan. Gue gak su-suka loe marah-marah. G-gue takut, " Ucap Reyna dengan kalimat terakhir yang memelan.
Morgan menarik Reyna kedalam pelukannya. Dia menenggelamkan kepala Reyna di dadanya dengan tangan yang mengusap lembut kepala belakang gadisnya.
Reyna tidak menolak. Dirinya terlalu syok dengan sisi lain yang Morgan miliki. Melihat Morgan marah seperti tadi, mengingatkannya pada seseorang yang paling dia takuti di dunia ini. Amarah dan cara pelampiasan Morgan sama percis dengan Marchel, ayahnya.
Sangat menyeramkan jika diingat.
Morgan menunduk, menenggelamkan kepalanya pada leher Reyna yang tertutup oleh rambut panjangnya. Deru nafas hangat seakan menggelitik di lehernya. Namun Reyna masih tetap pada posisi yang sama, yaitu diam.
" Loe tahu Cinta itu buta, Na. Kayak gue ke elo! Mau loe sepupu gue kek, adik gue kek, gue gak peduli! Gue, tetep cinta sama lo. Reyna, ".
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung Reyna berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Bukan karena gugup ataupun tersentuh dengan perkataan Morgan, melainkan takut akan dosa yang mungkin saja dirinya lakukan lama-kelamaan.
" Ini salah. Ini gak bener, " Cicit Reyna.
" Bagian mana yang salah? ".
" Cinta memang buta. Tapi cinta yang loe miliki lebih dari buta. Loe gila! " Pekik Reyna dan mendorong dada Morgan kuat-kuat. Setelahnya, gadis itu melarikan diri dari sana diiringi dengan isak tangisnya.
Masih di tempatnya, Morgan diam mencerna perkataan Reyna. Sampai sebuah tawa penuh ironi keluar dari mulutnya memenuhi ruangan yang sepi itu.
" Sepupu? Ha ha ha ha!! Ha ha ha ha ha... Ha ha ha ha!! Gue gak peduli! " Teriak Morgan.
Morgan menutupi wajahnya dan ditarik sampai ke ujung kepala bagian belakang. Dia menoleh ke arah hilangnya Reyna sambil tersenyum kecil.
" Pergi aja Na, pergi! Mau sejauh manapun loe pergi, tetep loe akan kembali sama gue. Jikapun enggak, gue sendiri yang bakalan gusur loe kembali. " Janji Morgan pada dirinya.
Miliknya. Reyna hanyalah Miliknya.
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
maestuti dewi saraswati
next thor kerenn
2021-09-10
1
cara feulent
suka sekali dengan karyamu thooorrr. love ur writen.
2021-07-01
1
VIDAYA
semangat upnya thor
2021-05-11
1